Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Merasa cemburu



Aaron saat ini mengambil ponsel miliknya untuk mengirimkan pesan pada sang kekasih yang dari tadi tidak mengabarkan apapun padanya.


Sudah tidur kah, Sayang?


Kemudian ia langsung memecat tombol kirim dan kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celana. Ia menunggu pesannya dibalas sambil berjalan menuju ke arah kamar dengan menaiki tangga.


Begitu tiba di anak tangga terakhir dan melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan kamar, melihat Anindya yang ternyata belum masuk ke dalam ruangan. Ia saat ini memicingkan mata begitu gadis itu menghampirinya.


"Tuan Aaron, Aku ingin bertanya mengenai Universitas mana yang Anda maksudkan tadi? Aku ingin mencari beberapa informasi di mesin pencarian mengenai universitasnya. Lagipula aku pun harus menentukan ingin mengambil jurusan apa, bukan?"


Zea berusaha untuk bersikap senatural mungkin agar tidak terlihat mencurigakan. Karena baginya sangat penting mengetahui Universitas mana yang akan didatangi esok hari.


'Akan hancur hidupku jika sampai bertemu dengan Aurora yang tak lebih dari iblis itu,' gumamnya dengan perasaan berkecamuk karena selalu saja ingin sekali membalas dendam ketika mengingat dua wanita yang telah menjadi penyebab kehancuran hidupnya.


Hingga ia seketika bernapas lega begitu apa yang ditakutkan olehnya tidak menjadi kenyataan begitu pria dengan bibir tebal itu membuka suara.


"Sebenarnya kampusnya adalah universitas yang sama dengan si playboy Erick. Tapi tenang saja karena aku tidak akan membiarkannya mengganggumu dengan mengancamnya." Aaron kemudian menyebutkan kampus yang akan menjadi tempat Anindya mengasah kecerdasan otaknya.


Sementara itu, Zea yang saat ini langsung mengambil ponsel miliknya untuk mengetik kampus yang baru saja disebutkan oleh pria di hadapannya tersebut agar terlihat aktingnya natural.


Kemudian ia menunjukkan hasil pencarian dengan foto kampus yang terpampang nyata di layar ponsel miliknya. "Aah ... jadi ini kampusnya, Tuan Aaron?"


"Iya. Itu memang bukan Universitas negeri, tapi yang masuk ke sana kebanyakan para anak konglomerat dan memiliki kecerdasan luar biasa sepertimu. Begitu pun dengan Erick yang sangat kuherankan memiliki kecerdasan tinggi meskipun adalah seorang penjahat wanita."


Aaron yang saat ini baru saja menutup mulut, mendengar ponsel miliknya berdering dan sangat yakin jika yang menelpon adalah sang kekasih. Kini, ia langsung mengambil benda pipi di kantong celana.


Begitu apa yang dipikirkannya benar, sehingga langsung menggeser tombol hijau ke atas.


"Halo, Sayang. Kamu ternyata belum tidur." Aaron beralih menatap ke arah Anindya dan memberikan kode untuk segera masuk ke dalam kamar karena ia pun juga melakukan hal sama setelah mengibaskan tangan.


Anindya hanya mengangguk perlahan dan menahan perasaannya yang tidak karuan karena dipenuhi oleh rasa cemburu mendengar pria yang disukainya berbicara di telepon dengan sang kekasih yang dipanggil sayang.


Ia hanya melihat siluet belakang pria dengan bahu lebar tersebut masuk ke dalam ruangan kamar, masih berbicara di telepon dengan sang kekasih.


'Pasti aku sangat bahagia jika dipanggil sayang oleh tuan Aaron. Ya Allah, lumpuhkanlah ingatanku yang suatu saat nanti melihat tuan Aaron menikah dengan nona Jasmine,' gumam Zea yang saat ini melangkah masuk ke dalam ruangan kamar di sebelah kiri.


Ia ya saat ini masih memegang benda pipih di tangannya, kini berjalan menuju ke arah ranjang dan menaruh ponsel di sana.


Karena ingin segera merebahkan tubuhnya yang terasa pegal karena cukup lama berada di atas motor sport, Zea membersihkan diri terlebih dulu di kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan piyama.


Ruangan kamar yang sangat luas tersebut membuatnya merasa sangat nyaman dan selalu tidur nyenyak tanpa dipenuhi oleh kekhawatiran seperti saat tinggal di rumah sendiri.


Karena dulu selalu bangun awal untuk memasak sarapan karena ibu tiri tidak pernah membiarkannya berpangku tangan. Namun, ketika berada di rumah pria yang telah menabraknya, seolah ia berubah menjadi seorang ratu karena ada banyak pelayan yang melayaninya.


Beberapa saat kemudian, Zea naik ke atas ranjang dan kini kembali mengambil ponsel untuk mencari tahu banyak hal mengenai universitas yang akan menjadi tempatnya menuntut ilmu.


Ia fokus membaca semua informasi yang ada di ponsel tersebut. Bahkan ia berdecak kagum membaca kelebihan dari Universitas itu.


"Wah ... keren. Padahal awalnya hanyalah sebuah institusi pelatihan komputer biasa. Tapi seiring berjalannya waktu, institusi tersebut kemudian menjadi Akademi Teknik Komputer yang mendapat penghargaan sebagai akademi komputer terbaik dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan."


Zea kini beberapa kali berdesak kagum ketika membaca Universitas itu sudah meluluskan banyak alumni berprestasi yang sangat terkenal di Jakarta.


"Luar biasa sekali. Bahkan lulusan dari sana adalah orang-orang hebat. Ini adalah beberapa Pendiri dan CEO, lulusan jurusan Teknik Informatika dan Ilmu komputer


"Bahkan menempatkan Universitas di posisi ke-2 dalam daftar universitas swasta terbaik di Jakarta. Lalu aku akan mengambil jurusan apa ya kira-kira?" Zea masih membaca sekitar 11 fakultas untuk program S1.


"Fakultas Ekonomi dan Komunikasi, Fakultas Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer dan Fakultas Desain. Aku pilih yang mana, ya kira-kira sesuai dengan bakatku?" Zea masih terdiam untuk mempertimbangkan keputusan agar tidak salah pilih.


Setelah beberapa kali mempertimbangkan keputusannya, kini Zea menjatuhkan pilihan pada Fakultas Ekonomi. Ia berpikir jika di bidang keuangan, prospek kerja jurusan ilmu ekonomi tak terbatas menjadi akuntan saja.


Sarjana Ekonomi juga ada yang menjadi analis, auditor, aktuaris, hingga konsultan keuangan. Ia ingin menjadi wanita dengan value tinggi seperti yang diharapkan oleh Aaron tadi ketika menasihatinya.


"Baiklah. Aku akan membuat harapan Tuan Aron menjadi kenyataan dengan menjadi wanita berpendidikan dan memiliki value tinggi." Kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang setelah menaruh ponsel miliknya di atas nakas.


Zea saat ini menatap ke arah langit-langit kamar dan mengingat saat Aaron berbicara di telepon dengan sang kekasih. Ia saat ini memegangi dadanya yang terasa sesak ketika mengingat hal itu.


Rasa cemburu seolah membuatnya sesak bernapas. "Padahal beberapa saat lalu aku merasa bahagia, tapi sekarang dihancurkan oleh kenyataan dan membuatku sadar bahwa


tuan Aaron adalah jodoh nona Jasmine."


"Lupakan pria yang tidak akan pernah bisa kamu miliki, Zea. Kamu pasti bisa," lirih Zea yang saat ini memilih untuk segera beristirahat dan memejamkan mata.


Apalagi sudah menguap beberapa kali dan membuatnya miring ke kanan sambil memeluk guling. Namun, kembali membuka mata saat mendengar suara dering ponsel miliknya.


"Siapa yang menelpon malam-malam begini?" lirih Zea yang mengulurkan tangannya untuk mengambil benda pipih di atas nakas dan seketika membulatkan mata begitu melihat kontak pria yang tak lain adalah Erick.


"Ngapain dia malam-malam begini menelpon? Kurang kerjaan!" Refleks Zea langsung mereject panggilan karena sangat malas mengangkat telepon dari pria yang diketahuinya adalah seorang penjahat wanita seperti yang dikatakan oleh Aaron.


Apalagi ia sama sekali tidak tertarik dengan pria itu karena dipikirannya saat ini tengah dipenuhi perasaan terluka ketika mengingat Aaron yang berbicara di telepon dengan sang kekasih.


Zea berniat untuk kembali menaruh ponsel di atas, tapi tidak jadi melakukannya karena mendengar beberapa notifikasi yang masuk dan sudah menduga jika itu dari Erick.


Karena berpikir mungkin ada suatu hal yang penting, kini Zea membaca pesan dari Erick.


Kenapa dimatikan?


Ada hal penting yang ingin kau bicarakan denganmu.


"Hal penting apa yang membuatnya ingin berbicara denganku? Modus!" sarkas Zea yang saat ini tidak berniat untuk membalas pesan dari Erick dan memilih mengaktifkan mode getar agar tidak terganggu saat beristirahat.


Setelah kembali meletakkan benda pipih tersebut di tempat semula, ia pun kembali berbaring memeluk guling dan berharap bisa segera tertidur pulas dan melupakan bayangan Aaron ketika terlihat sangat bahagia berbicara di telepon dengan calon istri dan membuatnya merasa sangat cemburu.


"Tuan Aaron, aku sangat menyukaimu dan cemburu melihatmu bahagia bersama dengan wanita itu," lirih Zea dengan memejamkan mata.


To be continued...