
"Saya adalah pemilik sawah di depan sana, Tuan. Tadi pak RT datang ke rumah saya dan mengatakan jika ada yang berniat untuk membeli sawah dan saya langsung datang ke sini begitu mengetahui Anda berada di rumah ini," ucap pria paruh baya yang saat ini tengah membungkuk hormat pada orang yang hendak membayar hamparan sawah miliknya.
Ia kebetulan memang ingin menjual sawahnya yang selama ini belum ada yang mampu membeli karena sangat luas. Apalagi ia berniat untuk pindah ke Jakarta karena disuruh oleh putranya yang merupakan anak tunggal dan sudah menetap di sana dan hidup terjamin sebagai seorang jaksa.
Jadi, akan menghabiskan masa tua dengan merawat cucunya, sehingga ingin meninggalkan kampung halaman dan tidak ingin terbebani dengan masalah sawah. Sementara rumah akan dikontrakkan.
Candra Kusuma yang saat ini mengerti, langsung membersihkan masuk. "Lebih baik kita bicara di dalam untuk membahas mengenai harganya. Jika cocok, aku akan langsung mentransfer uangnya."
Pria itu saat ini mematuhinya dan berjalan mengikuti belakang serta duduk di sofa. "Kalau boleh tahu, apa hubungan Anda dengan nona Zea pemilik rumah ini? Maaf, karena bertanya."
Candra Kusuma hanya menggilingkan kepala karena mengerti kenapa pria itu bisa bertanya padanya. Ia pun menjelaskan bahwa Zea adalah cucunya yang telah lama dicari. Kemudian ia mulai membahas mengenai harga dari sawah yang akan dibeli sebagai tempat dibangunnya cluster mewah.
Saat fokus membahasnya, mendengar suara Zea yang baru saja pulang dari rumah tetangga dan seketika menatap ke arah cucunya.
"Kakek benar-benar akan membeli sawah di depan sana untuk dibangun cluster mewah?" Zea yang tadi mendengar pembicaraan dari sang kakek dengan pria pemilik sawah saat masuk ke dalam rumah, seketika mengungkapkan rasa tidak suka yang dirasakan.
Ia tidak ingin suasana penuh ketenangan yang selama ini dirasakan oleh para warga sekitar berubah tidaklah sedamai biasanya.
"Iya, Kakek berencana untuk membangun perumahan mewah di sini. Memangnya kenapa, Cucuku?" tanya Candra Kusuma yang kini melihat wajah cucunya seperti menampilkan ketidaksukaan atas apa yang diketahui.
Zea saat ini ingin sekali mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, tapi merasa tidak enak dengan pria yang merupakan pemilik dari sawah tersebut. Jadi, membiarkan ritual jual beli antara pembeli dan penjual tersebut berlangsung.
"Tidak apa-apa, Kek. Lanjutkan saja! Aku mau mengemas beberapa makanan yang tadi baru kubeli dengan Erick agar bisa dibawa dan dimakan saat perjalanan ke Surabaya." Zea tidak ingin tahu urusan para orang tua dan membuatnya berlalu pergi untuk membiarkan mereka melanjutkan pembicaraan.
Sementara itu, dua pria yang saat ini baru saja melihat siluet belakang gadis mungil itu, seketika bersitatap karena merasa pemikiran mereka sama.
"Sepertinya cucuku tidak suka aku membeli sawah di sini."
"Sepertinya begitu, Tuan. Lalu, bagaimana? Apa Anda tidak jadi membeli sawah saya?" Merasa jika gagal mendapatkan pembeli, ia seketika murung wajahnya.
Sementara itu, Candra Kusuma kini mengendikkan bahu karena berpikir bahwa apapun yang dilakukan harus atas persetujuan cucunya karena sekarang sudah tidak hidup sendirian di dunia ini.
"Aku tidak tahu karena harus membicarakannya dengan cucuku terlebih dahulu." Kemudian ia mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam dompet. "Kamu bisa menghubungiku untuk menanyakan keputusan cucuku."
Dengan raut wajah penuh kekecewaan, kini ia menerima kartu nama dari pria paruh baya tersebut. Bahkan ia saat ini berpikir jika harapannya untuk bisa mendapatkan pembeli sirna.
"Baik, Tuan. Semoga saya akan mendengar kabar baik. Kalau begitu, saya permisi dulu. Semoga perjalanan Anda ke Surabaya perjalanan lancar dan selamat sampai di tempat tujuan." Membungkuk hormat dan berlalu pergi meninggalkan ruang tamu begitu mendapat anggukan kepala dan terima kasih dari pria tersebut.
Sementara itu, Candra Kusuma yang saat ini masih duduk di sofa, mendengar suara dari Zea yang baru saja kembali dari dapur dan membawa dua kantong plastik besar berisi aneka snack.
"Itu stok camilanmu satu bulan, Cucuku? Banyak sekali." Menatap heran apa yang baru saja diletakkan di atas meja oleh cucunya.
"Ini tadi diberikan oleh Erick, Kek. Memang untuk stok selama 1 bulan agar aku tidak pergi kemana-mana. Lagipula aku pun sangat malas keluar dan lebih suka memesan lewat aplikasi daripada pergi sendiri."
"Oh ya, apa Kakek jadi membeli sawah depan itu?" Zea yang baru saja menutup mulut, suara bariton dari luar dan ketika menoleh ke arah pintu, pria paruh baya yang merupakan supir karena berbicara pada sang kakek.
"Apa langsung berangkat sekarang, Tuan?" tanya sang sopir yang baru saja datang dan ingin memastikan.
Candra Kusuma tidak jadi menjawab pertanyaan dari cucunya dan kini menuju ke arah atas besar di sebelah kiri. "Kau masukkan semua barang cucuku ke dalam mobil. Kita berangkat sekarang."
Kemudian ia bangkit berdiri dari posisinya dan seperti beberapa saat yang lalu ketika cucunya langsung bergerak membantunya seperti seorang pria tidak berdaya yang butuh dipapah ketika berjalan.
"Tidak perlu berlebihan seperti itu, Cucuku. Kakek sekarang sudah sehat dan bisa berjalan normal seperti biasanya. Memang saat kambuh, sangat lemas, tapi setelah minum obat, semuanya baik-baik saja." Kini berusaha menunjukkan bahwa ia sangat kuat dengan berjalan tegak tanpa bantuan orang lain.
Zea yang saat ini hanya geleng-geleng kepala melihat sang kakek berusaha kuat di depannya. Akhirnya ia membiarkan pria paruh baya tersebut berjalan menuju ke arah mobil.
Sementara ia membawa aneka camilan yang berada di atas meja dan mengunci pintu setelah tadi memberikan kunci cadangan pada tetangga sebelah untuk berjaga-jaga jika nanti ada yang ingin mengontrak rumah.
Ia bahkan memberikan sejumlah uang sebagai ucapan terima kasih karena sudah mau dimintai tolong. Hingga ia merasa tidak enak ketika tetangga mengatakan akan membersihkan beberapa hari sekali agar tidak kotor sampai menemukan orang yang mau mengontrak rumah.
Zea saat ini sudah berjalan menuju ke arah mobil dan sebelum masuk ke dalam, ia berbalik menatap ke arah rumah yang sudah beberapa minggu ditempati.
'Selamat tinggal, Rumahku. Terima kasih karena sudah menjadi tempat ternyaman untukku selama beberapa hari belakangan ini menenangkan diri dari masalah yang kuhadapi akibat perbuatan tuan Aaron padaku.'
"Silakan, Nona." Sang supir ikut merasa senang karena cucu utama dari keluarga Kusuma telah kembali dan majikannya kini seperti merasa bersemangat kembali menjalani hidup.
"Terima kasih." Zea saat ini tersenyum simpul dan masuk ke dalam mobil.
Ia mengerutkan keningnya karena sang kakek ternyata memilih duduk di depan dan membiarkannya sendirian di belakang. "Kakek tidak duduk di belakang bersamaku?"
Saat baru memasang sabuk pengaman, Candra Kusuma seketika menoleh ke arah belakang. "Perjalanan akan memakan waktu cukup lama, Cucuku. Kamu bisa tidur di mobil atau meluruskan kakimu nanti sambil menikmati camilan."
"Kira-kira berapa jam perjalanan dari Jogja ke Surabaya, Kek?" Zea saat ini justru mengkhawatirkan keadaan dari sang kakek yang tengah sakit.
"Sekitar 5 jam karena kita akan lewat tol karena jika jalur biasa akan lebih dari itu." Ia pun kembali menatap ke arah depan dan sang supir kini mulai mengemudikan kendaraan meninggalkan area rumah keluarga besannya.
Zea saat ini membulatkan mata begitu mengetahui jika perjalanan akan memakan waktu cukup lama. "Kenapa tidak naik pesawat saja ke sini, Kek? Itu jauh lebih cepat dan tidak akan membuat kondisi tubuh Kakek drop karena harus melakukan perjalanan jauh."
Saat ini, pria yang duduk di kursi depan tersebut hanya tersenyum dan sangat menyukai kekhawatiran dari cucunya yang sangat perhatian padanya. "Itu karena Kakek lebih suka menikmati perjalanan seperti ini karena bisa melihat keindahan tiap kota."
"Apalagi selama ini Kakek sibuk bekerja dan bekerja, lalu pulang ke rumah hanya untuk tidur. Itu sebenarnya adalah rutinitas yang paling membosankan dan membuat bingung." Mengembuskan napas kasar yang mewakili perasaannya saat ini.
"Kakek bahkan hidup sendirian, tapi bekerja keras. Memangnya siapa yang kucarikan? Karena selama ini hidup sendirian." Ia pun kembali menoleh ke arah belakang untuk melihat ekspresi dari cucunya.
Saat ini, Zea merasa iba pada sang kakek karena selama ini menyimpan beban berat yang dirasakan. Ia tidak tahu banyak mengenai sang kakek dan berniat untuk bertanya lebih jauh.
"Memangnya Kakek selama ini usaha di bidang apa? Saat nanti Kakek berobat dan total beristirahat, biar aku yang mencoba untuk bekerja. Aku akan banyak belajar nanti agar tidak membuat kerugian untuk Kakek." Zea merasa jika rasa bosannya akan terobati jika disibukkan oleh pekerjaan.
Namun, jawaban dari sang kakek membuatnya merasa kecewa. Meskipun mengetahui bahwa itu adalah sebuah hal untuk kebaikannya.
"Tidak, Cucuku. Kamu harus melanjutkan kuliah agar memiliki pengetahuan yang baik untuk kedepannya memimpin perusahaan. Ada orang kepercayaan Kakek yang selama ini membantu mengurus perusahaan. Kamu hanya perlu fokus untuk kuliah saja dan setelah lulus nanti, bisa memimpin perusahaan."
Ia tidak ingin ada yang meremehkan cucunya, berpikir harus membekali dengan kemampuan serta pengetahuan dari bangku kuliah. Meskipun itu hanyalah sebuah formalitas dari ijazah, tetap saja ingin memberikan yang terbaik untuk cucunya.
Zea yang dari dulu memang sangat ingin melanjutkan kuliah, terhalang biaya karena sang ibu tiri. Hingga mempertemukan dengan Aaron yang akhirnya membuatnya bisa merasakan seperti apa rasanya kuliah, meskipun berakhir putus di tengah jalan karena ulah pria.
'Kenapa sekarang aku sangat malas kuliah saat mempunyai segalanya? Rasanya hidupku seperti tidak berarti semenjak perbuatan Tuan Aaron padaku. Bahkan untuk menjalani hidup tenang saja tidak bisa karena selalu dibayang-bayangi oleh perbuatannya.'
Lamunan Zea seketika musnah begitu mendengar suara bariton dari sang kakek yang bertanya karena tidak menjawab.
"Apa yang sedang kamu lamunkan, Cucuku? Apa kamu tidak berniat untuk kuliah? Kamu masih muda dan harus mempunyai mimpi yang besar dengan melanjutkan pendidikan sesuai apa yang kamu harapkan." Meskipun katanya tidak ingin terdengar seperti menggurui ataupun memerintah, tetap saja ia ingin yang terbaik untuk cucunya.
Zea yang kini masih belum berencana untuk melanjutkan kuliah karena ingin menenangkan diri terlebih dahulu, kini menatap ke arah sang kakek yang terlihat seperti sangat berharap ia meneruskan pendidikan.
"Aku ingin beristirahat untuk menenangkan pikiran selama satu bulan, Kek. Ada banyak hal yang terjadi dan membuatku belum berniat untuk kembali kuliah."
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Sayang? Sampai kamu memutuskan untuk tinggal di sini sendirian dan meninggalkan rumah keluarga Jonathan yang selama ini menjadi tempat tinggalmu?" Sebenarnya hal itu selalu ingin ditanyakan pada cucunya, sabar tapi masih menunggu saat yang tepat.
Namun, karena hari ini sang cucu juga membahasnya, hingga membuatnya langsung bertanya dan berharap bisa mendapatkan sebuah jawaban.
"Aku akan menceritakan semuanya pada kakek saat waktunya tiba, tapi untuk sekarang tolong jangan tanyakan itu!" Zea memilih untuk mengalihkan perhatian dari sang kakek dengan membuka camilan yang tadi sengaja ditaruh di sebelah tempat duduknya.
Ia memilih keripik kentang dan membukanya, lalu fokus menikmati makanan ringan yang menjadi favoritnya dan kebetulan juga kesukaan Erick.
'Semoga kakek mengerti dan bisa memahami apa yang kurasakan, jadi tidak memaksaku untuk bercerita. Oh ya, makan keripik kentang ini membuatku mengingat Erick. Apa aku harus mengatakan jika sekarang pindah ke Surabaya?' gumam Zea yang saat ini tengah menatap ke arah jalan raya kota Jogja.
Akhirnya ia mengambil ponsel miliknya dan mengirimkan pesan pada Erick, tapi hanya mengatakan jika hari ini pindah ke Surabaya. Tentu saja tidak langsung terkirim karena saat ini tengah berada di dalam pesawat dan yakin jika pria itu nanti pasti akan menelponnya.
Jadi, berencana akan menceritakan semuanya pada Erick jika menelpon begitu membaca pesan darinya saat tiba di Jakarta. Ia kini merasa lega saat sang kakek mau mengerti dan tidak memaksanya.
"Baiklah, Sayang. Lakukan apapun sesukamu. Kakek tidak akan pernah memaksa dan ingin kamu selalu bahagia. Bahkan akan melakukan apapun agar kamu merasa bahagia," ucap Candra Kusuma yang percaya jika cucunya akan berbicara padanya saat tiba masanya nanti.
To be continued...