
Suasana di ruangan meeting yang saat ini dihadiri oleh para pemegang saham serta beberapa petinggi yang lain, baru saja mendengarkan penjelasan dari asisten pribadi presiden direktur yang saat ini masih dalam kondisi koma di Rumah Sakit.
Hingga beberapa saat kemudian, mempersilakan cucu pemilik perusahaan agar mengungkapkan apa yang ingin dikatakan pada semua orang yang hadir di sana.
Kemudian Khaysila yang dari tadi sudah mempersiapkan hatinya agar tidak merasa gugup dan rendah diri di hadapan semua orang dengan mengingat perkataan dari sang kakek yang selalu menasihatinya agar percaya diri.
Kini, ia bangkit dari posisi dan menatap ke arah semua orang karena berada di barisan paling depan. "Saya tidak perlu memperkenalkan diri lagi karena kemarin presdir sudah menjelaskan tentang semuanya."
"Setelah mendengarkan semua kekhawatiran dari semua orang mengenai nasib perusahaan setelah presdir dirawat di Rumah Sakit, saya memakluminya dan tidak menyalahkan pemikiran itu. Hanya saja, saya menegaskan di sini bahwa perusahaan ini didirikan dengan hasil jerih payah presdir yang tak lain adalah kakek saya."
"Jadi, akan saya pastikan tidak akan pernah menghancurkan hasil jerih payah beliau dengan membuat perusahaan ini jauh lebih berkembang dan tidak hancur hanya gara-gara saya yang menjadi penggantinya saat tidak memiliki pengalaman atau bahkan diragukan kemampuan oleh semua orang yang ada di sini."
Ia menghentikan kalimat panjang lebar yang baru saja diungkapkan karena berpikir jika orang-orang yang hadir di ruangan tersebut akan merasa bosan. Sengaja melakukannya karena ingin semua anggota dewan direksi serta pemilik saham mencerna seluruh kata-katanya.
Bahkan ia saat ini bisa melihat semua orang tengah saling bersitatap dengan yang lain. Seolah tengah mempertimbangkan apa yang baru saja diungkapkan olehnya.
Hingga ia pun kembali menjelaskan tentang rencananya agar semua orang tidak menganggapnya remeh. "Saya memang pantas dilakukan karena memang belum terbukti kemampuan dalam memimpin perusahaan, tapi berharap kalian memberikan kesempatan."
"Berikan kesempatan pada saya selama 6 bulan ini untuk membuktikan bahwa perusahaan dalam pimpinan saya tidak akan mengalami kerugian yang bisa menyebabkan kehancuran. Jika memang dalam waktu itu saya gagal, akan mundur dari posisi ini dan menyerahkan pada yang lebih baik."
Ia yang saat ini merasa lega setelah mengungkapkan semuanya, kini menoleh ke arah asisten pribadi sang kakek. "Anda bisa melanjutkannya."
Sementara itu, pria yang selama ini disegani karena dekat dengan pemimpin perusahaan, beberapa saat lalu mendapatkan pesan dari resepsionis dan mengerutkan rekening karena ada yang ingin menemui cucu dari majikannya.
Hingga begitu melihat gadis yang masih sangat muda dan harus memikul tanggung jawab tersebut mendaratkan tubuh di kursi sebelahnya, kini membuka suara dan berbicara lirih sebelum melanjutkan meeting untuk mendengar pendapat para dewan direksi di ruangan tersebut.
"Nona, ada dua pria yang ingin bertemu dengan anda dan saat ini berada di lobby. Salah satu nama dari pria itu adalah Aaron. Apakah Anda ingin menemuinya?" tanya sang asisten yang kini menunjukkan ponselnya karena ada pesan dari resepsionis.
Khaysila saat ini tengah menatap ke arah ponsel dan membacanya langsung. Tentu saja saat ini perasaannya tidak menentu begitu melihat ada nama sosok pria yang selama ini sangat dibenci.
Ia yang sudah mempertimbangkan keputusannya, kini merebut ponsel itu. "Lanjutkan saja meeting ini. Biar saya yang membalas pesan ini."
"Baik, Nona," sahutnya dengan bangkit berdiri dari posisinya dan kini mulai fokus menatap ke arah semua anggota dewan direksi di ruangan itu.
Kemudian melanjutkan acara selanjutnya untuk saling tanya jawab mengenai pendapat tentang apa yang disampaikan oleh cucu dari pemilik perusahaan yang akan menggantikan kursi kosong presiden direktur.
Sementara Khaysila saat ini langsung menelpon untuk berbicara. Begitu sambungan telpon diangkat, langsung membuka suara. "Meeting masih berlangsung dan mungkin akan selesai satu jam lagi. Katakan itu pada pria bernama Aaron dan satunya. Aku akan menemuinya setelah selesai."
Kemudian langsung mematikan sambungan telpon tanpa menunggu jawaban dari seberang karena saat ini mendengar suara dari salah satu orang yang berkomentar mengenai apa yang tadi disampaikan olehnya.
"Waktu 6 bulan terlalu lama dan bersiko untuk nasib perusahaan jika sampai mengalami kerugian karena dipimpin oleh orang yang sama sekali tidak mengerti dunia bisnis dan seluk beluk tentang perusahaan. Jadi, saya mengusulkan untuk memberikan waktu hanya 3 bulan."
"Anggap saja seperti karyawan yang melakukan training selama 3 bulan untuk mengetahui kinerja," ucap pria ya saat ini memakai setelan berwarna hitam dan rambut agak sedikit botak.
Bahkan semua orang menatap ke arahnya karena pertama kali berkomentar sangat berani karena menunjukkan ketidaksukaan.
Khaysila pada saat ini langsung bisa menilai jika pria tersebut merupakan salah satu antek-antek dari wakil pimpinan yang sudah dipecat dan dibawa ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatan karena menggelapkan dana perusahaan.
Tanpa pikir panjang, ia pun langsung menganggukkan kepala. "Baiklah. Saya akan bekerja keras selama 3 bulan untuk membuat perusahaan ini semakin berkembang." Ia sebenarnya tidak yakin bisa melakukannya karena ada banyak hal yang harus dikerjakan.
Mulai dari mengurus bayinya, kuliah dan menjenguk sang kakek di rumah sakit. Hingga ia pun mau ikut tanggung jawab besar untuk memimpin perusahaan dan membuktikan bahwa ada gen yang diturunkan oleh sang kakek padanya karena sangat hebat dalam mengembangkan bisnis.
'Semoga aku bisa dan kuat, agar tidak mengecewakan harapan besar kakek yang saat ini tengah berjuang di ruang ICU. Kakek harus bisa melihat perjuanganku untuk perusahaan ini. kakek baru sadar dan percaya padaku.'
To be continued...