Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
I love you



Aaron dan Khayra seketika bersitatap karena mereka saat ini sama-sama terkejut ketika tiba-tiba wanita itu sudah memutuskan saat penjelasan belum selesai.


Mereka saling menatap seolah sama-sama ingin tahu keputusan yang diambil wanita itu. Hingga keduanya menatap ke arah sang investor.


"Aku sudah memutuskan untuk berinvestasi di perusahaan Kusuma." Maribell Xavia kini memberikan sebuah kode dengan ketukan di atas meja sebanyak tiga kali dan beberapa orang-orangnya langsung datang membawa dokumen yang berisi kontrak kerja sama.


Khayra seketika membulatkan mantan sambil membuka mulut karena saat ini benar-benar sangat terkejut ketika tidak menyangka jika usahanya akan membuahkan hasil dan akhirnya wanita itu mau berinvestasi seperti tahun lalu saat dipimpin oleh sang kakek.


"Nona, apa boleh aku bertanya sesuatu hal yang membuat Anda memutuskan berinvestasi di perusahaan kami ketika kakek tidak ada, kira-kira apa?"


Aaron yang tadinya sangat salut pada kemampuan Anindya dalam hal publik speaking di usia yang masih sangat muda, membuatnya merasa bangga. Ia pun kini ikut senang karena gadis itu berjuang sendiri dengan sangat hebat.


Ia saat ini hanya melihat proses kerja sama antara perusahaan Kusuma dengan sang investor.


'Calon istriku memang sangat keren. Aku sama sekali tidak menyangka jika dia bisa menaklukkan hati wanita arogan ini. Apalagi dengan mudahnya langsung membuatnya mengambil keputusan tanpa ragu. Aku benar-benar sangat bangga padamu, Anindya,' gumam Aaron yang baru melihat dua wanita itu selesai menandatangani kontrak kerjasama.


Hingga ia tahu alasan dari wanita itu yang memilih Anindya daripada perusahaan Kusuma.


"Dari awal aku sudah memutuskan untuk berinvestasi di perusahaan Kusuma, tapi aku ragu jika kau tidak bisa apa-apa karena hanya seorang anak kecil. Hanya saja, aku tersentuh ketika kau mengawali dengan memintaku mendoakan kakekmu." Maribell Xavia yang dari dulu tidak pernah bisa melihat kakeknya karena dari kecil sudah meninggal.


Ia bahkan tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang kakek dan itu ia dapatkan dari Candra Kusuma. Bahwa ternyata pria paruh baya tersebut selalu membuatnya merasa seperti mempunyai seorang kakek.


Bahkan alasan ia selalu berinvestasi di perusahaan itu bukan karena masalah uang atau keuntungan yang ia dapatkan, tapi yang ada karena ia memilih pria itu menjadi sosok kakek untuknya.


Hingga begitu mendengar kabar jika pria yang sangat disayangi yang tersebut mengalami koma di rumah sakit dan perusahaan digantikan dipimpin oleh sang cucu, ia merasa sangat penasaran dengan seperti apa sosok gadis itu.


Apalagi dulu pria itu tidak pernah menceritakan padanya jika mempunyai seorang cucu. Kini, ia mengulurkan tangannya pada Khayra. "Sekarang aku tenang karena bisa melihat cucu seorang Candra Kusuma," ucapnya yang saat ini mendapatkan sambutan dari gadis yang sangat muda itu.


Khayra benar-benar sangat bersyukur karena ternyata yang berhasil juga berkat sang kakek yang hebat. Bahwa semua yang terjadi hari ini membuatnya sadar jika sang kakek memiliki pengaruh sangat kuat dalam hal apapun meskipun tidak ada.


"Terima kasih, Nona karena menyetujui dan tidak meragukan kemampuan saya." Hingga ia saat ini mengingat sosok pria yang masih berada tak jauh dari hadapannya. Ia menunjuk ke arah Aaron yang dari tadi diam menatap interaksi mereka.


"Lalu, tuan Aaron? Apa Anda memang sengaja tidak tertarik untuk berinvestasi di perusahaannya dari awal?" Ia benar-benar merasa tidak enak pada Aaron, sehingga ingin wanita itu berubah pikiran dengan penuh harapan agar berinvestasi juga di perusahaan pria itu.


Maribell Xavia yang saat ini langsung menoleh ke arah pria yang ditunjuk, kini seketika tertawa. "Aku sebenarnya tertarik dengan penjelasannya, dia membuat mood-ku sangat buruk di awal pertemuan." Kemudian oleh karena bunga yang tadi dilemparnya dan menunjuk ke sana.


"Jika dia tidak membawa bunga itu, mungkin aku juga sudah menandatangani kontrak kerjasama. Anggap saja aku tidak profesional dalam bekerja, tapi yang ada malah memikirkan masalah pribadi." Saat ia baru saja menutup mulut, mengerutkan kening karena saat ini Aaron berjalan antar meja dan mengambil bunga yang tadi dibuang olehnya.


Tidak hanya itu saja karena saat ini gadis di hadapannya mengulurkan buket bunga diliputi untuknya.


Namun, niatnya malah keduluan oleh pria yang sudah menaruh bunga itu ke atas meja dan menatapnya dengan tajam karena memberikan buket bunganya.


"Apa kau ingin memberikan cinta kepada orang lain?" sarkas Aaron yang bener-bener kesal karena ketulusannya malah ingin diberikan pada seorang wanita arogan yang tidak bisa membedakan masalah pribadi dan pekerjaan.


Merasa terdampar dengan apa yang baru saja diungkapkan oleh Aaron, Khayra yang sudah terlanjur mengulurkan buket bunga pada sang investor, merasa suaranya tercekat di tenggorokan dan tidak bisa menanggapi.


'Benar juga apa yang dikatakan oleh tuan Aaron. Tapi sebenarnya bukan itu maksudku karena hanya berniat untuk merubah pikiran wanita itu agar juga mau menanamkan modal di perusahaannya. Tuan Aaron pasti salah paham dengan apa yang kau lakukan saat ini,' gumam Khayra masih menunggu wanita itu menerima.


Meskipun di dalam hati ingin wanita itu tidak menerima pemberiannya karena ia khawatir jika pria di hadapannya tersebut kesal dan murka padanya. Hingga suara dari sang investor kini membuyarkan lamunannya yang dari tadi dipenuhi oleh kekhawatiran.


Maribell kenapa satu persatu ke arah pria dan wanita di sebelah kanan dan kirinya. "Apa kalian adalah sepasang kekasih?"


Ia akan menatap penuh pertanyaan karena dua orang itu tidak menjawab pertanyaannya dan malah saling bersitatap. Hingga mendengar suara dari pria yang langsung membantah.


"Bukan!" sarkas Aaron yang saat ini sudah tidak memperdulikan etika kesopanan karena memang acara formal itu telah berakhir.


Sementara itu, Khayra merasa seperti jantungnya dihunus tombak tajam begitu jawaban Aaron menusuk gendang telinganya.


Ia bahkan tidak pernah menyangka jika pria itu akan mengelak ketika dianggap sebagai pasangan kekasih oleh seorang investor yang dibuat bingung.


'Oh ... jadi kami bukan siapa-siapa dan bunga itu hanyalah sebagai salam pertemuan saja,' gumam Khayra yang saat ini merasa sangat kesal atas jawaban dari Aaron.


Namun, ia seketika menelan saliva dengan kasar dan degup jantung tidak beraturan kala Aaron kembali membuka suara.


"Khayra memang bukan kekasihku, tapi dia adalah calon istriku," sahut Aaron yang ingin menguraikan kesalahpahaman.


Meskipun ia sangat kesal pada perbuatan Anindya, tetap saja tidak ingin membuat gadis itu lepas darinya sedikit pun.


"Kami akan menikah beberapa bulan lagi. Saya harap nanti Anda datang," ucap Aaron dengan penuh percaya diri tanpa merasa takut jika perkataannya tidak menjadi kenyataan.


Ia bahkan saat ini menatap ke arah sosok wanita yang mengerjapkan mata karena terkejut dengan pengakuannya. Tanpa memperdulikan hal itu, ia saat ini hanya tersenyum simpul sambil membentuk simbol hati seperti yang dilakukan oleh para wanita pecinta Drakor.


"I love you."


To be continued...