Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Tidak ingin kembali



Beberapa saat lalu, Sony yang dari tadi mencoba untuk mengingat-ingat tentang sosok gadis yang duduk bersama pria dan tak jauh dari tempatnya.


'Gadis itu, apakah alumni dari SMA-ku dulu? Tapi aku tahu,' gumamnya di dalam hati dan begitu melihat sahabatnya datang dengan membawa makanan serta minuman dan duduk di sebelahnya.


Refleks ia mengarahkan jari telunjuk pada sosok gadis yang menurutnya sangat tidak asing. "Bro, coba lihat gadis itu!"


Sementara itu, laki-laki yang baru saja meletakkan makanan dan minuman di atas tikar, kini mengikuti arah telunjuk sahabatnya. "Siapa? Maksudmu pasangan itu?"


Sony seketika mengangukkan kepala sebagai tanda membenarkan sahabatnya. "Iya, coba kamu lihat gadis itu baik-baik. Apa dia alumni di SMA kita dulu? Aku sangat tidak asing melihat wajahnya. Seperti pernah bertemu dengannya, tapi di mana, aku ragu."


Tentu saja laki-laki yang tak lain bernama Rendi itu semakin menatap intens wajah gadis belia dari samping dan tidak jelas karena lampu penerangan hanya remang-remang.


"Sepertinya bukan, Bro. Aku paling hafal dengan para gadis cantik di sekolah kita. Jadi, mana mungkin melewatkan gadis cantik itu," sahut Rendi yang seketika meringis menahan rasa nyeri akibat sahabatnya meninju lengannya.


"Dasar playboy cap cicak! Selama ini kau hanya memperhatikan para gadis populer di kampus, jadi mungkin tidak tahu gadis itu." Sony yang baru saja menutup mulut, kini melihat pergerakan dari gadis yang dari tadi diperhatikan bangkit berdiri


Bahkan pria di hadapannya juga melakukan hal sama dan melihatnya menggandeng pergelangan tangan gadis itu. "Dia pergi! Sepertinya aku yang harus memastikannya sendiri karena sangat penasaran."


Kemudian Sony seketika bangkit berdiri dari posisinya dan berteriak sebelum kehilangan jejak. Saat ia berjalan mendekat, tapi tidak melihat gadis itu menoleh dan membuatnya ragu apakah tebakannya benar.


Namun, ia tetap nekad karena tidak ingin bertanya-tanya mengenai apa yang ada di dalam hati. Tanpa merasa khawatir akan malu jika sampai pemikirannya salah, tapi tetap menghampiri dengan menyentuh pundak gadis yang memunggunginya.


"Tunggu! Apa kamu bersekolah di SMA satu?" tanya Sony yang masih menunggu gadis di hadapannya menoleh ke arah belakang.


"Siapa kau?" tanya Aaron yang kini menatap curiga dan langsung mengempaskan telapak tangan pada pundak Anindya.


Ia merasa curiga ada laki-laki yang mencari kesempatan dalam kesempitan dengan berpura-pura sok kenal dengan gadis amnesia di sebelahnya. Namun, ia juga berpikir, mungkin laki-laki itu memang pernah mengenal Anindya dan akan mengorek informasi sebanyaknya jika itu benar.


Aaron masih berpura-pura tidak menjelaskan tentang Anindya yang amnesia karena berharap mendapatkan sebuah jawaban dari laki-laki muda itu. Namun, ia seketika menatap tajam laki-laki itu begitu menjawab pertanyaan darinya.


"Maaf, aku sedang bertanya pada gadis ini mengenai sekolahnya karena seperti pernah melihatnya, tapi tidak tahu benar atau tidak." Sony yang kini masih tidak mengalihkan perhatian dari gadis di hadapannya, kembali memanggil tanpa nama.


"Hei, kamu benar bersekolah di SMA satu, kan? Kenapa tidak menjawabku?" tanya Sony yang masih menunggu gadis di hadapannya tersebut berbalik badan menatapnya.


Sementara itu, Zea yang saat ini tengah sibuk menormalkan degup jantungnya agar tidak terlihat mencurigakan di depan Aaron sekaligus kakak kelas yang merupakan cinta monyet untuknya.


"Kamu siapa? Apa kamu mengenalku?" Zea sengaja bertanya balik dan tidak berniat untuk menjawab karena sangat yakin jika kakak kelasnya itu tidak akan pernah mengingatnya.


'Kak Sony pasti tidak tahu namaku dan bingung menjawab pertanyaanku. Semoga aku tidak ketahuan pernah bersekolah di SMA satu, agar tidak mendapatkan masalah.'


'Karena jika sampai tuan Aaron tahu dan mencari tahu, pasti aku akan dipulangkan ke rumah yang sekarang dihuni oleh dua iblis itu. Aku tidak mau kembali ke sana dan dijual lagi,' gumam Zea yang kini melihat laki-laki di hadapannya membuka mulut.


To be continued...