Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Membuat kartu nama



Aaron baru saja tiba di hotel dan ia bertemu dengan Erick yang baru selesai joging di sekitar sana. Ia tidak peduli dan tidak ingin menyapa karena tubuhnya pegal semua dan ingin segera merebahkan diri di atas ranjang nyaman yang ada di kamar hotel.


Semalaman ia tidak bisa tidur karena sibuk menyelesaikan beberapa dokumen penting yang dikirimkan melalui email. Hanya beberapa jam saja memejamkan mata dan itupun dengan posisi duduk di kursi yang ada di sebelah pria paruh baya yang masih belum sadarkan diri dari tidur panjangnya.


Namun, sapaan dari Erick yang menyindirnya, membuatnya kesal dan ingin sekali meninju raut wajah pria yang selalu memancing amarahnya.


"Wah ... sang pria pantang menyerah baru saja datang rupanya. Sepertinya kau sangat percaya diri karena memiliki rencana untuk mencuri hati Zea dengan menjaga di rumah sakit. Apapun yang kau lakukan tidak akan berpengaruh padanya." Erick bahkan saat ini mengusap peluh dengan handuk kecil yang melingkar di balik lehernya ketika berbicara pada Aaron.


Ia awalnya merasa sangat terkejut karena tidak menyangka jika Aaron akan pulang pagi. Berpikir jika semalam pria itu sudah kembali ke hotel, tapi ternyata pemikirannya salah dan membuatnya semakin yakin dengan rencana Aaron untuk membuat dia berubah pikiran.


Tidak ingin kalah saing dengan rencana pria di hadapannya tersebut, ia berencana untuk menemani Zea bekerja di perusahaan dengan alasan ingin belajar agar nanti tidak merasa kaget ketika meneruskan perusahaan orang tua.


Sementara itu, Aaron yang saat ini tengah menatap kesal pada Erick, memilih menahan kemurkaan yang membuncah di dalam hatinya dengan cara tersenyum simpul.


"Kita lihat saja hasil akhirnya nanti. Apakah Anindya makan memilihmu atau menikah denganku. Aku sangat lelah karena semalam menemani kakek dan ingin tidur. Kau bisa melakukan apapun sesuka hati dan aku tidak akan pernah merasa iri ataupun tersaingi." Kemudian melambaikan tangan pada Erick dan berjalan menuju ke arah lift.


Merasa tidak ada gunanya membuang-buang waktu berdebat dengan Erik yang notabene ingin menghancurkan mentalnya dan rasa percaya diri yang dirasakan, Aaron memilih untuk menghindar agar tidak terlalu sering berinteraksi dengan Erick.


Apalagi jika sampai ia tidak bisa menahan diri atas emosi yang dipancing oleh pria itu, hanya membuatnya akan menghabisi dengan membuat babak belur wajah Erick. Jika sampai itu terjadi, besar kemungkinan bahwa gadis incarannya malah akan membenci dan tidak ingin melihatnya lagi.


'Bukan itu yang kuinginkan karena aku harus fokus mengambil hati Anindya daripada melayani cecunguk itu,' gumam Aaron yang saat ini sudah masuk ke dalam lift menuju ke lantai atas di mana ruangan kamarnya berada.


Berbeda dengan Erick saat ini masih menatap ke arah siluet belakang pria yang menghilang di balik pintu kotak besi tersebut. "Pria arogan itu terlihat sangat percaya diri di depanku. Menyebalkan sekali!"


Erick saat ini mengambil ponsel di dalam saku celananya dan menghilangkan kekesalannya dengan menghubungi sosok wanita yang sudah sangat dirindukannya.


Setelah kemarin diantar ke hotel dan juga dibelikan makanan, membuatnya hanya diam di kamar menikmatinya tanpa perlu keluar lagi untuk mencari makan malam.


Bahkan ia menunjukkan foto makanan yang sudah dihabiskannya dengan mengirimkan pesan pada Zea, tapi kesal karena tidak mendapatkan balasan. Jadi, sekarang ingin menelpon untuk bertanya apakah semalam benar-benar sibuk, sehingga tidak sempat membalas pesan darinya.


Padahal ia sebenarnya ingin menelpon agar bisa berbincang dengan Zea, tapi memancing dengan mengirimkan pesan malah tidak dibalas dan tentu saja membuatnya kesal karena berpikir macam-macam.


Erick saat ini semakin bertambah kesal karena panggilan telepon darinya juga tidak diangkat. "Sebenarnya apa yang dilakukannya sampai tidak sempat mengangkat teleponku? Atau ia tidak membawa ponselnya? Aah ... itu tidak mungkin karena di zaman sekarang hampir 24 jam orang memegang ponsel."


Namun, Erick masih mencoba untuk berpikir positif bahwa gadis itu benar-benar sibuk dan tidak sempat mengangkat telepon darinya. "Ya, mungkin seperti itu. Tidak mungkin ia mencoba untuk menghindar dariku."


Masih mencoba untuk memenuhi pikiran dengan hal-hal positif guna menghibur diri sendiri, Erick saat ini kembali ke kamarnya karena ingin bersiap untuk pergi ke perusahaan Kusuma.


Apalagi ia sudah berencana untuk beralasan ingin Zea memberikan referensi tentang universitas yang ada di Surabaya untuk meneruskan kuliah yang masih tersisa 2 tahun lagi.


Kini, ia melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah dan tentu saja ruangan kamarnya bersebelahan dengan Aaron. Jadi, ketika lewat depan kamar Aaron, ia apa nanti sejenak dan menatap pintu berwarna coklat tersebut.


"Apa dia tidur? Lebih baik dia tidur daripada pergi ke perusahaan dan mengganggu Zea. Biar aku saja yang berduaan dengan Zea di kantor." Erick yang saat ini baru saja menutup mulut, mendengar suara dering ponsel miliknya berbunyi.


Berpikir jika yang menelpon adalah Zea, sehingga buru-buru memeriksa. Namun, merasa sangat kesal karena ternyata bukan seperti yang dipikirkan. Dengan malas ia menggeser tombol hijau dan mendengar suara di seberang telepon.


"Halo, Ma."


"Erick, Mama baru membaca pesanmu mengenai keinginan untuk pindah kuliah di Surabaya. Papamu marah dan tidak mengizinkannya. Lebih baik kamu kembali ke Jakarta dan buang jauh-jauh pemikiran untuk pindah kuliah!"


Wajah Erick seketika berubah memerah karena kesal saat tidak mendapatkan izin untuk kuliah di Surabaya agar bisa terus bersama dengan gadis pujaan hati.


Namun, belum sempat Ia membuka suara dan ingin merayu sang ibu agar mengubah pemikiran ayahnya, merasa sangat kesal karena sambungan telepon terputus.


"Mama! Aku belum berbicara apapun, sudah dimatikan. Bagaimana mungkin aku kembali ke Jakarta dan membiarkan pria arogan itu berada di sini. Sial! Kenapa semuanya jadi kacau seperti ini?"


"Tidak, aku tidak akan membiarkan Zea sering berinteraksi dengan Aaron. Lalu, Apa yang harus kulakukan sekarang saat keinginanku untuk pindah ke sini ditolak oleh papa?" Erick kembali mengacak frustasi rambutnya dan berjalan menuju ke arah kamar setelah membuka pintu.


Begitu berada di dalam kamar, berjalan mondar-mandir sambil memijat pelipis karena tengah memeras otak untuk mencari sebuah ide agar sang ayah tidak melarangnya pindah kuliah di kota yang sama dengan gadis yang dicintainya.


Namun, sudah beberapa menit berlalu, tetap belum menemukan jalan keluar dari masalahnya dan membuatnya berteriak untuk melampiaskan kekesalan.


"Aaaarggghh ... sial! Kenapa jalanku tidak semulus pria arogan itu?" Ia saat ini merasa bingung harus bagaimana dan mencoba untuk mendinginkan kepala dengan cara mandi di bawah guyuran air shower.


"Semoga setelah ini aku mendapatkan ide untuk mengubah pemikiran orang tuaku agar tidak melarang tinggal di sini. Mereka di luar negeri dan aku tinggal di Jakarta hanya bersama pelayan saja, lalu kenapa saat berada di sini tidak diperbolehkan," keluhnya sambil membuka pakaiannya.


"Padahal sama saja antara Jakarta dan Surabaya karena selalu tinggal tanpa orang tua." Ia pun kini sudah membuka shower dan gemericik air terdengar memenuhi kamar mandi.


Dinginnya air yang terasa menusuk pori-pori kulitnya berhasil menembus ke bagian paling dalam dan membuatnya merasa segar setelah jogging pagi. Jika biasanya di dalam kamar mandi ia selalu bersiul dan terkadang bernyanyi, tapi kali ini hanya memejamkan mata dan terdiam sambil mencari ide.


Namun, merasa tubuhnya lengket dan gerah, sehingga memilih untuk pergi membersihkan diri dan berniat untuk memesan sarapan. Saat ia baru saja mendaratkan tubuh di sofa, mendengar bel pintu berbunyi dan langsung berjalan keluar untuk memeriksa.


Begitu membuka pintu, ia mengerutkan kening saat melihat dua staf hotel membawa troli.


"Dengan tuan Aaron?" tanya wanita dengan berseragam hitam untuk memastikan tidak salah ruangan.


"Iya," sahut Aaron dengan memicingkan mata karena merasa heran apa yang dilakukan dua wanita itu di depan kamarnya.


"Ini adalah menu sarapan untuk Anda, Tuan Aaron. Apa perlu saya bawa ke dalam." Kemudian menunjukkan troli berisi makanan dan juga camilan serta minuman.


Merasa tidak memesan apapun karena memang belum melakukannya dan berencana setelah mandi, jadi merasa heran dari mana makanan itu berasal. "Siapa yang memesan makanan ini?"


"Asisten pribadi pemilik hotel ini, Tuan?" jawab wanita dengan rambut digelung ke atas.


Masih belum menemukan jawaban karena tidak paham, sehingga Aaron tidak bertele-tele. "Memangnya siapa pemilik hotel ini? Aku bahkan tidak tahu dan tidak mengenalnya."


Saat baru saja menutup mulut, kini mengerjapkan mata begitu menyadari bahwa ia tidak tahu menahun tentang gadis yang ingin dinikahinya.


"Jadi, pemilik hotel ini adalah tuan Candra Kusuma dan sekarang berada di bawah kuasa cucunya yang bernama nona Khaysila. Biar saya taruh makanannya di dalam, Tuan." Kemudian langsung masuk karena melihat pria di hadapannya seperti sangat terkejut dan malah melamun.


Aaron yang baru mengetahui jika hotel yang merupakan tempat menginap dirinya dan Erick merupakan milik kakek Anindya, kini menatap ke arah troli karena memang wanita tersebut membawa 2 dan yakin jika pria di sebelah juga mendapatkannya.


Ia saat ini menuju ke arah troli yang masih dipegang wanita satunya. "Apa itu untuk pria di ruangan sebelah?"


Anggukan kepala menjadi jawaban yang menegaskan bahwa pemikirannya memang benar dan membuat Aaron merasa kesal karena bukan hanya dirinya yang mendapat perhatian dari Anindya.


'Ternyata Anindya benar-benar adil dan tidak pilih kasih pada kami karena sama-sama memberikan sarapan agar tidak kelaparan,' gumam Aaron yang saat ini mengucapkan terima kasih dan mengibaskan tangan agar dua wanita itu pergi dari hadapannya untuk mengantarkan makanan pada Erick.


Ia yang masih memakai jubah handuk, kini memeriksa troli dengan tudung saji tersebut. Ada menu sarapan lengkap yang membuatnya seketika merasa lapar. Namun, saat mengingat jika pasti Erik mendapatkan makanan yang sama, membuatnya berpikir jika mungkin semalam, Anindya juga memberikan Erick makanan.


"Aku terlalu percaya diri karena berpikir Anindya hanya memberikan perhatian padaku semalam dengan membelikan makanan. Namun, sepertinya Erick juga mendapatkannya. Nasib baik aku semalam tidak menunjukkan foto makanan pada Erick."


"Pasti dia akan menertawakanku karena juga mendapatkan hal yang sama. Tapi tumben dia tidak pamer padaku? Apa pemikirannya sama denganku? Ingin menyembunyikan kebaikan Anindya agar tidak saling mengetahui?" Aaron saat ini mendaratkan tubuhnya di atas sofa dan menghilangkan rasa kesal dengan menikmati sarapan.


Saat mengunyah makanan di dalam mulut, mendengar dari ponsel miliknya dan langsung berdiri untuk mengambil benda pipih di atas nakas sebelah ranjang.


Ia yakin jika yang menghubungi adalah sang ibu dan benar saja begitu melihat kontak wanita yang sangat disayanginya tersebut, langsung menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara dari seberang telepon.


"Halo, Aaron. Apa kamu sudah mendengar kabar tentang Erick?" tanya Jennifer yang saat ini baru selesai berkemas karena nanti siang akan berangkat ke bandara.


Aaron yang saat ini kembali duduk di sofa dan menikmati makanan, memicingkan mata karena tidak paham dengan kalimat ambigu sang ibu.


"Memangnya ada apa dengan cucunguk itu, Ma? Aku sangat kesal padanya karena selalu mengejekku jika tidak akan pernah bisa mendapatkan Anindya. Makanya Aku malas berinteraksi dengannya," ucap Aaron sambil mengunyah makanan.


Sementara itu, Jennifer yang beberapa menit lalu mendapatkan telepon dari sahabatnya yang merupakan ibu dari Erick, kini menjelaskan jika tidak mengizinkan putranya pindah kuliah di Surabaya.


"Jadi, Sepertinya dia akan kembali ke Jakarta dan kamu tidak akan lagi mempunyai saingan. Bukankah itu jauh lebih baik dan kamu bisa bebas mendekati Anindya serta setiap hari bertemu dengan putramu sampai saat masanya tiba gadis itu mengetahuinya?" Jennifer bahkan saat ini berpikir jika takdir berpihak pada putranya daripada Erick.


Seketika Aaron tersedak makanan yang dikunyahnya karena merasa sangat terkejut atas apa yang baru saja didengar dari sang ibu. Ia seketika mengambil air minum karena tenggorokannya terasa panas.


Begitu segarnya air membasahi tenggorokannya dan sedikit melegakan, ia ingin memastikan jika perkataan dari sang ibu bukanlah sebuah omong kosong karena benar-benar tidak percaya sekaligus terkejut.


"Benarkah, Ma? Apa Erick dilarang meneruskan kuliah di sini? Jika benar, sudah dipastikan jika tidak ada lagi penghalang untuk mendapatkan hati Anindya. Erick sebenarnya bukanlah sainganku, tapi aku tahu jika Anindya memanfaatkannya hanya untuk membuatku menyerah." Ia bahkan tidak berhenti tersenyum karena merasa senang.


Apalagi selalu risi mendengar ejekan dari Erik yang sangat percaya diri karena Anindya menerima pria itu di depannya. Jadi, selalu saja menyombongkan diri padanya agar ia menyerah.


"Iya, itu kenyataannya karena memang orang tuanya ingin Erick tetap di Jakarta dan fokus kuliah di sana tanpa harus menyesuaikan diri di tempat yang baru. Mama sangat mendukung keputusan orang tuanya karena berpikir bahwa itu adalah sebuah keuntungan untukmu," seru Jennifer yang sangat yakin jika putranya merasa senang atas kabar yang dibawa olehnya.


Saat berkurang saingan untuk mendapatkan cinta Anindya, kini Aaron bersorak kegirangan. "Ya, Ma. Terima kasih karena sudah mendukung keputusan orang tua Erick demi kebaikan putranya. Aku tunggu Mama di Surabaya."


Erick seketika menepuk jidat begitu mengingat sesuatu. "Oh iya, Ma. Aku harus pergi ke suatu tempat untuk membuat kartu nama karena semalam diminta oleh Anindya untuk memastikan apakah benar aku adalah terapis. Aku harus siap pergi sekarang karena satu jam lagi akan ke rumah Anindya untuk menemui putraku."


Kemudian mematikan sambungan telepon sambil menepuk jidat karena hampir lupa. "Bisa-bisanya aku malah berpikir akan tidur seharian saat mempunyai jadwal pekerjaan untuk merawat putraku."


Lalu ia berganti pakaian dan segera bersiap untuk berangkat ke salah satu desainer kartu nama dan pergi ke rumah Anindya.


To be continued...