
Setelah membayar helm dan membeli sarung kelinci berwarna pink, kini Aaron memakaikan pada Anindya yang terlihat sangat patuh padanya dan hari ini terlihat tidak pernah protes.
Ia benar-benar merasa sangat senang dan menganggap gadis kecil itu adalah adik perempuan yang sangat disayangi dan perlu dilindungi.
'Lucu sekali Anindya saat ini karena dari tadi hanya diam saja tanpa menolak pilihanku. Ternyata punya adik yang patuh sangat menyenangkan,' gumam Aaron saat ini sebenarnya tengah menahan tawa melihat wajah menggemaskan Anindya ketika memakai helm dengan sarung kelinci berwarna pink.
Sementara itu, Zea yang dari tadi membiarkan Aaron memilihkan helm sesuai dengan keinginan pria itu karena berharap bisa mendapatkan sesuatu dari seseorang yang pernah dicintai
Jadi, dari tadi tidak bertanya ataupun memilih sendiri karena ia menyukai apapun yang dipilihkan oleh Aaron. Bahkan pilihan dari Aaron sangat lucu dan membuatnya menyukainya.
Hingga ia mengamati penampilannya di depan kaca yang berada di toko helm itu. "Wah ... aku malah seperti kelinci beneran. Sangat pendek dan kepala besar."
Refleks Aaron tertawa terbahak-bahak menyadari jika Anindya berkata tanpa dosa, tapi sangat menggemaskan. Bahkan ia langsung memukul ringan pada bagian helm yang membuatnya sangat gemas karena bentuknya.
"Makanya aku bilang tadi kamu berdiri, jangan duduk. Jadi, begini kan hasilnya!" seru Aaron dengan menunjuk ke arah Anindya yang terlihat menggemaskan karena sangat mungil.
Sementara itu, Anindya yang saat ini membuka penutup kaca helm agar bisa melihat dengan jelas wajah foto pria yang membuat perasaannya tidak karuan.
"Iiish ... menyebalkan sekali, Tuan Aaron. Aku sudah berdiri dan memang segini, mau diapa-apain juga tetap segini lah. Mau aku berdiri atau duduk juga tetap segini kan, kan?" rengut Zea yang merujukkan bibir dan berjalan keluar dari toko helm menuju ke arah motor favoritnya.
Ia kini menatap darah motor yang diketahui memiliki kasta tertinggi dalam anak motor itu. Karena merasa sangat penasaran, Zea langsung bertanya untuk menghilangkan rasa ingin tahu mengenai awal mula pria itu memiliki motor sport.
"Tuan Aaron, jadi dulu juga merupakan anak motor?" tanya Zea yang saat ini melihat pria itu naik ke atas motor dan menepuk jok belakang agar ia mengikuti perbuatan pria itu.
Aaron yang tadinya berpikir akan langsung Anindya berkeliling kota Jakarta, kini tidak jadi menyalakan mesin motor. Ia saat ini menatap ke arah sosok gadis kecil itu.
"Eemm ...." Aaron sengaja menjeda perkataannya dengan mengerjai Anindya agar merasa kesal. "Aku dulu juga pernah muda. Apa kau pikir aku langsung tua seperti ini?" ejek Aaron dan menunjuk ke arah jok belakang.
"Cepat naik! Keburu malam. Kamu tidak boleh pulang larut malam karena besok harus sekolah!" Lagi-lagi Aaron menggoda Anindya karena menganggap pantas untuk menjadi adiknya yang sangat menggemaskan.
Karena rasa ingin tahunya tidak terjawab dan berpikir percuma saja ia bertanya kepada pria yang selalu saja menjawab dengan menggoda dan bercanda, akhirnya memilih menyerah dan tidak lagi ingin bertanya.
"Padahal ada yang langsung besar. Contohnya aku karena ibarat seperti baru dilahirkan ke dunia dan langsung besar seperti ini. Aku besok mau bolos sekolah. Pasti rasanya akan sangat menyenangkan." Zea naik motor sambil berkata konyol dan ingin menertawakan diri sendiri saat berbicara hal yang belum pernah dilakukannya.
Ia adalah gadis kutu buku dan cupu yang selama ini setiap hari masuk ke sekolah dan belum pernah sekalipun bolos kecuali benar-benar sakit. Itulah mengapa ia mendapatkan nilai tertinggi di sekolah, tapi harus merelakan impiannya setelah kehilangan sang ayah yang mengalami kecelakaan kerja.
Jika impiannya dulu adalah bisa kuliah, tapi semua berakhir menjadi angan semata dan membuatnya tidak ingin bermimpi lagi yang pastinya akan membuatnya sakit jika tidak menjadi kenyataan.
Sementara itu, Aaron yang merasa tertarik pada kalimat terakhir dari Anindya, ini mengurungkan niat untuk menyalakan mesin motor karena hendak bertanya sesuatu.
"Apa dulu saat di sekolah kamu suka bolos? Hingga saat hilang ingatanku merasa seperti itu?" Aaron tiba-tiba mendapatkan sebuah ide di kepalanya.
Sedangkan Zea saat ini hanya terdiam karena bingung harus menjawab apa. Ia takut ketahuan jika sampai mengatakan tidak pernah sekalipun membolos. Jadi, memilih jalan aman dengan mengendikkan bahu tanda tidak tahu.
"Mana aku tahu, Tuan Aaron. Aku kan tadi hanya bercanda karena mengikuti perkataan Anda. Ini, kapan jalannya? Kenapa malah asyik bertanya?" Zea kini sudah sangat bersemangat untuk berkeliling kota Jakarta pertama kali bersama dengan pria yang disukai.
Tidak dipungkiri bahwa ia selama ini sangat mengagumi ketampanan Aaron dan jika sampai teman-teman sekolahnya melihat ia saat ini bisa dibonceng pria setampan ini, pasti akan semakin di bully.
Saat Aaron hendak mengatakan idenya, tidak jadi melakukannya karena ia saat ini menuruti permintaan Anindya yang sudah tidak sabar untuk berkeliling kota Jakarta menikmati lampu-lampu bangunan menjulang tinggi di kanan kiri jalanan ibukota.
Hingga ia pun mulai menyalakan motornya dan langsung melajukan kendaraan lalu lintas ibukota. Namun, hari ini iya tidak mengendarai kecepatan tinggi seperti beberapa saat yang lalu karena ingin membiarkan Anindya memuaskan indra penglihatannya.
Ia rencana untuk mengajak Anindya ke tempat angkringan langganannya yang dulu sering didatangi bersama dengan beberapa teman kuliah.
Bahkan ia sudah lama tidak ke sana dan seperti tengah mengenang masa muda ketika masih belum disibukkan dengan berbagai macam dokumen.
Sementara itu, Zea yang saat ini tidak terlalu memeluk erat perut sixpack pria yang mengendarai motor itu karena memang kecepatan sedang dan membuatnya merasa nyaman sekaligus aman.
Ia bahkan sering bertanya pada Aaron mengenai bangunan-bangunan tinggi menjulang yang tidak diketahuinya. "Apa nanti akan melewati perusahaan keluarga tuan Aaron?"
"Tidak! Karena beda jalur. Kenapa? Apa kau ingin melihat perusahaan keluargaku?" tanya Aaron yang saat ini membuka penutup helm agar bicaranya didengar oleh hadis di belakangnya tersebut.
Sementara itu, Zea saat ini tidak ingin menjadi gadis yang merepotkan, menggelengkan kepala sebagai penolakan. "Tidak, Tuan Aaron. Aku hanya bertanya saja."
Zea sebenarnya saat ini merasa sangat nyaman berada di belakang pria dengan bahu lebar yang dipeluknya. Ia seketika bertanya-tanya di dalam hati karena tidak mungkin mengungkapkan pada pria yang sudah fokus menyetir itu.
'Apa tuan Aaron pernah mengajak nona Jasmine berkeliling kota Jakarta seperti ini? Aku benar-benar ingin tahu, tapi sepertinya tuan Aaron tidak akan menjawab pertanyaanku jika bertanya,' gumam Zea saat ini memilih untuk kembali fokus memanjakan matanya melihat bangunan-bangunan penuh dengan cahaya lampu yang menghiasi, sehingga semakin terlihat indah dipandang.
Hingga motor sport yang dikendarai oleh Aaron sudah berkeliling kota Jakarta selama 1 jam. Aaron saat ini berhenti di depan angkringan yang terlihat sangat ramai dengan para anak muda yang nongkrong lesehan dengan tikar di atas trotoar.
Ia kini serasa mengenang masa muda ketika berada di angkringan tersebut. Kemudian turun dari motor dan menatap ke arah Anindya yang baru saja melepaskan helm kelinci yang sangat lucu itu.
"Ayo, pilih makanan dan minuman di sana!" ucap Aaron yang menunjuk ke arah gerobak khas angkringan. Di mana para penjualnya adalah para pri muda.
"Memangnya ada makanan apa saja, Tuan Aaron? Aku sama sekali tidak tahu makanan di angkringan. Itu berarti aku tidak pernah datang ke tempat seperti ini, bukan?" Zea benar-benar pertama kali datang ke angkringan yang menjadi salah satu destinasi tempat tongkrongan bagi kaum anak muda.
Aaron yang saat ini gemas melihat sikap polos dari Anindya, seketika menggandeng tangan gadis itu agar ikut bersamanya. "Makanya lihat sendiri agar tahu apa saja yang ada di sana!"
Saat ini, Zea merasa sangat terkejut dengan perbuatan pria itu yang saat ini menggandeng tangannya. Ia bahkan fokus pada tangan dengan buku-buku kuat yang masih menguasai gelangan tangan kanannya.
Tentu saja hanya digandeng seperti itu saja sudah membuat hatinya berbunga-bunga. Namun, ia berusaha untuk bersikap tenang agar tidak ketahuan menyukai pria itu.
'Rasanya saat ini hatiku ingin meledak gara-gara tuan Aaron menggandengku seperti kekasihnya saja. Apa ia pikir aku tidak punya hati yang bisa jatuh cinta padanya, apa! Hatiku, bertahanlah dan jangan lemah karena saat ini kau bagaikan pepatah 'pungguk merindukan bulan'.'
Zea saat ini sibuk menormalkan perasaan yang tidak karuan. Bahkan tangannya terus dipegang pria itu saat menunjukkan menu di angkringan berupa aneka macam yang tusuk seperti sate.
To be continued...