Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Jalan keluar



Satu jam yang lalu, Jasmine yang baru tiba di hotel, langsung menuju ke ruangan kamar pengantin yang sudah dihias sedemikian rupa dengan indahnya. Bahkan saat ia melangkah masuk ke dalam presidential suite room, benar-benar terpana dengan pemandangan indah di hadapannya.


Saat ini ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari ranjang yang sudah bertabur bunga mawar berbentuk hati tersebut.


'Seandainya aku menikah saat waktu yang tepat dan ketika benar-benar siap, pasti akan merasa sangat bahagia menghabiskan malam pertama di atas ranjang itu. Namun, ranjang itu tidak akan pernah disentuh karena aku akan pergi hari ini.'


Lamunan Jasmine seketika buyar kala mendengar suara dari sang ibu yang dari belakang menepuk pundaknya.


"Cepat duduk di sofa sana agar perias segera menyelesaikan tugasnya. Butuh waktu cukup lama untuk perias merias calon pengantin wanita." Wanita paruh baya tersebut melihat perias mulai mengeluarkan beberapa peralatan make up.


Hingga ia pun ikut duduk di sofa sebelah putrinya untuk melihat proses dari make up artist untuk putrinya. Ia memang ditugaskan oleh sang suami untuk menemani putrinya. Sementara urusan yang lain diurus sang suami.


Entah mengapa perasaan mereka tidak enak hari ini, sehingga memilih untuk selalu menemani putrinya. Berpikir positif jika itu adalah sesuatu hal yang wajar sebelum pernikahan, sehingga berdoa agar tidak ada hal buruk yang terjadi.


Jasmine yang saat ini tengah menatap ke arah beberapa alat make up sambil memutar otak untuk mencari cara kabur sebelum acara ijab qobul dimulai. Ia bahkan kini menutup kedua mata ketika perias mulai mengaplikasikan sesuatu di wajahnya.


'Apa aku meminta bantuan wanita ini saja, ya untuk keluar dari sini? Aku tidak mungkin bisa keluar dari sini sendiri karena ada banyak orang dari pihak keluarga Aaron dan keluargaku yang mengenalku.'


Saat Jasmine sibuk memikirkan cara untuk kabur dengan meminta bantuan dari wanita di hadapannya, ia melihat sang ibu bangkit berdiri dari sofa.


"Tiba-tiba Mama sakit perut." Berjalan cepat menuju ke arah toilet.


Sementara itu, Jasmine merasa sangat lega begitu melihat sang ibu yang dari tadi mengawasinya pergi dari hadapannya. Refleks ia langsung melambaikan tangan agar wanita yang berprofesi sebagai make up artist itu mendekat karena akan berbisik.


Karena berpikir ada sesuatu hal yang penting ingin disampaikan oleh calon pengantin wanita tersebut, sang perias menurut dengan sedikit membungkuk dan mendengar perkataan panjang lebar yang membuatnya sangat terkejut hingga membulatkan mata.


"Rias aku secepat mungkin dan jangan terlalu menor, setelah itu bantu aku kabur dari tempat ini. Aku tidak ingin menikah dan ingin pergi dari sini secara diam-diam. Aku akan membayarmu dua kali lipat dari gajimu. Jadi, bantu aku!" Jasmine mengakhiri perkataannya yang berbisik di dekat daun telinga sang perias tersebut.


"Nona, apa yang Anda lakukan? Kenapa kabur di hari pernikahan? Bahkan semuanya sudah siap dan tinggal menghitung jam acara dimulai. Apa Anda tidak memikirkan dampak buruknya?" Masih melakukan hal sama, yaitu berbisik di dekat daun telinga sang calon pengantin wanita karena tidak ingin sang ibu yang berada di kamar mandi mendengarnya.


Di sisi lain, Jasmine kini menatap ke arah pintu kamar mandi dan beralih ke arah wanita di hadapannya. "Please, tolong aku. Aku harus pergi karena tidak ingin menikah. Aku belum siap, tapi semuanya memaksakan kehendak padaku."


"Hanya kamu satu-satunya harapanku. Tolong aku kabur dari sini dan suruh orang siapkan mobil. Aku sudah bertanya pada salah satu pegawai hotel jika kendaraan khusus bisa melalui pintu belakang hotel yang sering dilalui para pekerja serta kendaraan untuk beroperasi pihak hotel."


Wanita yang kini menatap ke arah cek tersebut, mengerjapkan mata begitu melihat angka yang bisa membuatnya kaya tanpa harus bekerja keras. Kini ia langsung menerima cek tersebut dan memasukkan ke dalam tas miliknya.


"Sebentar, Nona. Saya akan langsung mengurusnya." Kemudian mengambil ponsel di dalam tas dan langsung mengirimkan pesan pada kekasihnya.


Kirimkan mobil ke hotel yang tadi kamu mengantarkanku. Aku butuh bantuanmu untuk mengangkut seseorang yang hendak kabur diam-diam dari hotel. Suap siapapun agar bisa lewat belakang. Setengah jam lagi sudah harus ada mobilnya.


Kemudian ia langsung mengirimkan pesan tersebut pada sang kekasih karena tidak mungkin menelpon. "Sudah, Nona. Setengah jam lagi Anda bisa kabur melalui pintu belakang."


Jasmine yang kini merasa sangat lega, kini mengangukkan kepala dan ia melihat sang ibu yang baru saja keluar dari kamar mandi. Kemudian kembali membiarkan wanita di hadapannya meriasnya.


'Kira-kira apa yang bisa membuat mama keluar dari sini saat aku kabur ya? Lebih baik aku pikirkan nanti saja ketika hendak kabur,' gumam Jasmine yang kini mengingat telah menuliskan surat untuk Aaron dan ia letakkan di mobil pribadi sang kekasih.


Ia akan mengirimkan pesan jika nanti sudah berada di dalam pesawat karena dua jam lagi pesawat menuju Paris akan berangkat. Jadi, ia seperti tengah mengejar waktu.


"Kira-kira butuh waktu berapa lama lagi untuk menyelesaikan riasannya?" tanya Wanita paruh baya yang sudah memakai kebaya tersebut.


Tadi ia harus melepasnya saat berada di kamar mandi karena kesusahan saat sakit perut. Kemudian kembali mendaratkan tubuhnya di hadapan putri dan sang perias.


"Kira-kira setengah jam lagi, Nyonya. Memangnya ada apa?" Sang perias ingin tahu apa yang diinginkan oleh wanita itu, sehingga memilih untuk bertanya agar tahu apa yang harus dilakukan saat sebentar lagi kabur membantu sang pengantin wanita.


"Aah ... nanti aku akan keluar sebentar saat kamu membantu putriku mengenakan kebaya pengantin." Menatap ke arah jam di dinding dan kembali pada putrinya. "Sayang, nanti Mama akan memanggil papamu dulu sebelum kamu keluar dari kamar untuk menuju ke ballroom hotel saat acara ijab qobul."


Jasmine seketika bersorak kegirangan sambil menatap ke arah sosok wanita di hadapannya. "Iya, Ma. Aku akan menunggu nanti sebelum keluar. Lagipula para keluarga juga belum datang, kan?"


"Belum karena mereka akan terlalu lama menunggu jika berangkat awal. Makanya Mama menyuruh untuk datang mendekati waktu acara dimulai."


"Iya, Ma. Itu jauh lebih baik," ucap Jasmine yang kini merasa mendapatkan sebuah jalan keluar dari masalah yang dihadapi karena bisa dengan mudah kabur sebentar lagi dan tidak akan terlambat datang ke bandara.


To be continued...