Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Penampilan baru



Dengan langkah malas, Zea mengikuti Aurora. Tidak banyak yang bisa gadis itu lakukan saat akan pergi ke luar. Ia cukup membawa tas selampang miliknya yang selalu dibawa saat ia akan pergi. Tidak memakai make up ataupun merapikan penampilannya. Zea merasa ia sudah cukup dengan berpenampilan seperti itu.


Adik dan kakak itu duduk di kursi penumpang sebuah taksi online yang Aurora pesan. Semenjak mobil mereka dijual, wanita itu terpaksa menggunakan taksi saat ingin berpergian. Merepotkan memang, tetapi ia tidak punya pilihan.


Taksi terus melaju membelah jalanan kota, mengatar penumpang ke tempat tujuan. Aurora membuka ponsal miliknya. Sesaat kemudian Zea bisa mendengar helaan napas berat dari sang kakak.


"Ada apa, Kak?” tanya Zea, memastikan apa yang sedang kakaknya itu pikirkan.


“Tidak apa-apa,” jawab Aurora. Ia kembali memasukan ponsel itu ke dalam tas.


‘Sabar, Ra. Sebentar lagi saldo di ATM-mu akan bertambah berkali lipat,’ batin Aurora yang sedang menghibur diri sendiri.


Aurora sudah bertekad jika ia harus berhasil menjalankan rencananya bersama sang mama. Saldo di ATM semakin menipis dan Aurora tidak mau sampai usaha dan uang yang sudah ia keluarkan menjadi sia-sia.


Taksi yang mengatar keduanya tiba di sebuah salon ternama. Itu adalah salon langganan Aurora. Seorang wanita cantik dengan rambut berwarna cokelat menyambut hangat kedatangan Aurora. Sepertinya sudah cukup mengenal wanita itu.


Kedua wanita itu terlihat berbincang sebentar. Sesekali karyawan salon tersebut melirik ke arah Zea yang sedang berdiri kebingungan. Wangi dari aroma di dalam salon tersebut menyeruak indra penciuman Zea. Wanita berkepang dua tersebut sesekali memperhatikan sekitar.


“Pokoknya aku mau kamu rubah penampilan adikku biar enggak cupu lagi,” ucap Aurora sembari ikut menatap adiknya.


“Tenanga aja. Kamu enggak perlu meragukan keterampilanku,” balas karyawan salon yang sudah cukup dekat dengan Aurora.


“Bagus.”


Kedua wanita itu menghampiri Zea. Mereka pergi ke sisi lain ruangan, di mana di sana karyawan tersebut akan merubah penampilan Zea.


Awalnya Zea menurut dan duduk dengan tenang saat karyawan itu membuka ikatan kepang rambutnya.


Namun, Zea menghindar dan menatap wanita itu saat melihat gunting dan sisir di tangan wanita tersebut.


“Mbak, mau apain rambut aku? Mau di potong, ya?” tanya Zea tidak suka.


“Hanya dirapikan sedikit saja,” jawab wanita itu dengan santai.


“Ya ampun, Zea. Cuman dipotong sedikit aja buat dirapihin. Nanti rambut lo bisa tumbuh lagi, ‘kan?” Adalah Aurora yang menyanggahi protes Zea.


“Tapi, Kak—”


“Lu mau gue bantuin buat dapat kerjaan, eggak?” pangkas Aurora.


“Baiklah.” Zea pasrah.


Ia akan mengalah demi pekerjaan yang akan didapat. Semoga dengan ia mengkuti keinginan sang kakak untuk merubah penampilannya, akan mendapat pekerjaan yang lebih baik dari sebelumnya.


“Udah, Ran. Lanjut aja,” titah Aurora pada karyawan yang menangani Zea. Sementara itu Aurora juga ikut memanjakan diri di sana.


Satu jam lebih rambut Zea dimanjakan. Wanita itu hampir memejamkan mata karena rasa kantuk yang menghampiri. Rasa nayaman dari usapan dan pijatan lembut di rambut membuat wanita itu nyaris memejamkan mata.


“Nanti kalau lo udah kerja dan punya duit banyak. Sering-sering ke salon, Zea. Manjain diri sendiri itu penting buat bikin mood lo positif terus,” imbuh Aurora yang duduk di samping adiknya.


“Iya, Kak.” Zea sedang malas berdebat dengan sang kakak.


Ini memang pertama kalinya Zea menginjakkan kaki di salon. Selama ini gadis itu sibuk dengan pekerjaan untuk mengumpulkan uang agar tidak menjadi beban bagi ibu dan kakak trinya tersebut.


Zea terpukau melihat penampilan rambut barunya. Ternyata benar, merubah gaya rambutnya bukanlah hal yang buruk. Zea suka dengan model rambut barunya.


“Sekarang kita ke tahap selanjutnya,” celetuk karyawan salon tersebut.


“Selanjutnya? Memang ini belum selesai, Mbak?” tanya Zea dan mendapat gelengan dari wanita di depannya.


“Tahap terakhir.”


To be continued...