
Aaron baru saja tiba di rumah setelah mencari informasi mengenai Anindya yang ia ketahui sedang berada di Jogja . Saat baru melangkah masuk ke dalam rumah, langsung bertemu dengan sang ibu yang menghadangnya.
"Bagaimana, Sayang? Apa kamu sudah menemukan alamat yang ditempati Anindya di Jogja?" tanya Jennifer yang merasa sangat khawatir pada keadaan gadis yang sudah dianggap seperti putri kandung sendiri.
Ia pun bahkan tidak bisa tidur nyenyak semenjak Anindya tidak pulang ke rumah. Karena saking khawatir pada nasib gadis itu, selalu saja ia berpikiran buruk jika Anindya mendapatkan sebuah kemalangan.
Saat melihat putranya menggelengkan kepala dan menampilkan wajah muram, seketika tubuhnya lemah karena kembali mengkhawatirkan keadaan dari Anindya.
"Aku masih berusaha, Ma. Semoga detektif mengetahui alamatnya di Jogja. Aku sudah menelpon Erick berkali-kali, tapi tidak tersambung. Sepertinya dia memblokir nomorku saat pergi ke Jogja." Saat Aaron baru saja menutup mulut, kini mendengar suara dari sang ayah yang baru saja menuruni anak tangga.
"Jadi, kamu berpikir jika saat ini Erick ada di Jogja untuk menemui Anindya?" tanya Jonathan yang mengerutkan kening karena masih belum yakin pada tuduhan putranya pada Erick.
Namun, ia berpikir jika Erick memiliki perasaan pada Anindya dan menghasut agar keluar dari rumah, lalu disembunyikan. Kini, ia mendaratkan tubuhnya di sofa dan mengulurkan tangan begitu Aaron mengangukkan kepala tanda membenarkan pertanyaannya.
"Mana ponselmu!"
Aaron yang memicingkan mata karena merasa heran, tapi tetap memberikan benda pipih yang baru dikeluarkan dari saku celana. "Tumben Papa minta ponselku. Memangnya mau buat apa? Kan Papa punya ponsel sendiri."
Tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan Aaron, kini Jonathan membuka ponsel milik putranya dan mencari kontak Erick. Kemudian langsung menyalinnya dan mengirimkan pesan pada seseorang.
"Kita tunggu paling lama setengah jam dari sekarang." Jonathan menatap jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kirinya dan mengembalikan ponsel milik Aaron.
Sementara itu, Jennifer dan putranya saling bersitatap karena tidak paham dengan apa yang dilakukan oleh pria paruh baya itu.
Karena merasa penasaran, Jennifer kini mendekati sang suami dan duduk di sebelah kanan, lalu meminta ponsel. "Sebenarnya apa yang kamu lakukan?"
"Nanti kamu juga akan tahu." Jonathan berbicara singkat dan membiarkan sang istri memeriksa ponselnya.
Sementara itu, Aaron yang ikut penasaran pada apa yang dilakukan oleh putranya, kini juga ingin tahu, sehingga mendekati sang ibu yang tiba-tiba berbicara dengan raut wajah bahagia penuh kelegaan dan makin heran.
"Ya ampun, Sayang. Kenapa kamu bisa sejenius ini, sih! Bahkan putramu tidak berpikir sampai ke sini." Jennifer yang kini merasa sudah mendapatkan sebuah titik terang dari permasalahan, melihat putranya yang langsung merebut ponsel dari tangannya.
"Sebenarnya apa sih yang Mama maksud? Memangnya apa yang dilakukan Papa?" Aaron yang seketika terdiam kala membacakan pesan sang ayah pada ahli IT di perusahaan.
"Cari lokasi dari pemilik nomor ini melalui GPS yang ada di ponselnya. Semakin cepat kamu menemukan titik lokasi alamatnya, kamu akan mendapatkan bonus besar." Aaron yang baru saja selesai membaca pesan dari sang ayah, seketika berbinar wajahnya dan sangat senang karena berpikir jika sebentar lagi akan bisa menemukan Anindya yang kabur darinya.
"Wah ... Papa memang T.O.P B.G.T pokoknya! Aku yakin ahli IT di perusahaan kita tidak akan sulit menemukan lokasi yang menjadi tempat pelarian Anindya." Ia pun menepuk jidat kala menyadari kebodohannya.
"Kenapa aku tidak berpikir sejauh itu dan repot-repot membayar detektif untuk mencari tahu? Juga membayar teman Erick agar memberikan informasi padaku, tapi hanya setengah-setengah." Aaron yang kini melihat sang ayah hanya menertawakan kebodohannya.
Jonathan kini hanya geleng-geleng kepala melihat putranya yang dianggap terlalu berlebihan ketika mencari sebuah jalan keluar. "Makanya, apa-apa itu harus dipikir secara tenang dan tidak gegabah."
"Jangan mengandalkan emosi karena kamu membenci Erick, sehingga tidak sampai berpikir ke arah sana. Kepala harus dingin jika ingin menyelesaikan masalah. Seandainya kamu dulu bersedia menikahi Anindya saat Jasmine kabur, mana mungkin kamu akan kebingungan seperti ini." Menatap putranya yang menggaruk tengkuknya.
"Bahkan tingkahmu seperti ayam yang baru bertelur saja, sangat berisik dan membuat heboh." Sengaja ia menyindir karena ingin menyadarkan putranya agar mengakui jika sebenarnya memiliki ketertarikan pada Anindya.
Saat Aaron merasa tertampar dengan ejekan dari sang ayah, kembali merasakan malu saat sang ibu juga menertawakannya.
"Iya, kamu benar juga, Sayang. Aaron persis seperti ayam yang baru bertelur karena sangat berisik saat kebingungan mencari Anindya yang tidak pulang dan tanpa kabar. Pasti sekarang baru menyadari jika Anindya sangat berarti." Jennifer yang masih berharap putranya mau menikahi Anindya, berusaha untuk membuat Aaron mengakui perasaan yang sebenarnya.
"Ejek aku sepuasnya jika itu membuat kalian senang." Aaron kemudian membuka aplikasi untuk memesan tiket pesawat dan melihat penerbangan paling awal.
Tentu saja karena mencari tiket mendadak yang pastinya sangat sulit untuk ditemukan, membuatnya cukup lama memeriksa dan kebanyakan sudah habis terjual. "Aah ... tiket hari ini sudah habis semua dan hanya ada untuk besok."
'Padahal aku ingin hari ini menjemput Anindya dan membawanya pulang, agar tidak kabur lagi. Awas saja kamu, Anindya. Aku tidak akan melepaskanmu jika sudah bertemu,' gumam Aaron yang kembali mendapatkan ejekan dari sang ayah dan membuatnya sadar jika ia benar-benar bodoh dan tidak lebih pintar dari pria yang sangat dihormatinya tersebut.
"Tentu saja kebanyakan tiket habis terjual hari ini karena kamu berangkat dari Bandara Internasional Jakarta. Coba cari tiket yang berangkat dari Bandung!" Jonathan merasa yakin jika tiket yang berangkat dari Bandung ke Jogja masih ada.
Meskipun sudah menasihati putranya agar jauh lebih tenang saat mengambil keputusan atau melakukan sesuatu hal, tetap saja tidak bisa membuat Aaron lebih bijak saat memikirkan sesuatu. Jadi, perlu untuk diberitahu agar paham.
Jennifer yang hanya terkekeh geli melihat ayah dan anak yang saling mengejek, ikut senang karena putranya terlihat bersemangat untuk menjemput Anindya kembali ke rumah.
"Kalian sekarang seperti Tom and Jerry saja. Gimana, Sayang? Apa ada tiket pesawat ke Jogja yang berangkat dari Bandung?" tanya Jennifer yang fokus menatap ke arah putranya ketika sibuk mencari tiket pesawat menuju Jogja.
Di sisi lain, Aaron yang merasa sangat malu pada orang tuanya ketika diejek terus-menerus, masih fokus mencari tiket pesawat dan begitu menemukan ada satu kursi tersisa dan berangkat pukul 5 petang, seketika langsung memesan dan membayarnya.
Ia pun kini menatap ke arah mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kiri menunjukkan pukul 1 siang. Merasa harus berangkat sekarang menuju ke Bandung agar tidak terlambat ke bandara, kini ia seketika bangkit berdiri dari sofa.
"Aku berangkat ke Bandung sekarang, Ma, Pa karena pesawatnya akan berangkat pukul 5 sore. Nanti kirimkan saja alamat Anindya setelah ahli IT perusahaan memberitahu." Tanpa membawa apapun, Aaron kini berjalan cepat menuju ke arah pintu keluar tanpa menunggu jawaban dari orang tuanya.
"Aaron, tunggu!" teriak Jennifer yang berpikir bahwa putranya harus membawa pakaian ganti.
"Sudah, biarkan saja Aaron berangkat sekarang agar tidak ketinggalan pesawat."Jonathan kini berpikir jika Apa yang dilakukan oleh putranya benar karena harus mengejar waktu saat perjalanan dari Jakarta ke Bandung lama.
Akhirnya wanita paruh baya tersebut membiarkan putranya berbuat sesuka hati karena jujur saja ia juga sudah tidak sabar melihat Anindya kembali ke rumah.
Sementara itu, Aaron yang berpikir jika perjalanan dari Jakarta ke Bandung memakan waktu, jadi harus buru-buru pergi agar tidak ketinggalan pesawat ke Jogja. Tanpa berniat untuk membawa sopir karena ingin mengemudikan sendiri kendaraan agar bisa segera tiba di bandara yang ada di Bandung.
Ia hanya berbekal dompet di saku celananya yang berisi beberapa kartu kredit dan uang tunai hanya beberapa ratus ribu karena tidak pernah membawa banyak.
"Anindya, rasanya sudah tidak sabar ingin melihat reaksimu begitu mengetahui aku tiba di hadapanmu. Apakah kamu akan sangat terkejut melihatku dan kabur lagi? Saat aku melihatmu nanti, rasanya ingin sekali mengikat kaki dan tangan agar tidak bisa berlari dariku." Aaron bahkan sudah mengemudikan kendaraan meninggalkan Area rumahnya.
Dengan fokus mengemudi dan tentu saja kecepatan tinggi agar bisa segera tiba di kota kembang itu. Hingga ia pun kini bersiul sambil fokus menatap ke arah jalanan ibu kota.
Saat tiba di lampu merah, ia mendengar suara notifikasi di ponselnya dan langsung memeriksa karena merasa jika itu adalah pesan dari sang ayah.
Benar saja apa yang dipikirkan olehnya karena saat ini ia bisa membaca alamat lengkap yang merupakan tempat tinggal Anindya di Jogja dan membuat sudut bibirnya melengkung ke atas karena merasa sangat lega sudah menemukan gadis yang di rambut kesuciannya.
"Tunggu aku, Anindya! Aku akan bertanggung jawab untuk menikahimu. Apa reaksimu begitu mendengar aku ingin bertanggung jawab? Apakah kamu akan berjingkrak-jingkrak karena merasa senang saat keinginanmu untuk menikah denganku menjadi kenyataan?"
"Bukankah kamu sangat mencintaiku dan berharap bisa menikah denganku menggantikan Jasmine? Bahkan sikap yang kamu tunjukkan menandakan bahwa merasa cemburu, sehingga menyuruhku untuk menunggu Jasmine sampai kiamat." Aaron yang saat ini mengingat surat dari Anindya, seketika tertawa.
"Bocil itu memang sangat menggemaskan sekaligus meresahkan." Aaron yang tidak membalas pesan dari sang ayah karena kembali mengemudi begitu lampu sudah berubah hijau.
Ia pun fokus mengemudi menuju ke Bandung dan berharap perjalanan tidak sia-sia karena bertemu dengan hadis yang telah ia renggut paksa keperawanannya.
To be continued...