
Pukul 9 malam, Aaron dan Erick sudah tiba di Bandara Juanda. Kini, mereka telah berjalan menuju ke terminal kedatangan dan sudah memesan mobil yang akan mengantarkan mereka ke hotel.
Ya, tadi Aaron sudah memesan dua kamar di hotel yang berada di dekat perusahaan Kusuma. Sengaja melakukan itu karena berpikir jika tempat tinggal gadisnya tak jauh dari perusahaan keluarga Kusuma.
Ia memang tadi sempat mencari informasi mengenai rumah keluarga besar Kusuma, tapi seolah semua akses tentang itu telah ditutup rapat-rapat agar tidak ada yang mengetahui, termasuk dirinya.
Aaron kini masuk ke dalam mobil dan merasa sangat aneh melihat Erick hanya diam saja dan fokus pada ponsel di tangan. "Apa kau mau terus di situ?"
Sementara itu, Erick yang saat ini tengah membaca tentang laporan dari detektif yang mengatakan kondisi kesehatan kakek Zea, kini menoleh ke arah Aaron.
"Pergilah dulu! Aku tidak ingin kau tahu apa yang akan kulakukan sekarang. Mulai hari ini, kita jalan masing-masing karena sudah menemukan Zea." Kemudian ia melangkahkan kaki menuju ke arah taksi yang berada tak jauh dari tempatnya dan masuk ke dalam.
"Jalan, Pak!" ucapnya pada sang supir yang langsung masuk dan duduk di balik kemudi. Kemudian ia mengatakan alamat yang Rumah Sakit yang akan dituju.
"Siap, Mas," sahut sang supir yang kini baru saja menyalakan mesin mobil dan mengemudikan kendaraan menuju ke Rumah Sakit yang disebutkan.
Berbeda dengan Aaron yang saat ini masih berdiri di sebelah mobil yang menjemputnya dan menatap taksi. Bahkan ia kini tertawa terbahak-bahak melihat taksi yang makin menjauh dan menghilang ditelan gelapnya malam.
"Jadi, sekarang dia kembali ke asalnya rupanya. Baiklah, lagipula ini jauh lebih baik daripada selalu berdua saat menemui Zea. Aku yakin jika saat ini dia tengah menuju ke Rumah Sakit. Memangnya dia pikir aku akan ke hotel untuk beristirahat?" sarkasnya dengan menatap ke arah sang supir di sebelahnya.
"Antarkan saya ke alamat ini," ucap Aaron yang kini langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi depan.
Sebenarnya ingin mengajak berkomunikasi agar suasana penuh keheningan tersebut mencair, tapi berpikir bahwa itu mungkin malah akan membuat pria tersebut kesal, jadi tidak melakukannya.
Hingga beberapa menit berlalu dan mobil yang dikendarainya sudah berbelok ke area Rumah Sakit. "Kita sudah sampai, Tuan."
Aaron yang dari tadi tengah menyusun kalimat paling pas untuk diungkapkan pada Zea ketika pertama kali bertemu, kini menoleh ke arah sang supir. "Aku belum tahu kira-kira berapa lama di sini. Jadi, nanti akan menghubungi lagi jika ingin kembali ke hotel."
"Baik, Tuan. Telpon saya langsung jika urusan di sini telah selesai. Saya akan pulang terlebih dahulu," ucap sang supir yang kini melihat anggukan kepala dari penumpang VIP yang berani membayar mahal selama berada di kota Surabaya.
Aaron yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Zea, kini telah melangkah masuk ke lobi Rumah Sakit dan bertanya pada bagian informasi tentang ruangan kamar perawatan Candra Kusuma.
Begitu mengetahuinya, Aaron masuk ke dalam lift dan memencet angka 5. "Apa Erick sudah ada di ruangan ICU? Apa mereka sudah bertemu? Jika benar, berarti aku sangat bodoh dan lambat karena kalah cepat dari Erick."
"Harusnya tadi aku menyuruh supir mengebut agar lebih cepat sampai daripada Erick. Jangan sampai Zea lebih tersentuh dengan Erick yang selalu merayu dengan panggilan lebay itu. Semoga Zea bisa melihat ketulusanku saat nanti aku melamarnya." Ia pun kini mendengar bunyi denting lift yang menandakan pintu terbuka.
Saat melangkah keluar begitu pintu kotak besi tersebut terbuka, mengedarkan pandangan untuk mencari ruangan ICU dan kebetulan melihat siluet seseorang yang sangat dihafalnya.
To be continued...