Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Bodoh atas nama cinta



Aaron dan Erick saat ini baru tiba di depan bangunan tinggi menjulang yang tak lain adalah perusahaan Kusuma. Bahkan saat ini tengah berjalan bersamaan memasuki lobi perusahaan


Aaron yang semalam membuntuti Erick karena berpikir jika menuju ke alamat Zea, tapi ternyata pergi ke hotel dan membuatnya kecewa. Hingga pagi tadi ia pun pergi ke Rumah Sakit dan berpikir jika Zea akan ke sana, tapi ternyata mendapatkan sebuah informasi jika gadis yang sangat ingin segera ditemuinya itu ternyata ada di perusahaan.


Akhirnya ia berniat untuk langsung ke perusahaan dan bertemu Erick di lobi Rumah Sakit. Ia berbaik hati mengatakan jika Zea berada di perusahaan dan mengajaknya berangkat bersama. Itu sebagai ucapan terima kasihnya karena tanpa Erick, mana mungkin bisa cepat datang ke Surabaya.


Kini, Aaron melangkah mendekati meja resepsionis untuk bertanya. "Saya ingin menemui nona ... Khaysila. Bisa tolong bantu saya untuk mengatakan padanya?"


"Nona Khaysila saat ini sedang meeting penting, Tuan dan baru berjalan setengah jam. Mungkin masih akan lama," ujar salah satu resepsionis yang kini menjawab sesuai apa yang diketahuinya.


Aaron yang sama sekali tidak keberatan menunggu karena berpikir jika satu langkah lagi akan bisa melihat sosok gadis yang sudah sangat menyiksanya hingga tidak pernah bisa tidur nyenyak, kini membuka suara.


"Saya akan menunggu sampai meeting selesai. Bahkan menunggu sampai nona Khaysila pulang pun tidak masalah," ucap Aaron yang kini tidak menyerah.


Wanita berseragam hitam itu kini mengangguk perlahan dan mencoba tersenyum kala melihat pria tersebut seolah pantang menyerah. "Baiklah, Tuan. Anda bisa menunggu di sofa yang ada di sebelah kanan. Atas nama siapa? Saya akan melapor pada asisten pribadi presdir."


"Aaron, itu sudah cukup untuk membuat nona Khaysila mengingatku." Aaron sebenarnya sangat yakin jika Zea tidak mau menemuinya. Namun, ia akan menunggu sampai gadis yang ingin dinikahinya itu keluar.


Sementara itu, Erick yang dari tadi mencoba untuk menghubungi nomor Zea agar tidak perlu bertanya pada resepsionis karena berpikir terlalu ribet, kini mengembuskan napas kasar.


'Bahkan sampai sekarang ponsel Zea tidak aktif. Apa ia sengaja menonaktifkan ponselnya karena tidak ingin berbicara denganku? Apa ia berpikir aku hanyalah seorang pengganggu baginya?' gumam Erick yang saat ini beralih menatap ke arah resepsionis yang berbicara pada Aaron.


"Baiklah, saya akan langsung melapor jika Tuan Aaron ingin bertemu. Silakan duduk di sana, Tuan." Kemudian mengangguk perlahan dan beralih pada pria satunya.


Aaron pun berjalan mengekor di belakang Erick sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling lobi. Ia bahkan kini merasa seperti akan menghadapi seorang putri raja yang me mempunyai kekuasaan.


'Rasanya sekarang aku seperti tidak ada apa-apanya dibandingkan dengannya saat ini. Apakah dia mau menemuiku setelah luka yang kuberikan? Aku benar-benar sangat takut jika ia tidak sudi melihatku,' gumam Aaron yang kini menatap ke arah Erick karena dari tadi fokus pada ponsel.


Ia kini mendaratkan tubuhnya di sofa sebelah Erick. "Kau sebenarnya dari tadi sibuk menghubungi siapa?" Aaron merasa heran dengan perilaku Erick.


Sementara ia dari tadi sama sekali tidak melihat ponselnya karena pikirannya fokus pada Zea.


"Dasar bodoh! Siapa lagi kalau bukan Zea!" sarkas Erick yang menatap kesal pada Aaron karena berpikir jika pria itu tidak cerdas sepertinya.


"Zea? Jadi, kau sudah mengetahui nomor Zea? Kenapa tidak bilang dari tadi?" Refleks ia merebut benda pipih dalam genggaman Erick agar bisa mengirimkan nomor Zea.


Erick yang merasa kesal, berniat untuk merebut kembali ponselnya, tapi terlambat karena Aaron sudah membukanya dan mengirimkan ke nomornya.


Akhirnya ia menyerah dan menceritakan bagaimana mendapatkan nomor seorang Khaysila. "Bukankah aku jauh lebih cerdas darimu?"


Aaron yang baru saja menyimpan nomor Zea dengan nama calon istri, sama sekali tidak perduli pada celotehan Erick yang tengah membanggakan diri di depannya.


'Saat aku gila memikirkan keadaan Zea, aku memang benar-benar berubah menjadi bodoh karena hanya fokus pada kesalahanku dan bagaimana cara menebusnya. Aku sama sekali tidak keberatan dianggap bodoh oleh siapapun, termasuk Zea karena aku bodoh atas nama cinta.'


To be continued