
"Tuan Aaron cepet banget datangnya. Pasti tadi ngebut, ya!" tanya Zea yang baru saja naik ke atas motor dan tanpa disuruh, langsung berpegangan pada perut sixpack di balik jaket kulit berwarna hitam tersebut.
Tentu saja sangat berbeda ketika ia dibonceng oleh Erick tadi, harus dipaksa dulu untuk berpegangan agar tidak jatuh ketika mengebut.
Sementara itu, Aaron yang saat ini hendak menginjak gigi motor sambil menekan kopling, sekilas menoleh ke belakang. "Iya, aku tadi ngebut karena khawatir hujan turun saat kita pulang. Tadi di bawah sangat mendung cuma aku khawatir akan turun hujan deras dan kita tidak bisa pulang."
"Pegangan yang kuat karena aku akan ngebut!" Kemudian Aaron melakukan motor sport miliknya menuruni area perbukitan.
Saat ini, Zea menuruti perintah pria yang sudah fokus melajukan kendaraan dan ia saat ini memeluk erat tubuh Aaron jangan lupa senyuman hebat terpancar dari wajahnya saat ini ketika merasa sangat bahagia bisa kembali dibonceng oleh pria yang disukai.
'Aku tidak akan pernah bisa melupakan temannya bersama tuan Aaron. Apalagi dia selalu bersikap sangat baik padaku. Meskipun kami tidak berjodoh, aku akan menyimpan kenangan indah ini dengan baik.'
Selama satu jam perjalanan, semuanya baik-baik saja. Namun, ketika memasuki area hutan pinus, turun hujan dan membuat Aaron menghentikan kendaraan. Ia bisa melihat dari atas jika dibawa turun hujan sangat luas.
"Nah, benar, kan apa kataku tadi. Lihatlah! Di bawah sana hujan turun sangat deras sekali. Bahkan kita bisa melihatnya dari sini." Aaron saat ini menuju ke arah bawah, di mana suara hujan sangat deras terdengar.
Bahkan ia merasa seperti berada di alam berbeda karena saat ini tidak kehujanan, sedangkan di bawah sangat deras.
Hingga ia pun kini mendengar suara dengan nada keheranan dari Anindya dan membuatnya terkekeh geli.
"Wah ... baru pertama kali aku merasakan hal seperti ini. Di bawah hujan deras dan kita di sini bisa melihat pemandangan itu tanpa kehujanan." Zea melepaskan pelukan dan tidak berkedip menetap ke arah hujan deras yang turun di bawah sana.
"Aku dulu pernah kabur dari hujan karena yang terjadi adalah sebaliknya. Saat Sunmori, di atas malah hujan dan di bawah tidak turun hujan. Jadi, aku saat itu benar-benar ngebut kabur dari hujan sambil merekamnya bersama teman." Aaron saat ini masih melihat hujan dan berharap segera berhenti agar bisa melanjutkan perjalanan.
Karena saking fokusnya melihat hujan dan membayangkan bisa hujan-hujanan bersama dengan Aaron naik motor, tapi Zea sadar tidak mungkin melakukan itu karena jarak yang ditempuh sangat jauh dan bisa sakit jika nekad melakukannya.
"Pasti sangat keren ketika kabur dari hujan, tapi sekaligus berbahaya karena ngebut lebih banyak hal negatif jika sampai jatuh dari motor dan berakhir luka-luka. Semoga hujannya segera reda dan kita bisa melanjutkan perjalanan." Zea kini memeriksa jam tangan yang menunjukkan pukul 2 siang.
Aaron kini menatap Anindya yang terlihat fokus menatap ke arah bawah. "Nasib baik aku belum pernah kecelakaan karena selalu berhati-hati saat melajukan kendaraan. Iya, semoga segera terang hujannya karena jika sampai tidak reda juga, kita bisa kemalaman sampai rumah."
Aaron saat ini mengeluarkan ponsel miliknya untuk menghubungi salah satu temannya yang bertempat tinggal di sekitar area bawah sana. Ia ingin bertanya apakah di tempat sahabatnya juga hujan deras.
Namun, wajahnya berubah kesal karena tidak bisa melakukannya saat tidak ada sinyal. "Coba periksa ponselmu. Apakah ada sinyal?"
Zea yang dari tadi fokus melihat hujan di bawah sana, kini mematuhi perintah Aaron dan langsung memeriksa ponsel miliknya. Kemudian ia langsung menunjukkan benda dengan layar pipih tersebut.
"Sama, Tuan Aaron. Sama sekali tidak ada sinyal. Aneh sekali. Padahal tadi di atas sana ada sinyal, tapi kenapa sekarang tidak?" Zea mencoba untuk menekan mode pesawat dan menyalakan lagi beberapa saat kemudian.
Berharap bisa muncul sinyal seperti beberapa saat lalu ketika berada di atas bersama dengan Erick dan para anak motor lain. Namun, semuanya sia-sia karena sama saja tidak ada sinyal.
Aaron saat ini kembali memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas pinggang. "Sepertinya jaringannya yang bermasalah. Mungkin hujan deras yang membuat jaringan susah. Kita tunggu saja."
Saat Aaron baru saja menutup mulut, indra pendengaran menangkap suara hujan yang seperti mendekat ke arahnya. "Apa kamu mendengar itu?"
Refleks Zea seketika menganggukkan kepala karena merasa apa yang ada di pikiran pria itu juga sama dengan pikirannya. "Hujannya ke sini, Tuan Aaron."
Seketika Aaron kembali menyalakan mesin motor dan buru-buru melajukan kendaraan kembali ke atas untuk mencari tempat berteduh. "Kita akan kehujanan jika berada di sini."
"Iya, Tuan Aaron. Kita cari tempat berteduh di atas sana!" Zea kembali berpegangan dengan kuat ketika motor sport tersebut melaju dengan sangat kencang kembali ke atas.
Bahkan ia merasakan hal yang tadi diceritakan oleh Aaron, yaitu kabur dari hujan. "Akhirnya aku bisa merasakan apa yang Tuan rasakan. Ternyata sangat menyenangkan kabur dari hujan."
"Iya, kamu benar. Sangat excited, bukan?" Aaron tertawa mendengar Anindya bersemangat.
Sementara itu, Zea mengangguk-anggukkan kepala dan tersenyum. "Iya, Tuan Aaron. Rasanya jauh lebih menyenangkan dari main hujan-hujanan yang selama ini aku suka."
Di sisi lain, Aaron saat ini tengah mencari area untuk tempat berteduh. Bahkan cuaca saat ini semakin gelap karena menyelimuti area perbukitan dan membuatnya khawatir jika itu akan lama.
"Suasana malah semakin gelap dan pasti raya turun hujan." Aaron yang baru saja menutup mulut, melihat area penginapan dan ia mendadak berbelok ke sana karena khawatir hujan akan semakin deras dan tidak menemukan tempat berteduh.
"Kita ke penginapan saja untuk berteduh sambil menunggu hujan reda. Apalagi suasana sekarang dipenuhi mendung gelap." Aaron yang baru saja tiba di parkiran, langsung menarik pergelangan tangan Anindya yang baru saja turun dari motor.
"Buruan!" serunya sambil berlari ke lobi penginapan dengan masih mengenakan helm karena tidak ingin terkena hujan yang mulai turun membasahi tubuh mereka.
Zea tadinya merasa ragu kenapa Aaron berbelok ke penginapan, bukan mencari tempat berteduh yang lain. Namun, karena beberapa saat kemudian hujan turun sangat deras, ia berlari mengikuti Aaron dan percaya pada semua yang dilakukan pria itu.
Meskipun ada sedikit kekhawatiran dalam dirinya ketika masuk ke dalam penginapan bersama seorang pria. Apalagi memiliki sebuah kenangan buruk ketika berada di dalam kamar hotel bersama dengan seorang pria yang hendak memperkosanya.
Aaron kini berbicara pada resepsionis yang menyapanya dan mengungkapkan apa yang diinginkan.
Zea hanya diam saja saat tangannya digenggam erat oleh Aaron yang saat ini sudah berbicara dengan resepsionis untuk memesan kamar. Ia bahkan menelan ludah dengan kasar ketika pria yang ada di sebelahnya hanya memesan satu kamar.
'Satu kamar? Jadi, aku akan berada di kamar yang sama dengan tuan Aaron? Kenapa tidak memesan dua kamar agar kami tidak berada di tempat yang sama? Aaah ... buat apa memesan dua kamar dan menghamburkan uang saat kami hanya sebentar di sini untuk menunggu hujan reda,' gumam Zea yang masih berpikiran positif dan percaya pada pria di sebelahnya tersebut.
Aaron baru saja menerima kunci kamar dan mengajak gadis di sebelahnya untuk mengikutinya setelah tadi bertanya di mana ruangan yang ia akan tempati untuk menunggu sampai hujan reda.
Sebenarnya ia tidak pernah berpikiran untuk menunggu di penginapan, tapi karena cuaca makin mendung gelap dan hujan membasahi tubuh mereka, negatif untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan jika hujan reda.
Ia mengerutkan kening karena gadis di sebelahnya tersebut dari tadi hanya diam membisu. "Jangan berpikir macam-macam, bocil! Hanya karena aku memesan satu kamar, jangan berpikir aku akan macam-macam pada anak kecil sepertimu yang sama sekali tidak membuatku bernafsu."
Tentu saja wajah murung yang dipenuhi oleh kekhawatiran tersebut seketika berubah masam karena sangat kesal dengan kalimat terakhir yang dianggap membuatnya tersinggung.
'Menyebalkan sekali tuan Aaron ini. Apa aku sangat jelek, sehingga sedikit pun ia tidak tertarik padaku. Bahkan sekolah aku bukan seorang wanita saja, karena tidak membuat lawan jenis bernafsu.'
'Meskipun aku merasa lega sekaligus kecewa karena seperti bukan seorang wanita yang menarik di depan mata pria yang kusukai, rasanya sangat menyesakkan.' Zea yang merasa kesal, mengunci rapat bibirnya karenanya mengungkapkan di dalam hati untuk meluapkan kekesalan.
Hingga ia yang saat ini berada di depan ruangan, melihat Aaron membuka pintu dan melangkah masuk setelah tangannya ditarik oleh pria yang membuatnya sangat kesal.
"Lebih baik beristirahat sebentar sambil menunggu hujan reda. Kamu bisa tiduran di ranjang, aku akan duduk di sofa. Oh ya, hujan-hujan begini, enaknya makan yang panas-panas. Kenapa aku tadi tidak memesan makanan sekalian?" Aaron berniat keluar dari kamar untuk memesan makanan.
Namun, saat melihat Anindya dari tadi tidak berbicara, memicingkan mata dan bertanya, "Kenapa diam saja? Kamu marah padaku?"
Zea yang merasa malas untuk menanggapi pertanyaan yang dianggap sangat konyol itu, kini menggelengkan kepala dan berjalan menuju ke arah sofa karena tidak ingin tidur di atas ranjang.
Berpikir akan kebablasan tertidur, ia mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Kenapa aku harus marah pada Anda? Memangnya apa salah Anda?" Zea bahkan berbicara tanpa menatap ke arah pria yang membuatnya sangat kesal karena tidak peka setelah menyinggung perasaannya.
Karena bisa melihat respon sinis dari Anindya yang sudah jelas-jelas menunjukkan kekesalan padanya, tapi tidak berbicara jujur untuk mengungkapkan kesalahannya.
Jadi, ia mencoba untuk mengingat apa yang dilakukannya hingga membuat wajah menggemaskan itu cemberut.
"Aaah ... aku tahu penyebab kamu kesal padaku. Apa kamu marah karena aku tadi mengatakan tidak bernafsu padamu? Lalu, apa kamu berharap aku langsung melihatmu dan kita bercinta di sini?" Aaron bahkan tersenyum menyeringai ketika berbicara vulgar pada gadis yang seketika menatapnya tajam.
"Astaga, Tuan Aaron. Anda benar-benar sudah gila karena tidak tahu malu berbicara sangat vulgar! Aaah ... sudahlah! Lebih baik cepat pesan makanan karena aku juga ingin makan makanan yang panas di suasana dingin seperti ini."
Bahkan Zea merasa detak jantungnya berdetak mau melebihi batas normal mendapatkan tatapan tajam dari pria yang masih berdiri tak jauh dari hadapannya. Apalagi mendapatkan kata-kata vulgar dari pria yang disukai, serasa membuat jantungnya seperti hampir meledak saja.
Hingga ia mendengar suara Aaron yang tertawa terbahak-bahak dan kembali mengajaknya habis-habisan hingga tidak punya muka lagi di depan pria yang disukai.
"Lihatlah, bahkan wajahmu memerah seperti kepiting rebus. Apa yang ada di otakmu saat ini, bocil? Jangan-jangan, kamu benar-benar bayangkan kita bercinta di dalam kamar ini." Aaron benar-benar sangat bersemangat menggoda gadis mungil yang terlihat memerah wajahnya tersebut.
"Tuan Aaron! Hentikan! Jangan berbicara hal-hal yang tidak sopan pada anak kecil sepertiku yang tidak tahu apa-apa!" teriak Zea dengan wajah masam dan kesal.
Ia sebenarnya merasa sangat malu karena ketahuan gugup dengan wajah memerah saat membayangkan hal-hal yang berbau vulgar bersama dengan pria yang disukai.
Bahkan ia kini dengan kasar merebahkan tubuhnya di sofa dan memunggungi pria itu agar tidak bisa melihatnya lagi. Ia bahkan kembali mendengar suara Aaron yang tertawa terbahak-bahak seolah mengejeknya.
"Bocil ... bocil! Baiklah, aku akan pergi sekarang untuk memesan makanan agar kamu tidak semakin malu." Kemudian berbalik badan sambil masih terus tertawa membayangkan apa yang ada di otak gadis kecil itu.
Apalagi raut wajah memerah Anindya, mewakili perasaan gadis itu. Hingga ia pun kini berjalan menuju ke arah pintu keluar dan langsung mencari pegawai hotel untuk memesan makanan.
'Dasar bocil! Pasti kenal apa yang aku pikirkan, bahwa saat ini dia berpikir macam-macam padaku saat untuk mengajaknya berteduh di penginapan, alih-alih mencari tempat berteduh di tepi jalan saat hujan turun sangat deras.'
Saat Aaron menemukan pegawai hotel yang berkerumun sambil melihat siaran televisi lokal, kini ia juga ikut menatap ke arah televisi layar datar yang ada di dinding.
Memberitakan jika intensitas hujan yang turun sangat tinggi hari ini dan berhasil membuat beberapa pohon roboh, sehingga akses jalanan terputus. Apalagi ada beberapa titik yang longsor juga dan membuatnya menghembuskan napas kasar.
'Sial! Kenapa bisa sampai separah itu? Pantas tidak ada sinyal tadi. Bagaimana jika hari ini kami tidak bisa pulang?' Aaron saat ini melihat jam sudah menunjukkan pukul 3 petang, tapi suasana sangat gelap seperti pukul 7 malam.
'Apa aku benar-benar harus tidur di hotel ini bersama dengan Anindya karena jalanan terkena longsor? Bagaimana aku mengabarkan pada orang tuaku? Pasti mereka sangat khawatir dan berpikir sesuatu yang buruk terjadi pada kami.' Aaron saat ini memijat pelipis karena merasa pusing dengan apa yang terjadi sekarang.
To be continued...