Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Dipisahkan oleh jarak dan dibahagiakan oleh kabar



Khayra yang dari tadi merasa rasanya bergejolak hebat begitu mendapatkan ciuman dari Aaron, seolah bisa bernapas lega begitu perintahnya dituruti oleh pria yang sudah meninggalkannya.


Namun, ia saat ini masih berdiri mematung di tempat dan beberapa saat kemudian seolah tenaganya tersebut terkuras habis dan tubuhnya lunglai. Ia bahkan saat ini tidak kuat menopang beban tubuhnya dan berjongkok di lantai.


Bahkan beberapa saat kemudian tubuhnya terhempas di lantai dingin ruangan yang dipenuhi dengan kesunyian tersebut. Ia menatap kosong ke sekeliling yang sangat sepi dan merasakan degup jantungnya tidak beraturan.


"Kenapa aku sangat lemah seperti ini? Harusnya aku tidak boleh selemah ini di depan pria arogan itu. Harusnya aku tadi menolak dan memukulnya agar tidak terus melakukannya," lirih Khayra yang saat ini mengingat kebodohannya ketika tadi malah memejamkan mata dan menikmati ciuman dari bibir tebal Aaron.


Merasa sangat kesal pada diri sendiri karena sangat lemah dan tidak bisa menolak perbuatan dari pria yang selalu membuatnya bergetar hebat di dada ketika berhadapan, kini mengacak frustasi rambutnya hingga berantakan.


"Aaarggh ... bodoh! Kenapa aku bisa sebodoh ini dan memperlihatkan kelemahanku sendiri di depan pria yang sangat kubenci itu?" umpatnya yang melampiaskan amarah ketika saat ini berpikir jika telah gagal membalas dendam pada pria yang telah meninggalkan luka mendalam di hatinya.


Saat ia melampiaskan amarah karena menyadari kebodohannya sendiri, di saat bersamaan mendengar suara dari pria yang memanggil namanya. Ia menoleh ke arah sumber suara dan melihat Erick baru saja keluar dari ruangannya dan berjalan cepat mendekatinya.


Ia bahkan bisa mendengar suara Erick yang penuh dengan kekhawatiran pada keadaannya karena terduduk di lantai seperti sangat mengenaskan.


"Ayang, apa yang kamu lakukan di situ? Kenapa kamu terduduk di lantai seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang dilakukan pria arogan itu padamu?" Erick yang tadi menunggu di dalam ruangan dengan menuruti perintah dari Zea, padahal hatinya merasa kesal dan ingin mengungkapkan nada protes.


Namun, ia merasa jika kepergian Zea terlalu lama dan membuatnya tidak bisa menunggu di dalam terus-menerus karena merasa penasaran dengan apa yang terjadi antara gadis yang dipujanya tersebut dengan pria arogan yang sangat dibenci.


Hingga ia membulatkan mata begitu membuka pintu dan melihat Zea sangat mengenaskan duduk di lantai, hingga buru-buru mendekat karena khawatir terjadi sesuatu hal yang buruk.


Namun, saat melihat respon dari Zea hanya menggelengkan kepala, membuatnya merasa aneh sekaligus kesal karena tidak puas dengan jawaban gadis yang duduk di lantai tersebut.


"Tidak apa-apa. Aku hanya kesal karena gagal membuat dia pergi dari kota ini. Maafkan aku," lirih Khayra yang saat ini mengembuskan napas kasar.


"Tidak perlu meminta maaf padaku karena ini bukan salahmu, tapi salah pria arogan itu." Erick yang masih merasa kesal karena gagal membuat Aaron pergi dari kota yang sama dengan Zea, sebenarnya merasa bingung harus bagaimana.


Ia saat ini dilanda kekhawatiran jika ia pergi dari kota Zea dengan meninggalkan wanita itu bersama dengan Aaron, tidak akan punya kesempatan lagi untuk memiliki hati gadis itu.


Antara takut dan khawatir karena seperti tidak percaya diri jika membiarkan dua orang itu berdekatan tanpa ada dirinya dan pastinya akan dengan mudah bersatu. Apalagi sudah ada benih-benih cinta yang dirasakan oleh Zea pada Aaron, sehingga membuatnya merasa akan kehilangan kesempatan.


Apalagi ia merasa sangat yakin jika tidak bisa merubah pemikiran orang tuanya yang menyuruhnya untuk kembali ke Jakarta. Kini, ia menatap ke arah sosok gadis di hadapannya tersebut yang masih bersimpul di lantai.


"Zea, aku benar-benar tidak bisa tenang meninggalkanmu hanya bersama dengan pria arogan itu. Lebih baik kita bertunangan saja agar Aaron tidak berani mendekatimu dan kamu bisa hidup tenang karena tidak diganggu olehnya. Bagaimana?" Erick saat ini masih tidak menyerah untuk membuat gadis di hadapannya tersebut mengikuti kemauannya.


"Bukankah tadi kamu mengatakan akan menikah denganku di depan Aaron? Pernikahan membutuhkan banyak persiapan, bukan? Jadi, ada baiknya kita bertunangan dulu dan setelah aku mengurus semuanya dan mengatakan pada orang, kita bisa menikah." Erick saat ini sangat bersemangat ketika membayangkan jika Anindya setuju.


Sementara itu, Khayra saat ini merasa kebingungan untuk menjawab karena jujur saja ia tadi hanya tengah menggertak Aaron saja agar bisa segera meninggalkan kota Surabaya sesuai dengan keinginan dari Erick.


Refleks ia menggelengkan kepala dan menjelaskan tentang hal yang dipikirkannya beberapa saat lalu. "Aku tidak bisa melakukannya saat keadaanku kacau balau seperti ini. Mengertilah. Aku sudah berusaha untuk menuruti apa yang kamu inginkan, tapi ternyata gagal dan pria arogan itu sama sekali tidak peduli."


"Kamu fokus aja pada pendidikan agar bisa segera mendapatkan gelar dan bekerja di perusahaan tayamum untuk meneruskan usaha mereka. Mengenai aku, tidak perlu berpikir berlebihan saat memikirkannya."


"Lagipula, meskipun aku saat ini berada di sini dengan pria itu, tidak akan setiap hari bertemu karena kesibukanku dan jadwalku yang sangat padat." Kemudian ia tersenyum simpul pada Erick dan menepuk bahu kokoh pria itu. "Aku bukan anak kecil yang perlu dikhawatirkan bisa dengan mudah kembali pada pria jahat itu."


Meskipun ia berbicara seolah-olah sangat membenci Aaron agar Erick percaya sepenuhnya padanya dan fokus pada kuliah, tapi sebenarnya yang dirasakan saat ini adalah selalu mengingat apa yang tadi dilakukan oleh pria itu.


'Aku pasti bisa dan harus bisa melawan kelemahan hatiku agar tidak bersikap bodoh seperti tadi,' gumam Khayra yang saat ini berniat bangkit berdiri dari posisinya yang sekarang.


Refleks Erick membantu dengan memberikan tangannya agar Anindya dengan mudah berdiri. "Kamu tahu jika aku tidak akan pernah bisa tenang meskipun kamu mencoba untuk menenangkan perasaanku. Hanya saja, Aku tidak tahu lagi cara yang tepat untuk bisa membuat pria arogan itu tidak selalu berada di sisimu."


Erick yang merasa perbuatannya hari ini tidak mendapatkan hasil ketika datang ke perusahaan Zea, sebenarnya ingin sekali meluapkan perasaannya yang dipenuhi oleh gundah gulana dengan cara tidur seharian di hotel.


Namun, ia tidak bisa melakukannya karena khawatir akan sangat merindukan gadis itu jika nanti sewaktu-waktu kembali ke Jakarta, sehingga memilih untuk menunggu bekerja sampai selesai. Ia ingin memuaskan diri untuk menatap Zea sebelum akhirnya benar-benar harus pergi dan terpisah karena jarak.


'Dipisahkan oleh jarak, dibahagiakan oleh kabar, disiksa oleh rindu, kita ini nyata, bukan virtual. Ini hanya perkara waktu dan jarak, jadi jangan bersikap berlebihan seperti kau akan berpisah selamanya dengan Zea,' gumam Erick ya saat ini mencoba untuk menenangkan perasaannya yang kacau balau.


To be continued...