Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Aku akan menemanimu



Aaron kini sudah bangkit berdiri dari posisinya yang tadinya berlutut di bawah kaki wanita yang sangat ingin dinikahinya. Bahkan ia masih menunduk menatap ke arah jari kelingking yang dihiasi cincin buatan itu.


"Bahkan jarimu terlihat sangat cantik hanya dengan sebuah cincin palsu ini." Mengusap lembut jari wanita yang hanya terkekeh geli melihat tingkahnya yang mengungkapkan kebahagiaan tak terperi.


Ia tidak akan menceritakan jika telah membeli cincin berlian karena itu adalah kejutan selanjutnya.


"Bukan hanya jariku saja yang cantik karena semua tentangku memang sangat cantik," ucap Khayra yang saat ini tengah terkekeh mendengar perkataannya sendiri.


Aaron yang sedari tadi menatap jari dengan cincin tersebut, seketika mengangkat pandangannya dengan beralih menatap ke arah wajah cantik Khayra yang memerah dan menggemaskan. Bahkan kini ia tidak berkedip menatapnya.


"Iya, kamu memang benar. Mungkin itulah yang membuatku tidak bisa melupakanmu walau hanya sedetik pun. Kamu benar-benar membuatku gila."


Tidak berniat untuk memberikan waktu pada Anindya membuka mulut berkomentar, ia sudah mendekap erat tubuh seksi itu dan bisa merasakan kulit saling menempel dan mencium aroma khas tubuh yang sangat didambakannya.


"I love you, Baby."


Khayra yang awalnya terkejut karena mendapatkan pelukan secara tiba-tiba, kini sudah merasakan kehangatan dari tubuh kekar penuh simpul otot itu. Apalagi saat ia berkali-kali mendengar pernyataan cinta Aaron yang kembali melelehkan hatinya.


Kini, ia perlahan menggerakkan kedua tangannya dengan melingkar ke pinggang kokoh itu dengan erat dengan kepala bersandar pada dada bidang itu sambil memejamkan mata dan mencium aroma wangi maskulin dari Leo.


"Terima kasih karena telah mencintaiku," lirih Khayra yang kali ini tidak bisa berkata panjang lebar untuk menanggapi pernyataan cinta Aaron.


Di sisi lain, Aaron yang sebenarnya merasa sangat kecewa karena tidak mendapatkan jawaban yang diinginkannya, hanya memendamnya di dalam hati karena tidak ingin membuat momen romantis mereka rusak hanya gara-gara ia mempertanyakan perasaan wanita yang berada dalam dekapannya.


'Aku akan memberimu waktu, baby. Semua ini memang terjadi sangat cepat dan aku tahu kamu butuh waktu untuk menyadari perasaanmu padaku. Aku akan membuatmu mencintaiku dan membalas dengan mengucapkan i love you too,' gumam Aaron yang kini tidak berniat untuk melepaskan pelukannya karena hari ini ia benar-benar merasa sangat bahagia bisa bersatu dengan sosok wanita yang sangat ingin dinikahinya tersebut.


Hingga suara dari Khayra membuyarkan semua kebahagiaannya.


Saat ia merasa sangat nyaman berada dalam dekapan hangat Aaron, ia mengingat orang-orang terdekat yang sangat disayangi. "Apa tanggapan mama dan papa nanti."


"Kamu adalah satu-satunya menantu idaman papa dan mama, jadi tentu mereka akan bahagia mendengar kita telah bersatu." Aaron berbicara tanpa melepaskan tangannya yang memeluk erat tubuh Anindya.


Kini, Khayra melepaskan pelukannya dan menarik diri agar bisa lebih jelas melihat sosok pria yang ada di hadapannya. "Aku masih belum bisa menikah jika kakek belum sadar."


Aaron kini mengangkat jari Anindya yang memakai cincin buatan. "Kamu sudah memakai rantai cintaku. Aku tidak mempermasalahkan kapan, asal kamu siap, aku pun siap. Tidak ada yang bisa menghentikanku untuk menikahimu, Baby. Apapun yang terjadi, aku tetap akan menikah denganmu."


Khayra yang bisa melihat keseriusan dari perkataan Aaron,bkini kembali menghambur memeluk tubuh kekar itu dan asyik mengendus wangi maskulin yang sudah menjadi candunya.


"Apa kamu dari dulu adalah seorang pria yang selalu berbuat seenaknya sendiri tanpa mematuhi aturan yang dibuat?"


"Kamu benar, aku adalah seorang pembangkang semenjak kecil dan sering tidak setuju pada perintah papa. Kamu tahu, saat itu papaku sangat marah saat aku mengatakan lebih bangga menjadi pembangkang daripada penjilat karena pembangkang selalu mempunyai prinsip."


"Berbeda dengan penjilat yang selalu bersembunyi di ketiak orang lain dan dulu aku membuktikannya sendiri dengan membuka mata orang tuaku yang pernah sangat mempercayai pamanku daripada putranya sendiri. Semua itu karena dari dulu aku selalu berbuat onar di sekolah."


Merasa sangat terkejut pada cerita masa lalu Aaron, Khayra membulatkan kedua mata dan kembali melepaskan pelukannya.


"Jadi, kamu adalah pembuat onar di sekolah? Astaga, padahal aku dari dulu sangat membenci para siswa yang membuat masalah di sekolah."


"Apa kamu pikir aku membuat masalah tanpa sebab? Aku berbuat sesuatu saat ada yang mengusik ketenanganku, Baby. Lagipula meskipun aku biang masalah, tapi selalu menjadi juara di sekolah. Hal itulah yang membuat papaku tidak pernah lagi menashatiku karena aku selalu membanggakan di bidang akademik."


Aaron kini menarik pergelangan tangan kiri Anindya karena ingin membuktikan bahwa semua yang dikatakannya benar dan bukan omong kosong semata.


Aaron kini mengandeng tangan Anindya agar duduk di sofa bersamanya dan memperlihatkan file di tablet miliknya.


"Lihatlah!"


"Apa itu fotomu saat masih sekolah?"


Menatap tidak berkedip satu persatu foto-foto yang mulai dibuka. Di mana di sana Aaron berseragam sekolah dengan memegang piala.


"Iya, siapa lagi? Bukankah aku dari dulu sangat tampan? Apalagi julukan bad boy dan clever membuat banyak para perempuan memujaku. Bukankah bukan salahku saat para perempuan menyukaiku?"


Khayra yang langsung menoleh ke arah Aaron.


Khayra yang sangat terkejut saat merasakan tangan dengan buku-buku kuat itu melingkar di perutnya. "Lepaskan tanganmu!"


"Jangan mengganggu kenyamananku, Baby. Sebentar saja. Aku sangat merindukanmu."


Aaron mengalihkan perhatian Anindya dengan cara menceritakan tentang beberapa foto yang diambil saat ia berhasil memenangkan kompetisi apapun dalam bidang akademik saat masih sekolah dan membuatnya tersenyum karena usahanya telah berhasil.


Khayra tidak lagi menolak pelukannya dan merasa sangat antusias mendengar semua ceritanya.


Tanpa mereka sadari, sudah berada di ruangan tersebut selama setengah jam dan Aaron pun baru saja mengakhiri ceritanya yang sudah menceritakan semuanya tentang masa-masa saat masih sekolah.


Di sisi lain, Khayra yang kini menguap dengan menutup mulut, menyadari bahwa waktu semakin berlalu dan begitu melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul dua, ia membulatkan kedua mata karena tidak menyadari sudah menghabiskan waktu selama dua jam bersama Aaron.


"Astaga, sudah pukul dua. Aku mau tidur, agar tidak mengantuk saat pertemuan nanti dengan rekan-rekan bisnis kakek." Kembali menutup mulutnya saat menguap untuk kesekian kalinya.


Sementara itu, Aaron yang sama sekali tidak ingin berpisah dari Anindya, lagi-lagi menahan tubuh wanita itu dari belakang.


"Tidur saja, tapi aku tidak mau pergi dari sini, Baby. Rasanya aku tidak ingin berpisah denganmu."


"Astaga, apa kamu gila!" umpat Khayra yang berusaha melepaskan tangan kokoh di perutnya, tapi tidak bisa melakukannya karena Aaron semakin mengeratkan pelukannya. Ia malu jika tidur dilihat pria itu.


"Lepaskan aku! Cepat kembali ke kamarmu sana!"


Merasa sangat kecewa karena harus berpisah dari wanita yang sangat dicintai, Aaron dengan lemas melepaskan dekapannya.


"Baiklah. Aku akan kembali ke kamarku dan membiarkanmu tidur nyenyak tanpa mengganggumu." Menggenggam erat telapak tangan Anindya saat berjalan keluar.


"Hati-hati di kamar sendirian. Jangan membuka pintu sembarangan karena ada banyak bajingan di sini," ucap Aaron yang saat ini baru melepaskan genggamannya.


Namun, ia merasa sangat tertampar tertampar dengan kalimat ejekan dari wanita yang secara terang-terangan menyindirnya.


"Iya, kamulah bajingannya karena telah membuatku hamil dan melahirkan Kenzie tanpa suami." Khayra yang kini merasa puas menggoda Aaron, sudah menjulurkan lidahnya untuk semakin mengejek pria dengan wajah memerah tersebut.


Merasa sangat kesal sekaligus geram karena diejek habis-habisan, kini Aaron sudah mengarahkan tangannya untuk menggelitik pinggang ramping wanita yang sudah tertawa kegelian karena ulahnya.


"Rasakan ini karena telah membuatku tidak punya muka lagi."


"Astaga, hentikan! Geli. Aku bisa mati kegelian ini." Khayra sibuk membungkuk dan berusaha menghindari perbuatan pria yang tak kunjung berhenti menggelitiknya, hingga ia hampir saja terhuyung ke depan karena aktif bergerak untuk menghindar.


Aaron yang merasa iba, menghentikan ulahnya dan seketika langsung memeluk erat tubuh ramping itu.


"Maafkan aku, Baby. Kamu sampai berpeluh seperti ini." Mengarahkan punggung tangan untuk mengusap bulir peluh di pelipis Anindya dan suasana penuh keheningan kini terasa di depan ruangan.


Posisi saling berhadapan dengan jarak yang hanya beberapa centi, kini membuat keduanya saling bersitatap.


Aaron yang sangat mengagumi sosok wanita di hadapannya, tidak bisa menahan diri lagi dan ia kini sudah mendekatkan wajahnya saat mengincar bibir sensual yang selalu ingin disesapnya.


Sementara Khayra yang mengerti dengan apa yang selanjutnya akan terjadi, kini memilih untuk memejamkan kedua mata dan menunggu hingga bibir tebal Aaron kembali menyesap habis bibirnya dengan berbagi saliva seperti biasanya.


Bibir Aaron sudah menempel di bibir Khayra, ia sudah tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung mencicipi sedikit demi sedikit sari kemanisan yang sudah menjadi candunya.


Namun, saat ia berniat untuk ******* dan melesakkan lidahnya, mendengar suara dan langsung menarik tangan Anindya untuk kembali masuk ke dalam kamar hotel.


"Aku tidak mau ke kamarku. Aku akan menemanimu di sini."


Khayra yang awalnya memejamkan kedua matanya saat bibirnya dicium oleh Aaron, seketika membukanya begitu mendengar suara bariton penuh ledakan gairah didengarnya dan membuatnya mengerjap beberapa kali.


Merasa sangat kebingungan untuk menjawab pria yang menatapnya dengan tatapan intens.


Tanpa menunggu jawaban dari Anindya, Aaron sudah membungkam bibir sensual wanita yang terlihat hendak menolak perbuatannya.


To be continued...