
Jasmine masih setia menunggu Aaron kembali sambil mengusap lengannya yang kedinginan karena bajunya yang telah basah kuyup. Bukan ingin menunggu obat yang dijanjikan oleh mantan kekasih, tapi berharap pria itu mau menyuruhnya masuk dan memberikan pakaian ganti setelah membersihkan diri.
Membayangkan harus mengemudi sampai rumah dengan keadaan basah kuyup, serasa ingin membuatnya berteriak untuk mengumpat, tapi sayangnya tidak bisa melakukannya.
'Aaron, kenapa kau tega sekali melakukan ini padaku? Apa saat ini kamu sedang mengetesku? Jika benar, aku akan bertahan demi bisa kembali bersamamu,' gumamnya sambil menatap ke arah pintu dan berharap pria yang dari tadi ditunggu tiba.
Hingga iya yang masih sibuk mengusap telapak tangan untuk mencari sebuah kehangatan karena rasa dingin makin menusuk sampai ke tulang. "Aaarh ... dingin sekali. Aaron, aku akan bertahan demi bisa kembali bersamamu."
"Ya, ini adalah bentuk perjuanganku untuk kembali setelah membuatmu sakit hati," gumamnya sambil beberapa kali melakukan gerakan ringan untuk membuat ia berkeringat.
Sampai beberapa saat kemudian ia melihat seorang pria muda berjalan mendekatinya dan membuatnya mengerutkan kening.
"Selamat pagi, Nona Jasmine." Sang pelayan kini membungkuk hormat dan memberikan paper bag di tangan. "Tuan Aaron menurut saya memberikan ini untuk Anda." Kemudian mengulurkan sesuatu di tangannya.
Jasmine yang saat ini seperti sudah membaca apa yang diberikan pria yang tak lain adalah pelayan di rumah besar itu, kini ingin memastikan kebenarannya.
Begitu menerima paper bag yang benar berisi obat seperti janji Aaron padanya tadi, bukan membuatnya senang, tapi seketika membuat wajahnya memerah karena marah sekaligus kesal.
Ia bahkan seketika tertawa miris melihat nasibnya yang dipermainkan oleh Aaron. Bahkan saat ini sudah membayangkan ingin melemparkan paper bag tersebut untuk meluapkan amarah yang memuncak di dalam hati.
'Aaron, tega sekali kau padaku. Aku memang telah berbuat jahat padamu, tapi benar-benar sudah sadar dan berulang kali meminta maaf. Tapi kenapa kau malah membalas dendam dengan cara seperti ini? Rasanya ini sangat menyakitkan,' lirihnya di dalam hati sambil meremas kuat paper bag di tangan.
Meskipun ingin sekali melakukannya, tapi tidak bisa dan akhirnya memilih untuk tetap menerimanya. Ia bahkan berakting tersenyum simpul di depan pelayan agar disampaikan pada Aaron.
"Bilang pada majikanmu jika aku sangat berterima kasih atas perhatiannya yang khawatir padaku. Aku akan meminumnya nanti." Kemudian berbalik badan dan berjalan pergi dengan kembali hujan-hujanan.
Bahkan sama sekali tidak memperdulikan pria yang terdengar mengiyakan perintahnya dan akan menyampaikan pada mantan kekasihnya.
"Ingin sekali aku menangis karena dipermainkan oleh Aaron seperti ini. Semuanya bahkan tidak seperti bayanganku yang tadinya berpikir akan kembali pada Aaron. Apa dia benar-benar ingin membalas dendam padaku dengan cara ini?" ucap Jasmine yang kini sudah masuk ke dalam mobil dan mengemudikannya meninggalkan area rumah keluarga Jonathan.
Ia bahkan tidak mengingat payungnya yang tadi digunakan untuk melindungi tubuhnya dari rintik hujan karena satu-satunya yang diinginkan hanyalah segera bisa tiba di rumah dan membersihkan diri serta berganti pakaian, lalu duduk mencari kehangatan di depan api.
"Sial! Rasanya dingin sekali!" Jasmine mengempaskan tangannya ke kemudi untuk melampiaskan kekesalannya saat ini.
Ia bahkan melirik sekilas ke arah paper bag di tempat duduk sebelah kirinya. Merasa sangat kesal melihat itu, refleks langsung mengambilnya dan membuka jendela.
Tanpa pikir panjang, ia langsung membuangnya di jalanan. "Aku sama sekali tidak membutuhkan itu, Aaron. Aku hanya menginginkanmu. Aku bahkan tidak keberatan sakit, asalkan bisa bersamamu," lirihnya sambil menatap ke arah spion.
Ia sekilas melihat kabar baik itu sudah terlindas beberapa mobil dan seolah kekesalannya sedikit berkurang karena sudah meluapkannya dengan cara membuang sesuatu yang membuatnya dari tadi ini berteriak.
Bahkan tidak hanya itu saja, ia seketika melampiaskan amarah yang bergejolak di dalam hatinya dengan berteriak sambil mengemudi karena berpikir jika tidak bisa melakukannya di rumah.
Itu akan membuat orang tuanya menginterogasi jika sampai melakukannya. "Orang itu aku tidak boleh tahu tentang ini. Nasib baik aku tadi tidak menceritakan pada mama bahwa akan bertemu dengan Aaron."
"Jika mama tahu, pasti akan sangat marah karena putrinya disakiti oleh Aaron, meskipun pernah menjadi calon menantu idaman. Mana ada orang tua yang tega melihat putrinya bernasib nahas seperti ini karena disakiti oleh pria?" Jasmine saat ini berpikir tidak ingin menunjukkan nasib buruknya pada orang tua.
Hingga ia berbelok ke arah yang berlawanan menuju ke rumah. "Aku pergi saja ke apartemen Andini!"
Jasmine yang saat ini memutuskan untuk pergi memperbaiki keadaannya yang sangat nahas agar tidak diketahui oleh orang tua. Sepanjang perjalanan, masih terus sibuk memikirkan apa maksud dari Aaron melakukan ini padanya.
Ia berpikir jika pria itu ingin membalas dendam padanya sekaligus mengetes apakah kuat menjalani ujian untuk kembali. "Semoga apa yang ku pikirkan benar. Bahwa Aaron melakukan semua ini karena ingin melihat sampai di mana perjuanganku untuk kembali padanya."
Berpikir jika semua itu benar dan tetap memenuhi dirinya dengan hal-hal positif, Jasmine menunggu dihubungi kembali oleh Aaron. "Jika nanti dia kembali menghubungiku, sudah bisa dipastikan jika tadi Aaron ingin mengetes sampai di mana usahaku untuk berjuang kembali padanya."
"Luapkan amarahmu dengan membuang energi negatif dalam dirimu saat ini karena Aaron akan menghubungimu lagi dan mengatakan ingin kembali setelah menyadari cintanya masih begitu besar." Jasmine kini kembali mengambil napas teratur agar tidak terus-menerus berpikir negatif.
Saat Jasmine ibu menenangkan diri agar tidak marah, di tempat berbeda terlihat Aaron yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia yang saat ini langsung meraih ponsel di atas nakas setelah mendaratkan tubuhnya di atas ranjang, kini ingin melihat apakah sang ibu membalas pesannya.
Hingga ia mendapatkan voice note dari sang ibu dan langsung didengarkan. Tentu saja sudah bisa ditebaknya jika itu berisi kemurkaan dari wanita yang telah melahirkannya karena salah paham akan perbuatannya bersama dengan Jasmine.
"Aaron, dasar anak tidak tahu di untung! Apa kau gila menyuruh Jasmine datang ke rumah dan mengajaknya hujan-hujanan karena ingin bersaing dengan Anindya? Mama bahkan mengirimkan video Anindya bukan karena menginginkan ini, tapi ingin kamu melakukan segala cara untuk membuatnya luluh dan menerimamu."
Aaron yang saat ini hanya tertawa kemurkaan sang ibu, kini merasa penasaran apakah video yang dikirimkan tadi ditunjukkan pada Anindya.
Ia pun ingin memastikannya dengan mengirimkan balasan voice note. "Apa Mama sudah menunjukkannya pada Anindya? Lalu, apa reaksinya? Aku hanya ingin membuatnya sadar dengan perasaannya padaku, yaitu memantik kecemburuannya dengan memanfaatkan Jasmine yang bodoh itu."
Aaron yang saat ini baru saja menutup mulut, mendengar suara ketukan pintu dan menyuruh masuk karena mengetahui jika itu adalah pelayan. Begitu apa yang ditebaknya benar karena saat ini terlihat pelayan membawa minuman hangat yang dijanjikan tadi.
"Ini jahe susu yang masih panas, Tuan Aaron. Semoga bisa menghangatkan tubuh Anda dan tidak membuat demam karena hujan-hujanan di pagi hari." Sang pelayan menaruh di atas meja.
"Terima kasih. Oh ya, apa wanita itu sudah pergi?" Aaron mengingat Jasmine setelah melihat pelayan karena tadi memberikan perintah.
Sang pelayan itu seketika menganggukkan kepala. "Iya, Tuan. Tadi langsung pergi setelah menerimanya dan mengucapkan terima kasih."
Saat pelayan baru saja keluar dan pintu ditutup, ia memilih bangkit berdiri dan duduk di atas sofa sambil menikmati susu jahe. Bahkan ia tidak tenang memikirkan balasan dari sang ibu mengenai video yang dikirimkan apakah sudah dikasih pada Anindya.
"Kenapa mama tidak kunjung membalas? Apakah Anindya masih hujan-hujanan bersama Erick karena merasa betah? Bahkan aku saja seperti langsung membeku saat main hujan-hujanan beberapa menit. Tidak mungkin Anindya dan Erick masih belum selesai main." Aaron kembali meniup susu hangat sebelum meneguknya.
Hingga ia pun kini sudah tidak sabar ingin mengetahui, sehingga langsung memencet tombol panggil agar bisa berbicara dengan sang ibu.
Namun, sampai panggilannya terputus, tidak mendapatkan respon dan tentu saja membuat wajahnya merengut kesal. "Kenapa mama tidak mengangkat teleponnya? Memangnya ke mana?"
"Aaah ... bikin kesal saja," sarkas Aaron yang kini melemparkan ponselnya di atas sofa dan memilih untuk menghabiskan susu hamil agar rasa dingin di tubuhnya hilang.
Selama beberapa menit ia terus memikirkan apakah video yang dikirim sudah ditunjukkan pada Anindya atau belum. Ia benar-benar tidak bisa tenang sebelum mengetahui hal itu.
"Apa aku telepon saja Erick? Sial! Kenapa aku tidak meminta nomor Anindya pada mama? Kesal pada gadis keras kepala itu, membuatku merasa gengsi untuk meminta nomornya. Sekarang aku yang kesal sendiri." Di saat bersamaan, ia seketika bersin beberapa kali.
Berpikir akan berakhir demam jika tidak minum obat, Aaron kini bangkit berdiri dari sofa dan berjalan menuju ke laci untuk mengambil obat yang selalu disimpannya.
Kemudian langsung meminumnya dan berharap tidak berakhir demam. "Pasti Jasmine saat ini sudah tiba di rumah. Jika dia demam, aku harap tidak menuntutku untuk bertanggungjawab. Aku akan sudah memberikannya obat, jadi tidak sepenuhnya salah, kan?"
Ketika Aaron meneguk air minum setelah minum obat, ia berjalan cepat menuju ke arah ponselnya karena ada panggilan masuk.
"Pasti mama," ucapnya sambil meraih benda pipih di atas sofa tersebut.
Hingga wajahnya berubah muram karena ternyata yang menelpon bukan sang ibu, melainkan sang ayah yang saat ini tengah melakukan perjalanan bisnis di luar negeri.
Dengan sangat malas ia menggeser tombol ke atas dan mendengar suara bariton dari seberang telepon.
"Aaron, Papa ingin kamu datang ke sini. Papa butuh bantuanmu untuk meyakinkan salah satu investor," ucap Jonathan yang saat ini baru saja tiba di hotel setelah melakukan pertemuan dengan beberapa investor.
Ia berhasil meyakinkan beberapa orang, tapi tidak untuk satu orang yang merupakan pengusaha sukses di New York. Jadi, membutuhkan bantuan putranya dan merasa yakin jika bisa membuat investor tersebut berubah pikiran.
Aaron yang sama sekali tidak tertarik untuk menuruti perintah dari sang ayah, kini menolak dengan cara halus. Satu-satunya hal yang dipikirkan hanyalah ingin Anindya kembali padanya dan tidak mengharapkan yang lain.
"Sudahlah, Pa. Jika investor tersebut tidak bersedia, tidak perlu terlalu bekerja keras. Masih ada orang lain yang setuju untuk berinvestasi di perusahaan kita, kan?" Aaron bahkan saat ini tidak punya semangat untuk melakukan apapun, apalagi harus bekerja keras di luar negeri.
Memang saat ini sang ayah baru saja membuka anak cabang dan membutuhkan investor, tapi berpikir jika mimpi sang ayah terlalu besar, sehingga ingin menyadarkannya.
"Perusahaan kita sudah cukup besar di Jakarta, Pa. Jadi, mau apa lagi?" Ia sebenarnya tahu jika sang ayah memiliki keinginan untuk bisa menyamakan posisi dengan perusahaan kakek Anindya yang memiliki beberapa cabang.
Namun, itu tidaklah penting baginya karena saat ini yang diinginkan hanyalah bisa mendapatkan hati Anindya. Apalagi ia mengetahui jika gadis itu sama sekali tidak berubah dengan membedakan kasta setelah menjadi cucu tunggal dari konglomerat di Surabaya.
"Aaron, investor itu sangat penting untuk perusahaan karena merupakan satu-satunya orang terkaya di negara ini. Jika sampai dia mau menjadi investor utama di perusahaan anak cabang, pasti akan langsung bisa menyayangi perusahaan-perusahaan besar." Jonathan benar-benar sangat berharap putranya berubah pikiran dan mau datang ke New York.
"Kamu harus punya visi misi lebih besar setelah mengetahui jika Anindya sekarang berubah menjadi wanita karir yang memimpin perusahaan besar dan memiliki cabang dimana-mana. Apa kamu merasa pantas menjadi pendamping Anindya setelah dia berubah independen woman?" Ia akan pulang dan menyerahkan tugas itu pada putranya.
Tentu saja harus ada salah satu yang tinggal di Jakarta untuk mengurus perusahaan pusat, jadi berpikir putranya saja yang meyakinkan investor asing tersebut.
Aaron sebenarnya ingin langsung mematikan sambungan telepon, tapi tahu jika akan mendapatkan kemurkaan sang ayah. Ia kapan saat ini memijat pelipisnya ketika memikirkan perkataan dari pria di seberang telepon tersebut.
Memang semua yang dikatakan oleh sang ayah benar bahwa sekarang Anindya memiliki segalanya dan pasti akan ada banyak pria yang mengincar untuk bisa menjadikannya istri.
Ia merasa jika perkataan sang ayah adalah sebuah cambuk untuknya berjuang menjadi pria yang jauh lebih hebat agar bisa pantas bersanding dengan Anindya, akhirnya mengembuskan napas kasar dan menyetujui.
"Memangnya investor itu seperti apa, Pa?" tanya Aaron yang saat ini berusaha untuk mencari tahu.
"Cari seluruh informasi tentang wanita itu di mesin pencarian. Papa akan pulang ke Jakarta dan kamu urus masalah di sini." Jonathan seketika mematikan sambungan telepon dan mengirimkan informasi mengenai investor yang dibahas.
Aaron tadinya seketika mengerutkan kening begitu mendengar jika ternyata orang yang dimaksud oleh sang ayah adalah seorang wanita. Begitu notifikasi masuk ke dalam ponselnya, ia bisa melihat foto serta nama wanita yang dimaksud oleh sang ayah.
"Astaga, satu masalahku belum berakhir dan sekarang malah ditambah. Wanita benar-benar sangat merepotkan." Aaron yang saat ini melakukan perintah dari sang ayah untuk mencari seluruh informasi mengenai wanita tersebut, kembali mendengar notifikasi masuk.
Ia kini sudah mendapatkan tiket untuk pergi ke New York besok pagi dan mengembuskan napas kasar mewakili perasaannya.
"Aku harus pergi saat hatiku sedang tidak baik-baik saja. Apes sekali aku," ucap Aaron yang saat ini sudah membaca beberapa informasi terkait dengan investor yang dimaksud oleh sang ayah.
Hingga beberapa saat kemudian, ia kembali mendengar pesan masuk, seketika langsung memeriksanya karena itu dari sang ibu.
Ia seketika mengerjapkan kedua mata karena tidak percaya atas apa yang baru saja dibacanya. Aaron benar-benar tidak percaya atas kebetulan yang sangat luar biasa itu dan membuat senyumnya merekah seketika.
Mama belum sempat menunjukkan pada Anindya karena dia sangat sibuk. Besok pagi, dia pergi ke New York untuk masalah bisnis.
To be continued...