Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Mengirimkan pada Aaron



"Erick?" Khayra yang seketika bangkit berdiri dari posisinya setelah menutup sambungan telepon dari Aaron, ingin meminta pelayan untuk membawakan payung agar pria yang baru saja datang dan berjalan sambil hujan-hujanan tersebut tidak basah kuyup.


Namun, ia tahu jika semuanya terlambat karena melihat Erick benar-benar sudah basah karena hujan di pagi hari ini yang membasahi seluruh kota dan bahkan baru diketahui jika Jakarta juga sama.


"Erick, kenapa datang tidak menelpon dulu? Kamu bisa meminta security untuk mengambilkan payung, kan?" Khayra saat ini mengarahkan pukulan pada lengan kekar di balik kaos casual berwarna putih yang sudah basah kuyup.


"Harusnya kamu menunggu di pos agar diambilkan payung ketika masuk ke sini." Ia benar-benar kesal melihat pria yang sudah basah dari ujung kaki hingga kepala.


Lebih tepatnya merasa khawatir jika sampai pria yang hanya tertawa melihat kekesalannya tersebut mengalami demam karena hujan-hujanan di pagi hari yang sangat sejuk udaranya hingga menusuk tulang.


Sementara itu, Erick sebenarnya tadi diberikan payung oleh security ketika ingin masuk ke dalam pintu gerbang. Namun, ia malah menikmati hujan begitu turun dari taksi.


Berpikir ingin mencoba pengalaman hujan-hujanan di pagi hari, sehingga berjalan dengan santai tanpa berlari ketika memasuki halaman dan menuju ke teras rumah, di mana sosok gadis yang sangat dirindukan tengah terkejut melihatnya sekaligus mengkhawatirkannya.


"Ayang, jika hujan-hujanan seperti ini membuatmu memperlihatkan kekhawatiran padaku, aku setiap hari akan melakukannya. Bahkan berdoa semoga setiap hari turun hujan agar kamu bisa mengkhawatirkanku karena main hujan-hujanan seperti ini sampai basah kuyup." Ia merasa sangat senang ketika kerinduannya terbayar lunas begitu melihat wajah cantik wanita dengan bibir mengerucut karena kesal padanya.


"Erick! Aku serius, tapi kamu malah bercanda seperti ini. Ini bahkan masih terlalu pagi untuk main hujan-hujanan. Bagaimana jika kamu berakhir demam dan flu?" Khayra seketika ingin meraih daun telinga Erick dengan mengangkat tangannya ke atas.


Namun, ia semakin bertambah kesal begitu Erick secepat kilat mundur dua langkah dan membuatnya gagal melakukannya.


"Tidak masalah jika hanya demam dan flu, aku tidak akan mati dan membuatmu kehilangan dengan menangis sehari semalam." Ia bahkan terkekeh geli melihat respon Zea ketika semakin kesal padanya


"Dasar bandel!" sarkas Khayra yang kini hanya geleng-geleng kepala karena tidak bisa memberikan hukuman pada Erick yang menghindar darinya. "Cepat masuk dan ganti pakaian serta keringkan rambut agar tidak demam. Aku tidak ingin disalahkan oleh orang tuamu jika sampai sakit hanya gara-gara datang ke sini."


"Erick yang belum puas untuk main hujan-hujanan, refleks menggelengkan kepala dan meletakkan tas punggung yang berisi dua setel pakaian ganti. "Nanti saja Aku masih ingin main hujan-hujanan mumpung ada di sini."


Kemudian langsung berjalan ke halaman dan membentangkan kedua tangan sambil menatap ke arah langit yang dihiasi awan gelap. Ia kini menikmati rintik hujan yang membasahi pori-pori kulitnya.


Di sisi lain, Khayra yang merasa khawatir jika sampai Erick benar-benar mengalami demam, kini masih berusaha untuk menghentikan perbuatan pria yang dianggap sangat bandel tersebut.


"Erick, cepat ke sini! Sudah main hujan-hujannya!" Hingga ia ketika menoleh ke belakang ketika merasakan sentuhan pada pundaknya.


"Baru, Ma. Aku sudah melarangnya main hujan-hujanan seperti anak kecil, tapi Erick sangat bandel karena tidak mau mendengarkanku. Mama saja yang menasehatinya. Siapa tahu mau mendengarkan." Khayra yang menatap wanita paruh baya di hadapannya, merasa yakin jika bisa menghentikan ulah Erick.


Namun, ia seketika membulatkan mata begitu jawaban dari wanita yang sudah dianggap seperti ibu kandungnya sendiri tersebut malah membuatnya bingung.


"Mama jadi ingat saat kamu mengatakan ingin main hujan-hujanan di pagi hari ketika dulu berada di rumah. Kenapa tidak sekalian kamu mencobanya dengan Erick? Mumpung hari ini kamu libur bekerja dan bisa bersantai dengan melakukan apapun yang kamu inginkan." Jennifer bahkan saat ini memiliki rencana di otaknya.


Refleks Khayra menggelengkan kepala karena berpikir jika melakukannya, bisa demam dan malah membuat putranya sakit karena tertular virus darinya dan menjelaskan pada wanita di hadapannya tersebut.


"Aku dulu hanya bercanda dan tidak serius, Ma." Ia yang baru saja menutup mulut, makin terkejut karena perbuatan dari sang nenek tersebut.


"Setelah hujan-hujanan, nanti minum vitamin atau obat penangkal demam. Jadi, tidak perlu khawatir. Kamu perlu mencoba sesuatu yang diinginkan karena kesempatan mungkin tidak terulang lagi." Jennifer pun kini melambaikan tangan pada Erick.


"Erick, ajak Anindya main hujan-hujanan!"


"Siap, Tante!" Erick yang tadinya fokus menikmati hujan sambil memejamkan mata, seketika membuka kelopak mata dan berjalan cepat menghampiri Zea.


"Tumben Tante baik padaku." Kemudian langsung menarik pergelangan tangan Zea agar ikut bersamanya berdiri di bawah gemericik air hujan yang tidak terlalu deras, tapi cukup membuat basah kuyup dalam beberapa detik.


"Ayo, kita menikmati pagi ini dengan rintik hujan."


Khayra yang awalnya tidak bersedia dan ingin kembali ke teras agar tidak basah kuyup, tidak bisa melakukannya ketika tangannya masih digenggam erat oleh Erick. Akhirnya ia tidak punya pilihan karena tubuhnya sudah basah kuyup.


Hingga lama-kelamaan ia merasakan kenyamanan ketika rintik hujan menusuk pori-pori kulitnya dan rasa dingin menembus tulang. Akhirnya terdiam dan menikmati air hujan sambil memejamkan mata dengan membayangkan orang tuanya yang dulu suka mengajaknya main hujan.


'Papa, Mama, aku merindukan kalian,' gumam Khayra yang kini sudah mulai menikmati momen yang lama tidak dirasakan.


Berbeda dengan Jennifer yang saat ini mengambil ponsel di atas meja dan merekam Khayra serta Erick yang kini sudah menikmati air hujan. "Aku akan mengirimkan pada Aaron agar dia bisa bertindak cepat karena merasa cemburu."


To be continued...