
Khayra yang terlihat beberapa kali mengerjapkan mata saat melihat Aaron sudah berada di depan ruangan kamarnya sambil membawa buket bunga yang tadi sempat ia lupakan karena kesal.
Ia pun mengulurkan tangannya untuk memintanya dan pria itu langsung memberikannya. "Terima kasih."
Kemudian Khayra berniat untuk menutup pintu, tapi ditahan oleh kaki kanan Aaron. "Apa maumu?"
Sebenarnya degup jantungnya berdetak kencang jantungnya begitu bersitatap dengan netra dengan iris tajam berkilat itu dan membuat salivanya terjun bebas ke tenggorokan.
Sementara itu, Aaron ingin segera menebus kesalahannya, lalu bisa membuka lembaran baru dan membuat hubungannya dengan Anindya lebih baik. Hal itulah yang membuatnya tadi memilih untuk membiarkan sosok wanita dengan wajah imut tersebut meluapkan semua kecemburuannya agar sedikit mengurangi beban pikiran.
Begitu merasakan hanya sebuah keheningan yang terjadi dan bisa membaca bahwa wanita yang baru saja memberikan sebuah hukuman padanya seperti sedang menyesali perbuatannya. Ia pun kini memberanikan diri untuk membuka suara dan berbicara serius.
"Aku tahu permintaan maafku yang berulang kali tidak bisa menghapuskan kesalahanku yang telah merenggut kesucianmu dulu, Baby. Bahkan aku tahu semua yang kamu pikirkan. Beban berat yang saat ini kamu rasakan pun aku mengetahuinya. Aku ...."
Aaron yang masih belum selesai berbicara, kini merasa kecewa begitu kalimatnya dipotong oleh wanita yang kini seolah ingin mengusirnya.
"Kamu sama sekali tidak tahu apapun karena tidak berada di posisiku. Aku mau tidur. Tolong pergi dan jangan menggangguku."
Refleks Aaron menggelengkan kepalanya. "Ada sesuatu yang ingin kukatakan."
"Aku ngantuk. Lain kali saja!" Khayra berpura-pura menguap dan berharap pria itu mau pergi dan membiarkannya tenang. Namun, ia membulatkan mata begitu mendengar kalimat berbeda vulgar yang membuatnya merasa sangat malu.
"Jika kamu berani memotong kata-kataku lagi, aku akan memberimu pelajaran dengan menciummu karena bibirmu benar-benar sebuah candu untukku, Baby." Aaron menjeda kalimatnya sejenak karena ingin melihat ekspresi wajah memerah wanita yang menurutnya malah semakin menggemaskan itu.
Khayra hanya meremas kedua sisi pakaian yang dipakainya untuk melampiaskan kekesalan sekaligus rasa malu saat mendapatkan ancaman dengan nada vulgar dari pria yang terlihat sangat serius dengan perkataannya, sehingga ia tidak berani untuk membuka mulut dan memilih untuk mendengarkan apa yang diinginkan oleh pria itu.
'Sebenarnya apa yang diinginkan tuan Aaron?' lirih Khayra yang kini memilih memasang indra pendengarannya untuk mendengarkan apa yang dijelaskan oleh pria dengan paras rupawan itu.
"Harus dengan cara apa kamu ingin aku meminta maaf. Bahkan aku baru pertama kali bercinta dan itu kulakukan denganmu. Jadi, jangan cemburu pada Jasmine yang sama sekali tidak berarti apapun untukku."
Seketika wajah Khayra berubah semakin pucat begitu mengetahui hal yang sama sekali tidak pernah disangkanya. Ia pikir Aaron sering melakukannya dengan Jasmine, sehingga dulu sampai menyebut nama wanita itu.
"Kau hanya menipuku! Itu tidak mungkin."
"Apa maksudmu? Kenapa tidak mungkin? Memangnya apa untungnya aku memalsukan keperjakaanku?" tanya Aaron yang kini sudah tidak bisa menahan diri dan langsung menggeser tubuhnya mendekati wanita yang telah berani memotong pembicaraannya.
Tentu saja ia benar-benar melakukan hal yang tadi diungkapkan, yaitu secepat kilat membungkam bibir sensual wanita cantik yang sudah dicap hanya miliknya.
Awalnya, Khayra yang sama sekali tidak menyadari kebodohannya, melupakan hal yang beberapa saat lalu dikatakan oleh pria yang tiba-tiba merangsek masuk dengan menciumnya dan membuatnya mengerjapkan kedua mata.
Begitu menyadari kebodohannya, refleks langsung mengarahkan tangan untuk mendorong dada bidang pria yang hendak ******* bibirnya dan ia sangat takut akan terbawa suasana seperti sebelumnya dan kembali melakukan kesalahan.
"Menyingkirlah dariku!"
Ia langsung menggeser tubuhnya hingga sampai ke pintu untuk memberikan sebuah jarak agar tidak berdekatan dengan pria yang menurutnya sangat berbahaya.
"Bukankah sudah kukatakan jangan memotong pembicaraan sebelum aku selesai, Baby? Atau kamu memang sudah sangat merindukan ciumanku?" Aaron mengangkat dua jari untuk membentuk simbol peace begitu melihat gadis itu mengangkat tangan ke atas dan berniat hendak menamparnya.
"Semenjak kejadian itu, aku sama sekali tidak bisa melupakanmu karena adalah kali pertama aku memiliki hubungan yang sangat intim bersama dengan seorang wanita."
"Begitu aku mengetahui kamu masih perawan, membuatku ingin selamanya menjadi pria pertama dan terakhir untukmu. Aku ingin kita bisa menikah karena tidak ada wanita lain yang kuinginkan selain kamu, Anindya."
Jika wanita lain yang mendengar kalimat rayuan dari seorang pria tampan dengan tubuh proporsional, mungkin akan langsung menghambur memeluk erat dan mengiyakan sebuah kalimat seperti lamaran tersebut.
Namun, berbeda dengan yang saat ini tengah dirasakan oleh Khayra karena berpikir jika Aaron pasti sering melakukannya dengan wanita itu. Orang dewasa berpacaran, pasti melakukan itu. Itu yang ada di pikirannya.
Embusan napas berat nan panjang lolos dari bibirnya karena menyadari bahwa pikirannya kini tidak tenang gara-gara menyebutkan wanita dari masa lalu pria itu.
"Aku tidak ingin membahas tentang masa lalu karena sekarang benar-benar sangat lelah." Ia mencari alasan yang logis agar Aaron memberinya ketenangan.
"Baiklah jika itu adalah pilihanmu," ujar Aaron yang kini mengambil ponsel miliknya dari saku celana dan berniat untuk menghubungi kenalannya yang merupakan seorang wartawan.
Saat merasa ada yang tidak beres, Khayra memilih untuk langsung bertanya karena pikirannya sudah dipenuhi oleh berbagai macam firasat buruk.
"Apa yang kamu lakukan dengan ponselmu?"
"Aku mempunyai seorang teman yang merupakan wartawan. Sepertinya kamu butuh sebuah bukti dariku. Aku akan mengakui telah memperkosamu dan mengungkapkan penyesalanku di depan awak media." Aaron sudah memencet tombol panggil dan menunggu hingga sambungan telepon diangkat.
Merasa kehancurannya akan mempermalukan sang kakek dan pastinya membuat nama baik dua keluarga tercemar, secepat kilat Khayra merebut benda pipih dari tangan dengan buku-buku kuat tersebut.
"Apa kamu gila!"
Wajah memerah yang saat ini terlihat jelas dan mengungkapkan kemurkaannya, Khayra yang belum bisa menormalkan kekhawatirannya kini bisa mendengar suara bariton dari seberang telepon dan membuatnya memilih untuk mematikan sambungan telepon.
Kemudian ia kembali menatap pria yang menurutnya terlihat sangat tenang dan sulit dipatahkan pendiriannya.
"Jangan mencemarkan nama baik keluarga karena akan terlalu banyak orang menderita. Tolong jangan bebani keluarga dengan pencemaran nama baik."
Wajah memelas Anindya memang sangat ditunggu-tunggu oleh Aaron karena ia merasa akan bisa berbicara dengan tenang jika wanita menggemaskan itu tidak mengandalkan emosi.
"Kalau begitu, izinkan aku masuk karena ingin bicara dengan tenang," sahut Aaron yang saat ini melangkah dengan santai masuk dan sama sekali tidak dihalangi.
Jujur saja Khayra merasa sangat takut berada di dekat pria yang diakuinya memiliki sejuta pesona dan bisa menaklukkannya dengan mudah dengan beralasan menceritakan semuanya.
"Memangnya apa yang mau kamu bicarakan? Seharusnya tidak di dalam kamar seperti ini?" Ia merasa aneh berada di dalam kamar bersama pria yang bahkan membuatnya tidak karuan.
Aaron saat ini mendaratkan tubuhnya di atas sofa dan tersenyum menyeringai pada sosok gadis yang terlihat sangat gugup di depannya hingga tidak berani duduk.
"Tenanglah, Baby. Jangan berpikir macam-macam karena aku tidak akan memperkosamu," ucap Aaron yang lagi-lagi terkekeh geli dan mengedipkan mata untuk menguraikan suasana penuh ketegangan yang dirasakan oleh Anindya
To be continued....