
"Apa kamu sangat mengagumi wajahku yang tampan ini, Bocil?" Aaron yang tadinya berniat untuk melepaskan pelukan dari tubuh Anindya setelah lampu menyala, tidak jadi melakukannya ketika melihat ekspresi wajah gadis yang masih memeluknya dengan sangat erat.
Karena disadarkan oleh kata-kata Aaron, refleks Zea seketika melepaskan pelukannya dan merutuki kebodohannya karena selalu saja terpesona pada sosok pria yang membuatnya jatuh cinta hingga berkali-kali.
"Jangan salah paham, Tuan Aaron. Aku hanya masih sangat shock karena ketakutan dan belum sempat menormalkan diri saat lampu kembali menyala." Zea berakting bersikap setenang mungkin.
Padahal faktanya, jantungnya berdetak kencang melebihi batas normal saat ini. Bahkan seperti hendak melompat dari tempatnya kala bersitatap dengan iris tajam berkilat milik pria yang memiliki paras sempurna tersebut.
'Dasar bodoh! Kenapa aku tadi tidak langsung melepaskan pelukan saat lampu sudah menyala? Malah asyik menatapnya, lagi! Jadi, tuan Aaron bisa berkata seperti itu,' umpat Zea di dalam hati dan kali ini benar-benar sibuk merutuki kebodohannya yang malah memperlihatkan perasaannya pada pria itu.
Hingga ia pun mengalihkan rasa gugupnya dengan kembali menikmati makanan. "Aaah ... gara-gara lampu tiba-tiba mati, jadi dingin kan sotonya."
Saat ini, Anindya mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya untuk menghindari tatapan dari saron yang masih belum mengalihkan pandangan darinya dan membuatnya semakin gugup.
Sementara itu, Aaron saat ini hanya tersenyum menyeringai melihat apa yang dilakukan oleh gadis di sebelahnya tersebut seperti berusaha untuk menyembunyikan kegugupannya.
Hingga ia pun tidak ingin mengalihkan pandangannya karena merasa pemandangan dihadapannya sangat menarik dari apapun.
'Dasar bodoh! Apa ia pikir aku sama sekali tidak tahu akan apa yang tengah disembunyikannya. Dia pikir aku adalah anak kecil polos tidak tahu apa-apa. Aku jangan yakin jika ia jatuh cinta padaku. Memangnya wanita mana yang tidak jatuh cinta pada pria tampan sepertiku?'
'Apalagi wanita sekelas Jasmine yang sangat cantik dan memiliki body seksi serta kulit putih mulus saja tergila-gila padaku dan langsung menerima saat aku menyatakan cinta. Pasti hal yang sama dirasakan oleh bocil ini,' gumam Aaron yang saat ini tengah menahan diri untuk tidak mengerjai Anindya semakin jauh.
Sebenarnya ia ingin mengerjai gadis itu dengan menyatakan cinta, tapi khawatir jika Anindya benar-benar takluk dan luluh padanya, sehingga membuat kesalahpahaman dan berakhir menjadi sebuah hal yang buruk bagi hubungannya dengan Jasmine.
Jadi, tidak jadi melakukannya dan hanya melihat ke arah Anindya yang tengah menikmati makanan dan kembali protes saat ditatapnya.
"Tuan Aaron, jangan memandangku seperti itu! Apa Anda tidak pernah melihat gadis imut nan menggemaskan sepertiku?" Zea sengaja berbicara lebih baik untuk menghilangkan kegugupan serta mengalihkan perhatian Aaron yang dari tadi terus menatapnya dan membuatnya kebingungan.
Refleks Aaron membuat gerakan seperti orang yang tengah muntah-muntah sambil memegangi mulutnya. "Astaga! Ada seseorang yang terlalu percaya diri di sini."
Bahkan Aaron yang merasa sangat gemas pada Anindya, kini refleks langsung mengarahkan tangannya untuk menarik rambut yang dicepol ke atas tersebut.
"Dasar sok kecentilan! Awas jika kamu suka menggoda para pria di tempat kuliah, aku akan menghajar para pria yang berusaha untuk mendekatimu nanti. Kamu harus fokus belajar dan tidak berpacaran dulu karena hanya akan mengganggu kosentrasimu."
Zea kesakitan dan menoleh sambil mengarahkan pukulan pada tangan yang masih belum melepaskan rambutnya. "Astaga! Jangan menarik rambutku, Tuan Aaron. Nanti bisa rontok dan botak! Mana mungkin aku menggoda para pria di kampus."
"Baguslah kalau kamu sadar. Jadi, jangan kecewakan kepercayaan yang kami berikan padamu." Aaron sebenarnya tahu jika Anindya hanya berpura-pura kesakitan karena ia hanya menarik sedikit saja.
Ia pun kini menatap ke arah jendela kaca dengan kain gorden berwarna putih itu. "Hujan makin deras dan sepertinya malam ini belum reda. Bisa jadi di bawah sana banjir dan jalanan makin rusak. Pasti para anak motor juga tidak bisa kembali ke Jakarta dan memilih untuk menginap di area sekitar sini."
Zea yang awalnya sangat kesal pada Aaron, kini juga menatap ke arah jendela. Di mana di sana masih terlihat hujan makin deras dan suasana makin gelap.
"Bahkan sinyal tidak ada. Pasti para orang tua khawatir dengan keadaan anak-anaknya. Tuan dan nyonya juga pasti demikian." Zea bahkan merasakan hawa dingin makin menusuk tulang dan membuatnya mengusap kedua lengannya.
"Di dalam kamar saja masih sedingin ini, apalagi jika tadi berteduh di pinggir jalan. Pasti sudah membeku." Zea kini melanjutkan makan karena masih tersisa separuh.
Sementara Aaron yang bisa melihat Anindya kedinginan, awalnya berniat untuk menyuruhnya memakai jaket kulit miliknya, tapi tidak jadi karena berpikir jika itu tidak akan sepenuhnya menghangatkan gadis itu.
Akhirnya ia bangkit berdiri dari posisinya dan berjalan menuju ke arah ranjang. Ia mengambil selimut tebal berwarna putih dan membawanya mendekati Anindya.
"Nanti kamu saja yang tidur di ranjang, aku tidur di sofa ini." Memakaikan selimut tebal yang dibawanya pada tubuh Anindya dan kembali duduk di sebelah untuk melanjutkan ritual makan.
Berbeda dengan Zea yang tadinya mengerutkan kening kala melihat Aaron membawa selimut. Tadinya ia berpikir jika pria itu akan memakainya sendiri, tapi begitu mengetahui malah dipakaikan padanya, membuatnya merasa sangat senang dan bahagia.
'Tuan Aaron sangat romantis sebagai seorang pria. Aku benar-benar diperlakukan seperti seorang kekasih oleh tuan Aaron. Bagaimana aku tidak makin luluh jika ia selalu bersikap semanis ini padaku?' Zea kini membenarkan selimut tebal itu agar makin menghangatkan tubuhnya.
"Terima kasih, Tuan Aaron. Memangnya tidak apa-apa aku tidur di ranjang, sementara Anda di sofa? Pasti nanti badan Anda sakit semua." Zea benar-benar tidak enak karena merasa hanyalah seorang pelayan yang berbeda kasta dengan pria itu.
Namun, ia tetap merasa sangat bahagia karena Aaron menyuruhnya beristirahat di tempat yang nyaman. Namun, lagi-lagi ia membulatkan kedua mata begitu mendengar suara bariton Aaron yang malah membuatnya merasa seperti memasang umpan.
"Jika kamu khawatir aku merasa sakit semua saat bangun tidur, apakah sebaiknya kita tidur di atas ranjang itu?" sarkas Aaron yang merasa sangat senang setiap kali menggoda sosok gadis dengan raut wajah memerah karena terkejut atas perkataannya.
Zea yang kini merasa hidupnya sama persis dengan pepatah 'Senjata makan tuan', kini benar-benar kebingungan untuk menanggapi candaan pria yang selama ini menjadi pujaan hatinya.
'Sepertinya tuan Aaron mempunyai hobi untuk membuat perasaanku jungkir balik serasa naik rollercoaster,' gumam Zea yang kini menelan saliva dengan kasar dengan suara tercekat di tenggorokan.
To be continued...