
Dua minggu sudah Zea tinggal di kampung halaman kakek neneknya. Usahanya untuk memberitahu orang yang selama ini mengontrak membuahkan hasil karena mau pindah setelah ia mengembalikan sebagian uangnya.
Memang ia tidak memaksa langsung pergi karena membiarkan mereka tinggal sampai menemukan tempat tinggal yang baru. Baru setelah dua hari, mereka pindah karena sudah menemukannya.
Saat ini, Zea menatap ke arah hamparan tanaman padi di depan rumah dan membuatnya merasa sangat damai karena sejauh mata memandang, seolah mendapatkan sebuah pemandangan dengan panorama indah yang menyejukkan hatinya yang gundah gulana.
Setelah Erick mengantar ke terminal dan berjanji untuk tidak memberitahukan keberadaannya pada keluarga Aaron, ia benar-benar bisa hidup tenang sekarang tanpa ada yang mengganggu.
"Apa tuan Aaron bertanya pada Erick tentang kepergianku? Atau hanya tuan dan nyonya saja yang khawatir padaku? Aaah ... gara-gara aku ingin hidup tenang, sama sekali tidak mengunakan ponsel. Jadi, aku tidak bisa menghubungi Erick sekarang untuk bertanya."
Zea yang dari tadi memanjakan mata dengan hijaunya tanaman padi membentang luas di depan rumahnya karena memang rumah kakek neneknya berjarak cukup lumayan dari rumah-rumah penduduk.
Apalagi di kanan kiri hanya ada dua rumah dan lainnya agak jauh. Zea kini berjalan menuju ke dapur dan mulai mengambil nasi karena tadi belum lapar dan belum sarapan.
Hari ini ia memasak tumis kangkung dan menggoreng ayam. Selama ini selalu berbelanja online dan tidak pernah keluar dari rumah karena benar-benar sangat malas.
Ia tidak ingin berinteraksi dengan tetangga yang pastinya berpikir aneh padanya karena tinggal sendiri di rumah.
"Biasanya papa memuji masakanku enak, tapi sekarang aku baru menyadari jika aku memang pintar memasak," ucap Zea yang saat ini berbicara sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.
Zea lahap menikmati makanannya dan indra pendengaran menangkap suara ketukan pintu dari luar. "Siapa yang datang?"
Karena merasa penasaran, kini Zea segera bangkit berdiri dari posisinya dan berjalan menuju ke arah pintu utama. Ia pun kini membuka pintu dan membulatkan mata begitu melihat sosok pria yang ada di hadapannya.
"Ya, ini aku," ucap Erick yang kini langsung menghambur masuk ke dalam rumah gadis yang terkejut dengan kedatangannya.
Ia bahkan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan di dalam rumah dan melirik sekilas ke arah Zea yang berjalan masuk mengekornya. "Jadi ini rumah kakek nenekmu? Syukurlah aku langsung menemukannya tadi karena tukang ojek online sudah sangat hafal daerah sini."
Zea yang kebetulan tadi memikirkan tentang sosok pria di hadapannya, seketika memberikan sebuah kode agar pria yang datang tanpa membawa apapun itu duduk di sofa.
"Aku sama sekali tidak menyangka kamu datang secepat ini, Erick. Kamu naik pesawat kan dari Jakarta?" Mendaratkan tubuhnya di atas sofa yang ada di hadapan Erick.
Sementara itu, Erick yang kini menuruti perintah dari Zea, seketika mengatakan apa yang terjadi. "Ya, aku naik pesawat karena sedang malas motoran karena akan memakan waktu cukup lama. Aku ingin lebih lama bersamamu daripada lama dalam perjalanan."
"Satu lagi, aku sangat malas menghadapi kegilaan Aaron padaku." Erick kini meraba tenggorokan yang terasa kering. "Ayang, aku harus. Kamu tidak membuatkan aku minuman setelah jauh-jauh datang dari Jakarta ke Jogja?"
Zea sebenarnya merasa sangat penasaran tentang apa yang dilakukan Aaron pada Erick, tapi mengurungkan niatnya untuk bertanya karena iba. Ia pun bangkit berdiri dari sofa.
"Kebetulan aku tadi tengah makan. Lebih baik kita makan bersama dan setelah itu baru kamu jelaskan apa yang dilakukan Aaron padamu." Zea yang kini melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah meja makan, kini tengah menahan perasaan membuncah di dalam hati.
'Apa yang dilakukan si berengsek itu sebenarnya? Aku sangat membencinya dan ingin ia merasakan apa yang kurasakan,' gumam Zea yang saat ini membuka tudung saji agar Erick mengambil makanan yang dimasaknya hari ini.
To be continued...