Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Membuat keributan



Khaysila dan Dery Farhan kini meninggalkan ruangan meeting setelah selesai dan diputuskan jika beberapa anggota dewan direksi akhirnya memberikan kesempatan hanya 3 bulan untuk menunjukkan kemampuan seorang pengganti presdir.


Semua itu juga didukung karena masih ada banyak dewan direksi yang mendukung Khaysila karena merupakan cucu Candra Kusuma. Berharap jiwa kepemimpinan serta kehebatan sang kakek menurun pada cucunya tersebut.


"Apa Anda akan langsung menemui dua pria yang dari tadi menunggu di lobi, Nona?" tanya Dery Farhan yang saat ini tengah menatap ke arah gadis di sebelahnya yang sangat dihormati.


"Tidak! Biarkan mereka menunggu beberapa jam lagi karena aku ingin melihat ruangan kerja kakek dan juga memeriksa tentang beberapa laporan perusahaan bulan ini. Waktu 3 bulan bukanlah hal yang mudah untuk orang tidak berpengalaman sama sekali sepertiku," lirih Khaysila yang melangkah masuk ke dalam lift.


Ia sengaja memberikan sebuah pelajaran pada Aaron agar lebih lama menunggu. Meskipun akhirnya Erick yang sama sekali tidak bersalah ikut terkena imbasnya.


'Erick, maafkan aku karena membuatmu ikut menjadi korban balas dendamku pada Aaron. Kamu pasti menghubungiku berkali-kali, tapi nomorku tidak aktif. Aku sengaja melakukannya karena berpikir jika itu adalah hal yang pantas didapatkan pria arogan itu,' lirih Khaysila yang saat ini masuk ke dalam ruangan kerja sang kakek.


Sementara itu, sang asisten pribadi kakeknya langsung memberikan beberapa dokumen penting perusahaan yang saat ini tersimpan rapi di salah satu lemari kaca.


"Anda bisa memeriksanya, Nona. Jika ada yang tidak paham, bisa bertanya pada saya." Sang asisten kini memilih mendaratkan tubuhnya di kursi yang ada di depan gadis mungil nan imut itu.


"Iya, Om." Khaysila kini langsung fokus pada pekerjaannya.


Kini, keheningan mendominasi ruangan tersebut karena keduanya sibuk dengan urusan masing-masing.


Sang asisten mengalihkan kebosanan menunggu dengan memeriksa email dari beberapa rekan bisnis dan fokus membalas tentang beberapa penawaran kerja sama.


Hingga saat ia fokus memeriksa, mendengar suara dering ponsel miliknya dan langsung mengangkat panggilan.


"Iya, ada apa?" Saat baru menutup mulut, mendengar suara teriakan dari seberang telpon dan membuatnya mengerutkan kening.


"Ayang! Cepat turun! Aku kangen, Ayang!"


Dery kini bisa mendengar dari ponselnya dan membuatnya menatap ke arah sang cucu pemilik perusahaan saat fokus pada dokumen. 'Apa pria yang memanggil ayang pada nona itu adalah kekasih nona Khaysila? Merupakan ayah dari bayinya?'


Karena tidak ingin ada kekacauan di hari pertama memimpin perusahaan, kini ia langsung mengaktifkan loudspeaker pada ponselnya. Baginya, menjelaskan hanya akan membuang waktu dan ingin gadis itu mendengar sendiri secara langsung.


"Ayang, ini aku Erick! Aku kangen, Ayang. Jangan menyiksaku terus menerus seperti ini."


Refleks Khaysila langsung mengangkat kepala yang awalnya menunduk dan mengerjapkan mata. "Astaga! Apa yang dilakukannya? Erick benar-benar mau dijewer!"


"Lebih baik security membawa mereka ke sini saja, Nona. Daripada membuat semua staf perusahaan terganggu!" Akhirnya ia langsung berkomentar agar bosnya tersebut mengubah keputusan.


Khaysila yang saat ini tengah memijat pelipisnya, kini hanya mengangguk perlahan tanda pasrah. "Ya, suruh saja mereka masuk!"


'Aku tarik kata-kataku yang tadi merasa bersalah pada Erick. Ternyata malah dia yang membuat masalah, sedangkan pria itu sepertinya hanya diam karena sama sekali tidak ada suara teriakannya. Apa dia hanya diam menunggu? Tapi rasanya bukan seperti dia yang selama ini sangat arogan.'


Di sisi lain, sang asisten kini tidak membuang waktu dan langsung membuka suara. "Cepat suruh security mengantarkan ke ruangan presdir!"


Kemudian langsung mematikan sambungan telpon dan berjalan menuju ke arah pintu keluar untuk menjemput pria yang membuat keributan di lobby perusahaan.


To be continued...