
Beberapa saat lalu, Aaron bersembunyi di bawah selimut tebal karena merasa tubuhnya kedinginan, kini mengerjapkan mata beberapa kali karena merasa sangat terkejut dengan suara gedoran pintu dari luar.
Apalagi ia yang seketika membulatkan mata sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk melihat suasana luar dari jendela dengan korden putih itu masih diliputi mendung.
Bahkan sekilas melirik ke arah jam di dinding untuk memastikan perkataan sang ibu. Namun, jelas-jelas apa yang dikatakan sang ibu adalah sebuah kebohongan karena saat ini masih terlalu awal.
Apalagi hari ini adalah weekend dan di luar hujan turun cukup deras, sehingga membuatnya malas beranjak dari tempat tidur. Namun, tidak bisa melakukannya begitu indra pendengarannya menangkap suara berisik sang ibu yang mengganggu.
"Astaga, Mama! Bisa-bisanya berbohong bahwa sekarang jam 9 hanya demi mengganggu tidurku yang nyaman."
Karena suara sang ibu semakin membuat gendang telinganya terganggu, kini Aaron beranjak bangkit dari tempat tidur sambil mengucek mata dan berjalan untuk membuka pintu.
Begitu melihat sang ibu sudah berdiri di depan pintu dan di belakangnya ada sosok gadis kesayangan wanita paruh baya tersebut, Aaron kini mengungkapkan nada protes.
"Mama apa-apaan sih! Mana ada pagi-pagi begini jam 9. Ini masih jam 7, Ma. Aku mau tidur lagi dan jangan menggangguku!"
Aaron tidak berniat untuk mendengarkan jawaban sang ibu karena langsung berbalik badan dan berniat untuk menutup pintu, tapi tidak bisa melakukannya karena pinggangnya malah dicubit cukup kuat dan membuatnya meringis kesakitan sambil mengusapnya beberapa kali.
Jenny tidak ingin kehilangan kesempatan untuk membangun kebersamaan di antara keluarga serta anggota baru di rumah, berharap hubungan antara Aaron dan Anindya menjadi baik dengan menganggap bahwa gadis itu seperti saudara sendiri.
"Kalau sudah bangun tidak boleh tidur lagi, Sayang. Nanti rezekinya dipatuk ayam. Cepat berpakaian dan turun. Kita ngopi bersama, mumpung ini hari libur. Jarang-jarang kan kita bisa kumpul bareng begini!"
Karena mengetahui bahwa putranya akan membantah saat malas berdekatan dengan Anindya, Jenny kini memilih untuk segera meninggalkannya sambil memeluk ke arah Anindya.
"Cepat turun dan cuci muka, lalu berpakaian!" teriak Jenny yang saat ini beralih menatap ke arah gadis yang dari tadi ternyata menghadap ke belakang.
"Ayo, kita turun duluan, Anindya. Kamu jadi berdiri terlalu lama karena menunggu Aaron yang malas." Kemudian melangkahkan kaki menuruni anak tangga sambil memegangi gadis muda itu agar tidak jatuh jika tiba-tiba kepalanya pusing.
Sementara itu, Anindya hanya menggelengkan kepala agar tidak dikhawatirkan berlebihan oleh wanita baik yang menganggapnya seperti putri sendiri.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Aku sudah sangat sehat dan tidak lagi merasakan pusing pada kepala. Jadi, tidak perlu dipegang seperti ini." Zea benar-benar merasa sangat tidak enak jika mendapatkan perhatian yang dianggapnya sangat berlebihan.
Apalagi ia sangat khawatir saat mendapatkan sikap tidak suka dari putra tunggal keluarga itu yang seperti menganggapnya seorang saingan karena telah merebut kasih sayang orang tua.
'Jika setiap hari tuan Aaron melihat nyonya Jenny bersikap sangat baik padaku seperti ini, pasti akan sangat kesal sebagai anak kandung. Aku tidak ingin itu terjadi. Aku sudah mendapatkan banyak pertolongan dari nyonya dan tuan, jadi tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman antara Tuan Aaron dan orang tuanya.'
"Baiklah kalau begitu. Kalau kamu merasa pusing, cepat katakan padaku atau pelayan agar bisa segera diperiksa dengan memanggil dokter pribadi keluarga," ujar Jenny yang saat ini tengah berjalan menuju ke arah depan untuk menemui sang suami yang sudah lebih dulu berada di sana.
"Laki-laki itu punya kulit lebih tebal dari wanita. Kamu lebih baik ambil baju hangat agar tidak kedinginan saat duduk di sini." Jonathan pun kini beralih menatap ke arah gadis muda yang tersenyum padanya dan berdiri di sebelah sang istri.
"Duduklah, Anindya! Biar pelayan membuatkan minuman untukmu." Memberikan sebuah kode agar gadis muda itu segera mendapatkan tubuhnya di kursi yang ada di hadapannya.
"Iya, Tuan Jonathan." Zea merasa seperti tengah bersama dengan orang tuanya saat melihat kebaikan suami istri yang selalu bersikap manis padanya dan membuatnya tidak enak.
Namun, selalu saja rasa bersalah dirasakan karena merasa khawatir dengan sikap baik dari wanita paruh baya itu akan menimbulkan kebencian yang tertanam di hati putra kandung.
"Kamu duduk di sini dulu, Anindya. Aku akan meminta bibik membuatkan minuman untukmu serta Aaron, sekalian juga mau mengambil sweater karena ternyata di sini cukup dingin." Jenny menepuk pundak Anindya dan ia pun tersenyum begitu melihat gadis itu menganggukkan kepala.
Kemudian ia melangkah masuk ke pintu utama dan berpapasan dengan putranya yang terlihat sangat masam. Ia malah tersenyum melihatnya.
"Nah, gitu dong! Jangan asyik di kamar melulu saat papa dan Mama ingin kita menghabiskan waktu bersama. Apalagi sebentar lagi kamu akan menikah dan pastinya kebersamaan kita berkurang karena kamu akan lebih senang berduaan dengan istrimu di kamar."
Aaron yang saat ini masih menahan rasa kesal pada sang ibu, kini membenarkan apa yang baru saja diungkapkan. "Benar juga apa yang Mama katakan. Aku sangat yakin jika nanti tidak akan keluar kamar seharian karena asyik bersama dengan Jasmine."
Kini, ia sudah tidak lagi merasa kesal pada sang ibu dan ingin menghabiskan waktu sebelum berubah menjadi seorang suami.
"Aku akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin sebelum menikah agar Mama tidak iri pada Jasmine nanti," ucap Aaron yang kini berjalan menuju ke arah pintu keluar setelah sang ibu tersenyum simpul padanya dan berjalan menuju ke arah dapur.
Sementara itu, Aaron yang kini bisa melihat jika Anindya tengah berbincang dengan sang ayah, mencari tempat untuk duduk. Saat ia hendak duduk di sebelah sang ayah, dilarang karena itu merupakan tempat untuk sang ibu.
"Itu ada tempat kosong di sebelah Anindya. Kenapa malah memilih tempat duduk mamamu. Pasti nanti akan marah padamu." Jonathan mengarahkan dagu untuk memberikan kode agar putranya segera duduk di sebelah Anindya.
Aaron yang tidak punya pilihan lain, akhirnya mendaratkan tubuh di kursi kosong yang berada di sebelah gadis yang kini diam dan tidak melanjutkan pembicaraan begitu melihat kedatangannya.
Hingga ia menoleh sekilas ke arah gadis yang terlihat seperti anak remaja yang baru lulus sekolah.
"Aku sangat yakin jika kamu adalah anak SMA. Apa aku perlu mencari tahu di mana sekolahmu dengan menggunakan fotomu? Siapa tahu banyak yang mengenalmu dan kehilanganmu."
"Sayang juga jika sampai kamu melewatkan sekolah jika benar masih duduk di bangku SMA, kan?" tanya Aaron yang kini merasa sangat penasaran dengan respon dari gadis yang menjadi korban tabrakan yang dilakukan ayahnya.
To be continued...
To be continued...