Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Menyayangimu dengan tulus



"Maafkan aku Erick karena sengaja mengatakan semuanya untuk membuatmu tidak lagi mengharapkanku. Aku tidak bisa mencintaimu karena di hatiku sudah ada nama tuan Aaron." Zea sebenarnya merasa bersalah telah berbuat jahat pada sosok pria yang selalu baik padanya.


Bahkan ia tidak tega melihat raut wajah murung Erick untuk pertama kalinya. Itu karena pria itu selama ini selalu baik padanya dan selalu direpotkannya, tapi tidak pernah mengeluh atau pun menolak.


Namun, mau tidak mau harus membuat Erick sadar bahwa ia tidak akan pernah bisa membalas perasaan pria baik hati itu. "Mulai sekarang, benci saja aku dan jauhi aku! Pergilah. Aku akan berangkat ke kampus naik ojek online."


Zea berpikir jika pria yang saat ini masih memunggunginya tersebut tidak pernah menoleh ke belakang lagi karena marah sekaligus muak padanya. Namun, ia tidak menyangka jika yang terjadi malah sebaliknya.


Erick yang sebenarnya patah hati karena penolakan wanita yang baru ia ketahui bernama Zea itu. Ia hanya melirik sekilas ke arah jam tangan di pergelangan tangan kirinya.


"Ngapain naik ojek online kalau ada aku yang bisa kamu manfaatkan? Cepat naik! Kita berangkat sekarang!" Erick berjalan sambil menarik pergelangan tangan gadis yang ternyata tidak mau melangkahkan kaki keluar dari toko.


Ia pun kini menoleh ke arah Zea dan ingin mengetahui apa alasan tidak mau bergerak dari posisi. "Kamu tidak mau berangkat bersamaku?"


Refleks Zea menggelengkan kepalanya karena bukan itu yang dipikirkan. "Aku tidak mau memanfaatkanmu, Erick. Jangan membuatku terlihat sangat jahat dengan terus menerima kebaikanmu padaku saat mengetahui bahwa aku tidak bisa membalas perasaanmu."


Antara sakit dan sesak kini dirasakan oleh Erick, tapi tetap saja membuatnya merasa ingin menjadi seorang pria sejati di mata gadis yang berdiri di sebelahnya tersebut.


"Aku sama sekali tidak keberatan kamu melakukan itu padaku. Aku pun tidak akan pernah memaksamu untuk menerimaku, tapi aku hanya menginginkan satu hal darimu. Izinkan aku berjuang sampai aku merasa lelah dan menyerah." Menatap intens wajah gadis dengan penampilan rambut dikepang dua tersebut.


"Aku akan berhenti setelah merasa benar-benar tidak bisa merubah perasaanmu." Erick berpikir jika hati gadis itu ibarat jarang di lautan yang lama-kelamaan akan terkikis oleh kuatnya deburan ombak yang menghantam.


'*Aku akan menjadi sekuat ombak dan sedikit demi sedikit mengikis nama yang terpatri di hatimu, Zea. Mulai sekarang, aku harus membiasakan diri memanggilnya Zea, bukan Anindya lagi.'


Zea yang merasa makin tidak enak pada Erick karena tidak menyerah dan malah seolah memanfaatkan kejujurannya dengan meminta sebuah kesempatan yang harusnya tidak perlu diberikan. Ia kini menatap ke arah tangannya yang masih belum kunjung dilepaskan.


"Erick, kenapa kamu seperti ini? Aku tidak ingin terlihat jahat karena memberikanmu sebuah harapan semu. Harusnya kamu menjauh dan membenciku." Zea seketika tertampar dengan tanggapan Erick dan seketika membuatnya tidak berkutik.


"Justru kamu akan terlihat jahat jika memaksaku menjauhimu saat aku sama sekali tidak membencimu atau pun berniat untuk pergi darimu. Karena yang sebenarnya, aku akan makin tersiksa jika tiba-tiba pergi."


"Semua buruh waktu dan saat aku menyerah nanti, kupastikan perasaanku padamu benar-benar hilang. Itu janjiku padamu, Zea Ishana!" Erick kini melepaskan genggamannya dan berjalan menuju ke arah motor.


Saat ia naik ke atas motornya, langsung memberikan sebuah kode pada Zea agar naik di jok belakang. Berharap gadis yang sudah merubah penampilannya tersebut hanya demi Aaron, bisa melihat ketulusannya dan membuang nama pria lain di hati.


Zea yang kini merasa bingung harus bagaimana, menelan saliva dengan kasar dan berpikir jika ia tidak tega makin menyiksa sosok pria yang mengulurkan helm padanya. Akhirnya ia pun berjalan menghampiri dan menuruti perintah dari Erick.


"Baiklah. Aku akan sabar menunggu saat itu terjadi. Sebelum itu terjadi, aku tidak ingin menyalahkan diri sendiri karena rasa bersalah. Ingat itu baik-baik karena yang salah di sini adalah kamu, Erick, bukan aku karena sangat bandel dibilangin!" ucap Zea yang kini sudah berada di belakang pria dengan bahu lebar tersebut.


Erick hanya tersenyum miris sambil mengeluarkan suara. " Bukan Erick namanya jika tidak bandel. Tenanglah, Zea karena aku tidak akan pernah membuka rahasiamu pada orang lain. Itu adalah salah satu bukti aku menyayangimu dengan tulus."


Kemudian ia langsung melajukan kendaraan menuju ke arah kampus dengan sesekali mengumpat di dalam hati karena tidak bisa menghindari sosok wanita yang sangat dicintai, tapi menolaknya mentah-mentah.


To be continued...