
Khayra yang sebenarnya ingin sekali berlari dari sana ketika Aaron bergerak mendekat. Namun, kakinya sekolah mendadak kehilangan tenaga karena saat ini hanya bisa diam sambil menahan gejolak yang bergemuruh di hatinya ketika pria itu semakin mendekati.
Ia bahkan beberapa kali menelan saliva dengan kasar pada detik demi detik pria itu mendekatinya dan perasaan semakin membuncah kala Aaron langsung menahan kedua sisi tubuhnya dan menatap dengan tatapan penuh harapan.
Bahwa yang ada di hadapannya saat ini adalah seorang pria penuh pengharapan yang menginginkannya memaafkan perbuatan di masa lalu dan mengakhiri dengan kebahagiaan, ya itu sebuah pernikahan.
'Apa yang harus kukatakan sekarang? Apa aku harus mengatakan setelah luluh dengan perbuatannya dan bersedia menikah dengannya? Apakah itu tidak membuat harga diriku terluka karena dengan mudahnya menerima permohonan maafnya?' gumam Khayra yang saat ini benar-benar merasa bingung harus bagaimana menjawab pria yang masih mengunci tatapannya.
Ia tahu jika terus menerus diam dan sama sekali tidak berbicara ketika Aaron bertanya padanya, malah akan membuatnya terlihat jelas gugup. Jadi, sekarang berusaha untuk menormalkan perasaannya sebelum membuka suara.
Tentu saja ia kembali berakting seperti biasa, dengan menjadi seorang gadis yang sinis dan tidak mudah didapatkan, agar tidak dianggap seperti seorang yang gampang luluh dengan janji seorang pria.
"Lepaskan!" Ia bahkan saat ini mengarahkan tatapan tajam agar pria di hadapannya tersebut mau melepaskan kuasa karena dari tadi sangat gugup, tapi menyembunyikannya dengan sangat rapat.
Refleks Aaron langsung menggelengkan kepala karena berpikir jika melepaskan kuasa, gadis itu akan kabur darinya dan juga tidak mau menjawab hal yang tadi ditanyakan.
"Kenapa? Kamu gugup berada sedekat ini denganku? Aku baru akan melepaskanmu setelah menjawab pertanyaanku tadi. Jadi, jangan mengalihkan pembicaraan dan jawab saja sesuai dengan apa yang ada di dalam hatimu, bukan mengandalkan ego." Aaron bahkan saat ini bisa menatap dengan jelas sosok wanita yang sangat ia rindukan.
Bahkan ia saat ini merasa yakin jika sebentar lagi akan diterima oleh Anindya yang mau memaafkan kesalahan di masa lalu.
"Maafkan aku, Anindya. Aku ingin kamu memaafkan aku, agar kita bisa memulai hidup baru tanpa bayang-bayang masa lalu kelam yang terjadi." Masih tidak menyerah untuk merayu wanita itu agar segera memberikan kesempatan padanya setelah berdamai dengan hati yang terluka.
Sementara itu, Khayra yang saat ini masih ragu untuk bilang iya, sebelum membuka suara, ia berdehem sejenak. Itu dilakukan untuk tidak membuat suaranya bergetar karena bubuk berhadapan seintim itu dengan Aaron.
Pria yang telah berhasil menjungkirbalikkan perasaannya hingga tidak bisa melupakan sosok pria yang merupakan cinta pertama dan berharap bisa menjadi cinta terakhirnya.
"Aku benar-benar tidak nyaman berbicara dalam posisi seperti ini," ucapnya dengan harapan pria itu melepaskannya agar bisa bernapas dengan lega karena saat ini seperti udara tidak bisa leluasa masuk ke dalam paru-parunya.
Ia seolah sesak napas berhadapan dengan pria yang bahkan tidak sedetik pun mengalihkan perhatian darinya dan membuatnya kalang kabut serta kebingungan.
Aaron saat ini masih tetap pada pendiriannya dengan menggelengkan kepala. "Tidak! Jawab dulu apa yang harus kulakukan agar kamu bisa menerimaku sebagai calon suamimu."
To be continued...