
Jasmine yang menganggap jika gadis di hadapannya sok lebih muda darinya, ingin sekali menarik rambut yang dikepang dua itu. Seperti yang dilakukan oleh Aaron di video yang tadi dikirimkan salah satu rekannya sesama model.
Ia berharap teman sekaligus musuhnya itu segera pergi dari restoran karena ingin berbicara pada Aaron tentang masalah fitting gaun pengantin yang membuat pria itu marah dan mendiamkannya sampai saat ini.
Hingga keinginannya menjadi kenyataan saat mendengar suara dering ponsel milik wanita itu, terlihat langsung buru-buru berdiri dari kursi dan berjalan cepat meninggalkan area tempat duduk.
Jasmine sekilas menoleh ke arah siluet belakang wanita itu yang berjalan cepat menuju ke arah pintu keluar dan membuatnya seperti terbebas dari beban berat di pundaknya dan akhirnya bisa bernapas dengan lega.
'Syukurlah si ****** itu sudah pergi dari sini karena aku benar-benar sangat muak melihatnya. Apa ia sudah berganti peran untuk menjadi seorang penguntit? Nasib baik ada yang menelponnya dan membuatku bisa berbicara dengan bebas pada Aaron yang saat ini merajuk.'
Aaron mengerutkan kening karena Jasmine seperti melihat seseorang dan mengikuti arah pandang sang kekasih.
"Siapa yang kamu lihat? Apa ada fansmu yang meminta tanda tangan?" sindirnya dengan wajah masam dan melihat sang kekasih hanya menggelengkan kepala.
Ia sebenarnya tidak ingin melihat Jasmine hari ini karena hanya akan membuatnya menampilkan wajah masam.
Namun, sang kekasih malah tiba-tiba datang tanpa diundang dan membuatnya semakin bertambah kesal. Karena seolah tidak merasa bersalah sama sekali saat membatalkan acara yang sudah disusun beberapa hari yang lalu demi menyesuaikan jadwal padat sang kekasih.
Merasa ada aura mencekam di antara putra dan sang kekasih, kini Jenny bangkit berdiri dari kursi dan memberikan kode pada Anindya agar ikut bersamanya jalan-jalan ke Mall.
Ia tidak ingin melihat pertengkaran putranya dan sang kekasih karena sangat malas menjadi saksi dari sepasang kekasih yang tengah mengalami ujian sebelum pernikahan.
"Kalian nikmati saja waktunya karena Mama ingat ada janji bertemu dengan teman di salah satu Mall." Kemudian beralih menatap ke arah Anindya. "Ayo, Sayang, sekalian ikut agar kamu tidak bosan di rumah terus."
Zea hanya menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan dan segera bangkit berdiri. Namun, sebelum pergi, berpamitan pada sepasang kekasih yang membuatnya sangat iri.
"Aku pergi dulu ... Kak Aaron dan Kak Jasmine." Kemudian mengulas senyuman untuk menyembunyikan rasa aneh yang dirasakan ketika memanggil nama pria yang disukai dengan sebutan kak.
Padahal ia sudah sangat nyaman memanggil tuan dan menganggap jika itu bisa membuatnya sadar akan jarak yang membentang di antara mereka dan tidak akan pernah bisa direngkuhnya.
Sementara itu, Aaron yang merasa malas bersama dengan Jasmine dan berpikir tidak akan bisa mengendalikan diri jika tidak ada sang ibu, seketika bangkit berdiri dan berniat untuk menghentikannya.
"Kita pergi bersama-sama saja karena tadi Mama tidak di antar sopir dan pergi bersamaku." Saat Aaron baru saja menutup mulut, menyadari jika tatapan sang ibu seolah mengungkapkan jika ia tidak boleh pergi meninggalkan Jasmine.
Hingga ia merasa tertampar dengan perkataan sang ibu yang tidak pandang bulu ketika memarahinya di depan Jasmine.
Refleks Jenny menggelengkan kepala untuk membuat putranya berhenti menghindar dari masalah. "Tidak perlu. Mama bisa naik taksi. Lagipula, kamu harus menyelesaikan masalahmu dengan Jasmine."
"Jangan biarkan masalah berlarut-larut karena itu tidak baik bagi hubungan kalian yang sebentar lagi akan menikah. Jangan membuat malu keluarga kita jika sampai pertengkaran kalian membuat pernikahan dibatalkan!" Jenny kemudian menatap ke arah calon menantunya.
"Kamu juga harus bisa bersikap dewasa, Jasmine. Apalagi sebentar lagi, akan menjadi seorang istri. Jangan selalu mengandalkan sikap keras kepala dan ingin menang sendiri. Kalian harus sama-sama saling mengalah dan tidak egois."
Kemudian menepuk pundak Jasmine yang dilihatnya hanya menganggukkan kepala tanpa membuka suara.
'Pasti ia saat ini sibuk mengumpatku di dalam hatinya. Jika berpikir itu, aku ingin berdoa agar bukan Jasmine yang menjadi menantuku. Tapi sepertinya semua itu tidak mungkin karena semuanya sudah hampir selesai persiapannya.'
Tanpa berniat untuk menunggu tanggapan dari Aaron yang sampai saat ini diam saja, ia pun berjalan menuju ke arah pintu keluar sambil menggandeng tangan Anindya.
Hingga ia pun melirik ke arah Anindya yang berbicara lirih padanya. Seolah tidak ingin didengar oleh siapapun saat berbicara.
"Nyonya, Anda terlalu berterus terang pada tuan Aaron dan nona Jasmine. Pasti mereka akan bertengkar setelah kita pergi," ucap Zea yang saat ingin mengetahui apa yang terjadi pada pasangan kekasih itu.
Hingga ia menoleh ke belakang agar bisa melihat apa yang dilakukan Aaron dan Jasmine.
Namun, ia merasa sangat kecewa karena belum ada tanda-tanda apapun dari mereka yang hanya diam saja tanpa berbicara untuk mengungkapkan emosi yang mengguncang di dalam hati masing-masing.
'Sepertinya tuan Aaron saat ini tengah menahan amarahnya agar tidak sampai membuat nona Jasmine tersakiti. Semoga kejadian di butik tadi tidak terulang. Jika sampai tuan Aaron murka lagi, ia mungkin bisa membanting ponsel milik nona Jasmine.'
Zea masih sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga ia menyadari jika wanita yang berada di sebelahnya tersebut tertawa. Seolah tengah menertawakan perkataannya barusan.
Seolah menjelaskan bahwa wanita itu sangat senang jika putra dan calon menantunya bertengkar. Hingga ia membulatkan mata begitu mendengar sesuatu yang tidak pernah dipikirkan.
"Jika mereka bertengkar, kemungkinan terburuk hanyalah pernikahan dibatalkan. Lalu, keluarga kami menanggung malu dan pasti akan menjadi pergunjingan semua orang." Jenny berbicara sambil memesan taksi karena tidak ingin menunggu lama.
Kemudian mengajak Anindya menunggu di tempat teduh agar tidak terkena sengatan sinar matahari secara langsung.
"Di bawah pohon ini saja kita menunggu taksinya. Taksi sudah dalam perjalanan menuju ke sini dan sebentar lagi akan tiba." Memasukkan ponselnya ke dalam tas dan mengedarkan pandangan ke sekeliling area depan restoran.
"Iya, Nyonya." Zea tidak berani menanggapi perkataan wanita yang merupakan seorang ibu itu.
Ia justru saat ini sedang merasa khawatir jika sampai perkataan dari seorang ibu benar-benar terjadi. Apalagi setahunya dari pelajaran agama yang dulu pernah diajarkan di sekolah, bahwa seorang wanita yang sudah mempunyai anak diberikan sebuah keistimewaan.
Bahwa seorang ibu memiliki keistimewaan dari ucapannya karena apa yang terlontar dari bibirnya mempunyai kekuatan yang bisa menjadikannya kenyataan.
Makanya seorang wanita yang sudah berstatus sebagai ibu, harus menjaga lisan dan tidak boleh berkata buruk karena itu bisa saja menjadi kenyataan.
Namun, ia tidak mungkin menjelaskan hal seperti itu pada wanita yang bahkan sudah banyak makan asam garam kehidupan.
Sementara ia hanyalah anak bawang yang bahkan belum pantas untuk memberikan nasihat. 'Semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk pada pernikahan tuan Aaron dan nona Jasmine.'
Saat Zea sibuk bergumam sendiri, ia sekilas melihat seseorang yang seperti sangat dikenalnya turun dari mobil seorang pria.
To be continued...