Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Sebuah jalan



"Aaron, Jasmine menghilang! Bagaimana ini?" ucap ibu Jasmine yang benar-benar sangat panik karena tidak melihat putrinya yang sudah selesai dirias berpamitan untuk pergi mengganti pakaian di ruang ganti.


Tadi ia keluar sebentar untuk melihat ballroom hotel yang akan digunakan sebagai tempat ijab qobul sekaligus resepsi pernikahan. Namun, saat kembali ke kamar pengantin, sama sekali tidak melihat putrinya maupun wanita yang merupakan MUA tersebut.


Awalnya ia sudah menyuruh beberapa orang untuk mencari Jasmine karena berpikir ada di sekitar hotel, tapi setelah setengah jam mencari, sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa putrinya ditemukan.


Akhirnya terpaksa ia menghubungi sang menantu agar membantu mencari putrinya yang tiba-tiba menghilang. Ia bahkan merasa khawatir jika Jasmine diculik oleh orang jahat.


"Aaron, tolong cari putriku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya," ucapnya sambil menunggu suara dari calon menantunya yang dari tadi hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Sementara itu di tempat berbeda, Zea yang merasa sangat terkejut dengan apa yang baru saja dijelaskan oleh ibu mertua dari pria yang baru saja selesai mengganti pakaian dan terlihat sangat tampan dan gagah pakaian yang akan digunakan untuk acara ijab qobul.


"Siapa?" tanya Aaron yang saat ini menatap ke arah Anindya dan memicingkan mata melihat ekspresi wajah dari gadis di hadapannya sangat mencurigakan.


Sementara itu, Anindya yang merasa bingung harus menjelaskan apa, tapi merasa bahwa pengantin pria tersebut harus segera mengetahuinya. Jadi, ia langsung mengungkapkan apa yang baru saja didengarnya.


"Tuan Aaron, ibu mertua Anda yang menelpon dan mengatakan bahwa nona Jasmine tiba-tiba menghilang!" Kemudian Anindya langsung menyerahkan ponsel yang berada di tangannya pada pria yang terlihat sama ekspresinya dengannya tadi.


"Apa? Jasmine menghilang?" sarkas Aaron dengan wajah memerah dan langsung berbicara di telpon untuk memastikan sendiri pada calon ibu mertua.


"Halo, Ma. Apa maksud Mama sebenarnya? Aku baru saja selesai berganti pakaian dan yang mengangkat tadi adalah sepupuku." Aaron saat ini merasa sangat khawatir dengan keadaan Jasmine karena berpikir ada yang menculiknya di hari pernikahan.


Hingga ia pun mendengar suara tangisan dari seberang telpon yang menjelaskan perihal semuanya.


Aaron merasa ada yang tidak beres, sehingga langsung berjalan keluar untuk mencari informasi sekaligus mencari keberadaan dari calon istrinya.


"Tuan Aaron, aku ikut!" teriak Anindya yang menyuruh perias wanita itu menunggu karena ada yang jauh lebih penting dari merias wajahnya.


Ia bahkan masih melihat lihat di depannya tersebut memegang telepon dan berbicara dengan sang ibu mertua tanpa memperdulikannya. Namun, ia tetap berjalan mengekor pria dengan bau lebar tersebut yang memasuki lift.


'Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi dan di mana nona Jasmine berada saat ini? Tolong lindungi wanita itu karena tuan Aaron pasti akan sangat bersedih jika terjadi sesuatu yang buruk pada calon istrinya.'


Anindya sama sekali tidak berani membuka suara dan melihat Aaron yang baru saja mengatakan pada ibu mertua sudah hampir sampai di ruangan kamar setelah pintu lift terbuka.


Hingga ia pun terus berjalan di belakang Aaron yang saat ini terlihat memerah wajahnya. Sampai ia pun masuk ke dalam ruangan kamar pengantin yang terbuka lebar dan melihat setengah berpelukan dengan bulir air mata membasahi wajah yang sudah dirias itu.


"Pa, Ma, apa yang terjadi sebenarnya? Bagaimana bisa Jasmine tiba-tiba menghilang? Bahkan beberapa jam yang lalu aku masih berbicara dengan yang di telpon." Aaron masih mencoba untuk bersikap tenang meskipun suasana hatinya sedang kacau balau.


Apalagi acara ijab qobul dimulai beberapa menit lagi. Bahkan saat ini mendengar notifikasi dari ponselnya dan membaca pesan dari sang ibu yang sudah berada di ballroom hotel bersama ayahnya menyapa penghulu yang baru saja datang.


"Aaron, aku tidak tahu dan sudah menyuruh orang untuk mencari di sekitar area hotel. Padahal tadi saat aku keluar, Jasmine sudah selesai di rias dan tinggal mengganti pakaian saja. Namun, saat aku kembali, ruangan kosong dan perias juga tidak ada."


"Apa ada yang menculik putriku dan perias itu?" tanya wanita paruh baya yang saat ini berurai air mata ketika menjelaskan.


Bahkan pria paruh baya yang saat ini menunggu kabar dari beberapa anak buahnya yang disuruh mencari Jasmine, mengungkapkan bahwa tidak ada yang mencurigakan hari ini.


"Bahkan Jasmine terlihat sangat bahagia hari ini, Aaron. Aku benar-benar tidak pernah menduga akan terjadi sesuatu seperti ini. Aku masih menunggu kabar dari orang-orang yang kusuruh untuk menyisir hotel," ucap ayah Jasmine yang masih memberikan pengertian pada calon menantunya agar tidak putus asa.


Aaron saat ini memutar otak untuk mencari sebuah ide menyelesaikan masalah yang baru saja terjadi pada detik-detik terakhir menjelang acara.


Tentu saja saat ini ia benar-benar frustasi dan ingin berteriak meluapkan amarah, mungkin melakukannya karena sadar itu tidak akan menyelesaikan masalah.


Hingga ia pun seketika berjalan keluar dari ruangan kamar pengantin yang sudah dihias sedemikian apik tersebut tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada mertua maupun Anindya.


'Ruangan CCTV, hanya itu satu-satunya yang bisa membuatku mencari tahu. Apa yang terjadi sebenarnya pada Jasmine hari ini? Apa ada yang menculik calon istriku di hari pernikahan?' gumam Aaron ya saat ini tidak memperdulikan teriakan dari pasangan suami istri serta Anindya.


Anindya saat ini berlari mengejar Aaron untuk mengetahui apa yang dilakukan pria itu. 'Tuan Aaron mau pergi ke mana? Apa mau ikut mencari nona Jasmine?'


Anindya saat ini kembali berada di dalam lift menemani pria yang memakai pakaian pengantin tersebut dan seperti beberapa saat lalu, tidak berani membuka suara karena takut melakukan kesalahan atau menyuruh api amarah Aaron.


Hingga beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka dan Aaron langsung menuju ke arah ruangan kontrol yang diketahui merupakan tempat untuk melihat semua CCTV di hotel.


Ia masuk dan membuat beberapa pekerja merasa heran.


"Anda tidak diperbolehkan masuk ke sini, Tuan. Hanya pekerja yang diperbolehkan berada di sini," ucap salah satu pria berusia 30 tahunan untuk menegur pria yang diketahui akan menikah tersebut.


Aaron sama sekali tidak memperdulikan nada protes ataupun larangan dari pria tersebut karena langsung menuju ke arah beberapa pekerja yang berada di balik layar yang menampilkan CCTV.


"Tolong kota CCTV yang terjadi setelah jam lalu karena calon istriku tiba-tiba menghilang dan aku khawatir ada yang menculiknya. Jika benar apa yang kukhawatirkan, aku akan menuntut hotel ini karena tidak ada pengamanan untuk melindungi tamu VIP hotel."


Aaron akan berbicara dengan suara bernada tegas untuk mengancam semua orang yang ada di ruangan tersebut agar mematuhi apa yang baru saja diucapkannya.


Tentu saja semua orang yang berada di ruangan kontrol tersebut segera melaksanakan perintah karena jika sampai tamu VIP tersebut melaporkan atau menuntut, mereka semua pasti akan dipecat dan kehilangan pekerjaan.


"Baik, Tuan. Kami akan memeriksanya," salah satu pegawai berseragam hitam yang mewakili beberapa rekan lain.


Aaron saat ini fokus menatap ke arah beberapa layar yang menunjukkan ruangan kamar pengantin dan berharap mendapatkan petunjuk jika sampai ada yang berani menculik calon istrinya.


Sementara itu, Anindya dari tadi merasa sangat khawatir dengan keadaan calon pengantin wanita yang tiba-tiba menghilang.


'Ya Allah, lindungilah mengajak nona Jasmine. Jangan sampai terjadi sesuatu hal yang buruk pada pengantin wanita,' lirih Anindya yang hanya bisa memanjatkan doa di dalam hati dan di saat bersamaan mendengar suara dering ponsel milik Aaron.


Aaron ya saat ini fokus menatap ke arah layar, tidak berniat untuk mengangkat panggilan dari sang ibu dan langsung menyerahkan ponselnya pada Anindya agar diangkat.


"Halo, Aaron. Kamu di mana sekarang? Mama baru saja mendengar jika Jasmine menghilang. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tiba-tiba berubah menjadi kacau seperti ini?" ucap Jennifer yang saat ini menatap ke arah sang suami yang tengah berbicara dengan penghulu.


Ia baru saja mendapatkan telpon dari biasanya yang mengatakan bahwa Jasmine tiba-tiba menghilang pada detik-detik menjelang acara ijab kabul.


Anindya yang saat ini juga merasa bingung harus menjelaskan bagaimana, berbicara singkat. "Nyonya Jennifer, tuan Aaron saat ini tengah berada ruangan kontrol untuk memeriksa CCTV. Semoga ada titik terang untuk menemukan nona Jasmine."


"Baiklah, aku sekarang akan ke sana." Jennifer yang merasa sangat khawatir pada putranya sekaligus menantu, langsung mematikan sambungan telpon dan berjalan keluar dari ballroom hotel menuju ke arah lift untuk menemui putranya.


Sementara itu, Anindya yang saat ini menatap benda benda pipih di tangannya, merasa sangat khawatir jika acara pernikahan hari ini berantakan. 'Ya Allah, kenapa semua ini bisa terjadi saat beberapa menit lagi dilakukan acara ijab qobul?'


Anindya jangan mengetahui apakah mendapatkan hasil dari ruangan CCTV, buru-buru berjalan masuk dan merasa sangat terkejut begitu melihat Aaron berteriak sangat kencang seperti orang yang sedang meluapkan amarah.


"Bangsat! Jasmine! Apa yang kau lakukan? Apa kau sedang mempermainkanku?" Aaron saat ini mengepalkan kedua tangan dengan wajah memerah begitu beberapa saat yang lalu melihat jika wanita yang sangat dikhawatirkannya ternyata dengan dibantu oleh salah satu MUA.


Bahkan seolah semuanya sudah diatur karena Jasmine pergi melalui pintu darurat dan ada mobil yang sudah bersiap di belakang.


Aaron sama sekali tidak menyangka jika wanita yang selama ini dicintai dan dipercaya melebihi diri sendiri, dalam beberapa menit sebelum pernikahan dimulai.


"Tuan Aaron, apa yang sebenarnya terjadi?" Kali ini Anindya mencoba untuk memberanikan diri dan tidak memperdulikan mendapatkan kemurkaan dari pria itu.


Ia ingin tahu apa yang membuat Aaron terlihat sangat murka hingga mengumpat wanita yang selama ini dipuja-puja dan dicintai.


Namun, ia sama sekali tidak mendapatkan jawaban karena pria dengan bahu lebar tersebut berbalik badan dan berlalu pergi dari hadapannya, yaitu keluar dari ruangan kontrol setelah mengetahui apa yang terjadi.


Ia yang merasa bingung, kamu di jalan pintas untuk bertanya pada salah satu pegawai di ruangan tersebut. "Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Itu, Nona. Ternyata setelah dicek rekaman CCTV beberapa menit yang lalu, ternyata calon pengantin wanita kabur dan dan dibantu oleh seorang wanita lainnya," sahut pria yang tadi melarang untuk masuk.


Seketika Zea membungkam mulut serta membulatkan kedua mata karena tidak pernah menyangka jika hal ini akan terjadi. "Apa? Nona Jasmine kabur di hari pernikahan?"


Zea saat ini memikirkan perasaan Aaron yang baru saja keluar dari ruangan dan seketika berlari untuk mencari pria itu. Hingga ia melihat pria yang masih mengenakan setelan jas lengkap berwarna putih tersebut sudah menghilang di balik pintu lift.


Ia masih berdiri di sana untuk melihat ke mana Aaron saat ini. "Ya Allah, Tuan Aaron pasti sangat marah sekaligus sang shock dan terpukul. Semoga tuan Aaron tidak melakukan apapun yang berbahaya."


Zea saat ini melihat jika angka digital menunjukkan lantai di ruangan pengantin, sehingga berniat untuk pergi ke sana.


"Tuan Aaron pasti ini mencari penjelasan pada mertuanya mengenai kaburnya nona Jasmine di hari pernikahan." Saat menunggu pintu lift terbuka, Zea kebetulan melihat wanita yang tak lain adalah ibu dari pengantin pria baru saja keluar.


"Anindya? Di mana putraku?" tanya Jennifer yang saat ini merasa sangat khawatir pada putranya serta sang menantu.


Zea seketika menarik perkembangan tangan kiri wanita itu agar ikut denganmu masuk ke dalam lift dan menjelaskan di sana.


Begitu mengetahui apa yang terjadi, seketika melihat raut wajah Jennifer memerah. "Jasmine benar-benar kurang ajar karena kabur di detik-detik terakhir menjelang pernikahan. Aku sudah menduga jika dia bukanlah wanita yang baik untuk putraku."


Jennifer bahkan saat ini mengepalkan tangan dan wajahnya memerah ketika mengingat dari dulu tidak pernah menyukai Jasmine yang sangat dicintai putranya.


"Jasmine, jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk pada putraku karena perbuatanmu, aku akan benar-benar membuat perhitungan denganmu." Jennifer seketika berjalan keluar begitu pintu lift terbuka.


Ia yang merasa khawatir pada putranya, saat ini berjalan cepat untuk menghampiri Aaron yang mungkin berada di ruangan pengantin untuk berbicara dengan orang tua Jasmine.


Anindya yang berjalan cepat di belakang Jennifer bisa merasakan bagaimana hancurnya seorang ibu melihat putranya yang ditinggal kabur oleh calon pengantin wanita.


Hingga begitu tiba di ruangan kamar pengantin, dengar suara teriakan dari Aaron yang sangat marah dan mengeluarkannya pada orang tua Jasmine.


"Putri kalian benar-benar sudah gila karena kabur pada detik-detik menjelang pernikahan. Aku sudah memeriksa CCTV dan mengetahui jika ternyata Jasmine kabur dibantu oleh MUA itu." Aaron kali ini benar-benar sangat terpukul sekaligus hancur begitu melihat rekaman CCTV.


"Apa kalian bekerja sama untuk menghancurkanku?" sarkas Aaron yang saat ini masih mengepalkan tangan yang sebenarnya ini diluapkan ruangan pengantin tersebut.


"Aaron, bagaimana bisa kau menuduh kami seperti itu? Bahkan kami benar-benar tidak tahu apa-apa dan masih berusaha untuk mencari keberadaan Jasmine saat ini. Karena Jasmine selama ini tidak mengatakan apapun dan bersikap seolah bahagia dengan pernikahan ini," seru ayah pria paruh baya yang merupakan ayah dari pengantin perempuan.


Sementara itu, sang istri sudah menangis histeris begitu mengetahui perbuatan putrinya yang ternyata kabur meninggalkan pesan apapun pada mereka.


Di sisi lain, Jennifer yang baru saja mendengar semuanya, ketika memeluk erat tubuh putranya. "Sayang, tenanglah! Mama tahu jika ini berat bagimu. Inilah alasan kenapa dari dulu Mama tidak pernah menyukai Jasmine."


"Kita harus berpikir jernih untuk mencari jalan keluar dari masalah ini." Jennifer saat ini berusaha untuk menenangkan putranya sekaligus memutar otak untuk mencari jalan keluar.


Di sisi lain, Aaron yang merasa dunianya seketika hancur begitu mengetahui wanita yang dicintai ternyata telah menipunya habis-habisan dan menghancurkannya ketika pergi tanpa pesan.


"Jalan keluar apa lagi, Ma? Semuanya telah hancur tidak tersisa," lirih Aaron saat ini tidak tahu harus bagaimana.


Hingga ia seketika membulatkan kedua mata begitu tiba-tiba sang ibu memberikan sebuah ide yang dianggap sangat gila.


"Pernikahan bisa tetap dilanjutkan asalkan ada pengantin wanita, bukan? Kamu bisa menikahi Anindya yang sangat Mama sukai. Mama yakin jika Anindya bisa menjadi seorang istri serta menantu yang baik di keluarga kita."


Jennifer beralih menatap ke arah Anindya dan memegang kedua tangan gadis itu. "Anindya, menikahlah dengan putraku dan gantikan posisi Jasmine yang kabur meninggalkan Aaron."


Zea yang sama sekali tidak menyangka mendapatkan sebuah permintaan dari wanita yang sudah dianggap seperti ibu kandungnya sendiri tersebut. Bahkan ia bener-bener sangat shock mendengarnya dan tidak tahu harus berkata apa.


'Ya Allah, situasi macam apa ini? Kenapa semuanya bisa berubah seperti ini? Apa ini adalah jalanku untuk bisa memiliki tuan Aaron yang sangat kucintai?' gumam Zea yang merasa berada pada situasi paling menguntungkan dalam kehancuran seorang Aaron.


To be continued...