Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Pergi ke Surabaya



Beberapa saat lalu, Erick yang sangat malas berangkat kuliah, berniat untuk menghabiskan waktu dengan mengganggu Aaron. Ia tadinya berpikir jika Aaron berada di perusahaan dan ingin mengobrol untuk membahas hal-hal yang berhubungan dengan Zea.


Selama beberapa bulan terakhir ini, memang hubungannya dengan Aaron sangat baik. Semua itu demi bisa menemukan Zea, jadi bekerja sama. Namun, usaha mereka sama sekali tidak membuahkan hasil dan membuatnya putus asa.


Tadi ia menelpon sebelum berangkat ke perusahaan dan diberitahu jika saat ini tengah berada di sebuah apartemen. Akhirnya ia langsung melajukan mobilnya menuju ke alamat yang dikirimkan oleh Aaron.


Kebetulan hari ini ia tidak pergi dengan motor sport miliknya karena ingin naik mobil. Namun, saat ia baru saja tiba di parkiran dan memarkirkan kendaraan, mendapat telpon dari salah satu detektif yang berasal dari Surabaya.


Buru-buru Erick menggeser tombol hijau dan mendengar suara dari seberang telpon.


"Halo, Bos. Ada kabar baik."


"Apa kau ingin bilang jika sudah mendapatkan kabar tentang Zea? Tidak ada kabar baik yang kutunggu selain itu," ucap Erick yang saat ini sangat malas berbicara dengan detektif.


Apalagi selama ini ia sudah lama menunggu kabar baik dari detektif teras, tapi sama sekali tidak membuahkan hasil.


Sementara itu, sang detektif yang mengetahui tanggapan bernada sinis tersebut tersenyum simpul dan tidak merasa tersinggung karena memang menyadari jika tugas yang diberikan tak kunjung membuahkan hasil.


"Ya, Anda benar, Tuan Erick. Maaf karena sangat lama tidak membuahkan hasil untuk mencari keberadaan nona Zea, tapi sekarang semua kegagalan terjawab semuanya. Saya akan mengirimkan sebuah video yang pastinya menjawab semua pertanyaan Anda, kenapa tidak kunjung menemukan nona Zea."


Erick yang tadinya tengah menatap malas ke arah kaca depan mobil, seketika tertarik begitu mendengar perkataan sang detektif.


"Cepat katakan! Benarkah kau sudah menemukan keberadaan Zea? Memangnya video apa?" Baru saja ia menutup mulut, di saat bersamaan mendengar suara notifikasi masuk.


Sementara itu, Erick yang merasa sangat penasaran dengan apa yang dikatakan oleh detektif, tidak membuang waktu, langsung memencet tombol play.


Beberapa menit berlalu dan ia membulatkan kedua matanya begitu melihat layar ponselnya tersebut.


"Khaysila? Tidak! Aku sangat yakin jika dia adalah Zea yang sama. Wanita di video ini bukan Khaysila, tapi Ayang. Sepertinya aku harus memperlihatkan ini pada Aaron. Pasti dia akan sependapat denganku," ujar Erick yang langsung beranjak dari kursi mobilnya.


Bahkan ia berjalan cepat menuju ke arah lobi apartemen dan masuk ke dalam lift. Hingga beberapa saat kemudian ia melihat orang yang sama sekali tidak dikenal membukakan pintu dan menghambur masuk ke dalam untuk menemui Aaron.


Namun, ia seketika membulatkan mata begitu melihat pemandangan di hadapannya, yaitu meja yang dipenuhi botol-botol minuman keras. Kemudian langsung mengungkapkan apa yang diketahui.


Bahkan kini ia langsung menunjukkan video yang dikirimkan oleh sang detektif. "Lihatlah! Ini Zea, kan? Tapi dia diperkenalkan ke publik dengan nama berbeda."


Aaron yang tadinya tidak percaya akan kabar dari Erick, berniat untuk melanjutkan minum. Namun, saat melihat video yang ditunjukkan Erick, mengerjapkan mata dan merasa seperti baru saja mendapatkan oase di Padang pasir.


Refleks ia langsung merebut ponsel milik Erick dan kembali mengulang melihatnya. Hingga beberapa saat kemudian, ia mendongak menatap ke arah Erick.


"Zea. Kau benar, ini Zea. Jadi benar jika Zea adalah cucu dari seorang konglomerat?" Refleks Aaron langsung bangkit berdiri dari posisinya. "Ayo, kita ke Surabaya sekarang untuk menemuinya."


"Kau mabuk. Bagaimana bisa kau ke Surabaya dalam keadaan seperti ini?" Erick menepuk jidat berkali-kali melihat penampilan berantakan Aaron.


To be continued...