Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Batasan pria dan wanita



Aaron yang merasa bingung dengan keputusan apa yang akan diambil, sehingga menceritakan tentang semuanya. Bahwa perkataan sang ibu sama persis dengan sang ayah.


"Aku tidak mungkin bersaing dengan Anindya, Ma. Jika aku mengalahkannya, dia pasti akan menyalahkanku dan membenciku. Lalu, bagaimana jika akhirnya kami tidak bisa bersatu hanya gara-gara masalah investor?" Aaron yang saat ini tengah berada di ruang kerja untuk memeriksa semua informasi mengenai investor asing tersebut, seketika melemparkan beberapa buku yang ada di atas meja.


Ia bener-bener sangat kesal karena seperti dipermainkan oleh takdir karena harus bersaing dengan gadis yang dicintai dan membuatnya tidak sanggup melakukannya.


Sementara itu, Jennifer membulatkan mata begitu mengetahui hal itu dan sama sekali tidak menyangka jika putranya akan mengalami sesuatu yang sangat berat.


"Mama bahkan tidak pernah berpikir sejauh itu, Sayang. Kenapa sekarang kamu yang jadi apes. Padahal kupikir tadi sangat beruntung karena bisa bersama dengan Anindya di New York tanpa ada yang mengganggu." Ia saat ini menjauh dari ranjang agar suaranya tidak mengganggu cucunya yang masih tertidur pulas.


Memilih berjalan menuju ke arah sofa dan mendaratkan tubuh di sana sambil memikirkan jalan keluar dari masalah yang dialami oleh putranya dan membuatnya sangat iba.


Ia berpikir untuk berbicara dengan sang suami karena memang itu berhubungan dengan masalah perusahaan dan tidak bisa diputuskan secara sepihak. Namun, sudah sangat menghafal karakter dari suaminya yang pastinya akan melarang Aaron untuk menyerah.


Apalagi jika itu adalah demi perusahaan, akan melakukan segala cara untuk bisa mendapatkannya. Jadi, saat ini merasa bingung jika sampai Anindya semakin membenci putranya. "Menurutmu, papamu mau menyerah dalam masalah investor itu?"


"Sepertinya tidak, Ma karena sepertinya papa sangat terobsesi untuk mendapatkan investor itu. Meskipun aku tahu jika Papa sangat menyayangi Anindya, tapi selama ini tidak pernah mencampuradukkan masalah pekerjaan dengan pribadi. Pasti Mama sudah apa dengan hal itu, kan?" Aaron saat ini memijat pelipis karena tidak jadi merasa bahagia.


Malah yang ada makin pusing tujuh keliling karena belum mendapatkan jalan keluar.


"Ya, kamu benar. Mama juga berpikir seperti itu. Tapi sepertinya Anindya pun sama. Dia bukanlah wanita yang mencampurkan masalah pekerjaan dengan pribadi." Jennifer masih berusaha untuk menghibur putranya agar tidak berpikir negatif terlebih dahulu.


Di ruang kerja, Aaron kini terlihat mengacak frustasi rambutnya. Ia benar-benar bingung harus bagaimana karena satu-satunya hal yang ditakutkan adalah Anindya ilfil padanya. Akhirnya yang tersisa hanyalah kebencian dan tidak ingin bertemu dengannya.


"Aku tidak tahu soal itu, Ma. Hanya saja, benar-benar ingin berhati-hati saat berada di hadapannya agar tidak membuatnya kesal. Tapi bagaimana bisa melakukannya jika yang terjadi malah sebaliknya. Lebih baik aku berbicara pada papa saja." Aaron merasa jika tidak ada jalan lain selain membahas dengan sang ayah yang memberikan perintah.


"Daripada merasa sangat pusing seperti ini karena tidak mendapatkan jalan keluar." Saat Aaron berniat untuk mengakhiri panggilan telepon, tidak jadi melakukannya begitu mendengar suara seseorang yang sangat dihafal olehnya.


Ia akhirnya tidak jadi mematikan sambungan telepon karena ingin mendengar apa yang diinginkan oleh Anindya.


Jennifer seketika menoreh melihat pintu yang terbuka dan Anindya masuk ke dalam.


"Waktunya Kenzie menyusu, Ma." Anindya yang tidak mengetuk pintu saat masuk dan berpikir jika wanita paruh baya tersebut tengah bersama dengan putranya, seketika merasa sangat malu begitu melihat layar ponsel yang dipegang menunjukkan Aaron.


'Jadi, dari tadi mama melakukan video call di kamar? Seharusnya aku tidak masuk sebelum mereka selesai,' gumamnya sambil berjalan menuju ke arah ranjang. "Mama lanjutkan saja teleponnya. Aku tidak akan mengganggu."


"Sudah selesai, Sayang karena kami sudah mengobrol cukup lama tadi." Kemudian ia beralih menatap ke arah layar untuk berbicara pada putranya. "Sekarang telepon papamu dan bicarakan semuanya dengannya."


Saat Aaron tadinya berniat untuk menyuruh sang ibu mengarahkan kamera agar bisa melihat Anindya yang sangat dirindukan, tidak bisa melakukannya karena panggilan telepon terputus.


"Mama! Menyebalkan sekali! Padahal aku belum melihat Anindya, tapi malah sudah dimatikan. Apa tidak tahu jika putranya sangat merindukan Anindya? Mama dan calon menantunya itu benar-benar tidak peka sama sekali." Aaron saat ini masih menatap ke arah layar ponsel yang sudah mati.


Ia masih terdiam memikirkan tentang takdir yang dialaminya. Hingga embusan napas kasar kini terdengar sangat jelas menghiasi ruangan kerjanya.


"Aku sebenarnya sudah tahu jawaban apa dari papa, tapi sepertinya bisa Ika merayunya. Bukankah dia sangat menyukai Anindya dan berharap bisa menjadi menantu serta berkumpul dengan cucunya?" Mencoba menghibur diri sendiri saat ini dilakukan oleh Aaron agar tidak patah semangat.


Ia berusaha untuk menormalkan perasaannya agar bisa dengan lancar berbicara dengan sang ayah karena jujur saja sangat gugup.


"Semoga papa mau mengasihaniku," ucapnya yang saat ini tengah menatap ke benda pipih di tangan.


Kemudian melakukan panggilan internasional dan menunggu sampai dijawab. Dengan perasaan berkecamuk yang memenuhi dirinya, Aaron saat ini terdiam menunggu sambil merapat doa agar rencananya berhasil.


Hingga ia mendengar suara bariton dari sang ayah dari seberang telepon.


"Apa ada yang perlu kamu tanyakan pada Papa, Aaron? Kamu sudah membaca semua file yang kukirimkan tadi, kan?" tanya Jonathan yang saat ini menatap ke arah laptop.


Aaron yang memang sudah melaksanakan perintah dari sang ayah, kini mengangguk lemah dan sekaligus menjawab dengan tidak bersemangat.


"Iya, sudah, Pa. Hanya saja, ada satu hal yang ingin ku bicarakan dengan Papa. Ini benar-benar sangat penting, menyangkut hidup dan matiku." Aaron kini bangkit berdiri dari kursi kerjanya dan berjalan ke balkon untuk mengambil udara segar.


Ia benar-benar merasa sesak berada di ruang kerja begitu mengetahui apa yang akan dilakukan Anindya sama persis dengannya.


"Dasar alay! Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa seperti orang yang tidak bersemangat hidup saja." Jonathan ya saat ini merasa aneh mendengar suara putranya seperti tidak bersemangat.


Padahal tadi baik-baik saja dan masih bersemangat untuk melaksanakan perintahnya. Jadi, merasa heran dan ingin tahu apa penyebab perubahan sikap putranya.


Aaron yang sudah berdiri di balkon dan menatap ke arah jalanan kompleks perumahan mewah itu, kini mengembuskan napas kasar sebelum menceritakan apa yang tadi diketahui dari sang ibu.


"Pa, jika aku gagal membuat investor itu tertarik pada perusahaan kita, bagaimana?"


"Papa menyuruhmu khitan sekali lagi. Kalau perlu sampai habis sekalian," sahut Jonathan yang kini sangat tidak suka ketika mendengar putranya pesimis sebelum mencoba.


Ia sangat mengenal putranya yang selalu berambisi dalam hal apapun dan juga optimis mengenai hasilnya. Jadi, sekarang merasa heran kenapa putranya tiba-tiba berubah pesimis seperti itu.


Wajah kesal kini tampak jelas dari Aaron karena kesal pada perkataan sang ayah. Ia yang baru saja memancing untuk mengetahui keputusan dari sang ayah, seolah sudah mendapatkan jawaban. Namun, tetap saja ingin menceritakan semua yang terjadi.


Bahkan bercerita dengan raut wajah muram karena khawatir jika sampai sang ayah tidak peduli pada masalahnya saat ini.


"Papa pasti sangat mencintai mama dan akan melakukan segala cara untuk bisa mendapatkannya, kan? Aku pun juga demikian, ingin mendapatkan Anindya. Jadi, ingin menyerah dan membiarkannya memenangkan hati investor itu." Akhirnya ia merasa sangat lega karena sudah mengungkapkan apa yang ada di pikirannya saat ini


Sementara itu, di seberang telepon, Jonathan yang tadinya merasa sangat terkejut begitu mengetahui apa yang menjadi penyebab kebimbangan putranya hingga seperti tidak bersemangat hidup.


"Kenapa bisa kebetulan seperti ini? Bahkan ada banyak orang di dunia ini, kenapa bisa bertemu dengan investor yang sama?" Ia memijat pelipis karena merasa sangat kesal.


Padahal tadi sangat yakin jika putranya bisa merebut hati investor itu. Namun, kali ini seolah harapannya seketika musnah.


"Sekali ini saja, Pa. Aku akan mencari investor lain nanti. Biarkan Anindya yang memenangkan hati investor itu, ya?" mohon Aaron hanya saat ini masih menunggu dengan gelisah dan tidak bisa tenang sebelum sang ayah mengambil keputusan.


Saat ini, Jonathan memijat pelipis karena tiba-tiba merasa pusing memikirkan apa yang baru saja disampaikan oleh putranya. Apalagi ia mengetahui jika Aaron sangat mencintai Anindya dan hanya menginginkan wanita itu.


"Apa kau yakin bisa menaklukkan hati Anindya hanya dengan membiarkannya mendapatkan hati investor itu? Papa merasa ragu kamu bisa mendapatkan hatinya. Apalagi sampai sekarang tidak mendapatkan respon darinya, kan? Jangan sampai kau kehilangan dua-duanya."


Sebenarnya ia tidak bermaksud meremehkan putranya, tapi ikut merasa kesal seperti sang istri karena belum bisa menaklukkan hati Anindya.


Aaron semakin bertambah kesal karena diremehkan oleh sang ayah dan menjadi penyemangat untuknya. "Aku pasti akan membuktikan bisa mendapatkan hati Anindya dalam waktu dekat. Jadi, aku akan tetap berangkat ke New York untuk menemui investor itu dan agar bisa bertemu dengannya."


"Papa harus percaya pada putra sendiri, agar aku bersemangat mendapatkan Anindya dan membawanya sebagai menantu di keluarga kita. Baiklah. Aku dimenangkan diri dan bersiap untuk berangkat besok." Aaron tidak ingin kembali diejek oleh sang ayah dan langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu tanggapan.


Ia kembali berjalan masuk ke dalam karena cuaca yang cukup gelap membuat udara makin dingin dan menusuk tulang.


"Cuaca gelap hari ini sangat cocok dengan perasaanku," ucapnya sambil menaruh benda pipih tersebut di atas meja. Ia merasa sangat lega karena ternyata sang ayah masih merasa iba padanya.


"Aku harus memberitahu mama agar tidak merasa khawatir karena papa sudah menyetujuinya," ucapnya yang kini langsung mengirimkan pesan pada sang ibu.


Sementara itu di tempat berbeda, yaitu rumah keluarga Kusuma, terlihat Khayra sedang menyusui putranya yang tadi dibangunkan. Merasa sudah cukup lama putranya tertidur pulas, sehingga memilih untuk membangunkan agar mau menyusu.


Ia yang sudah tidak mendengar wanita di sofa itu berbicara dengan Aaron, kini beralih memutar tubuhnya. "Mama tidak makan siang? Tadi aku menyuruh Erick makan dulu karena dia pasti kelaparan. Aku belum lapar karena masih kenyang menikmati wedang rondenya."


Jennifer yang menggelengkan kepala, ini perjalanan mendekati Anindya. "Mama pun sama, masih kenyang. Nanti saja kita makan bersama."


"Baiklah. Terserah Mama saja kalau begitu," ucap Khayra yang saat ini melanjutkan menyusui putranya dan beberapa kali mengusap lembut rambut hitam berkilat itu.


Kini, ruangan kamar dengan banyaknya furniture mewah itu sangat hening karena keduanya sama-sama sibuk dengan pemikiran masing-masing.


Jennifer menunggu jawaban dari suami ketika putranya menceritakan tentang Anindya yang juga akan pergi ke New York besok.


Hingga ia mendengar notifikasi dan sangat yakin jika itu dari putranya. Begitu membaca pesan dari Aaron, seketika bernapas lega. "Alhamdulillah."


Khayra kini mengerutkan kening begitu melihat raut wajah lega dari wanita di sebelahnya tersebut. "Sepertinya kabar baik, Ma?"


Jennifer yang saat ini merasa bingung mencari alasan tepat, kini terdiam beberapa detik. Hingga ia mengarang sebuah alasan agar tidak dicurigai oleh Anindya.


"Iya, ini baru mendapatkan pesan dari salah satu teman, jika suaminya memenangkan tender dan sebagai wujud syukur, akan mengadakan acara di rumah dan mengundang beberapa teman. Sayangnya, Mama tidak bisa datang dan mendoakan saja dari sini."


Saat ia merasa lega karena berhasil mengarang cerita palsu, di saat bersamaan mendengar suara pintu yang diketuk dan beberapa saat kemudian terbuka.


Sosok pria yang baru saja selesai makan kini masuk ke dalam dan membuatnya ingin menghentikan.


"Ayank, aku ingin melihat Kenzie dan juga kamarmu." Erick yang sangat ingin mengetahui bagaimana ruang pribadi seorang Anindya setelah menjadi cucu dari konglomerat, jadi tadi bertanya pada pelayan.


"Pria tidak boleh masuk ke ruang pribadi wanita, Erick!" sarkas Jennifer yang tadinya langsung menutupi Anindya karena tengah menyusui.


Begitu pun dengan Khayra yang merasa sangat terkejut dengan kedatangan tiba-tiba dari Erick. Ia refleks langsung melepaskan putranya yang tengah menyusui.


Ingin sekali ia berteriak untuk memarahi Erick, tapi tidak bisa melakukannya karena khawatir jika putranya akan menangis karena terkejut. Ia merasa sangat lega karena ibunya Aaron langsung bergerak menutupinya.


'Rasanya aku ingin memukulnya sekarang! Kenapa Erick sekarang berubah menjadi menyebalkan, sih? Tuan Aaron saja tidak berani melihat kamar ini dan patuh saat dilarang,' gumam Khayra yang kini menepuk jidat karena merutuki kebodohannya saat mengingat Aaron.


'Dasar bodoh! Kenapa aku malah mengingatnya, sih?' Hingga ia melihat wanita itu langsung menyeret tangan dengan membawanya keluar dari ruangan kamar.


"Jika tidak keluar, aku akan menjewer telingamu lagi," sarkas Jennifer dengan raut wajah memerah karena marah.


"Tante, aku hanya ingin melihat sekali saja kamar seorang Khayra. Masa itu aja tidak boleh!" Entah mengapa tadi Erick ingin sekali melihat ruangan pribadi Zea, jadi tidak memikirkan kemarahan dari gadis yang disukainya itu.


"Kamu harus tahu batasan antara pria dan wanita, Erick! Jika kamu bandel, Tante akan menelpon orang tuamu sekarang!" ancam Jennifer yang saat ini benar-benar kesal melihat sikap bandel dari Erick.


Padahal tadi ia ingin menanyakan pada Anindya tentang hotel menginap besok di New York. Ia berpikir untuk memberi tahu putranya agar mengetahuinya dan menginap di tempat yang sama.


To be continued..