
Saat Khayra sibuk menormalkan perasaannya dengan cara tertawa terbahak-bahak, tapi ia seketika membulatkan mata begitu pria yang tadinya berjarak berapa centi darinya tersebut berjalan cepat menghambur ke arahnya dan belum sempat ia berpikir apa yang dilakukan pria itu, semakin tidak berkutik ketika bibirnya sudah dibungkam.
Bahkan ia yang tidak tahu harus melakukan apa, merasakan tenaganya seperti habis terkuras energinya hanya karena kali ini kembali mendapatkan serangan tiba-tiba dari Aaron yang membuatnya terdiam dengan perasaan syok luar biasa.
Ia bahkan saat ini meremas kedua sisi bagian saat perasaan mengguncang dan seperti hampir meledak saat ini ketika bibir tebal itu sudah mulai menyesap dan ******* bibirnya.
Meskipun itu bukan merupakan ciuman pertama mereka, tetap saja ia merasa sangat gugup dan tidak tahu lagi harus apa. Ia yang tadinya hanya membiarkan pria itu menyesap menikmati bibirnya, hingga berubah semakin meluas dan membuat pertahanannya semakin runtuh.
Ia yang akhirnya tidak bisa menolak dan menyadari jika sangat lemah berada di hadapan sosok pria tampan yang selama ini menjadi pujaan hati dan tidak pernah hilang dari hatinya. Dengan gerakan lembut ia merasakan ciuman memabukkan yang dikirimkan oleh Aaron hingga membuatnya tidak bisa menolak dan akhirnya mulai membalas.
Ciuman yang awalnya sangat lembut itu berubah semakin menuntut dan keduanya kini telah larut dalam gelombang cinta yang bergairah.
Khayra bahkan saat ini merasa kakinya seperti kehilangan tenaga dan membuatnya melingkarkan kedua tangan pada pinggang kokoh pria yang masih menikmati bibirnya.
Ia bisa merasakan keahlian pria yang membuainya dengan ciuman dan lidah saling membeli serta berbagi saliva untuk saling mengungkapkan perasaan mereka yang selama ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
'Hatiku benar-benar sangat lemah di depan tuan Aaron. Aku selalu tidak berkutik di depannya. Apalagi jika ia melakukan hal seperti ini, aku benar-benar tidak bisa menolaknya,' gumam Khayra yang menikmati ciuman nanas dan semakin menuntut dengan memejamkan mata.
Sementara itu, Aaron yang tadinya hanya ingin sedikit memberikan pelajaran pada Anindya untuk membuktikan bahwa wanita itu sangat mencintainya, tapi lama kelamaan sangat menikmati ciuman mereka dan tidak bisa menghentikannya.
'Benar apa yang kurasakan jika Anindya tidak akan pernah bisa menolak perasaannya yang sebenarnya sangat mencintaiku karena hanya dengan melakukan ini saja berhasil membuatnya sadar bahwa aku adalah cinta pertama dan terakhirnya.'
'Bahwa tidak ada satu pria manapun yang bisa menggantikan posisiku di hatinya,' gumam Aaron yang saat ini merasakan jika gadis mungil di hadapannya tersebut kehabisan pasokan oksigen.
Refleks ia seketika melepaskan ciuman meskipun sebenarnya tidak ingin melakukannya. Namun, ia terpaksa melakukannya karena tidak ingin wanita pujaan hati tidak bisa bernapas hanya karena perbuatannya.
Ia yang baru saja melepaskan pagutannya, kini menatap intens wajah memerah yang tadinya menutup kelopak mata tersebut dan sekarang terbuka perlahan, sehingga membuatnya berbisik di dekat daun telinga.
"Bernapaslah, Sayang. Atau kamu membutuhkan napas buatan dariku?" ucap Aaron yang saat ini bisa melihat jika raut wajah Anindya memerah seperti kepiting rebus dan ia tahu jika gadis itu saat ini sangat malu padanya.
Khayra yang dari tadi menahan gejolak perasaannya yang bergemuruh dan seperti merasakan jantungnya hampir meledak dan melompat dari tempatnya karena perbuatan dari pria yang tidak kunjung melepaskan bibirnya.
Bahkan ia merasa bibirnya saat ini terasa kebas karena cukup lama dinikmati oleh pria yang saat ini masih memeluknya dengan melingkarkan tangan pada pinggangnya.
Tidak ingin mati karena pasokan oksigen yang habis, ia seketika mengambil udara sebanyak-banyaknya untuk memenuhi paru-paru yang dari tadi tersiksa karena membutuhkannya.
Ia merasa sangat malu karena diejek oleh pria yang bahkan saat ini tersenyum menyeringai padanya. Apalagi ia seperti seorang wanita yang bodoh dan tidak berpengalaman saat berciuman.
Sementara pria itu sangat handal mempermainkan perasaannya hingga kalang kabut dan tidak pernah bisa berkutik untuk menolaknya. Bahkan saat selesai melakukan perintah dari pria yang masih menatapnya intens, ia merasa bingung apa yang harus dilakukannya ketika masih mendapatkan tatapan tajam yang seperti menembus jantungnya.
'Rasanya aku ingin kabur dari sini, tapi kakiku seperti tidak bisa digerakkan dan bingung harus bagaimana untuk pergi. Aku seperti lupa cara berjalan Karena sekarang tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa diam di hadapannya.'
'Aku benar-benar sangat malu dan tidak mempunyai muka di hadapannya karena tadi tidak bisa menolak, tapi malah menikmati ciumannya. Aarrh ... apa yang harus kulakukan sekarang? Rasanya aku ingin menenggelamkan diri ke dalam dasar samudra agar tidak bisa melihatnya lagi,' gumam Khayra yang saat ini tidak bisa berkata-kata karena suaranya seolah tercekat di tenggorokan.
Tatapan tajam yang ditujukan padanya seperti anak panah yang membuatnya tidak bisa berkutik lagi. Bahkan mengakui perasaannya jika kini sudah tertancap panah asmara dari pria dengan rahang tegas dan wangi khas maskulin yang sangat dihafalnya.
Hingga ia yang masih berusaha untuk menormalkan perasaannya, seketika mendengar suara bariton dari pria yang masih tidak mengalihkan tatapan darinya.
"Bagaimana? Mau dilanjutkan ciumannya atau mengakui perasaanmu yang sebenarnya sangat mencintaiku?" Aaron sebenarnya ingin tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah memerah di hadapannya yang seperti kepiting rebus itu.
Namun, ia tidak ingin merubah suasana keromantisan di antara mereka ketika gadis itu diam tak berkutik tanpa berbicara sepatah kata pun dan mengartikan itu adalah sebuah kegugupan dari seorang wanita yang telah menyadari perasaannya.
Sementara itu, Khayra yang merasa bingung harus bagaimana, kini menyadari jika dari tadi memeluk erat pinggang kokoh pria itu. Refleks ia melepaskan kedua tangannya dan berniat untuk mundur beberapa langkah agar bisa menormalkan perasaannya yang bergejolak.
Namun, ia tidak bisa melakukannya karena kuasa dari pria itu masih mengungkungnya.
"Mau kabur, hem? Tidak semudah itu, Baby," ucap Aaron yang saat ini masih melingkarkan tangannya pada pinggang ramping gadis dengan raut wajah memerah tersebut.
Panggilan sayang yang baru saja menusuk gendang telinganya, seolah berhasil membuat perasaan Khayra tidak menentu dan seperti ingin berjingkrak-jingkrak karena senang sekaligus bahagia.
Namun, ia masih merasa gengsi dan hanya diam ketika pria itu mengungkapkan kembali perasaannya.
"Aku tidak akan melepasmu sebelum kamu menjawab jika mencintaiku. Bahwa perasaanku selama ini tidak bertepuk sebelah tangan." Aaron yang saat ini melepaskan tangan kanannya yang dari tadi melingkar di pinggang ramping itu, kini berubah mengusap pipi putih lembut yang ingin sekali ia kecup.
Namun, tidak tiga melakukannya karena melihat gadis itu masih memerah karena malu. "Mau jujur atau kucium lagi?"
Khayra yang saat ini mengerjapkan mata karena kalimat terakhir dari Aaron membuatnya seperti seorang wanita yang haus akan belaian dan membuatnya seketika memukul dada bidang pria yang masih mengungkungnya.
"Dasar mesum! Cepat lepasin!" sarkas Khayra yang benar-benar merasa seperti tidak bisa bernapas lega jika berada pada posisi yang sangat intim dan tidak ada jarak di antara mereka.
Ia benar-benar merasa jantungnya seperti hendak meledak karena posisi intim mereka saat ini. Namun, Aaron malah berbuat kebalikannya dan membuatnya semakin kebingungan serta gugup.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Khayra yang saat ini bergetar suaranya ketika bertanya hingga tatapan mereka saling beradu.
Sementara itu, Aaron yang sudah sangat hafal dengan keinginan seorang wanita yang selalu tidak sesuai dengan apa yang dikatakan, kini makin merapatkan tubuhnya dan memeluk erat Anindya.
Ia bahkan saat ini mengusap lembut punggung Anindya dan berbicara tepat di dekat daun telinga gadis itu.
"Woman ...."
Sementara itu, Khayra yang saat ini tidak berkutik karena dipeluk sangat erat, memasang indra pendengaran lebar-lebar untuk bisa mengetahui apa yang sebenarnya dimaksud oleh pria yang dari tadi tidak melepaskan kuasa darinya.
Kenapa menggantung kalimat dan tidak melanjutkan perkataan dan membuatnya makin penasaran. Hingga ia saat ini seketika merasa tertampar begitu pria itu membuatnya seperti pencuri yang ketahuan.
"Wanita adalah makhluk paling langka karena selalu mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya. Saat bibir mengatakan A, pada kenyataannya menginginkan B. Bahkan seorang wanita ingin pria paham apa yang diinginkan tanpa menjelaskan. Bukankah begitu, Calon istri?"
Kemudian Aaron yang puas menampar Anindya dengan kata-kata, ini menarik diri dan menahan kedua sisi lengannya sambil menatap intens raut wajah yang masih terlihat seperti kepiting rebus itu.
"Aku benar, kan?"
Lagi dan lagi, Khayra saat ini tidak bisa berkutik lagi karena merasa jika sosok pria yang menatapnya dengan tatapan intens itu seperti berhasil menembus jantungnya saat ini.
Ia merasa jika suaranya tercekat di tenggorokan dan tidak bisa berbicara untuk sekedar membantah dan menyembunyikan perasaan sebenarnya.
Hingga ia seketika membuka suara ketika mendapatkan sebuah ancaman dan membuatnya tidak ingin terlihat seperti seorang wanita yang bodoh.
"Jika kamu diam saja, berarti apa yang kukatakan benar dan ingin dipeluk serta dicium lagi," ucap Aaron dengan tersenyum menyeringai karena merasa sangat puas bisa membuat gadis polos yang dengan mudahnya ditaklukkan itu tidak berkutik dan menunjukkan perasaan sebenarnya melalui perbuatan serta sikap.
Reflek Khayra kembali memukul dada bidang pria yang saat ini tidak menolak apapun yang dilakukannya. "Issh ... kenapa kau sangat menyebalkan sekali, Tuan Aaron!"
Ia apakah saat ini meluapkan kekesalannya dengan berteriak dan suaranya menggema di ruangan meeting itu, sehingga begitu menyadarinya dan tidak ingin menjadi pusat perhatian jika sampai orang-orang di luar sana masuk ke dalam karena berpikir terjadi sesuatu padanya, seketika membekap mulutnya.
Hingga suara tawa dari Aaron membuatnya semakin kesal, sehingga saat ini kembali mengarahkan sebuah cubitan cukup kuat pada pinggang kokoh itu.
"Maafkan aku, Calon istri. Hentikan! Ini sakit!" ucap Aaron yang saat ini meringis menahan rasa nyeri karena perbuatan gadis itu meninggalkan rasa sakit yang berkepanjangan.
Sementara itu, Khayra yang tidak peduli dengan apa yang dirasakan oleh Aaron saat ini karena ia tidak bisa lagi menyembunyikan kekesalannya pada pria itu yang selalu saja mengejeknya habis-habisan hingga merasa malu.
"Biarin! Biar tahu rasa," sarkas Khayra ya masih melanjutkan perbuatannya untuk semakin kuat mencubit.
Ia ingin membalas dendam karena selalu disudutkan, sehingga terlihat semakin lemah di hadapan pria yang membuatnya tertawa karena pria itu terlihat seperti benar-benar kesakitan.
Aaron yang tidak kuat menahan rasa sakit dari perbuatan Anindya, seketika membalas dendam dengan cara menggelitik tubuh gadis itu agar menghentikan cubitannya yang meninggalkan rasa nyeri.
"Aku juga bisa menghukummu, Sayang," seru Aaron yang saat ini tidak berhenti untuk menggelitik tubuh Anindya dan akhirnya ia merasa lega karena gadis itu melepaskan cubitannya.
"Aaah ... hentikan!" sarkas Khayra yang saat ini bergerak seperti cacing kepanasan karena menahan rasa geli pada tubuhnya.
Ia benar-benar tersiksa ketika pria itu masih menggelitik tubuhnya. Hingga membuatnya kini berusaha untuk menghindar agar pria itu tidak lagi menyiksanya.
"Sudah! Lepaskan aku!" seru Khayra yang masih bergerak untuk bisa menghentikan aksi nakal pria yang membuatnya tertawa sekaligus tersiksa.
Merasa iba melihat raut wajah Anindya semakin memerah, seketika Aaron menghentikan hukumannya dan kini langsung menghambur memeluk erat tubuh itu agar tidak bisa kabur lagi darinya.
"Jangan kabur lagi dariku," ucap Aaron semakin mengeratkan pelukannya dan menyalurkan aura positif agar Anindya bisa mengetahui jika perasaannya saat ini hanya tertuju pada gadis itu.
Sementara itu, Khayra yang tadinya bernapas lega setelah terbebas dari Aaron yang menggelitiknya, seketika diam tak berkutik dan mengerjapkan mata ketika tubuh mereka menyatu tanpa ada jarak.
Bahkan saat ini ia bisa mendengar deru napas pria yang kini membuatnya merasa nyaman dalam pelukan tangan kokoh dan tubuh kekar tersebut. Ia bahkan saat ini memejamkan mata untuk menikmati semua yang dilakukan pria yang mengungkapkan perasaan padanya.
"Kamu sukses membuatku tersiksa selama setahun lebih, Sayang. Aku selama ini terpuruk dan tidak pernah bisa tidur nyenyak karena selalu mengingat perbuatan jahatku padamu. Maafkan aku karena membuatmu menderita menjalani semuanya." Aaron bahkan tidak berniat untuk melepaskan pelukannya saat ini.
Ia bahkan seolah ingin waktu berhenti berputar agar bisa membuat gadis itu patuh seperti ini dan tidak lagi kabur darinya seperti saat-saat yang lalu. Bahwa selama ini ia tidak pernah bisa melupakan perbuatan jahatnya karena efek mabuk.
"Sayang, katakan padaku apa yang harus kulakukan agar kamu mau menerima aku sebagai suami? Aku akan melakukan apapun yang kamu minta. Jadi, katakan dan jangan menyiksaku dalam penantian karena ini benar-benar membuatku tidak bersemangat dalam melakukan apapun."
Aaron yang saat ini masih sibuk mengusap punggung gadis itu, berharap segera mendengar tanggapan dari Anindya agar ia merasa yakin bisa melepaskan pelukannya dan tidak kabur darinya.
Saat mendapatkan perbuatan intim yang bersifat romantis dari Aaron, tentu saja membuat Khayra tidak berkutik sama sekali karena masih menikmati semua yang dikirimkan oleh pria itu.
Ia saat ini seolah menyusun kalimat demi kalimat yang akan ia ungkapkan pada pria dengan pelukan hangat yang menyejukkan jiwanya.
'Tenang dan jangan gugup, Khayra. Katakan apa yang ingin kamu lakukan sekarang dan buat pria itu memenuhinya karena ini adalah kesempatan emas untukmu untuk melihat seberapa jauh ia berjuang mendapatkanmu,' gumam Khayra yang saat ini menormalkan perasaannya terlebih dulu sebelum mengungkapkan apa yang diinginkan dari pria itu.
"Lepaskan aku!" ucapnya yang ingin mengetes apakah pria itu mau menuruti perintahnya.
Refleks Aaron sama sekali tidak berniat untuk menuruti apa yang diperintahkan oleh gadis itu. "Jangan mimpi!"
"Issh ... apa maksudmu? Bukannya kamu mengatakan apa yang kuinginkan?" seru Khayra yang bahkan saat ini menyembunyikan perasaan sebenarnya ketika merasakan kebahagiaan karena masih dipeluk erat oleh Aaron.
Aaron yang merasa yakin jika itu bukan keinginan Anindya, gini malah mengeratkan pelukannya. "Itu karena aku tahu bukan itu yang kamu inginkan. Jadi, katakan hal sebenarnya yang kamu inginkan. Baru aku akan memikirkan untuk melepaskanmu atau tidak."
Ingin sekali Khayra yang tengah menahan diri untuk tidak tersenyum, berjingkrak untuk melampiaskan apa yang ia rasakan. Namun, tidak melakukannya karena berpikir jika sosok pria yang berada di hadapannya tersebut akan besar kepala dan kepedean.
"Aku tidak bisa berbicara dengan leluasa jika posisinya seperti ini." Alasan yang menurutnya hanyalah sebuah kebohongan, hanya ditanggapi singkat oleh pria yang bahkan tidak kunjung melepaskan pelukan.
"Heem ... lalu, apa kamu mau posisiku di atas tubuhmu?" sahut Aaron yang saat ini merasa geram karena alasan tidak masuk akal yang diungkapkan oleh gadis yang ingin ia gigit telinganya.
To be continued...