
Saat ini, satu-satunya hal yang ingin dilakukan Khaysila adalah menjewer telinga Erick karena telah membuat keributan di hari pertama ia memimpin perusahaan. Bukan ia merasa malu pada seluruh staf perusahaan, tapi merasa jika sikap Erick sangat kekanakan. Padahal bukan lagi anak remaja.
Namun, di sisi lain ia merasa gugup karena akan bertemu pertama kali setelah berpisah selama 1 tahun lebih dengan pria yang dulu sangat dicintai. Meskipun saat ini hanya tersisa sebuah kebencian dan membuatnya tidak ingin memaafkan pria yang telah membuatnya memiliki seorang bayi di usia muda.
'Aku tidak boleh lemah saat melihat pria itu. Aku harus bersikap tegas padanya dan tidak memaafkan perbuatannya yang dulu merenggut kesucianku dengan memanggil nama wanita lain yang bahkan sudah pergi darinya,' gumam Khaysila yang saat ini bangkit dari kursi kerjanya dan berjalan menuju ke arah kaca berukuran raksasa yang menampilkan pemandangan kota Jakarta dengan banyaknya gedung gedung tinggi yang menjulang.
Sementara itu, Dery Farhan yang saat ini memiliki banyak pertanyaan di kepalanya mengenai apa hubungan gadis itu dengan dua pria yang saat ini sudah menuju ke ruangan. Namun, tidak enak bertanya dan memilih untuk diam saja.
Hingga ia mendengar suara dari sang cucu perusahaan tanpa menoleh ke arahnya karena masih menatap ke arah pemandangan di jantung kota Jakarta.
"Mereka adalah temanku saat tinggal di Jakarta, Om. Pria yang memanggilku ayang adalah Dewa penolong yang selalu ada untukku dan tidak pernah mengeluh saat aku menyusahkannya. Aku tidak ingin ada gosip mengenai hubunganku dengan pria itu karena tidak ada yang spesial di antara kami."
Khaysila sengaja menjelaskan pada asisten pribadi sang kakek agar bisa menjernihkan kesalahpahaman yang menyangkut nama baik sebagai seorang pemimpin perusahaan yang baru sekaligus cucu pemilik perusahaan.
"Aku tidak ingin membuat masalah karena berharap bisa fokus mengurus perusahaan, kuliah dan juga membesarkan putraku. Meskipun terdengar sangat berat, tapi aku adalah cucu dari Candra Kusuma yang hebat. Pasti gen dari kakek menurun padaku dan aku bisa menjadi wanita kuat dan hebat yang membanggakannya."
Masih menatap lalu lalang kendaraan di bawah perusahaan, Khaysila mendengar tanggapan positif dari pria yang sudah menjadi orang kepercayaan sang kakek dan membuatnya seperti mendapatkan mood booster.
"Iya, Nona. Saya percaya itu dan Nona pasti bisa melakukan hal hebat pada perusahaan ini. Saya nanti berada di sini atau Anda ingin berbicara secara privat dengan mereka?" Ia tidak ingin salah langkah dan memilih untuk memastikan dari jawaban gadis muda yang berdiri cukup jauh darinya.
"Om boleh pergi karena aku tidak ingin membuat dua pria itu tidak leluasa saat berbicara." Khaysila bahkan sangat yakin jika akan ada perdebatan hebat antara dirinya dengan Aaron dan juga Erick.
Kemudian Dery Farhan menganggukkan kepala dan belum sempat membuka suara, sudah mendengar suara ketukan pintu dari luar. Ia pun langsung berjalan untuk membukakan pintu dan beberapa saat kemudian melihat security yang mengantarkan dua pria tersebut.
Ia bahkan saat ini menatap penampilan dua pria dengan badan cukup proporsional dan lebih tinggi darinya. Dalam hati ia tengah menebak siapa yang tadi membuat keributan di lobi perusahaan.
Hingga ia langsung menunjuk pria yang ditebaknya baru dibahas oleh Khaysila tadi. "Apa kau yang baru saja membuat keributan di perusahaan?"
"Wah ... ternyata Anda sudah melihatku dari CCTV rupanya," sahut Erick yang saat ini hanya tersenyum simpul tanpa merasa takut mendapatkan tatapan tajam dari pria yang jauh lebih tua darinya tersebut.
Bahkan ia sudah beberapa kali merokok ke dalam untuk mengetahui apakah gadis yang dicarinya ada di sana. Ia yang tidak sabar ingin bertemu dengan Zea, kembali berteriak, "Ayaaang! Aku datang, Ayang!"
Refleks Erick meringis menahan rasa nyeri pada perutnya ketika mendapatkan bogem dari pria yang berada di sebelah kirinya, tak lain adalah Aaron.
"Dasar bodoh! Jangan mempermalukan Zea karena perbuatanmu yang ceroboh dan kekanakan itu! Nama baik Zea dipertaruhkan di sini, bodoh!" sarkas Aaron yang saat ini benar-benar sudah tidak bisa lagi menahan amarah karena melihat perbuatan Erick.
To be continued...