
Khayra saat ini terdiam sejenak karena begitu mendengar fakta yang baru saja diungkapkan oleh Erick. Memang pada kenyataannya adalah itu karena ia saat ini memang mempunyai segalanya dan tentu bisa membeli apapun yang diinginkan.
"Ya, kamu benar, Erick. Hanya saja, aku tidak ingin berubah jadi lupa diri dan takabur jika mempunyai pemikiran seperti itu. Banyak orang yang tersesat hanya karena uang dan aku tidak ingin jadi salah satu dari orangnya," lirih Khayra yang kini bergerak untuk beranjak dari posisinya.
Namun, ia mendengar suara bariton dari Erick yang serasa menghiburnya karena sangat mempercayai merupakan seorang wanita yang sangat baik.
"Itu tidak akan pernah terjadi karena Ayangku adalah seorang wanita yang sangat baik. Itulah kenapa hatiku memilihmu dan tidak pernah bisa berpaling," ucap Erick yang kini keluar dari mobil.
Ia sebenarnya berniat untuk membukakan pintu, tapi gadis itu sudah terlebih dahulu keluar dan membuatnya tidak bisa melakukan hal-hal romantis lagi seperti di film-film dan membuat Zea merasa senang sekaligus berbunga-bunga.
Bahkan saat ini ia berpikir ada sesuatu yang membuatnya merasa terkejut karena tiba-tiba mendengar suara tangisan bayi dari dalam rumah. Ia yang tadinya menatap ke arah rumah mewah bak istana yang ada di hadapannya, refleks berjalan memutar mobil.
"Ayang, kamu mendengarnya? Ada suara bayi dari dalam? Memangnya itu bayi siapa?" tanya Erick yang saat ini mengarahkan tatapan pada pintu masuk.
Sementara itu, Khayra yang saat ini tengah menatap ke arah pintu utama rumahnya, beralih menoleh ke arah Erick. "Mungkin kamu salah dengar. Ayo, masuk ke dalam!"
Ia sengaja belum berbicara jujur pada Erick sebelum menunjukkan sendiri tentang putranya. Bahwa ia bukan lagi seorang gadis polos seperti dulu, tapi merupakan single parent untuk malaikat kecilnya.
Saat ini ia berpikir jika putranya mungkin tengah haus dan rewel sedikit karena tadi juga mendengarnya. Namun, ia merasa sangat lega karena putranya tidak menangis tersedu-sedu hingga susah untuk ditenangkan karena sekarang lebih tenang dan tidak rewel.
'Apa reaksi Erick begitu mengetahui jika aku ternyata sudah memiliki anak?' gumam Khayra yang saat ini langsung disambut oleh kepala pelayan.
Seolah bisa mendengar dan mencium kedatangannya, sehingga setiap hari selalu menyambutnya seperti saat ini.
"Selamat datang, Nona," sahut kepala pelayan yang saat ini membungkuk hormat dan tersenyum pada sang majikan yang dari tadi sudah ditunggu-tunggu oleh semua orang
Kemudian melirik sekilas ke arah sosok pria yang berdiri di samping majikannya dan langsung tersenyum sambil membungkuk hormat. "Selamat datang, Tuan."
Berpikir jika itu adalah teman atau mungkin kekasih dari majikannya karena pertama kali membawa seorang teman pria ke rumah. Hingga ia mendengar suara dari majikannya.
"Terima kasih, Bik. Oh iya, ini adalah ...." Khayra tidak bisa melanjutkan perkataannya karena mendengar suara bariton dari Erick yang membuatnya merasa sangat kesal karena dipotong.
"Erick, ayangnya nona Khayra!" Mengulurkan tangannya dan langsung mendapatkan sambutan dari wanita paruh baya itu.
Merasa kikuk melihat sikap pria yang memperkenalkan diri pada pelayan rendahan sepertinya, tentu saja sangat aneh. Bahkan bingung harus menanggapi bagaimana. Ia kembali tersenyum begitu merasa tidak enak bisa berjabat tangan dengan kekasih majikannya.
"Selamat datang Tuan Erick, ayangnya Nona." Saat mengikuti perkataan dari pria itu, agar tidak salah langkah, tapi malah mendengar suara dari majikannya.
"Dasar bocah selengek'an!" sarkas Khayra yang saat ini tengah menatap kesal pada Erick sambil menjewer telinganya. Kemudian beralih menatap ke arah pelayan. "Kalau bandel di sini, langsung lakukan ini, Bik!"
Erick yang saat ini meringis menahan rasa sakit pada telinganya, menahan pergelangan tangan Zea. "Astaga! Ayang, sakit ini! Nanti kalau putus, kamu memangnya bisa ganti? Ini adalah sebuah anugrah yang merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa."
Refleks ia melepaskan tangannya begitu melihat kepala pelayan tertawa sambil menutup mulut agar tidak terbahak.
"Maaf, Nona dan Tuan. Padahal saya sudah menahannya," ucap kepala pelayan yang dari tadi merasa jika sikap kekasih dari majikannya sangatlah menghibur.
Namun, ia merasa bersalah dan takut karena berani menertawakannya. Hingga ia kini melihat pria dengan sikap sangat humoris itu membuatnya kembali tertawa.
"Sudah, tidak perlu merasa sungkan karena menertawakanku. Aku bahkan sadar jika merupakan seorang badut untuk ayangku karena selalu ingin membuatnya merasa senang dan selalu tersenyum semanis madu." Erick berbicara sambil meringis menahan rasa nyeri pada daun telinganya.
Saat ia kesal karena selalu dianggap anak kecil oleh Zea, serasa mendapatkan oase di padang pasir begitu melihat sosok wanita yang ada di hadapannya tersebut.
"Anda adalah seorang pria yang sangat beruntung karena ini adalah pertama kali nona membawa ke rumah. Selama ini nona hanya diam di rumah, tapi sekarang berani mengajak Anda. Itu berarti adalah orang yang sangat spesial di hati nona karena percaya sepenuhnya kepada Anda untuk menunjukkan kehidupan yang sebenarnya saat berada di rumah." Kemudian ia mempersilakan masuk terlebih dahulu.
Khayra yang saat ini berpikir jika kepala pelayan tidak tahu apapun tentang hubungannya dengan Erick, sehingga membuatnya langsung berjalan masuk ke dalam sambil berbicara lirih. "Jangan memujinya karena nanti dia akan besar kepala, Bik."
"Oh ya, apa mereka ada di ruang tamu, Bik?" tanya Khayra yang merasa sangat penasaran dengan dua orang terapis bayinya.
"Di kamar tamu depan yang biasa untuk istirahat tuan Kenzie, Nona," sahutnya yang kini mendengar suara bariton dari pria yang selalu berhasil membuatnya tertawa.
"Mending besar kepala daripada kecil kepala. Iya, kan, Bik?" sahut Erick sambil berjalan melewati wanita paruh baya tersebut.
"Erick!" sarkas Khayra yang kini mengarahkan kepalan tangan agar tidak lagi bercanda.
"Canda, Ayang. Ya ... ya, nggak lagi deh!" Mengangkat tangan yang saat ini membentuk simbol peace.
Kepala pelayan hanya tertawa melihat tingkah dari majikan dan pria yang dianggap bisa menghidupkan suasana rumah yang awalnya sepi. Ia berjalan mengekor majikannya tersebut menuju ke kamar tamu karena baby dan terapis ada di sana.
Mereka tidak mau keluar karena ingin terus menjadi baby. Bahkan tugas sang baby sitter seolah tidak berguna karena dikuasai oleh mereka.
Khayra yang sudah tidak sabar ingin segera melihat seperti apa terapis putranya, langsung masuk ke dalam ruangan kamar tamu yang terbuka lebar tersebut.
Saat ia hendak menyapa dengan memperkenalkan diri, seketika membulatkan mata sambil membekap mulutnya begitu melihat siapa orang-orang yang tengah bersama putranya di atas ranjang.
'Tidak mungkin!' gumamnya dengan perasaan berkecamuk.
Erick yang berjalan mengekor Zea, merasa sangat penasaran dengan orang-orang yang tadi dibicarakan dan ketika melihat gadis itu membekap mulut, ia mengikuti arah pandan dan seketika membulatkan mata.
"Kalian?"
To be continued...