
Satu minggu setelah kejadian Aaron kembali dari hotel yang ada di puncak. Sikap Aaron berubah drastis dan membuat Zea merasa heran. Seperti hari ini, mereka sarapan bersama sebelum memulai aktivitas.
Sikap Aaron semakin arogan pada siapapun, mulai dari pelayan selalu dimarahi dan juga Anindya.
Pagi ini Aaron berniat untuk kembali bekerja di perusahaan. Ia mengawali hari sebelum berangkat dengan sarapan. Meskipun ia sama sekali tidak mengeluarkan suara karena sangat malas berbicara ketika pikirannya benar-benar kacau.
Semenjak ia merasakan bergairah saat berdekatan dengan Anindya, sehingga memilih untuk menghindar dari gadis itu yang selalu mendekatinya. Bahkan ia kenapa selalu berkata kasar agar Anindya tidak berani mendekat padanya untuk berbicara ataupun melakukan apapun.
Ia khawatir tidak bisa menahan diri jika berdekatan dengan Anindya, memilih untuk bersikap sinis pada gadis itu. Namun, ia malah merasa sang ibu mendekatkan Anindya padanya karena menyuruh gadis itu melayaninya secara langsung.
Seperti mengambil pakaian kotor dari kamarnya serta membuatkan teh dan terkadang membawakan makanan saat ia malas untuk makan. Bahkan semalam ia marah-marah pada Anindya yang membawakan makan malam ketika mengatakan pada sang ibu malas makan.
Jadi, sangat marah pada Anindya dan mengusir dari kamar. Bahkan bisa dibilang sikapnya sangat kasar ketika berteriak pada Anindya agar tidak berani mendekatinya lagi. Selain takut jika tidak bisa menahan diri pada Anindya, ia pun juga trauma membuka hati untuk wanita lain.
Ia berpikir bahwa semua wanita di dunia ini sangat munafik dan bisa saja melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Jasmine dengan bersikap sangat manis padanya dan berakhir kabur di hari pernikahan.
Seolah doktrin itu yang saat ini terpatri di otak Aaron dan membuatnya tidak ingin membuka hati lagi pada wanita lain. Meskipun ia tahu bahwa sang ibu seolah ingin mendekatkannya pada Anindya, tapi hatinya terlanjur terluka dan tidak mempercayai para wanita setelah perbuatan Jasmine.
Aaron saat ini mengunyah nasi goreng di mulutnya, mendengar suara dari sang ibu yang memberikan perintah padanya.
"Aaron kamu hari ini mulai berangkat ke kantor, bukan? Kalau begitu, sekalian antarkan Anindya ke tempat kuliah sebelum kamu berangkat ke Perusahaan." Jennifer sebenarnya merasa sangat aneh melihat sikap putranya yang dingin dan sangat arogan pada semua orang, termasuk Anindya.
Ia awalnya berpikir saat Aaron kembali ke rumah dan pulang bersama Anindya, hubungan mereka makin dekat. Namun, merasa aneh ketika Aaron malah lebih cuek dan terkesan bersikap kasar pada Anindya.
Bahkan ia sempat bertanya pada Anindya apa yang terjadi selama di penginapan ketika mereka pulang. Namun, gadis itu mengatakan dengan sangat yakin bahwa tidak terjadi apapun dan merasa heran kenapa sikap Aaron tiba-tiba berubah begitu tiba di rumah.
Seperti yang dipikirkan dan dikhawatirkan olehnya, jawaban Aaron benar-benar membuatnya merasa yakin jika ada yang terjadi di antara putranya dengan Anindya.
"Suruh saja sopir untuk mengantarnya karena aku buru-buru ke kantor!" sahut Aaron yang saat ini sama sekali tidak menatap ke arah Anindya saat menikmati nasi goreng dengan telur mata sapi.
Jonathan saat ini masih tetap dengan sang istri dan membuatnya merasa heran pada sikap Aaron yang sangat sinis pada Anindya. Namun, tidak mungkin bertanya pada putra mereka yang diketahui semakin kasar semenjak kembali dari puncak.
Mereka tetap berpikir bahwa semua itu disebabkan karena ulah Jasmine yang kabur di hari pernikahan dan Anindya yang sudah ditanya dan tidak ada yang terjadi ketika ditinggal di puncak bersama dengan Aaron.
Sementara itu, Zea yang selama ini bersabar menghadapi sikap arogan dan kasar dari Aaron karena berpikir bahwa semua itu disebabkan oleh Jasmine dan diluapkan padanya.
Jadi, saat ini Zea menanggapi penolakan dari Aaron tanpa melibatkan rasa kesal ataupun marah. "Aku diantar supir saja, Nyonya. Biar Tuan Aaron langsung berangkat ke kantor karena ini adalah hari pertamanya dan pasti kembali bersemangat bisa kembali bekerja seperti dulu."
Jujur saja Zea saat ini merasa sangat kecewa melihat sikap Aaron yang sangat serius padanya. Perubahan sikap pria yang disukainya tersebut benar-benar menancap seperti pisau yang menghunus jantungnya.
Namun, ia tidak bisa menunjukkan perasaan yang sebenarnya dan berpura-pura selalu baik-baik saja saat mendapatkan sikap kasar dari Aaron.
'Sebenarnya apa kesalahanku hingga membuat tuan Aaron selalu marah-marah padaku? Aku bahkan tidak tahu apa yang membuat tuan Aaron ilfil padaku hingga seolah tidak ingin berdekatan lagi seperti dulu,' gumam Anindya yang saat ini memilih untuk bangkit berdiri dari kursi dan membawa piring miliknya yang sudah dihabiskan.
"Aku bersiap-siap dulu, Tuan, Nyonya." Zea yang melihat pasangan suami istri paruh baya tersebut menganggukkan kepala, langsung beranjak pergi meninggalkan mereka setelah menaruh piring kotor di wastafel.
Ia bahkan tadi tidak melihat Aaron menatapnya. Seolah pria itu sama sekali tidak peduli dengan kehadirannya. Karena terasa sangat frustasi dengan apa yang terjadi belakangan ini setelah Aaron kembali dari penginapan, Zea yang sudah berada di dalam ruangan kamarnya, kini berdiri di depan cermin.
Ia saat ini menatap pantulan wajahnya di cermin dan membuatnya merasa seperti sangat kesal pada bayangan sendiri. Mungkin jika saat ini berada di dalam rumah sendiri, ia sudah melempar cermin itu dengan sesuatu agar pecah berkeping-keping.
"Apa ia meluapkan kekesalannya pada nona Jasmine padaku? Memangnya aku salah apa hingga menjadi pelampiasan amarahnya? Aku bahkan bersedia untuk menjadi tempat keluh kesah berbagi cerita apapun, tapi bukan sebagai pelampiasan amarah seperti ini." Zea yang saat ini masih diam di depan cermin, tiba-tiba memiliki sebuah ide di kepalanya.
Refleks ia mengambil empat karet ikat rambut. Kemudian ia bergerak dengan jemarinya yang lincah untuk mengepang rambutnya seperti penampilannya saat masa SMA dulu yang selalu disebut gadis culun.
Karena ia merasa kesal pada Aaron, sehingga membuatnya berpikir untuk merubah penampilan. "Apa tuan Aaron mengingat siapa aku ketika merubah penampilan ketika pertama kali bertemu dengannya di restoran? Baiklah, kita lihat saja."
Zea benar-benar merubah penampilannya seperti ketika ia bertemu pertama kali dengan Aaron di restoran dan bersikap ceroboh tidak membuat pria itu marah padanya.
Kini, ia sudah selesai mengepang dua rambutnya dan merasa ada yang kurang. Kini, ia mengingat satu poin penting yang menjadi ciri khasnya, kacamata besar yang selalu digunakannya karena memang matanya tidak normal.
"Aku harus melengkapi penampilanku dengan menggunakan kacamata besar seperti biasanya. Jika tuan Aaron bisa mengingatku pernah bertemu di restoran, aku tidak akan merubah penampilanku seperti saat tinggal di sini." Zea saat ini juga ingin mengetahui bagaimana respon Erick begitu melihat penampilannya yang kampungan.
Ia berpikir bahwa Erick mungkin juga merasa malu jalan dengannya karena berpenampilan kampungan. Jadi, ia ingin memastikan bahwa penampilan merupakan hal utama dalam hal perasaan seseorang.
Kini, ia meraih ponsel miliknya dan memencet tombol panggil pada nomor Erick. Tanpa menunggu waktu lama, beberapa detik kemudian terdengar suara dari seberang telpon.
"Halo, Ayang. Tumben menelponku. Ada angin apa nih?" sahut Erick dengan sangat bersemangat ketika tiba-tiba dihubungi oleh gadis incarannya.
"Kamu di mana? Kenapa memanggilku seperti itu?" Zea memastikan apakah ada teman Erick karena ingin menyuruh pria itu menjemputnya ke rumah.
"Biasa lah, Ayang, aku tengah sarapan di salah satu warung pinggir jalan bersama dengan beberapa teman. Memangnya ada apa? Apa kamu mau aku jemput untuk berangkat ke kampus?" sahut Erick yang saat ini tengah berbohong karena sebenarnya ia masih berada di dalam kamar.
Zea yang kebetulan memang ingin dijemput karena berniat untuk mampir ke salah satu penjual kacamata. Ia rencana untuk membeli kacamata untuk melengkapi penampilannya agar semakin terlihat culun di mata orang.
"Baiklah. Jemput aku sekarang! Aku pun ingin mampir ke suatu tempat sebentar," ujar Zea yang saat ini dikuasai oleh kekesalan.
Baginya, berpenampilan menarik tidaklah berguna jika pria yang disukai sama sekali tidak meliriknya dan bahkan malah membencinya, sehingga benar-benar membuatnya frustasi.
'*Percuma tapi cantik jika tuan Aaron sama sekali tidak menyukaiku. Padahal dulu aku berpikir bahwa saat nona Jasmine kabur dari pernikahan meninggalkan tuan Aaron, akan ada kesempatan untuk bisa mencuri hati pria itu.'
'Namun, sepertinya semuanya menjadi harapan semu begitu mendapatkan tatapan kebencian dari tuan Aaron. Percuma saja semuanya karena aku tidak akan pernah bisa memilikinya*,' gumam Zea yang saat ini mendengar suara bariton dari seberang telepon seperti sangat bersemangat.
"Siap, Ayang. Aku berangkat sekarang!" sahut Erick dengan wajah berbinar, seketika bangkit dari ranjang dan merapikan penampilannya dengan berdiri di depan cermin.
Hingga ia menyadari kebodohannya begitu mendapatkan ejekan dari Anindya di seberang telepon.
"Bukannya kamu saat ini sedang sarapan bersama dengan teman-temanmu? Lanjutkan saja dulu. Setelah habis, baru jemput aku." Zea masih menatap penampilannya di depan cermin dan entah mengapa ia tidak sabar ingin melihat respon dari Erick begitu melihatnya.
Selain Aaron yang dulu sempat melihat penampilannya, kini beralih pada Erick yang selama ini selalu menggodanya. 'Jika Erick ilfil padaku hanya karena rambutku kini kukepang dua, berarti fix, dia hanyalah seorang pria brengsek yang suka mempermainkan perasaan wanita.'
"Tidak, Ayang. Kebetulan aku sudah menghabiskan sarapanku dan akan langsung meluncur ke sana. Tunggu, aku, Ayang. I love you." Erick tidak menunggu jawaban dari Anindya karena langsung mematikan sambungan telpon. Itu karena ia khawatir akan mendapatkan umpatan dari gadis itu.
Kemudian berlari mengambil kunci motor di atas laci dan langsung berjalan keluar dari ruangan kamar menuju ke arah garasi untuk mengambil motor sport miliknya.
To be continued...