Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Nikahilah aku



Aaron yang saat ini tidak berkedip menatap wajah cantik dan juga bibir sensual yang tengah berbicara mengenai keputusan penting yang menyangkut masa depannya.


'Dia pasti akan menerimaku demi nama baik keluarga,' gumam Aaron yang kini memasang indra pendengarannya tajam.


"Aku ...." Awalnya Khayra merasa sangat terkejut dengan ajakan menikah Aaron malah seperti sebuah ancaman.


Hal yang akan dikatakannya begitu sensitif dan membuatnya merasa harus berhati-hati karena ini juga menyangkut tentang harga dirinya yang sebenarnya merasa sangat konyol.


"Kenapa tidak dilanjutkan? Jangan menggantung perasaanku, Baby." Aaron kini kembali menggeser tubuhnya agar semakin lebih dekat dan menggenggam erat telapak tangan Anindya.


"Aku sangat mencintaimu dan serius ingin menikahimu Awalnya memang aku sangat marah dan ingin mengungkapkan hubungan kita pada wartawan, tapi sadar bahwa itu salah dan jika aku melakukannya, akan mempermalukanmu. Aku tidak ingin kamu terluka dengan mendapatkan hujatan dari semua orang."


"Jadi, aku berjanji padamu, tidak akan pernah mengungkapkan hubungan kita pada wartawan. Aku rela diam-diam menjalani hidup berumah tangga denganmu. Apapun akan kulakukan demi membuatmu tidak merasa malu karena yang terpenting bagiku adalah memilikimu. Aku tidak butuh pengakuan orang karena itu tidak penting."


Menyadari ia hanyalah seorang wanita lemah, Khayra kali ini benar-benar luluh dengan bujuk rayu pria tampan yang memilki pesona luar biasa tersebut.


Meskipun hati dan akal pikirannya tidak sinkron, tetapi ia merasa bahwa apapun yang terjadi padanya karena atas dasar rangkaian benang takdir yang tadi sempat dikatakan oleh pria di hadapannya tersebut.


"Kenapa aku harus bertemu denganmu dan membuatku lemah?" lirih Khyra yang kini sudah berkaca-kaca bola matanya dan tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak meledak dalam tangisan.


Ia kali ini benar-benar menangis tersedu-sedu karena kini menyadari tidak bisa menolak pria yang sudah merengkuhnya dalam dekapan erat yang berhasil menenangkan serta membuatnya merasa sangat nyaman.


Berada dalam pelukan hangat seorang pria yang sangat mencintainya adalah hal yang dari dulu merupakan impiannya dan hari ini sudah menjadi kenyataan.


"Terima kasih," ucap Aaron yang saat ini tersenyum lebar begitu mendengar suara Anindya yang terdengar menyayat hati, tetapi malah membuatnya merasa sangat bahagia karena berhasil mendapatkan wanita yang masih menangis tersedu-sedu hingga membuat pakaiannya basah dan menembus kulitnya.


"Akhirnya kamu jujur dengan mengatakan perasaanmu yang sebenarnya, Baby. Jika aku membuatmu lemah, bukankah ini sudah menjelaskan bahwa kamu menerimaku?"


Masih bersimbah air mata yang menganak sungai di wajahnya, Khayra sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun karena masih menikmati dekapan hangat seorang pria yang sangat mencintainya.


'Jadi seperti ini rasanya dicintai? Rasanya sangat nyaman dan bahagia berada di pelukan tuan Aaron,' lirih Khayra yang merasakan pergerakan dari Aaron saat menarik diri dan menatapnya dengan intens.


"Baby, jawab sekarang karena aku butuh kepastianmu. Aku tidak ingin mengambil persepektif sendiri karena bagiku, jawabanmu adalah yang paling penting." Ia menahan kedua sisi lengan Khayra dan mengarahkan tatapan penuh pertanyaan.


Dengan sabar ia menunggu jawaban dari gadis itu yang terlihat sedang menormalkan napas tersengal akibat menangis tersedu-sedu karena perbuatannya.


"Maafkan aku karena telah membuatmu menangis seperti ini."


Ia kini mengusap bulir air mata di pipi putih Khayra karena merasa tidak tega melihat wanita yang sangat dicintainya menangis hingga matanya sembab.


"Aku janji tidak akan membuatmu menangis seperti ini setelah kita menikah. Aku janji." Mengarahkan jari kelingkingnya pada wanita yang masih sesekali sesenggukan, meski sudah tidak lagi terdengar menangis tersedu-sedu.


Khayra yang lagi-lagi merasa sangat terharu dengan kelembutan pria yang saat ini masih mengarahkan jari telunjuk padanya. Ia tidak langsung mengaitkan jarinya karena ingin mengungkapkan nada protesnya.


"Jadi, sebelum kita menikah, kamu akan membuatku menangis seperti ini?"


Merasa kalimatnya kurang pas, Aaron kini hanya terkekeh geli sambil mencubit gemas pipi putih yang terlihat tidak lagi dibanjiri air mata.


"Sepertinya aku harus berhati-hati dalam berucap karena ada wanita yang jauh lebih pintar dariku. Aku tidak akan membuatmu menangis jika kamu tidak menolakku. Jika kamu masih menolakku, sudah bisa dipastikan akan sembab mata indah ini."


Aaron kini mendekatkan diri dan mengarahkan bibirnya untuk mengecup kedua kelopak mata indah wanita yang langsung memejamkan mata saat melihat perbuatannya.


Kemudian ia bangkit dari kursi. "Tunggu di sini sebentar."


Saat Khayra merasa berbunga-bunga karena perbuatan romantis Aaron yang sangat lembut memperlakukannya, ia mengerutkan kening saat membuka mata dan melihat pria yang terlihat terburu-buru saat meninggalkannya sendirian.


"Mau ke mana dia?"


Merasa sangat kebingungan sekaligus bertanya-tanya, ia berniat untuk mengejar, tetapi mengurungkan niatnya karena ingin menuruti perintah dari Aaron.


Meskipun ia sebenarnya merasa sangat penasaran dengan apa yang dilakukan Aaron karena tiba-tiba meninggalkannya sendirian di sana.


Sementara di sisi lain, Aaron saat ini tengah berada di depan kulkas. Niatnya tadi setelah mengecup lembut kelopak mata Khayra adalah ingin langsung berlutut di bawah kakinya untuk melamar penuh keromantisan karena ia tidak ingin menundanya saat melihat wanita itu mulai luluh padanya.


Namun, tiba-tiba ia mengingat tidak mempunyai cincin karena ada di ruangannya dan berniat untuk menggantinya dengan sesuatu yang lain. Kini, ia membuka mesin pendingin untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan di jari manis Khayra.


"Apa ya kira-kira yang bisa dipakaikan di jari baby?"


Ia masih mengamati sesuatu di dalam kulkas. Di mana di sana hanya ada minuman kaleng. Melihat penutup kaleng bisa digunakan untuk melamar sementara, ia mengambilnya dan kembali menutup kulkas.


"Hanya separuh saja karena jariku terlalu besar!"


Sudut bibirnya melengkung ke atas begitu membayangkan Anindya memakainya saat ia melamar. "Lumayan. Bukankah ini akan menjadi sesuatu yang berkesan?"


Tidak ingin membuat Anindya terlalu lama menunggu, Aaron buru-buru berjalan menuju ke arah ruangan, di mana gadis itu menunggu dan saat ia terlihat bersemangat karena ingin melamar dengan penutup minuman kaleng sudah disulapnya menjadi cincin pengganti, mendadak wajahnya berubah muram begitu melihat sosok wanita yang ada di sofa.


Melihat wanita yang ingin dilamarnya tengah duduk bersandar dengan mata terpejam, membuatnya merasa iba dan berniat untuk menggendong dengan memindahkannya ke atas ranjang agar tidur di ranjang yang empuk dan nyaman.


Namun, saat ia sudah menaruh cincin buatannya ke atas meja dan membungkuk untuk meraup tubuh ramping itu ke atas lengannya, membuat sebuah pergerakan dari wanita yang terlihat sangat terkejut dengan perbuatannya.


"Apa yang kamu lakukan?" teriak Khayra yang tadi sempat tertidur karena menunggu Aaron terlalu lama.


Melihat tangan Aaron berada di bawah pahanya, membuatnya berpikir pria itu akan mencari kesempatan saat ia sedang tidur dan membuatnya marah, sehingga bergerak mundur untuk menghindar dan mengibaskan tangan dengan jemari kuat tersebut.


Merasa keadaan membuatnya menjadi terlihat jelek di mata Anindya, akhirnya Aaron buru-buru menjelaskan.


"Maafkan aku. Aku tadi ingin menggendongmu untuk memindahkan ke atas ranjang karena melihatmu tidur di sofa membuatku tidak tega. Tubuhmu akan sakit semua dan juga pastinya lehermu juga."


"Ini semua karena kamu sangat lama tadi. Aku jadi tertidur di sini. Lebih baik kamu kembali ke kamarmu sekarang."


Namun, ia membulatkan kedua mata begitu melihat pemandangan di hadapannya.


"Astaga, apa yang kamu lakukan?"


Aaron yang tidak ingin kehilangan momen penting untuk melamar, buru-buru berlutut saat wanita itu berdiri dan mengambil cincin dari kaleng tadi.


"Nikahilah aku, Anindya."


Menunjukkan cincin dari kaleng dan kembali mengungkapkan semua isi hatinya. "Ini memang bukan merupakan cincin berlian, tetapi ini adalah sebuah bukti ketulusanku karena aku tidak ingin kehilangan kesempatan emas ini."


"Maafkan aku karena telah membuatmu menunggu hingga tertidur."


Merasa sangat shock sekaligus terharu saat pertama kali melihat ketulusan dari seorang pria yang benar-benar mencintainya, merupakan kebahagiaan yang tak terhingga dirasakan Khayra saat ini.


Bahkan saat ini ia yang masih membulatkan kedua mata dengan membekap mulutnya dengan telapak tangan karena momen lamaran yang menurutnya sangat romantis dan lain dari yang lain.


Bagaimana tidak, ia yang saat ini berpenampilan hanya memakai atasan tanpa lengan, sedangkan pria yang masih berlutut di bawah kakinya itu terlihat sangat rapi dan tampan. Meskipun tengah mengarahkan cincin bukan dari berlian atau pun emas murni, tetapi ia merasa sangat terharu.


Apalagi itu merupakan sebuah bukti ketulusan hati pria dengan paras tampan penuh sejuta pesona tersebut. Bahkan kalimat lamaran Aaron membuatnya merasa seperti seorang ratu.


"Nikahilah aku? Apa tidak ada kalimat lamaran yang lebih baik dari itu? Bukannya biasanya seorang laki-laki mengatakan maukah kau menikah denganku?"


Aaron yang masih menumpu beban tubuhnya pada kedua lutut, kini hanya menggelengkan kepala karena tidak membenarkan pernyataan wanita yang masih berdiri menjulang di hadapannya dan belum memberinya jawaban.


"Itu bagi pasangan yang biasa, Baby. Sementara kita adalah pasangan yang luar biasa. Apalagi kamu adalah seorang wanita yang telah melahirkan anakku dan aku hanya menginginkanmu. Jadi, sudah sewajarnya aku melamarmu, nikahilah aku."


Menyadari bahwa ia memang bukanlah seorang wanita biasa seperti kebanyakan pasangan di luaran sana saat dilamar, Khayra pun menganggukkan kepala tanda setuju.


"Kau benar dan menyadarkan statusku di depanmu." Ia kini terdiam sejenak melihat ke arah cincin dari kaleng minuman bekas.


"Apa kamu yakin mau menjadi suamiku?"


Tanpa ragu, Aaron sudah menganggukkan kepalanya karena ia benar-benar merasa sangat yakin pada keputusannya.


Khayra yang kini menyunggingkan senyumnya, memilih tidak membuka suara karena hanya memberikan jawaban dengan mengulurkan jemarinya agar pria yang berada di bawah kakinya tersebut segera menyematkan cincin ke jari manisnya.


Wajah Aaron seketika berbinar begitu melihat jawaban Anindya dan ia kini mulai berhati-hati menyematkan cincin daun bawang pada jari manis yang lentik itu. Meskipun tidak sampai ke bawah karena tidak muat.


"Sayang sekali kurang besar, Baby."


Aaron tidak berhenti menatap jari manis itu dan merasa kurang puas karena cincin itu tidak muat sepenuhnya.


Entah mengapa saat melihat wajah kecewa Aaron, membuatnya merasa sangat bersalah. Berada pada momen paling romantis di sepanjang sejarah hidupnya, ia benar-benar sangat bahagia.


Serena merasa sangat bahagia melihat Aaron kini terlihat berbinar saat melamarnya. "Tidak apa-apa karena ini sementara, kan? Kamu bisa melamarku dengan cincin berlian nanti," ucapnya dengan terkekeh.


To be continued...