
Selama berada di penginapan yang ada di puncak, Aaron menghabiskan waktu dengan setiap pagi berkeliling area dengan kanan kiri pepohonan hijau untuk menghirup udara segar sambil sesekali menatap ke arah pemandangan kebun teh yang memanjakan matanya.
Namun, saat kembali ke penginapan, ia menghabiskan waktu dengan meneguk minum-minuman keras yang dipesan secara langsung dari pihak hotel. Bahkan bukan minuman murahan yang dikonsumsi olehnya, minuman dengan harga mahal yang pastinya menguras dompet bagi orang biasa.
Sementara bagi Aaron yang mempunyai banyak uang, uang segitu sama sekali tidak ada artinya baginya. Ia selalu mengingat pengkhianatan yang dilakukan oleh Jasmine ketika diam di dalam kamar, sehingga melampiaskan pada minuman beralkohol.
Seolah jadwalnya dari siang sampai malam berada di dalam kamar hotel, untuk pagi hari, ia mencari udara segar dengan berkeliling di area puncak. Berharap dengan memandang tanaman hijau di sekitar, merasa terhibur dan tidak terus-menerus terpuruk ketika memikirkan mengenai pernikahannya yang batal.
Hingga saat satu minggu ia berada di hotel, sama sekali tidak menyangka jika hari ini melihat sang ibu serta Anindya yang menunggu di depan area hotel. Ia pun saat ini turun dari motor dan tanpa berbicara apapun, sang ibu sudah menghambur memeluknya.
Bahkan ia mendengar suara tangisan penuh haru dari wanita yang telah melahirkannya dan sudah satu minggu ini ditinggalkan. Aaron membiarkan wanita paruh baya tersebut memeluknya dengan erat dan meluapkan perasaan dengan beberapa kali memukul punggungnya.
"Putraku, kenapa kamu tidak pulang-pulang? Apa kamu hanya memikirkan diri sendiri dan tidak memikirkan kami? Mama tahu bahwa kamu saat ini sedang terluka karena perbuatan wanita itu, jangan biarkan dirimu hancur hanya karenanya."
Jennifer saat ini benar-benar meledakkan segala keluh kesah yang ditahan selama satu minggu belakangan ini. Ia berharap putranya bisa segera sadar dan mau kembali ke Jakarta untuk melanjutkan hidup seperti biasa.
Ia benar-benar khawatir jika putranya terus berada di hotel sendirian, tidak ada yang menghibur saat perasaan tidak baik-baik saja, sehingga mungkin akan berakhir melakukan hal-hal negatif.
"Kamu terlalu baik untuk Jasmine. Mama yakin jika semua yang terjadi adalah sebuah jalan yang terbaik dari Tuhan untukmu, Sayang. Jangan terus mengurung diri di sini tanpa membiarkan orang lain untuk menghiburmu." Mengusap beberapa kali lengan kekar putranya untuk menyalurkan aura positif.
"Mama dan papa benar-benar sangat mengkhawatirkanmu dan tidak bisa tidur nyenyak semenjak kejadian itu." Jennifer kini melepaskan pelukannya dan beralih menatap ke arah Anindya.
"Anindya, katakan sesuatu pada Aaron agar mau pulang bersama kita, Sayang." Jennifer bahkan berkaca-kaca ketika melihat putranya yang terlihat sangat kacau begitu melepaskan helm.
Bahkan wajah yang dari dulu selalu terlihat bersinar, seperti berubah gelap dengan aura penuh kesedihan dan ada kantung mata yang membuat area sekitar gelap dan menandakan jika putranya selama ini tidak bisa tidur nyenyak.
Zea seperti tidak mengenali pria yang selama ini terlihat rapi dan tampan. Ia tadi sempat terkejut begitu Aaron melepaskan helm yang dipakai karena pria itu terlihat berantakan dengan banyak bulu halus memenuhi area dagu serta kumis.
"Tuan Aaron, jangan menyiksa diri Anda hanya demi wanita iblis itu. Dia tak lebih dari iblis berkepala manusia yang tidak punya hati karena menyakiti pria baik hati seperti Anda. Tuan dan nyonya sangat mengkhawatirkan anda dan setiap hari terus memikirkan bagaimana keadaan putranya yang memilih pergi tanpa membiarkan orang lain menghibur."
Namun, Zea masih sangat bersyukur karena paling tidak pria itu tidak menyakiti diri sendiri dan masih baik-baik saja sampai sekarang.
Hanya saja, tubuh yang biasanya kekar dan penuh otot tersebut kini bertambah kurus dan sudah dipastikan jika selama satu minggu ini tidak nafsu makan karena memikirkan wanita yang pergi tanpa pesan di hari pernikahan.
"Tuan Aaron, ayo kita kembali ke Jakarta karena ada banyak orang yang peduli pada Anda. Jangan membenamkan diri dalam kesedihan dengan menyendiri di sini. Pikirkan orang-orang yang menyayangi Anda dan lupakan orang yang menyakiti. Hidup terus berjalan dan lupakan masa lalu kelam, lanjutkan dengan masa depan yang cerah karena semua akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu."
Zea saat ini merasa sok bijak padahal usianya jauh lebih muda dari pria yang berada di hadapannya tersebut. Namun, ia yang dari tadi tidak mendengar suara dari Aaron ketika sudah mendapatkan banyak petuah dari sang ibu serta dirinya, sehingga membuatnya makin menjadi saat menasihati.
'Tuan Aaron bahkan saat ini terlihat semakin pendiam seperti orang bisu karena dari tadi hanya diam saja. Seolah nafsu untuk bicara menghilang dan berganti dengan aura gelap dari wajahnya yang penuh dengan kesedihan. Apa wanita iblis itu tahu jika tuan Aaron berakhir seperti ini saat ditinggalkannya?' gumam Zea yang saat ini benar-benar tidak tega melihat pria yang dicintai terpuruk.
Saat ini, Aaron bisa melihat kasih sayang dari dua wanita berbeda generasi tersebut dan membuatnya merasa bersalah karena mengkhawatirkannya.
Namun, ia belum berniat untuk kembali ke Jakarta karena masih ingin tinggal di sini. Karena tidak ingin diganggu oleh siapapun, termasuk keluarganya sendiri, Aaron saat ini menatap ke arah sang ibu dan juga gadis yang selalu dipanggilnya bocil itu.
"Kembalilah ke Jakarta karena aku masih belum ingin pulang. Aku akan kembali setelah siap. Lagipula baik-baik saja di sini dan tidak akan bunuh diri atau melakukan hal apapun yang membuat kalian khawatir. Pulanglah ke Jakarta, Ma. Putramu akan baik-baik saja di sini." Aaron berniat untuk kembali ke motornya, tapi tangannya ditahan oleh sang ibu yang kini malah bersimbah air mata dan menangis tersedu-sedu.
"Aaron, jika kamu tidak mau kembali ke Jakarta, Mama akan menemanimu di sini. Ibu mana yang bisa tega melihat putranya hancur dan hidup sendirian di tempat asing yang sama sekali tidak ada yang dikenal. Mama bukan merawatmu dengan baik dan juga memastikan kamu makan tepat waktu dan juga beristirahat dengan baik."
Jennifer benar-benar tidak tega melihat penampilan putranya yang sangat berantakan, jadi berinisiatif untuk tinggal bersama agar bisa merawat dengan baik.
Ia pun beralih menatap ke arah Anindya untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya saat ini. "Anindya, lebih baik kamu pulang bersama dengan suamiku dan tinggallah di sana untuk menemaninya. Karena harus memimpin perusahaan yang ditinggalkan Aaron, jadi tidak mungkin tinggal di sini."
Anindya yang saat ini berharap Aaron mau berubah pikiran begitu melihat wajah memelas dari sang ibu. "Tuan Aaron, Anda lihat itu? Bagaimana nyonya tidak tega melihat Anda seperti ini. Lalu, Apakah Anda akan membiarkan nyonya tinggal di sini?"
"Aku sangat yakin jika tuan Jonathan tidak akan mengijinkan Anda terlalu lama berada di sini. Kembalilah ke Jakarta dan jangan terus terpuruk hanya karena nona Jasmine tidak bersyukur memiliki Anda yang sangat mencintainya." Zea yang baru saja menutup mulut, seketika berjenggit kaget mendengar suara teriakan dari pria di hadapannya.
"Jangan pernah lagi menyebut nama wanita sialan itu di hadapanku! Aku tidak ini siapapun menyebutkannya. Aku susah payah berdiam diri di sini agar tidak mendengar nama wanita pengkhianat tidak tahu diri itu!" Aaron dari tadi sudah cukup bersabar ketika mendengar wanita yang telah membuatnya hancur disebutkan.
Hingga ia kehilangan kesabaran karena merasa muak indra pendengarannya selalu menangkap nama wanita yang membuatnya sakit hati telah tipu mentah-mentah.
"Aku bahkan tidak pernah menyebutkan namanya semenjak datang ke sini, tapi kau dengan mudahnya selalu menyebutnya," sarkas Aaron dengan wajah memerah karena saat ini benar-benar sangat marah ketika kembali mengingat wanita yang telah pergi tanpa pesan di hari pernikahan.
"Pulang sekarang atau aku akan mencoretmu dari kartu keluarga dan kau hidup sendirian tanpa keluarga dan bisa berbuat apapun sesuka hati!" sarkas Jonathan yang tadi mendengar semua pembicaraan dari putranya yang tidak ingin kembali meskipun sudah dinasehati oleh dua wanita itu.
Jika sang istri masih bisa bersabar menghadapi putranya, tapi tidak dengan dirinya karena menganggap bahwa putranya sangat bodoh saat menghancurkan diri sendiri hanya demi wanita yang bahkan tidak lebih baik dari Anindya.
Sebenarnya ia sempat berpikir seperti istrinya, menikahkan Aaron dengan Anindya saat Jasmine pergi tanpa pesan, putranya malah melarikan diri dan tidak mau menikah, membuatnya merasa sangat kesal.
"Sekarang Papa ingin tahu keputusanmu. Apakah kamu akan membuang keluargamu hanya demi keterpurukanmu akibat wanita sialan itu? Ataukah kamu memilih keluargamu dengan kembali ke Jakarta bersama kami dan membuang wanita sialan itu? Sekarang pilih salah satu!" Jonathan sudah tidak bisa mentolerir perbuatan dari putranya yang sesuka hati.
Ia tadi merasa geram karena mendengar jika putranya masih belum siap untuk kembali ke Jakarta. Padahal menurutnya waktu satu minggu sudah lebih dari cukup untuk menenangkan diri.
Apalagi saat ini berpikir jika lebih dari itu, putranya akan semakin terpuruk karena terlalu larut dalam kesedihan dan hidup sendirian tanpa ada yang mengawasi ataupun menasihati.
"Apakah kamu berharap keluargamu sama sekali tidak memperdulikanmu dan membiarkanmu di sini selamanya? Apa lebih menyukainya dan mengharapkan kami melakukan itu?" teriak Jonathan yang bahkan saat ini mengempaskan berkali-kali kedua lengan sisi putranya agar sadar.
Sebagai seorang ayah yang bertanggung jawab pada putra tunggalnya, ia sangat berharap jika Aaron segera sadar dan tidak membenamkan diri dalam kesedihan hanya gara-gara Jasmine.
Meskipun ia tahu bahwa Aaron sangat mencintai Jasmine, tapi berharap jika putranya akan sembuh dari patah hati seiring berjalannya waktu. "Cepat sekarang juga, Aaron!"
Jonathan benar-benar merasa gelap pada putranya yang terlihat sangat lemah karena seperti tidak mempunyai daya untuk berbicara. "Kau tidak boleh lemah hanya gara-gara cinta, Aaron karena di dunia ini tidak melulu soal itu. Kamu bisa bahagia dengan wanita lain dan juga hal lain."
Sementara itu, Jennifer sebenarnya merasa tidak tega melihat putranya mendapatkan kemurkaan dari sang suami yang dianggap sangat keras. Namun, ia sudah menyerah karena memakai cara kelembutan sama sekali tidak mengetuk pintu hati putranya.
Bahkan kalimat bijak dari Anindya juga tidak mampu merubah pemikiran putranya dan hal itu membuatnya sangat frustasi, sehingga memilih membiarkan sang suami melakukan apapun demi bisa membawa Aaron kembali.
'Ya Allah, hanya gara-gara wanita jahat itu, seperti tidak punya gairah untuk hidup. Apa yang harus kulakukan untuk membuatnya kembali seperti dulu lagi. Aku sangat merindukan putraku yang sangat bandel dan selalu membantahku,' gumam Jennifer saat ini dengan perasaan berkecamuk menunggu keputusan dari putranya.
Sementara itu, Aaron yang tadinya tidak ingin pulang ke Jakarta bersama dengan orang tuanya, tersadar dari kebodohannya begitu mendapatkan kemurkaan dari sang ayah.
Ia bahkan membiarkan sang ayah menggerakkan lengannya dengan sangat kuat demi menyadarkannya dari sebuah kekonyolan yang dilakukan hanya gara-gara seorang wanita yang dianggap tidak pantas untuknya karena menyia-nyiakan kesetiaan serta cintanya yang tulus.
Aaron seketika tertawa terbahak-bahak mengingat kebodohannya karena terlalu fokus pada diri sendiri tanpa memikirkan orang lain, termasuk keluarga yang sangat menyayanginya.
"Papa memang benar. Aku adalah orang yang bodoh karena tidak memperdulikan orang-orang yang menyayangiku. Aku pada perbuatan wanita sialan itu yang tiba-tiba pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku seolah tidak bisa menerima alasannya."
"Kenapa dan apa yang membuatnya tiba-tiba memutuskan untuk pergi dengan membatalkan pernikahan yang sudah akan dimulai. Apa dia menganggap aku hanyalah boneka yang bisa dipermainkan?" Aaron bahkan berbicara dengan suara yang sangat miris karena berpikir bahwa sesuatu yang saat ini mengganggu pikirannya harus dikeluarkan semuanya.
Ia meluapkan semua amarah yang memuncak karena selama ini sendirian dan tidak bisa apa yang dirasakan akibat perbuatan Jasmine yang tiba-tiba kabur di hari pernikahan.
"Karena itulah jangan semakin bertambah bodoh hanya gara-gara ditinggalkan satu wanita. Di dunia ini ada banyak wanita yang lebih cantik dan pastinya lebih baik darinya. Papa kamu bangkit dari keterpurukan dan melanjutkan hidup, Aaron!" Jonathan saat ini sedikit merasa lega karena sosok putranya sudah mulai tersadar dari kesalahan.
Bahwa melarikan diri dari masalah tidak akan menyelesaikan apapun karena hanya akan menambah beban pikiran semata. Seperti hari ini, ia berpikir bahwa dengan meluapkan semua yang dirasakan pada orang-orang yang peduli dan menyayangi, akan sedikit menghibur perasaan dan mengobati luka di dalam hati meskipun tidak sepenuhnya.
Jonathan kemudian memeluk erat tubuh putranya dan menepuk punggung lebar itu untuk memberikan semangat dan aura positif. "Papa percaya bahwa dibalik semua kemalangan yang terjadi padamu, suatu saat kamu akan menikmati kebahagiaan."
"Jadi, jangan menyesali semua yang terjadi. Kamu sama sekali tidak sendirian karena masih ada kami yang sangat menyayangimu. Apa kamu ingin membuang kami dan memilih untuk hidup sendiri di sini?" tanya Jonathan yang saat ini melepaskan pelukannya dan menarik diri serta menatap ke arah putranya.
Begitu juga dengan Jennifer dan Anindya yang menunggu jawaban dari Aaron. Keduanya berharap mereka akan bisa membawa kembali pria yang terlihat sangat kacau tersebut dan melanjutkan hidup di Jakarta.
Selama beberapa saat menunggu keputusan Aaron, Anindya sibuk merapal doa agar pria yang selama ini menjadi pujaan hatinya tersebut bersedia ikut kembali ke Jakarta.
'Tuan Aaron, lupakan nona Jasmine dan lanjutkan hidup karena semua yang terjadi sudah diatur oleh Tuhan. Aku sangat yakin akan ada rencana indah dari Tuhan untuk anda,' gumam Anindya yang seketika merasa lega begitu mendengar jawaban dari Aaron sesuai dengan keinginan semua orang di sana.
"Baiklah. Aku akan pulang ke Jakarta ikut kalian, tapi aku akan tetap naik motor dan kalian naik mobil saja." Aaron tetap ingin mengisi kekosongan waktunya dengan touring. Hingga ia membulatkan mata begitu mendengar suara dari Anindya.
"Kalau begitu, aku ikut Tuan Aaron saja agar tidak kabur lagi. Aku akan menjaga Tuan Aaron untuk memastikan jika ia benar-benar kembali ke Jakarta," seru Anindya yang saat ini langsung mengungkapkan pemikirannya karena khawatir jika pria itu akan kembali menghilang seperti saat pernikahan.
"Baiklah, setuju!" sahut Jennifer yang saat ini terlihat berminat karena merasa lega sekaligus bahagia saat putranya mau ikut kembali ke Jakarta hari ini.
To be continued...