
Suasana pagi hari di rumah megah nan mewah keluarga Kusuma kini sangat berbeda dari biasanya karena tidak ada lagi suara pria paruh baya yang selama ini menjadi tuan rumah utama di sana setelah tiba-tiba pingsan di perusahaan saat meeting memperkenalkan sang cucu utama pewarisnya.
Bahkan aura penuh kesedihan kini seperti mewakili perasaan semua orang karena mengkhawatirkan keadaan dari majikan mereka yang sampai saat ini belum sadarkan diri dan tengah dijaga oleh kepala pelayan.
Begitu juga dengan Khaysila yang saat ini tengah menyusui bayinya dan beberapa kali mengusap lembut rambut hitam berkilat malaikat kecil yang menjadi penyemangat hidupnya saat ini.
"Sayang, anak Mama yang paling pintar, hari ini tidak boleh rewel, ya. Mama harus mengurus perusahaan selama moyangmu berada di Rumah Sakit." Ia kini menunduk untuk mencium putranya yang tengah menyusu.
Kemudian kembali menatap penuh kasih sayang pada bayinya dan mengingat tentang laporan dari supir yang semalam menunggu di ruangan ICU.
"Erick kemarin datang ke Rumah Sakit saat aku baru pergi. Ternyata dia tidak bercanda dan benar-benar datang ke sini begitu mengetahui kabar di media sosial." Ia saat ini masih terdiam dan memikirkan tentang sosok pria yang berkomentar di salah satu video mengenai pengungkapan jati dirinya di perusahaan pada semua staf.
"Apa pria itu pun juga datang ke sini? Dari komentarnya di video itu, seolah ia menganggap aku hanyalah miliknya." Ia ketika tertawa miris ketika mengingat apa yang dituliskan oleh Aaron.
"Pria itu bahkan sama sekali tidak berubah dan selalu sesuka hati dalam hal apapun. Apa dia pikir aku adalah wanita yang bodoh seperti beberapa tahun yang lalu karena selalu mengagumi dan mencintainya? Aku dulu memang sangat polos dan tidak memperdulikan apapun karena hanya fokus pada perasaanku."
Ia saat ini tengah menatap intens wajah damai putranya yang tengah memejamkan mata sambil terus menyusu. "Putraku, maafkan Mama karena tidak mengungkapkanmu pada papamu. Semoga suatu saat nanti kamu tidak menyalahkan mama."
Saat ia baru saja menutup mulut, kini mendengar suara ketukan pintu dan beberapa saat kemudian melihat baby sitter putranya melangkah masuk ke dalam.
"Nona, Anda sudah ditunggu di bawah oleh asisten pribadi tuan besar," ujar wanita berseragam pink yang kini menunggu perintah selanjutnya untuk dirinya.
Sementara itu, Khaysila yang saat ini mengangukkan kepala tanda mengerti, langsung merebahkan putranya di atas ranjang. "Aku akan turun sekarang. Tolong jaga putraku dengan terus menunggunya di kamar."
"Semoga hari ini putraku tidak rewel karena hari ini akan cukup sibuk. Setelah selesai dari perusahaan, akan kembali ke Rumah Sakit untuk melihat kondisi perkembangan kakek." Khaysila kini membungkuk untuk mencium malaikat kecilnya yang tertidur pulas.
"Baik, Nona. Semoga tuan Kenzie mengerti jika mamanya harus menyelesaikan banyak masalah. Anda fokus saja dan tidak perlu terlalu memikirkan tuan Kenzie di rumah karena saya akan langsung menghubungi jika ada masalah."
Ia kini menatap ke arah sang majikan yang memiliki usia jauh lebih muda darinya tengah mengambil tas dan memasukkan ponsel yang di charge.
"Iya. Kalau begitu, hubungi aku nanti jika putraku rewel." Khaysila kini tersenyum simpul dan menepuk pundak sang baby sitter. Kemudian berjalan keluar dari ruangan pribadinya untuk langsung menemui asisten pribadi sang kakek.
Hingga begitu menuruni anak tangga terakhir dan melihat pria tersebut langsung berdiri dari kursi menyapanya, hanya ditanggapi dengan tersenyum simpul.
"Maaf, Nona karena datang terlalu awal. Tadi saya menelpon, tapi nomor Anda tidak aktif. Jadi, buru-buru datang ke sini untuk memastikan tidak terjadi sesuatu pada Anda." Sang asisten yang dari tadi sepanjang perjalanan berpikir macam-macam tentang gadis mungil di hadapannya, kini merasa sangat lega karena semuanya baik-baik saja.
"Maaf karena kemarin lowbat dan ku charger, tapi lupa kembali menonaktifkan karena terlalu fokus mengurus putraku. Kalau begitu kita berangkat sekarang ke perusahaan!" Ia bahkan sampai sekarang tidak berniat untuk menyalakan ponselnya.
Itu karena khawatir tidak bisa fokus pada meeting hari ini jika mendapatkan telpon dari Erick atau mungkin juga Aaron.
"Iya, Nona, tidak apa-apa karena yang penting Anda baik-baik saja. Kita berangkat sekarang agar semua masalah di perusahaan hari ini bisa CEO selesai." Kemudian melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu keluar begitu gadis itu mengangukkan kepala.
Khaysila kini berjalan mengekor menuju ke arah mobil sang asisten karena memang tidak berencana untuk membawa kendaraan sendiri. Ia ingin menghargai usaha besar dari orang yang sangat dipercayai oleh sang kakek dengan berangkat bersama.
Begitu duduk di kursi depan, ia saat ini menoleh pada pria yang baru saja menyalakan mesin mobil tersebut. "Oh ya, Om. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan."
"Iya, Nona." Sambil mengemudikan mobilnya meninggalkan area rumah mewah lantai lima tersebut. "Apa yang ingin Anda tanyakan?"
Khaysila kini berdehem sejenak untuk menormalkan perasaannya karena memikirkan meeting hari ini. "Jika tidak ada yang setuju aku menggantikan posisi kakek, apa yang harus kulakukan?"
Ia belum paham apa pengaruhnya di perusahaan karena menjadi seorang cucu Candra Kusuma. Meskipun ia tahu sang kakek adalah pemilik perusahaan, tetapi mengetahui jika semua yang berhubungan dengan keputusan apapun harus atas dasar para pemilik saham.
Jika ia mendapatkan penolakan dari mereka, benar-benar bingung harus melakukan apa. "Bukankah aku hanya akan terlihat seperti orang bodoh di sana nanti?"
"Itu tidak akan pernah terjadi, Nona karena sebagian besar pemegang saham ada di pihak tuan Candra. Meskipun ada sebagian berada di pihak wakil presiden direktur, tetap mayoritas utama mendukung kakek Anda."
"Jadi, jangan pernah berpikir pesimis karena presdir tidak menyukainya." Sang asisten pribadi tersebut kini mulai menambah kecepatan setelah lampu merah berubah hijau.
Kemudian menatap sekilas pada sosok gadis di sebelahnya tersebut. "Anda harus yakin dan percaya diri bahwa memilki kekuasaan yang lebih dibandingkan semua orang di perusahaan. Bahkan juga harus berani berdebat dan melawan jika ada yang ingin menjatuhkan mental Anda."
Merasa jika semua yang dikatakan sang asisten masuk akal, kini Khaysila merasa sangat lega karena kegundahannya sudah mendapatkan jawaban yang memuaskan dan membuatnya makin percaya diri.
"Terima kasih, Om. Aku akan selalu ingat pesan Om tadi." Khaysila kini kembali memikirkan dua pria yang sangat mengganggu pikirannya.
'Apakah Erick yang semalam tidak berhasil menemuiku di Rumah Sakit akan datang perusahaan? Apa pria itu juga? Apa yang harus kulakukan jika itu terjadi?' lirih Khaysila di dalam hati dengan pikiran berkecamuk.
To be continued...