Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Ingin melihat



Satu minggu yang lalu ...


Semenjak pulang dari Surabaya, Aaron kembali bekerja di perusahaan karena tidak ingin membuat sang ayah terlalu pusing sekaligus lelah mengurus perusahaan yang sudah ditinggalkan berhari-hari semenjak mengejar wanita yang masih sangat keras kepala tidak mau menerimanya.


Di malam ia baru kembali dari Surabaya, Jasmine kembali menelpon dan mengatakan akan datang ke Surabaya agar bisa berbicara dengannya. Akhirnya mengatakan hal sebenarnya jika baru tiba di Jakarta dan menyuruh wanita yang sangat ia benci itu untuk datang ke perusahaan keesokan harinya.


Hari ini, saat jam makan siang, ia berniat untuk ke restoran yang ada di dekat perusahaan, tapi tidak jadi melakukannya karena mendapatkan telpon dari asisten pribadinya jika Jasmine datang.


Akhirnya ia tidak jadi pergi dan menunggu Jasmine karena ingin tahu apa yang akan dilakukan mantan kekasih yang telah berkhianat saat kabur di hari pernikahan.


Ia bahkan saat ini memilih bangkit berdiri dari kursi kerjanya dan berjalan menuju ke arah jendela kaca raksasa yang di bawahnya bisa dengan jelas melihat hiruk pikuk kehidupan orang-orang di ibu kota.


"Berani sekali dia datang dan menampakkan wajahnya di hadapanku tanpa rasa berdosa sama sekali. Apa dia pikir aku adalah seorang pria bodoh yang akan mudah melupakan kesalahannya hanya dengan kata maaf?" Aaron yang kini tertawa miris karena merasa nasibnya benar-benar buruk saat tidak bisa meluluhkan hati Anindya.


Namun, yang datang adalah sosok wanita yang sama sekali tidak diinginkan dan sampai sekarang masih dibencinya. Hingga suara ketukan pintu menandakan terbuka setelah beberapa saat dan melihat asisten pribadinya melangkah masuk.


"Tuan, Nona Jasmine sudah datang." Sang asisten tadi menunggu di depan lift karena ingin menyambut sekaligus mengantarkan ke ruangan bosnya.


Sementara itu, Aaron masih tidak mengalihkan pandangannya dari kendaraan yang menghiasi lalu lintas di bawah perusahaan.


Ia hanya mengibaskan tangannya agar sang asisten pergi karena ingin berbicara empat mata dengan wanita yang sebenarnya tidak ingin ia lihat, tapi ingin mendengarkan omong kosong yang disusun oleh Jasmine seperti apa.


Sang asisten saat ini menganggukkan kepala serta membungkuk hormat dan kembali berjalan keluar untuk menyuruh wanita yang ia ketahui merupakan mantan bosnya.


Namun, ia berpikir bahwa seorang wanita cantik seperti itu sangat mudah mengkhianati bosnya yang bahkan memiliki paras rupawan serta merupakan pengusaha sukses dan putra tunggal konglomerat di Jakarta.


'Wanita cantik seperti ini hanya akan membuat dunia hancur dan berantakan karena tipu daya seorang wanita sangatlah luar biasa. Mungkin nona Jasmine hanya baik untuk dilihat karena memiliki kesempurnaan sebagai seorang wanita, tadi tapi tidak baik untuk dijadikan seorang pendamping yang akan menemani seumur hidup.'


Jasmine mengulas senyuman dan saat ini membawa paper bag berisi bingkisan yang merupakan oleh-oleh dari Paris dan akan diberikan pada pria yang sampai sekarang masih diharapkan bisa memaafkan kesalahannya di masa lalu.


"Terima kasih." Jasmine yang tadinya sama sekali tidak berpikir untuk memberikan oleh-oleh pada asisten pribadi Aaron, kini memberikan satu parfum yang baru saja diambil dari paper bag dan memberikan pada pria di hadapannya sebagai ucapan terima kasih.


"Ini untukmu. Hanya parfum, semoga menyukainya." Kemudian ia langsung melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah ruangan kerja Aaron tanpa menunggu respon dari sang asisten dan terdengar mengucapkan terima kasih atas pemberian darinya.


Hingga ia kini bisa melihat sosok pria dengan bahu lebar yang berdiri di depan kaca raksasa dengan posisi memunggunginya. Ia menelan saliva hingga membasahi tenggorokan sebelum membuka suara tertahan yang dipenuhi oleh kegugupan.


"Aaron, ini aku, Jasmine. Bagaimana kabarmu?" Jasmine menunggu hingga Aaron berbalik badan atau pun membuka suara untuk menguraikan suasana penuh keheningan di ruangan kerja yang sangat sunyi itu.


Namun, sudah beberapa menit berlalu, sama sekali tidak ada komentar atau pun suara Aaron dan membuatnya kembali membuka perbincangan. "Aaron, maafkan aku karena dulu ...."


"Stop!" Aaron merasa telinganya panas serta alergi mendengar kata maaf dari Jasmine.


Hingga ia pun kini berbalik badan dan ingin melihat seperti apa mantan kekasih yang telah berkhianat padanya dengan menghancurkan harga dirinya sebagai seorang pria.


To be continued...