
Keesokan harinya, Zea yang semalaman tidak bisa tidur setelah Aaron merenggut kesuciannya dan ia memilih untuk mengurung diri di dalam kamar. Bahkan semalam ia mendengar Aaron mengetuk pintu kamarnya dan meminta untuk bicara dengannya, tapi sama sekali tidak diperdulikan olehnya.
Apalagi semenjak ia semalam emosi dan mengirim pesan pada Erick, pria itu malah beberapa kali menelponnya. Namun, ia yang sedang tidak baik-baik saja, sama sekali tidak berniat untuk mengangkat telpon dari Erick.
Jadi, membiarkan dua pria yang ingin bicara dengannya dengan membenamkan diri di balik selimut tebal sambil menangis tersedu-sedu dan menutupi sebagian wajah dengan bantal.
Hingga ia pagi-pagi sekali sudah mandi dan kini terlihat menatap pantulan wajahnya di depan cermin. "Aku harus menghilangkan wajah sembab ini dengan make up. Gara-gara tidak tidur dan semalam terus menangis, wajahku terlihat sangat menakutkan seperti ini."
Zea yang baru saja mengaplikasikan alas bedak untuk merias wajahnya, mendengar suara ketukan pintu dari luar sekaligus meremang tubuhnya begitu mendengar suara bariton dari Aaron.
"Anindya, buka pintunya! Kita harus bicara!" seru Aaron dari luar sambil memijat kepala yang terasa masih pusing karena hanya tidur beberapa jam saja.
Ia ingin berbicara dengan Anindya sebelum bertemu di meja makan yang menjadi ritual sehari-hari. Apalagi semalam gagal membicarakan mengenai kejadian yang membuatnya merenggut kesucian wanita itu.
'Aku harus membahas tentang kejadian semalam sebelum Anindya mengatakan pada papa. Bukannya aku takut akan dihajar habis-habisan oleh papa karena memperkosa Anindya, tapi aku ingin membicarakan semuanya secara baik-baik karena kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah.'
Saat Aaron baru bergumam sendiri di dalam hati, ia mendengar suara dari dalam kamar dan tentu saja membuatnya merasa kecewa.
"Aku ingin sendiri, Tuan Aaron. Beri aku waktu untuk menenangkan diri," teriak Zea dari dalam kamar karena memang ia tidak mau berhadapan dengan Aaron sampai bisa pergi dari rumah itu pagi ini.
Ia tadi menatap ke arah jam dinding dan melihat masih pukul 6 pagi. Semalam menyuruh Erick datang pukul 7 dan masih ada waktu satu jam lagi.
'Aku bisa memanfaatkan waktu satu jam di dalam kamar karena tidak ingin bertemu dengan tuan Aaron. Aku sangat membencinya! Hanya ada nona Jasmine di hatinya meskipun wanita itu sudah berbuat jahat padanya,' gumam Zea yang kini mengepalkan tangannya saat mengingat Aaron menyebut nama wanita itu ketika berada di atas tubuhnya.
Sementara di luar ruangan kamar, Aaron saat ini berusaha untuk mengerti jika Anindya marah dan tidak ingin melihatnya, sehingga berpikir untuk memberikan waktu.
Kemudian ia kembali ke kamar dan mengempaskan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap ke arah langit-langit kamar.
"Anindya, maafkan aku karena tidak bisa menahan diri semalam. Semua ini gara-gara aku mabuk. Aku tidak akan menyentuh minuman beralkohol lagi." Aaron yang masih malas untuk pergi mandi, menatap ke arah sprei yang dihiasi darah perawan gadis yang telah direnggut paksa kesuciannya.
Entah mengapa saat melihat itu, sudut bibirnya melengkung ke atas karena merasa senang, bangga dan bahagia menjadi pria pertama untuk Anindya.
"Aku melepas keperjakaanku pada Anindya yang masih perawan. Aku sama sekali tidak menyesal telah melakukannya. Jika nanti dia lapor pada papa, aku akan langsung bertanggungjawab dan tidak keberatan jika disuruh menikahinya." Aaron saat ini masih belum mengalihkan perhatian pada bukti keperawanan Anindya.
Di sisi lain, Anindya yang tidak ingin berlama-lama berada di rumah itu, kini meraih ponsel miliknya di atas nakas. Niatnya adalah ingin menelpon Erick agar datang lebih awal.
Namun, ia mengerutkan keningnya kala melihat notifikasi dari pria itu yang baru masuk.
Cepat turun! Aku sudah ada di bawah. Aku akan membawamu keluar dari rumah yang kamu anggap sebagai neraka, bukan lagi rumah ternyaman bagimu.
"Erick sudah datang lebih awal. Dia memang selalu bisa diandalkan. Aku harus segera pergi dari sini agar tidak bertemu dengan tuan Aaron. Semoga nyonya Jennifer ada di bawah, agar aku bisa berpamitan sebelum pergi." Zea kini hanya membawa tas berisi mata kuliah hari ini.
Ia tidak mungkin membawa pakaian karena akan ketahuan dan gagal kabur dari sana. Setelah membawa dompet dan memasukkan semua uangnya, Zea pun keluar dari kamar dan melihat sekilas ke arah ruangan kamar yang tertutup rapat di sebelahnya.
'Aku pergi, tuan Aaron. Semoga Anda menyadari kesalahan setelah aku tidak muncul lagi di sini.'
To be continued...
"Aku tidak