Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Kangen



Begitu melihat sosok wanita yang sangat tidak ingin dilihatnya telah menghilang di balik pintu ruangan kerja, pandangan Aaron kini berlari pada makanan di atas meja. Seperti biasa, embusan napas kasar mewakili perasaan yang tidak menentu saat ini.


Tidak ingin makin kesal mengingat perbuatan Jasmine padanya karena menyia-nyiakan ketulusannya, ia kini bergerak menghubungi asisten pribadi agar segera datang. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka setelah terdengar ketukan.


Hingga sosok pria dengan tubuh tinggi tegap yang memakai jas berwarna hitam dengan bahu lebar yang merupakan idaman banyak wanita di perusahaan itu kini telah berjalan mendekat.


"Apa ada yang ingin Anda butuhkan, Presdir?" tanya sang asisten yang seketika menoleh jari telunjuk atasannya.


"Singkirkan semua yang ada di atas meja itu! Buang atau kau makan saja jika mau!" Aaron yang baru saja menurunkan tangannya untuk kembali fokus bekerja dengan memeriksa beberapa dokumen di atas meja yang perlu ditandatangani.


Melihat ada dua paper bag yang ada di atas meja, sang asisten kini langsung mengambilnya. Ia mencoba untuk melihat terlebih dahulu apakah akan membuang ataupun menikmatinya.


Begitu melihat jika jenis makanan yang dibawa oleh mantan kekasih bosnya tersebut adalah jenis makanan yang dipesan dari restoran favorit pria yang kini sudah fokus memeriksa dokumen di atas meja, ia kini memilih untuk menikmatinya daripada membuang ataupun memberikan pada orang lain.


"Terima kasih, Presdir. Ini akan saya makan saja karena membuang makanan adalah perbuatan yang tidak baik." Kemudian membungkuk format begitu berada di hadapan bosnya yang sama sekali tidak berniat untuk berkomentar karena masih fokus menundukkan kepala menatap ke arah dokumen yang diperiksa.


Akhirnya memilih untuk pergi dan membiarkan atasannya fokus bekerja karena mengetahui jika saat ini mood pria yang sangat dihormatinya tersebut sedang tidak baik-baik saja.


Bahkan dengan sangat perlahan menutup pintu agar tidak menimbulkan suara yang mengganggu konsentrasi atasannya. "Ini adalah rezeki nomplok yang patut disyukuri, meski merupakan sebuah malapetaka untuk tuan Aaron."


Ia yang saat ini berjalan menuju ke ruangan kerjanya sambil menatap ke arah paper bag di tangan, tidak berhenti tersenyum karena hari ini mendapatkan makan siang gratis dan tidak perlu merokok kantong untuk membeli makanan.


"Semoga wanita itu tidak akan pernah berani lagi menginjakkan kakinya di perusahaanku. Rasanya aku ingin sekali mencekiknya jika mengingat perbuatannya dulu yang bermain-main dengan perasaanku yang tulus padanya." Aaron saat ini memijat pelipis untuk meredakan rasa pusing di kepala akibat banyak memikirkan hal-hal yang mengganggu.


Hingga ia kini memeriksa ponsel miliknya yang dari tadi ada di atas meja. Merasa sangat rindu pada putranya. "Apa Kenzie tengah tertidur saat ini? Papa kangen kamu, Sayang."


Aaron ingin sekali melakukan video call dengan putranya yang sudah beberapa hari ini tidak dilihatnya, tapi ketika mengingat Anindya, rasa kesal menyelimuti diri.


"Aku ingin melihat sampai di mana kamu menolakku. Aku akan mengikuti semua keinginanmu untuk fokus pada karir dan gelar yang membuatmu tidak mau menerima lamaranku. Jika sampai kamu mengingkarinya, aku tidak akan tinggal diam." Aaron kini mengurungkan niatnya untuk menelpon sang ibu yang masih tinggal di rumah Anindya.


Akhirnya ia memilih untuk membuka galeri dan melihat foto-foto putranya yang dulu diambil. Bahkan juga dari kiriman sang ibu yang selalu mengirimkan foto putranya.


Ia beberapa kali mengusap layar ponselnya dengan perasaan berkecamuk dan berkaca-kaca. "Sayang, buat mamamu berubah pikiran agar kita bisa bersama setiap hari."


"Agar kita bisa menjadi keluarga yang lengkap saat mamamu menyingkirkan egonya," lirih Aaron yang mencoba untuk menahan diri agar tidak meloloskan bulir air mata saat merindukan putranya.


Namun, usahanya gagal karena hatinya bergejolak hebat kala mengingat momen-momen kebersamaan dengan darah dagingnya yang sudah beberapa hari tidak dilihatnya.


"Sayang, Papa kangen Kenzie."


To be continued...