Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Memilliki segalanya



Zea dan sang kakek baru saja tiba di rumah lantai lima bak istana dengan ruangan-ruangan berukuran luas dan segala furniture mahal. Bahkan lantai tempat berpijak pun terlihat sangat mengkilat dan menyilaukan mata.


"Beristirahatlah. Kamu pasti capek dan ingat kata dokter bahwa kamu harus banyak beristirahat karena kandunganmu menginjak trimester pertama dan harus lebih berhati-hati," ujar Candra Kusuma yang akhirnya menuruti apapun yang diinginkan oleh cucunya.


Ia sebenarnya tidak setuju dengan keputusan cucunya yang tidak ingin menikah dengan pria yang telah memperkosanya karena efek mabuk.


Namun, karena selalu terbayang dengan perbuatan di masa lalu yang memaksakan kehendak dan berakhir menyesali keputusannya sampai sekarang, sehingga kini tidak ingin melakukan kesalahan yang sama.


Saat hendak berjalan menuju ke arah pintu keluar, suara dari cucunya kini membuatnya menghentikan langkah kaki yang baru saja melangkah dan berbalik badan menatap ke arah gadis yang saat ini masih duduk di tepi ranjang.


"Tunggu, Kek. Aku ingin membicarakan sesuatu hal yang berhubungan dengan pendidikanku. Meskipun aku saat ini hamil, tapi tetap ingin melanjutkan pendidikan. Hanya saja, aku tidak ingin masuk kuliah. Bukankah Kakek punya banyak uang untuk membuatku bisa melanjutkan pendidikan tanpa harus datang kuliah?"


Zea ingin memanfaatkan semua hal yang saat ini dimiliki oleh sang kakek dan berharap bisa menjadi cucu terbaik yang bisa dibanggakan. Bukan hanya bergantung pada kekayaan melimpah yang dimiliki oleh ayah dari sang ibu yang merupakan salah satu konglomerat di Surabaya.


Saat ini, ia menunggu jawaban dari sang kakek yang tengah memikirkan sesuatu atas apa yang baru saja ia inginkan.


"Jadi, kamu tetap ingin kuliah tanpa masuk setiap hari dan melihat atau bertemu mahasiswa lain karena kondisimu yang saat ini tengah hamil?" tanya Candra Kusuma yang saat ini juga tengah memikirkan bagaimana caranya agar keinginan cucunya bisa dipenuhi.


Zea saat ini tanpa ragu langsung menganggukkan kepala untuk membenarkan semua yang baru saja diungkapkan oleh sang kakek. "Ya, Lek. Aku tidak ingin menjadi cucu Kakek yang mudah diremehkan karena hanya lulusan SMA."


"Aku bahkan ingin melanjutkan sampai jenjang paling tinggi agar menjadi seorang wanita independen yang tidak diinjak-injak harga dirinya oleh seorang pria hanya karena lulusan rendahan. Jadi, kira-kira apa aku bisa melakukannya?" Ia saat ini merasa yakin jika uang bisa menyelesaikan segalanya.


Hal itu dari dulu sudah menjadi dogma yang membuat semua orang melakukan apapun hanya demi bisa mendapatkan uang. Jadi, saat menjadi seorang cucu dari konglomerat, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menggapai mimpi-mimpinya selama ini.


'Aku tidak ingin dianggap hanya menumpang hidup pada kakek yang sudah susah payah dalam mengurus perusahaan. Aku harus menjadi wanita hebat yang bisa dibanggakan kakek suatu saat nanti,' gumam Zea yang makin bertekad untuk menjadi seorang wanita dengan pendidikan tinggi yang pastinya akan disegani oleh orang lain.


Ia saat ini menatap ke arah pria paruh baya yang masih berdiri tak jauh dari hadapannya. "Aku ingin dihargai bukan sebagai cucu Kakek yang merupakan konglomerat di kota ini, tapi ingin semua orang mengagumi prestasiku."


Baginya, uang memang segalanya dan bisa membuat semua orang tunduk dan hormat. Namun, baginya itu semua hanyalah sebuah fatamorgana karena yang terlihat adalah sebuah kepalsuan jika ia dihormati karena uang sang kakek.


Jadi, bertekad untuk melanjutkan pendidikan dan tidak menyia-nyiakan kecerdasannya yang menurun dari ibu dan ayahnya. "Bagaimana, Kek?"


Setelah mempertimbangkan semuanya, kini pria paruh baya tersebut menganggukkan kepala. "Anggap saja semuanya beres, Sayang. Kamu tetap akan menjadi lulusan dari Universitas yang tadi kita bicarakan."


"Hanya saja, selama kamu hamil, Kakek akan menyuruh dosennya datang ke sini untuk mengajar. Apalagi mereka semua mengenal Kakek dengan baik dan pastinya tidak akan keberatan. Semua bisa diatur dengan uang. Kakekmu ini adalah penyandang dana terbesar di Universitas itu dan keinginanmu bukanlah hal yang sulit untuk dipenuhi."


Ia saat ini terhubung ke belakang begitu cucunya menghambur memeluk dan mengungkapkan kebahagiaan sekaligus rasa lega.


"Kakek memang yang terbaik," seru Zea yang saat ini tidak bisa melepaskan kuasanya dari tubuh sang kakek.


Ia bahkan saat ini sudah berkaca-kaca bola matanya karena merasa sangat bahagia saat kehidupannya berubah 180 derajat. Dari Zea yang selama ini sering mendapatkan bully dari teman sekolah karena berpenampilan cupu, hingga selalu hidup menderita bersama dengan ibu dan kakak tiri sampai dijual.


Itu pun belum berakhir sampai di sana penderitaan yang dialami karena juga mendapatkan perlakuan yang tidak senonoh dari pria yang dicintai dengan tulus sampai akhirnya berakhir hamil.


"Kakek, terima kasih karena telah mengubahku menjadi princess di dunia nyata. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika tidak ada Kakek yang bersamaku menghadapi semua cobaan hidup." Zea saat ini tidak bisa menahan bulir air mata yang sudah membanjiri wajahnya.


Meskipun saat ini ia menangis Karena rasa bahagia memiliki seorang kakek luar biasa yang bisa diandalkan dalam masalah apapun, tetap saja mengingat semua hal yang terjadi padanya di masa lalu.


Sementara itu, Candra Kusuma yang saat ini ikut merasa sedih melihat cucunya yang menangis, sibuk mengusap lembut punggung dengan rambut panjang yang tergerai di bawah bahu tersebut.


"Sudah, jangan menangis, Sayang. Selama Kakek masih hidup, akan selalu melakukan apapun yang kamu inginkan. Sekarang kamu bisa mengandalkan kakek dalam hal apapun. Kamu adalah cucu kakek yang sangat berharga dan akan hidup bahagia mulai hari ini."


Mencoba untuk menahan diri agar tidak terlihat lemah dengan mengeluarkan air mata. "Semoga Kakek masih bisa melihat buyut yang sedang kamu kandung saat ini. Jadi, kamu harus selalu kuat karena meski usiamu masih sangat muda, tapi sebentar lagi akan menjadi seorang ibu."


Kemudian ia menarik diri dan menahan kedua sisi lengan cucunya. Kemudian memberikan sebuah suntikan semangat untuk dukungan penuh pada gadis belia yang sudah berurai air mata itu.


"Ingat kata Kakek, Sayang. Kamu sekarang bukanlah Zea yang malang, tapi adalah Khayra yang beruntung, oke?" Menatap ke arah manik kecoklatan yang masih dipenuhi oleh bulir air mata.


Sementara itu, Zea yang saat ini masih sesenggukan karena mengingat banyak hal yang terjadi dalam hidupnya selama beberapa tahun terakhir ini, hanya bisa mengangguk lemah atas apa yang diungkapkan oleh sang kakek yang berusaha untuk memberikan sebuah motivasi.


"Jangan hanya mengangguk. Jawab, Kakek, Sayang." Membersihkan bulir air mata di wajah cucunya dengan ibu jari.


Zea masih berusaha untuk menormalkan perasaannya yang bergejolak karena banyak hal yang dirasakan saat ini. Ia yakin jika saat ini suaranya sangat serak setelah menangis dan berusaha menormalkan sebelum membuka mulutnya.


Hingga beberapa saat kemudian, setelah perasaannya jauh lebih baik, kini mencoba untuk membuka suara karena sang kakek masih menunggu ia berbicara.


"Iya, Kek. Mulai hari ini, aku akan menjadi Khayra Fazila Farhana yang merupakan cucu pengusaha sukses Candra Kusuma. Zea Sadiya tetap akan ada di hati papa dan mama," sahut Zea yang saat ini sudah bertekad untuk menerima nama baru pemberian dari sang kakek.


Kini, Candra Kusuma tersenyum simpul dan kembali memeluk erat tubuh mungil cucunya. "Nah, begitu dong cucu Kakek. Jadi, mulai sekarang Kakek akan memanggilmu Khayra, bukan Zea lagi."


"Iya, Kek. Aku ingin menjadi orang baru dengan nama yang baru untuk membuang semua kesialan dan nasib buruk yang selama ini aku alami. Memang semuanya terjadi bukan karena nama, tapi hanya ingin membuka lembaran baru yang lebih baik." Zea masih melingkarkan tangannya pada pinggang sang kakek yang sangat disayangi.


Ia bahkan tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Bahwa saat ini sebenarnya ingin sekali mengetahui bagaimana respon seorang Aaron begitu mengetahui jika ia hamil benih pria itu.


'Apa tuan Aaron akan mengakui jika yang kukandung ini adalah benihnya? Ataukah dia akan marah padaku dan tidak ingin mengakuinya karena masih mencintai nona Jasmine? Seharusnya aku tidak memikirkan masalah itu lagi setelah memutuskan menolak perintah dari kakek yang berniat untuk menghubungi tuan Aaron.'


Ia saat ini merutuki kebodohannya karena masih saja memikirkan pria yang menjadi penyebab ia hamil di luar nikah dan tidak bisa pergi kuliah dengan bebas karena malu.


'Aku akan begitu bahagia bersama kakek dan anak ini,' gumam Zea yang saat ini mengusap lembut perutnya yang masih datar.


Merasa jika dirinya tidak sendiri dan ada kakek yang menyayanginya serta rela melakukan apapun seperti yang diinginkannya, Zea kini merasa bahwa hidupnya tidak sepenuhnya buruk Karena sekarang memiliki segalanya.


To be continued...