
Khaysila baru saja tiba di rumah sakit dan langsung menuju ke ruangan sang kakek. Tentu saja ia sudah mengetahui jika Erick ada di sana karena tadi mengirimkan foto ketika menunggu kakeknya. Ia ingin berbicara empat mata dengan Erick mengenai apa yang tadi dilakukannya di kantor.
Namun, sebelum itu ingin memastikan jika tidak ada Aaron karena tidak mungkin bisa berbicara jika ada pria itu. Begitu tiba di ruangan sang kakek, langsung berjalan menuju ke arah ranjang di mana pria paruh baya yang sangat disayanginya tersebut masih betah menutup kedua mata dengan ditopang beberapa alat-alat medis.
"Akhirnya kamu datang juga, Ayang," ucap Erick yang langsung bangkit berdiri dari kursi karena dari tadi menunggu kakek dari gadis yang dicintainya.
Ia bahkan membiarkan pelayan mengawasinya dengan duduk di sofa dan tidak berniat untuk menyuruh keluar agar tidak dianggap ingin berbuat macam-macam pada pria yang merupakan salah satu konglomerat di Surabaya itu.
Ia tadi langsung memberikan kode pada pelayan yang bertugas untuk menjaga sang kakek agar keluar dan membiarkannya berbicara empat mata dengan Erick. Kemudian mengulas senyuman pada Erick.
"Apa kamu benar-benar langsung datang ke sini tadi setelah dari perusahaan?" tanya Khaysila yang saat ini menghampiri Erik dan mencium sang kakek setelah membungkukkan badannya. "Aku datang, Kek."
Erick yang merasa tidak tega melihat Anindya ketika menyapa sang kakek yang masih tidak sadarkan diri itu, hanya terdiam dan menjawab singkat. "Iya. Aku ingin melihat kakekmu yang hebat ini."
Anindya yang saat ini menatap ke arah sang kakek dan selalu membuatnya sesak karena dipenuhi oleh kekhawatiran ketika takut akan kehilangan sosok pria yang sangat disayanginya tersebut.
"Terima kasih karena mau menjenguk kakekku. Doakan kakekku agar cepat sadar dan kembali sehat seperti sedia kala karena hanya dia satu-satunya keluarga yang kumiliki sekarang." Kemudian beralih menatap ke arah pria yang terlihat lebih kalem daripada saat berada di kantor tadi.
Erick saat ini hanya mengangguk perlahan dan melihat gadis itu mengajaknya duduk di sofa yang ada di dalam ruangan perawatan itu. Ia tahu jika gadis itu akan berbicara serius padanya dan membuatnya sedikit khawatir jika mengatakan bahwa apa yang tadi diungkapkan di kantor hanyalah sebuah akting semata.
Ia bahkan tidak yakin jika Zea benar-benar memilihnya saat berada di hadapan Aaron ketika melamar. 'Aku harap Anindya sedikit mempunyai belas kasihan padaku dengan tidak menyakiti perasaanku untuk kesekian kali.'
Erick berjalan mengekor gadis di depannya sambil bergumam sendiri di dalam hati dan membuatnya ingin sekali menghentikan apa yang akan disampaikan oleh gadis itu.
Namun, ia tidak punya nyali karena diakuinya bahwa dia kini sudah jauh berbeda dan terlihat lebih dewasa dibandingkan satu tahun lalu. Ia bahkan tidak bisa bermanja-manja seperti dulu lagi karena melihat wajah serius yang ditunjukkan oleh gadis itu.
"Duduklah karena aku ingin berbicara serius padamu, Erick!" ucap Khaysila yang baru saja mendaratkan tubuhnya di atas sofa dan kini melihat pria di hadapannya melakukan hal sama dengan duduk di sebelah kirinya.
"Apa kamu ingin menolakku dan mengatakan agar melupakan apa yang kamu katakan di depan Aaron tadi?" Akhirnya Erick mengungkapkan hal yang mengganggu pikirannya dan melihat ekspresi wajah datar gadis yang sama sekali tidak bisa ditebaknya.
Seolah saat ini pemikiran gadis di sebelahnya itu penuh misteri. Apalagi tatapan datar dan menganggap jika dia saat ini kehilangan senyuman semenjak mengalami musibah saat sang kakek pingsan di ruang meeting.
Anindya yang tadinya merasa tidak enak untuk membuka percakapan mengenai hal yang baru saja diungkapkan secara langsung oleh Erick, kini merasa sangat mudah untuk melanjutkannya karena sudah dibuka terlebih dahulu oleh pria itu.
"Ya, kamu benar, Erick. Sebenarnya ...."
"Stop!" Erick yang sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan dari gadis di sebelahnya tersebut, tidak ingin mendengar dan memilih untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya saat ini.
"Dengarkan apa yang ingin kukatakan terlebih dahulu," ucap Erick yang kini berdehem sejenak untuk menormalkan perasaannya sebelum mengungkapkan semuanya.
Khaysila yang gagal menjelaskan, akhirnya menuruti keinginan Erick dan memberikan kesempatan berbicara terlebih dahulu. "Baiklah. Katakan saja sekarang."
Erick mengganggu perlahan dan menormalkan perasaannya ketika berniat untuk mengungkapkan apa yang ada di hatinya saat ini. "Aku ingin kamu memberikan aku kesempatan sekali lagi untuk berusaha mengambil hatimu dengan berjuang."
"Bukankah pada faktanya tadi kamu sudah jelas-jelas menolak lamaran Aaron? Jadi, tidak mungkin kamu menikah dengan pria lain di saat mengalami banyak masalah seperti ini. Jadi, izinkan aku selalu menemanimu di sini untuk menghadapi masalah yang kamu hadapi sekarang. Sampai pada akhirnya kamu membuka hati dan menerimaku sebagai pelabuhan terakhir."
Panjang lebar ia menjelaskan tentang isi hatinya dan berharap Zea terketuk pintu hatinya untuk memberikan kesempatan meskipun sekarang belum mempunyai perasaan yang sama dengannya.
Ia ingin berjuang sekali lagi untuk mendapatkan hati seorang gadis yang dari dulu membuat hatinya bergetar. Berharap usahanya untuk merebut hati Zea membuahkan hasil karena selalu berada di sebelah gadis itu.
Khaysila saat ini tidak langsung memberikan jawaban karena ia tahu jika Erick memiliki kehidupan sendiri dan harus fokus kuliah. Ia tidak ingin menjadi penyebab pria itu tidak bisa menggapai cita-citanya dan nanti akan mengecewakan orang tua.
"Kamu harus kuliah dan fokus pada pendidikanmu, Erick. Aku pun fokus pada kehidupanku yang sangat mengenaskan ini. Rasanya tidak ada waktu untuk memikirkan cinta-cintaan," ujar Khaysila yang saat ini belum berpikir untuk membuka hati pada Erick.
Ia yang berniat untuk menyuruh Erick melupakan perkataannya tadi di ruangan kantor, tidak jadi mengatakan karena pria itu sudah mengetahuinya, sehingga merasa sangat bersalah karena telah memanfaatkan pria sebaik itu.
"Maafkan aku karena telah memanfaatkanmu agar pria itu tidak melakukan hal konyol lagi. Apa dia tidak bisa berpikir? Sampai berbuat konyol seperti itu ketika aku saja merasa kepalaku seperti dihantam setiap hari," sarkas Khaysila yang saat ini memijat pelipis karena jujur saja terlalu memforsir otaknya setiap hari dan membuatnya sakit kepala setiap malam.
Apalagi tidak bisa tidur nyenyak karena putranya yang selalu sebentar-sebentar terbangun untuk menyusu. Jadi, saat bangun pagi hari selalu pusing dan berusaha untuk kuat dengan makan banyak serta minum vitamin yang disiapkan oleh kepala pelayan.
"Kamu bisa memanfaatkanku sepuas hati karena sama sekali tidak keberatan. Aaron memang adalah seorang pria egois karena hanya memikirkan diri sendiri, sehingga buru-buru melamarmu karena takut tersaingi olehku." Erick sebenarnya merasa terluka mendengar kejujuran gadis itu.
Namun, ia sadar jika tidak pernah bisa menjauh dari wanita yang masih belum membuka hati pada siapapun dan berniat untuk terus berjuang sampai gadis itu memiliki pasangan.
Bahkan ia berpikir jika nasibnya tidak jauh berbeda dengan Aaron yang ditolak mentah-mentah saat melamar. Hanya saja, bedanya adalah ia ditolak saat tidak ada Aaron. Jadi, tidak merasa malu seperti pria itu, sehingga bisa mengejek sepuas hati.
"Jangan merasa bersalah padaku karena aku sama sekali tidak kesal padamu. Mengenai kuliah, aku akan berbicara pada papa dan mama untuk pindah ke sini. Mereka tidak akan keberatan asalkan aku menyelesaikan sampai mendapatkan gelar."
Erick sebenarnya ingin sekali memberikan sebuah suntikan semangat dengan menggenggam erat telapak tangan Zea, tapi tidak berani melakukannya saat berbicara serius seperti itu.
Khaysila saat ini hanya menghembuskan napas kasar karena jujur saja merasa sangat tidak enak pada Erick yang selalu melakukan apapun untuknya.
Setelah mempertimbangkan keputusannya setelah memikirkan matang-matang, akhirnya ia membuka suara. "Baiklah. Asalkan kamu tetap fokus pada pendidikan, aku tidak akan melarangmu."
"Semoga aku bisa melewati ini dan semuanya kembali baik seperti semula. Baru aku akan berusaha untuk membuka hatiku untukmu karena sebenarnya mengakui bahwa kamu adalah seorang pria yang sangat baik, Erick." Ia yang baru saja menutup mulut, menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara ketukan.
Ia berpikir jika pelayan yang ingin meminta izin padanya dan begitu melihat pria tersebut berjalan mendekat setelah memasuki ruangan, sesuatu hal yang membuatnya bersitatap dengan Erick.
"Maaf, Nona. Ada orang yang ingin menjenguk tuan besar. Namanya adalah tuan Aaron," ucapnya sambil menunggu tanggapan dari majikannya tersebut.
Saat ini, Khaysila tidak langsung menjawab karena jujur saja bingung jika harus terus-menerus bertemu dengan Aaron. Ia takut kebenciannya perlahan pupus setelah melihat perjuangan pria yang meninggalkan luka mendalam di hatinya. Hingga ia mendengar suara bariton dari Erick yang mewakilinya menjawab.
"Suruh saja masuk!" Kemudian beralih menatap ke arah Zea. "Kita lihat apa yang akan dilakukannya. Kamu tenang saja karena aku tidak akan membuat keributan di ruangan perawatan ini."
Akhirnya Khaysila mengangukkan kepala dan menatap ke arah pelayan. "Baiklah. Suruh saja dia masuk sekarang."
Kemudian ia langsung menggeser posisi agar terlihat lebih dekat dengan Erick. Tentu saja karena ingin Aaron melihatnya dan menyerah mengejarnya, lalu kembali ke Jakarta.
"Buat Aaron secepatnya kembali ke Jakarta," ucapnya saat menatap ke arah Erick.
Erick yang kini mengangguk perlahan karena sudah mengerti akan keinginan Zea, makin mengikis jarak di antara mereka. Ia juga ingin pria itu pergi secepat mungkin dari Surabaya setelah kesal melihatnya dekat dengan Zea.
"Serahkan saja semuanya padaku, Ayang." Mengedipkan mata dan memberikan kode dengan jari membentuk angka nol.
Hingga beberapa saat kemudian ia menatap ke arah pintu yang terbuka dan melambaikan tangan pada pria yang baru saja melangkah masuk ke dalam. "Kau dari mana saja, Brother? Aku bahkan dari tadi sudah menunggu kakek di sini, tapi kamu baru saja datang."
Aaron yang saat ini menahan kecemburuan ketika melihat wanita yang sangat dicintainya sangat dekat ketika duduk dengan Erick, mencoba untuk tidak mengandalkan emosi di dalam ruangan perawatan tersebut.
'Sabar ... sabar. Kamu akan menang saat tiba waktunya nanti,' gumam Aaron yang saat ini tersenyum simpul dan bersikap setenang mungkin meski hatinya serasa terbakar melihat keintiman dari Anindya dan Erick.
"Aku tadi mampir ke suatu tempat, jadi sedikit terlambat. Aku ingin menjenguk tuan Candra Kusuma." Kemudian berani menatap ke arah gadis yang masih terdiam tanpa menyapanya. "Maaf, Anindya karena terburu-buru ke sini, sampai lupa membawa buah tangan."
Awalnya Khaysila tidak berniat untuk membuka suara dan menyerahkan pada Erick, tapi saat diajak bicara, akhirnya terpaksa menanggapi dengan singkat dan padat. "Tidak apa-apa."
Aaron selalu berjalan mendekat ke arah panjang perawatan di mana pria paruh baya tersebut masih menutup kedua matanya tanpa memperdulikan keintiman Anindya dan Erick.
Ia berusaha bersikap tenang karena berpikir jika saat ini harus mengalah. Bahkan mempunyai prinsip jika mengalah sekarang belum tentu kalah karena kemenangan akan didapatkannya dengan mudah setelah hasil tes DNA keluar dan dengan percaya diri menunjukkan pada Erick agar sadar diri dan mundur teratur.
"Aku datang, Tuan Candra Kusuma. Semoga Anda segera sadar dan sembuh agar cucu Anda tidak terlalu berat menghadapi semuanya karena membutuhkan dukungan dari Anda yang merupakan satu-satunya keluarga yang tersisa. Aku pun sangat berharap bisa berbicara dengan Anda secara langsung untuk mengungkapkan niat baik menikahi Anindya."
Aaron tetap saja mengungkapkan apa yang diinginkannya tanpa memperdulikan pemikiran Anindya. Satu-satunya hal yang ada di pikirannya saat ini adalah ingin berkumpul menjadi keluarga sempurna karena sudah mengetahui jika perbuatannya dulu membuatnya bisa merasakan bagaimana perasaan menjadi seorang ayah.
Apalagi saat tadi menggendong darah dagingnya sendiri untuk pertama kali, tidak dipungkiri jika perasaan membuncah dirasakan. Ia bahkan saat ini sudah sangat merindukan putranya dan hanya bisa menatap fotonya saja untuk sementara waktu.
Hingga waktu berpihak padanya saat nanti mengungkapkan semuanya dan berharap Anindya mau menerimanya saat ia serius mengungkapkan ketulusan untuk menikahi gadis yang selama ini membuatnya tidak bisa hidup tenang karena rasa bersalah dan berdosa.
Khaysila hanya terdiam mengamati siluet pria dengan bahu lebar tersebut ketika berbicara dengan sang kakek. Ia sebenarnya masih bingung dengan perasaannya saat ini.
'Aku sangat membenci pria itu, tapi melihatnya jauh lebih kurus dari sebelumnya, membuatku khawatir. Sebenarnya apa yang kupikirkan sekarang? Seharusnya aku fokus membencinya dan tidak memaafkan kesalahannya, tapi kenapa sekarang berubah iba padanya?'
Khaysila yang saat ini tersadar dari lamunan ketika mendengar suara bisikan dari Erick.
"Buat dia tidak betah berada di sini agar segera keluar dan meninggalkan ruangan. Bukankah kamu tidak nyaman ada dia di sini?" lirih Erick yang tidak suka melihat tatapan Anindya pada siluet belakang Aaron.
Jadi, sengaja mengatakannya agar pria yang selalu membuatnya tidak percaya diri itu segera pergi.
'Tanpa sadar, kamu telah mengombang-ambingkan perasaan kami, Zea. Sialnya, kami adalah dua pria bodoh yang tidak bisa pergi meskipun sudah tersakiti dengan sikapmu,' gumam Erick yang hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati tanpa mengungkapkan pada gadis yang saat ini membuka suara.
To be continued...