Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Amal ibadah



"Astaghfirullah!" teriak sosok pria paruh baya yang saat ini merasa sangat terkejut ketika menyadari bahwa ia telah menabrak orang.


Tadi ia tengah menaruh ponsel di dalam dasbor mobil dan membuat konsentrasinya berkurang, sehingga tidak menyadari ada seseorang yang hendak menyeberang.


"Semoga orang itu tidak terluka parah," ucap pria bernama Freddy Jonathan yang buru-buru melepaskan seat belt dan keluar dari mobil sebelum mendapatkan kemurkaan dari semua orang yang sudah berkerumun di sekitar kendaraannya.


"Anda harus bertanggungjawab pada korban karena sepertinya ia terluka parah."


"Iya, wanita ini harus segera dibawa ke rumah sakit."


Suara dari dua orang yang kini menatapnya, membuat Jonathan langsung membenarkan. Ia tidak ingin ada yang salah paham padanya dan menganggapnya lari dari tanggungjawab.


"Saya akan bertanggungjawab pada wanita ini. Tolong bantu untuk memasukkannya ke dalam mobil saya." Jonathan yang bisa melihat korban adalah seorang wanita, benar-benar merasa sangat bersalah dan ingin segera membawa ke rumah sakit.


Beberapa orang yang langsung membantu, kini tengah mengangkat tubuh korban yang tidak sadarkan diri tersebut ke dalam mobil. Tentu saja mereka sangat berhati-hati karena khawatir melakukan kesalahan fatal pada korban.


Jonathan kini langsung masuk ke dalam mobil begitu korban yang ditabraknya sudah berada di kursi belakang. Ia kemudian langsung masuk ke dalam mobil dan menatap pada orang-orang yang membantunya.


"Apa salah satu dari kalian bisa ikut bersamaku ke rumah sakit?" Jonathan berpikir bahwa kesaksian dari salah satu saksi tidak akan membuatnya berurusan dengan para polisi karena ingin menyelesaikan secara kekeluargaan saja.


Niatnya adalah akan bertanggungjawab atas semua biaya perawatan wanita itu hingga sembuh tanpa ada campur tangan polisi.


Berurusan dengan polisi adalah sesuatu yang selama ini dihindari oleh seorang Jonathan. Karena berpikir bahwa menjaga nama baik keluarga maupun perusahaan adalah sebuah hal paling penting dibandingkan yang lain.


"Saya ada urusan, Tuan. Lebih baik Anda pergi saja sendiri sekarang karena percaya adalah orang baik."


"Iya, saya juga sedang buru-buru. Jadi, harus segera pergi."


Jonathan kini hanya mengembuskan napas berat karena bisa melihat kekhawatiran dari sikap mereka semua. Ia kini mengangguk perlahan dan berpamitan pada beberapa orang yang membantunya, termasuk dua pria yang menolak ikut bersamanya ke rumah sakit.


"Maafkan aku. Semoga kamu tidak apa-apa," lirihnya sambil terus mengemudi dan kali ini lebih berhati-hati.


Jonathan merasa sangat heran karena wanita yang ditabraknya sama sekali tidak membawa apapun. "Bagaimana aku bisa menghubungi keluarganya jika tidak ada apapun yang dibawa oleh wanita itu?"


"Atau ia membawa tas, tapi malah dimanfaatkan oleh orang jahat yang langsung mengambilnya saat orang-orang lengah dan tidak begitu memperhatikan?" Jonathan hanya bisa menebak-nebak apa yang terjadi pada wanita yang telah ditabraknya tersebut.


Berharap saat wanita itu sadar, memberitahunya tentang keluarganya dan akan langsung dihubungi. Hingga beberapa saat kemudian mobilnya sudah tiba di ruangan IGD dan ia turun begitu dua perawat datang dan salah satu bertanya mengenai pasien.


Ia menjelaskan kronologi kecelakaan dan melihat dua perawat pria sudah memindahkan pasien ke atas brankar.


"Saya akan memarkirkan kendaraan dulu dan nanti mengurus pendaftaran dan biayanya." Kemudian kembali masuk ke dalam mobil dan memarkirkan kendaraan di tempat tersedia.


Sementara itu, dua perawat pria itu segera mendorong ke brankar dan langsung memeriksa tanda-tanda vital dari pasien yang mengeluarkan darah cukup banyak di kepala.


Setelah mengetahui terjadi pendarahan luar bisa pada pasien, membuat sang dokter yang menangani langsung memberikan perintah.


"Cepat bawa pasien ke ruangan operasi karena harus segera dilakukan operasi! Suruh keluarga pasien untuk menandatangani surat pernyataan dilakukan operasi."


Sementara itu, perawat itu mengangguk perlahan dan mulai berjalan menuju ke arah pintu keluar IGD. Tentu saja untuk dilakukan proses operasi membutuhkan persetujuan dari pihak keluarga.


Ia ingin memberitahu pihak keluarga pasien agar mempersiapkan semua syarat yang dibutuhkan sebelum proses operasi.


Sementara itu, Jonathan yang saat ini sudah kembali ke IGD, mengetahui tentang semua yang terjadi dan karena tidak ada pilihan, kini berakhir mengaku keluarga dan menandatangani semuanya.


'Aku akan menganggap musibah ini adalah sebuah amal ibadah yang akan menolongku suatu hari nanti,' gumam Jonathan yang kini berjalan menuju ke arah ruang administrasi.


To be continued...