
Zea seketika kembali duduk begitu Aaron keluar dari ruangan kamar. Wajahnya masih masam sekaligus merasa malu pada apa yang tadi diungkapkan oleh pria itu saat berbicara mengenai hal-hal vulgar.
Ia berjalan menuju ke arah jendela kaca dan membuka gorden berwarna putih itu agar bisa melihat hujan yang turun sangat deras di luar sana.
"Sebenarnya ada baiknya berada di dalam ruangan kamar seperti ini ketika hujan-hujan turun deras di luar sana. Karena pasti aku akan sangat kedinginan jika berteduh di pinggir jalan, tapi tuan Aaron benar-benar menyebalkan."
"Bisa-bisanya ia berbicara sangat santai ketika membahas mengenai kata paling vulgar di otakku. Jika ia menganggapku anak kecil yang tidak menarik, kenapa harus mengatakan bercinta segala?" Bahkan Zea seketika meremang bulu kuduknya ketika berbicara sesuatu hal yang sangat intim itu.
Ia bahkan sampai pergi dengerin dan mengusap kedua lengannya yang seketika merinding meski masih memakai Hoodie miliknya. Hingga ia pun memilih untuk melupakan apa yang tadi diungkapkan oleh Aaron dan kembali fokus menetap ke arah derasnya hujan di luar.
"Hujan turun sangat deras. Apa ada kemungkinan hari ini terang agar kamu bisa kembali ke Jakarta?" Zea seketika menoleh ke arah pintu yang terbuka dan menampilkan sosok pria yang baru saja masuk dan berjalan mendekat ke arahnya.
"Sepertinya kita tidak bisa pulang hari ini karena akses jalanan menuju ke bawah terkena longsor serta beberapa pohon tumbang akibat hujan yang turun sangat deras hari ini. Tadi aku baru saja melihat berita di televisi lokal saat memesan soto daging." Aaron kini sudah berada di hadapan gadis yang berdiri di dekat jendela kaca.
Ia tidak ingin membuat gadis itu merasa khawatir, jadi melanjutkan penjelasannya. "Nanti aku akan memesan kamar satu lagi dan tidak akan tidur di sini jika kita benar-benar menginap. Jadi, kamu tenang saja karena aku tidak akan macam-macam padamu."
Kemudian Aaron melepaskan jaket kulit yang dari tadi menghangatkan tubuhnya dan menaruh di atas sofa. Ia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum beristirahat sambil menunggu makanan yang dipesannya.
Di sisi lain, Zea yang dari tadi hanya diam karena merasa sangat terkejut dengan berita yang baru saja disampaikan oleh Aaron.
"Longsor? Pasti semua anak motor juga tidak bisa pulang ke Jakarta hari ini. Pasti mereka semua saat ini basah kuyup kehujanan. Kasihan sekali." Zea kembali mengingat perkataan Aaron yang akan menyewa kamar satu lagi.
Ia jadi merasa tidak enak karena pria yang disukainya berpikir macam-macam padanya. "Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa tuan Aaron marah padaku? Hingga berniat untuk memesan kamar lagi? Padahal ruangan ini sangat luas dan bisa digunakan untuk tidur beberapa orang."
Zea saat ini mengedarkan pandangan ke sekeliling dan melihat ruangan kamar luas yang memiliki ranjang king size itu. "Tuan Aaron bisa tidur di sana dan aku tidur di sofa. Itu sudah beres, bukan? Lebih baik aku mengatakan ini pada tuan Aaron agar tidak membuang uang hanya untuk menginap di sini."
"Padahal niat kami hanya berteduh saja, tapi malah benar-benar menginap karena intensitas hujan yang turun sangat tinggi hingga menyebabkan longsor dan akses jalanan terputus." Zea kini bisa melihat pria yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Kemudian ia tidak membuang waktu untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya saat ini. "Tuan Aaron, tidak perlu memesan kamar lagi dan membuang-buang banyak uang. Lagipula ruangan ini sangat luas untuk digunakan tidur."
"Aku pun percaya pada Anda tidak akan berbuat macam-macam padaku. Apalagi aku tidak akan membuat Anda bernafsu, kan? Lalu kenapa repot-repot memesan dua kamar?" Kemudian ia menunjuk ke arah ranjang.
"Tidur saja di ranjang itu, aku akan tidur di sofa ini." Kemudian ia berjalan menuju ke arah sofa dan mendaratkan tubuhnya di sana sambil mengusap lembut tempat yang diduduki sangat empuk. "Di sini sangat nyaman."
Aaron yang saat ini melangkahkan kaki panjangnya mendekati Anindya, kini memicingkan mata dan duduk di sebelah gadis mungil itu. Bahkan ia sudah menyentil kening Anindya untuk mengungkapkan rasa gemasnya.
"Dasar bunglon yang berubah-ubah! Jadi, kamu ingin tidur bersamaku? Sampai repot-repot melarangku untuk memesan kamar lagi?" Sengaja ia menggoda Anindya karena sangat senang melihat raut wajah yang kesal dan cemberut itu.
Refleks Zea seketika mengarahkan sebuah cubitan pada lengan kekar itu. "Tuan Aaron! Anda benar-benar sangat menyebalkan!"
Melihat gadis di sebelahnya kembali mengerucutkan bibir, Aaron hanya tertawa terbahak-bahak. Ia kini kembali mengarahkan tangannya untuk mencubit gemas kedua sisi pipi putih Anindya.
"Dasar bocil yang menggemaskan!" Masih terus gemas mencubit pipi putih Anindya yang berontak dan berusaha untuk melepaskan tangannya.
"Tuan Aaron, hentikan! Sakit!" Zea berakting kesakitan agar segera dilepaskan.
Hingga ia pun kini seketika menunjuk ke arah pintu yang tiba-tiba diketuk dari luar. "Itu pasti makanannya sudah datang." Merasa sangat lega karena kini pipinya sudah dibebaskan oleh tangan dengan buku-buku kuat itu.
Aaron kini buru-buru bangkit dari sofa dan berjalan menuju ke arah pintu. Ia pun mau buka pintu dan melihat ada satu wanita membawa troli berisi makanan pesanannya.
Wanita berseragam biru mengulas senyuman dan membungkuk hormat. "Ini pesanan Anda tadi, Tuan. Apa perlu saya bawa masuk ke dalam?"
"Tidak perlu. Biar aku saja yang membawa masuk ke dalam." Kemudian ia mengambil uang dari dalam dompet dan memberikan pada wanita itu sebagai tips. "Terima kasih."
Kemudian Aaron mengambil troli dari tangan wanita itu dan mendorong masuk ke dalam ruangan kamar setelah mendengar pegawai hotel mengucapkan terima kasih kepadanya atas tips yang diberikan.
Kini, ia berjalan mendekati sosok gadis yang masih sama keberadaannya dari tadi. "Lebih baik makan yang kenyang saat hujan-hujan begini. Aku tadi memesan juga camilan karena tahu kita akan menginap di sini agar malam tidak kelaparan."
Aaron membuka tudung saji yang ada di troli dan melihat soto daging sejak beberapa makanan penutup serta kue-kue yang tadi dipesannya sudah terjadi di depan mata.
Karena air liur serasa menetes ketika melihat makanan, Zea seketika mencomot 1 potongan cake coklat dan langsung memasukkan ke dalam mulut, lalu mengunyahnya. Hingga rasa lezat melumer di dalam mulut.
"Kuenya sangat lezat, Tuan Aaron." Zea bahkan berbicara dengan mulut penuh makanan.
Sementara itu, Aaron mengarahkan tangannya untuk mencubit pipi putih yang selalu menggemaskan itu. "Astaga! Itu untuk dissert. Makan makanan berat dulu." Geleng-geleng kepala melihat gadis di hadapannya malah tertawa sambil mengangkat tangan membentuk simbol peace.
"Maaf, Tuan Aaron. Habisnya, kuenya sangat menggugah selera dari bentuk penampilannya. Jadi, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak segera memakannya." Saat Zea melihat Aron memindahkan mangkuk besar berisi soto daging, ia kembali mengerucutkan bibir dan wajahnya berubah masam sekali lagi.
"Kue itu menggugah selera dari bentuk penampilannya dan merupakan kebalikan dari penampilan, sehingga tidak bisa menggugah seleraku." Kemudian ia duduk di lantai agar bisa menikmati makanan yang ada di atas meja rendah itu.
Tanpa berniat untuk menatap ekspresi wajah Anindya yang sudah dipastikan sangat kesal karena candaannya. Ia pun sudah menikmati makanan khas dengan kuah kental tersebut setelah meniup beberapa kali karena masih sangat panas dan sangat cocok dimakan ketika hujan turun.
Namun, saat mengunyah makanan, ketika tersedak begitu Anindya berbicara sangat konyol dan sangat berani.
"Sukurin!" ejeknya tanpa berniat untuk mengambilkan air minum yang ada di sebelahnya.
'Tuan Aaron hari ini benar-benar membuatku sangat kesal. Aku tidak akan tinggal diam jika terus menghinaku tidak menarik ataupun tidak membuatnya bernafsu atau tidak menggugah selera seperti makanan,' umpatnya di dalam hati.
Sementara itu, Aaron yang masih berusaha untuk menormalkan tenggorokan yang terasa panas karena terkena sambal dari soto, seketika mengambil air mineral dari troli itu.
Kemudian membuka dan mulai meneguknya hingga tersisa separuh. Ia pun kini merasa sangat lega setelah tenggorokannya yang panas tidak lagi membuatnya tersiksa.
Ia kini ingin membalas dendam ketika melihat gadis itu mulai mengunyah makanan. Aaron masih diam dan membiarkan Anindya makan beberapa kali suapan.
"Kenapa melihatku seperti itu? Apa Anda tidak pernah melihat gadis cantik tengah makan?" sarkas Zea dengan sangat kesal dan kembali menyuapkan satu sendok makan ke dalam mulut, yang membulatkan mata serta tersedak makanan begitu melihat apa yang dilakukan oleh Aaron saat ini.
Aaron yang ingin mengerjai Anindya untuk membalas dendam agar merasakan hal yang sama sepertinya, makanan.
Jadi, tanpa aba-aba ataupun menanggapi kalimat kasar dari gadis yang pernah menikmati makanan berkuah itu, Aaron seketika membuka kaos kasual miliknya.
"Kenapa tiba-tiba aku merasa gerah?" Kemudian ia melemparkan kaos yang sudah dilepaskan dari tubuhnya dan menampilkan otot-otot perut yang kencang. Tentu saja untuk dipamerkan pada gadis yang saat ini langsung mengambil botol air mineral sisanya tadi.
'Rasakan pembalasanku ini, gadis kecil! Sekarang kau tahu apa yang aku rasakan tadi, bukan?' gumam Aaron dengan tersenyum menyeringai.
Zea yang baru saja meneguk habis air mineral untuk menormalkan tenggorokan yang terasa panas karena tersedak, kini menatap tajam ke arah pria yang tengah bertelanjang dada tersebut.
"Tuan Aaron jangan mengada-ngada karena cuaca saat ini sangat dingin. Mana mungkin bisa gerah. Cepat pakai lagi bajunya! Aku benar-benar tidak nyaman melihat Anda tidak berpakaian."
Kemudian Zea memberanikan diri untuk bangkit berdiri dari posisinya dan mengambil kaos kasual yang dilemparkan sembarang arah oleh Aaron.
Ia benar-benar sangat tidak nyaman melihat pria yang disukai memamerkan otot-otot perut yang sangat seksi dan menyilaukan matanya.
Hingga ia yang kini membawa kaos casual itu, langsung menyerahkan pada sang pemilik yang melanjutkan menikmati makanan. "Cepat pakai kembali bajunya, Tuan Aaron!"
Refleks Aaron menggelengkan kepala karena ini merasa sangat senang bisa membuat Anindya gugup dan tidak nyaman. Namun, ia sama sekali tidak menyangka karena ternyata penolakannya malah berujung dianggap seperti seorang bayi.
"Dasar bandel!" Tanpa membuang waktu, Zea langsung memakaikan kaos itu dengan memasukkan pada kepala pria yang sangat terkejut dengan perbuatannya.
'Ternyata perbuatan Erick tadi yang memaksaku memakai Hoodie miliknya saat kedinginan, membuatku berinisiatif seperti ini pada tuan Aaron,' gumam Zea yang kini seketika tersenyum karena berhasil membuat Aaron bergerak sendiri untuk memasukkan tangannya.
Aaron sama sekali tidak menyangka jika Anindya berani memakaikan kaos casual miliknya. Akhirnya mau tidak mau, ia kembali berpakaian dan tidak lagi menunjukkan otot-otot perut yang sixpack.
"Kamu pikir aku anak kecil yang butuh dipakaikan baju, apa!" sarkas Aaron hingga saat ini sudah kembali berpakaian dan melanjutkan menikmati makanannya.
Hingga ia pun kini sudah kembali mengunyah makanan berkuah itu sambil melihat ekspresi wajah gadis di di sebelahnya malah menertawakannya.
Hingga ia mendengar Anindya menyebutkan seseorang yang merusak suasana dan sebenarnya sangat malas menanggapi.
"Erick tadi juga melakukan hal yang sama seperti itu saat aku menolak memakai Hoodie miliknya ketika kedinginan. Ternyata ada gunanya juga ia memaksakan kehendak padaku tadi. Sepertinya dia dan teman-temannya kehujanan." Zea mendadak mengkhawatirkan keadaan Erick dan teman-temannya.
"Kira-kira mereka sekarang berteduh di mana? Apa seperti kita menginap di hotel untuk berteduh sekaligus beristirahat?" Hingga ia tidak mendapatkan jawaban karena pria di sebelahnya sama sekali tidak membuka mulut dan malah asyik menikmati makanan.
Aaron merasa suasana yang tadinya sangat nyaman berubah buruk kala nama Erick disebut oleh Anindya. Ia tidak mau ambil pusing di mana keberadaan pria itu karena juga tidak bisa mencari informasi ketika tidak ada sinyal.
Hingga ia pun kini sangat terkejut ketika tiba-tiba ada suara petir menggelegar dan lampu mati.
"Aaaarggghh!" teriak Zea yang merasa sangat ketakutan ketika tiba-tiba suasana sangat gelap dan langsung berteriak begitu begitu suara petir menyambar dan memekakkan telinga hingga membuatnya berjenggit kaget.
"Tuan Aaron! Anda ada di mana?" teriak Zea dengan mengarahkan tangannya untuk meraba-raba mencari keberadaan Aaron.
Refleks Aaron langsung bergerak untuk memeluk Anindya yang diketahui sangat ketakutan karena berteriak. "Tenanglah! Aku di sini. Ini hanya mati lampu. Pasti sebentar lagi akan kembali menyala.
Refleks Zea menghambur memeluk erat tubuh pria yang memberikan sebuah ketenangan untuknya. "Tuan Aaron, aku sangat takut gelap. Kapan lampunya menyala?"
Saat Aaron tidak tahu kapan, tapi ia berusaha untuk menenangkan gadis yang memeluknya dengan erat. "Pasti sebentar lagi menyala. Mungkin hanya sebentar."
Baru saja ia menutup mulut, apa yang dikatakannya benar terjadi. Kini, lampu sudah menyala dan membuatnya seketika bersitatap dengan gadis yang berada di pelukan.
Zea yang dari tadi memeluk erat tubuh kekar Aaron karena ketakutan, kini bersitatap dengan iris tajam berkilat yang serasa berhasil menembus jantungnya.
'Astaga! Jantungku rasanya seperti tertancap anak panah karena tatapan tuan Aaron yang sangat tampan,' gumam Zea yang saat ini seolah tidak berkutik ketika jatuh dalam pesona seorang pria yang sangat dikaguminya.
To be continued...
To be continued...