
Beberapa saat yang lalu, Zea berdiri di dekat wastafel sambil berurai air mata kala mengingat kejadian yang memilukan kala Aaron memperkosanya dan malah menyebut nama Jasmine.
"Aku harus bisa melupakan kejadian itu. Aku harus bisa melupakan tuan Aaron yang berengsek itu." Zea berbicara lirih dan membuka keran air.
Kemudian membasuh mukanya agar tidak terlihat sembab saat kembali ke depan nanti. Ia tidak ingin Erick melihat sisi terlemahnya terus menerus dan membuat pria baik itu khawatir padanya.
Hingga beberapa saat kemudian, ia masih tidak bisa menahan rasa sesak di dada dan memilih untuk berjongkok sambil membenamkan wajah di antara kedua pahanya.
Ia pun menangis tanpa suara agar tidak didengar oleh Erick yang berada di depan. Hingga beberapa saat kemudian, mendengar suara bariton Erick dan membuatnya mengangkat wajahnya.
"Erick tidak boleh melihatku seperti ini," lirih Zea yang kini menghapus bulir air mata di wajah.
Sampai ia berniat untuk bangkit berdiri, tapi seolah tenaganya habis karena terkuras saat menangis mengingat tentang kejadian yang membuatnya kehilangan keperawanan.
"Aaarggh ... sial! Bahkan kakiku seperti sangat lemas saat ini dan tidak kuat berdiri." Zea saat yang baru saja mengumpat lirih untuk meluapkan kekesalannya, merasa sangat terkejut ketika suara Erick sudah tertangkap indra pendengarannya.
"Ayang? Apa yang terjadi? Kenapa kamu berjongkok di bawah wastafel?" Erick yang merasa sangat khawatir melihat Zea, seketika berjalan mendekat dan kini sudah menyamakan posisi dengan berjongkok di sebelah gadis yang tengah menatapnya.
Refleks ia mengusap wajah dengan mata memerah dan sudah bisa ditebak jika Zea baru saja menangis. "Kamu menangis? Apa yang terjadi? Apa kamu menangis gara-gara aku?"
Erick merasa khawatir jika perkataannya tadi membuat Zea tersinggung karena langsung pergi meninggalkannya. Namun, ia kembali terkejut kala melihat Zea malah menangis tersedu-sedu.
Karena tidak ingin membuat Erick khawatir saat melihatnya wajahnya yang sembab, kini Zea berakting menangis tersedu-sedu sambil menunjuk ke arah jempol kakinya.
"Kakiku tadi terantuk pinggir meja dapur. Rasanya sangat sakit. Tadi aku tidak ingin menangis dan menahan rasa sakitnya sampai membuat pandanganku kabur, tapi tidak bisa menahannya dan akhirnya menangis menahan sakit," lirih Zea dengan suara serak dan berharap Erick percaya pada kebohongannya yang sangat konyol.
Bahkan kakinya saja tidak berdarah dan berharap jika Erick tidak curiga pada kebohongannya tersebut.
"Ya ampun, Ayangku! Kamu benar-benar membuatku khawatir tadi karena aku berpikir telah membuatmu tersinggung." Kemudian Erick kini menatap ke arah kaki yang ditunjuk oleh Zea tadi. "Jadi, yang ini sakit? Sini, biar aku pijitin."
Saat merasa usahanya untuk membohongi Erick berhasil, Zea kini hanya menganggukkan kepala perlahan dan membiarkan pria itu memijat bagian kelingking.
'Erick gampang banget dibodohi. Aku jadi merasa bersalah padanya. Semoga suatu saat nanti kamu menemukan gadis yang mencintaimu, Erick. Untuk saat ini, aku belum bisa membuka hatiku yang masih ada banyak pecahan kaca di sana.'
'Aku tidak ingin kamu mencoba masuk sekarang karena pecahan kaca itu hanya akan melukai pria sebaik kamu nanti,' gumam Zea yang kini berpura-pura meringis saat dipijat oleh Erick.
"Aaarrh ... pelan-pelan! Sakit," lirih Zea yang berakting meyakinkan saat menampilkan wajah penuh kesakitan.
"Maaf, Ayang. Iya, ini pelan-pelan." Erick kini perlahan memijat dan mengurangi kekuatan, agar Zea tidak kesakitan.
Ia kini berpikir untuk mengurungkan niatnya mengajak Zea jalan-jalan karena kakinya yang sedang sakit. "Istirahat saja di rumah. Tidak usah jalan-jalan, nanti kakimu bengkak. Habis ini aku akan mengembalikan motornya pak RT."
Kemudian Erick bergerak untuk menggendong Zea karena tidak leluasa jika memijat di dapur, sehingga berpikir untuk menyuruh gadis itu berbaring di sofa yang ada di ruang tamu.
Tubuh Zea kini sudah berpindah di lengan kekar Erick. "Apa yang kamu lakukan? Tidak perlu menggendongku karena aku bisa jalan sendiri. Ini hanya masalah kecil. Lagipula kita masih tetap bisa jalan-jalan karena kakiku tidak pincang."
Erick yang kini berjalan keluar dari dapur, hanya membiarkan Zea mengungkapkan nada protes. "Sudah diam! Dasar bandel!"
Dengan menampilkan wajah garang, Erick berharap Zea takut dan tidak membantah. Namun, yang terjadi malah sebaliknya karena saat ini gadis itu malah tertawa. Seolah wajah garangnya tidak membuat Zea takut padanya.
"Kamu nggak pantes pura-pura garang seperti itu karena selama ini selalu terlihat selengek'an." Zea sebenarnya ingin melanjutkan perkataannya bahwa yang sangat pas menampilkan wajah garang hanyalah Aaron.
Meskipun ia tidak pernah takut juga ketika Aaron sering marah padanya dan bersikap arogan karena menyadari jika hal itulah yang malah membuatnya jatuh cinta pada pria itu.
'Bahkan hanya tuan Aaron saja yang makin memesona kala bersikap garang. Aku memang sangat bodoh! Bisa-bisanya aku mencintai pria kasar dan berengsek sepertinya. Tapi, apa kabar tuan Aaron saat ini? Apa dia bisa menemukanku di sini?'
'Seandainya tuan Aaron tiba-tiba datang menjemputku, apa yang harus kulakukan? Apa aku pulang bersamanya? Atau mengusirnya pergi? Harusnya dia sudah membaca suratku, lalu kenapa dia masih memata-matai Erick demi bisa menemukanku? Aah ... aku benar-benar pusing memikirkan si berengsek itu!'
Di sisi lain, Erick saat ini tengah menatap ke arah kaki Zea yang dipijatnya. "Apa masih sakit?"
Saat ia beralih menatap ke arah Zea, melihat gadis itu yang melamun dan membuatnya memicingkan mata. "Ayang? Apa yang sebenarnya sedang kamu pikirkan saat ini?"
Lamunan Zea seketika musnah begitu disadarkan oleh suara bariton Erick dan membuatnya tengah kebingungan menjawab. "Ehm ... aku tidak memikirkan apa-apa. Hanya saja, menyayangkan kamu tidak jadi mengajakku jalan-jalan dan memberikanku pakaian."
Akhirnya ia berbohong untuk kesekian kali karena mengetahui kelemahan Erick yang tidak pernah tega membuatnya merasa bersedih. Benar saja apa yang dipikirkannya karena saat ini Erick berubah pikiran.
"Kalau kamu yakin tidak masalah berjalan, kita bisa berangkat sekarang. Tapi sebelum itu, coba tunjukkan padaku cara berjalanmu dulu karena aku ingin memastikannya." Antara tidak tega dan senang bisa membuat Zea bersedia pergi dengannya dengan senang hati, tetap saja ia tidak bisa menutup mata untuk melihat jika gadis itu benar-benar baik-baik saja.
"Sudah kubilang tidak apa-apa," ucap Zea yang kini segera turun dari sofa dan berjalan seperti biasanya tanpa pincang seperti layaknya mengalami kaki keseleo. "Aku hanya terantuk tadi dan tidak sampai keseleo, Erick. Jadi, kita berangkat sekarang?"
Erick yang dari tadi tidak mengalihkan pandangannya dari Zea, seketika bernapas lega dan ikut bangkit berdiri dari posisinya. "Syukurlah ternyata Ayang tidak sampai pincang jalannya. Baiklah, sekarang kita berangkat jalan-jalan."
Zea kini bersorak kegirangan karena bisa melepas rindu pada beberapa tempat yang sering dikunjungi bersama ayah dan ibunya dulu saat masih kecil. Ia ingin mendatangi semuanya untuk mengenang masa-masa indah bersama dengan orang tua di masa lalu.
"Hore, jalan-jalan," ucap Zea yang saat ini terlihat berbinar dan mulai berjalan menuju ke dalam kamar untuk mengambil tas.
Sementara Erick saat ini hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah menggemaskan gadis yang membuatnya ingin selalu menjaganya.
'Rasanya aku ingin mencium Zea saat terlihat menggemaskan seperti itu, tapi jika melakukannya, pasti tidak akan bisa bersamanya karena ia akan membenciku. Zea, semoga suatu saat nanti pintu hatimu terbuka untukku. Aku benar-benar sangat tulus padamu. Kamu telah membuat seorang Erick mau bersabar dan merendahkan harga diri hanya demi bisa selalu di sisimu.'
Saat Erick tengah menunggu Zea keluar dari kamar, ia mendengar suara notifikasi dari ponselnya dan membaca pesan dari sang ibu.
Sayang, mama dari Aaron bertanya apakah kita mempunyai sanak saudara di Jogja. Aaron berpikir jika kamu tengah menyembunyikan Anindya di Jogja.
Erick kini memicingkan mata begitu membaca pesan dari sang ibu. "Jadi Aaron sudah tahu jika Anindya ada di Jogja? Lalu siapa yang memberitahunya? Tidak mungkin detektif tahu karena aku sama sekali tidak meninggalkan jejak."
Saat Erick masih menatap intens ponselnya, mendengar suara Zea dan membuatnya mengalihkan perhatian.
"Ayo, kita berangkat, Erick " Zea kini sudah rapi setelah tadi menyisir rambutnya dan tidak lagi mengepang dua, tapi dicepol tinggi ke atas.
Sementara itu, Erick kini memperlihatkan pesan dari sang ibu. "Bacalah!"
Zea mengikuti perintah dari Erick dan kini bersitatap dengan pria itu.
"Lebih baik kamu pindah saja dari sini. Aaron sudah mengetahui bahwa kamu berada di Jogja. Besar kemungkinan jika suatu saat nanti bisa datang ke sini. Aku punya saudara di Bandung. Kamu bisa tinggal di sana untuk sementara waktu, bagaimana?" Erick kini merasa yakin jika ada pengkhianat di antara salah satu anak geng motor.
Ia berniat untuk menyelidiki hal itu, tapi tetap saja harus menyelesaikan masalah Zea dulu dan ingin mengetahui apa keputusan gadis yang terlihat kebingungan itu.
Zea saat ini tengah kebingungan mengambil keputusan setelah mendapatkan kabar dari Erick tentang Aaron yang tidak menyerah untuk mencarinya.
'Sebenarnya apa yang diinginkan oleh tuan Aaron dariku? Apa dia mau menyiksaku? Kenapa harus mencariku saat dia bahkan tidak bisa melupakan nona Jasmine?' gumam Zea dengan perasaan berkecamuk dan kembali mendengar suara bariton Erick.
"Bagaimana? Kamu bersedia ikut denganku ke Bandung, kan? Jika iya, kita berangkat sekarang sebelum Aaron datang ke sini," ucap Erick yang berniat untuk naik bus dan membiarkan tiket pesawat hangus hanya demi bisa membuat Zea tidak bertemu dengan Aaron.
'Jujur saja aku takut jika kamu bertemu dengan si pria arogan itu dan lemah, sehingga langsung kembali padanya. Lalu, bagaimana dengan aku jika itu terjadi?' gumam Erick dengan perasaan berkecamuk yang dipenuhi oleh kegelisahan.
To be continued...