Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Terlihat sangat kurus



Satu minggu sudah semenjak kejadian batalnya pernikahan Aaron dengan Jasmine. Bahkan media sosial yang sudah seminggu ini memberitakan tentang kejadian itu, kini tidak segencar awal-awal.


Keluarga besar Jonathan sama sekali belum menggelar konferensi pers tentang perihal tersebut karena berpikir jika itu akan dilakukan setelah Aaron kembali nanti.


Saat ini adalah hari Minggu dan Jonathan beserta istri serta Anindya berniat untuk menjemput Aaron yang sudah diketahui lokasinya. Sebenarnya ia sudah tahu satu minggu lalu, tapi memang sengaja membiarkan putranya menenangkan diri di salah satu penginapan yang ada di daerah puncak.


Bahkan Anindya-lah yang menyarankan untuk membiarkan Aaron tenang selama beberapa hari di penginapan yang menjadi tempat mereka dulu menginap karena hujan deras yang turun sampai mengalami longsor.


Waktu satu minggu dianggap sudah cukup bagi Jonathan untuk putranya karena khawatir jika terlalu lama membiarkan Aaron sendirian tanpa ada yang menghibur.


"Kita berangkat sekarang!" Jonathan langsung bangkit berdiri dari sofa begitu melihat istri dan Anindya berjalan menuruni anak tangga.


"Iya, Sayang. Aku sudah tidak sabar ingin menemui putraku. Meskipun kita tahu dari laporan staf hotel jika dia baik-baik saja dan sering keluar dari hotel untuk berkeliling di area puncak, tetap saja membiarkannya sendirian terlalu lama bukanlah sebuah jalan terbaik." Jennifer ingin menjadi tempat keluh kesah putranya.


Ia juga ingin berguna sebagai seorang ibu, yaitu menghibur putra kesayangannya agar tidak semakin terpuruk saat sendirian.


"Iya, Nyonya benar. Tuan Aaron sudah cukup sendirian menenangkan dirinya. Sekarang tugas kita untuk menenangkannya sebagai seorang keluarga." Zea yang sudah satu minggu ini tidak kuliah karena semenjak kejadian malang yang menimpa Aaron, pikirannya tidak fokus.


Ia setiap malam selalu memikirkan Aaron yang pastinya sangat terluka ketika memikirkan tentang wanita yang dicintai. Bagaimana pedihnya dikhianati oleh orang yang dipercaya pernah dirasakannya ketika ia dijual oleh ibu serta kakak tirinya.


Jadi, berpikir jika penderitaannya hampir sama dan setiap malam ketika hendak tidur, pasti mengingatnya. 'Semoga tuan Aaron bisa melanjutkan hidup dengan melupakan wanita yang sama sekali tidak bisa menghargai memiliki seorang kekasih baik seperti tuan Aaron.'


'Bahkan aku selalu mendoakan tuan Aaron agar tidak melakukan hal-hal yang dibenci oleh Tuhan seperti mengakhiri hidup hanya karena patah hati.' Apalagi ia tahu jika Aaron sangatlah mencintai Jasmine, jadi khawatir jika karena patah hati, pria itu berbuat buruk pada diri sendiri.


'Semoga tuan Aaron baik-baik saja dan mau kembali pulang bersama kami,' gumam Zea yang saat ini sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah wanita yang kini terlihat gugup karena hendak bertemu putranya untuk pertama kali semenjak pergi dari rumah.


Kini, mobil yang melaju meninggalkan rumah keluarga besar Jonathan mulai membelah jalanan ibu kota dan menuju ke area puncak.


Hingga beberapa jam kemudian tiba di area penginapan yang menjadi tempat Aaron menenangkan diri. Anindya yang kini ingat jika penginapan itu adalah tempat di mana ia tidur satu ranjang dengan posisi berpelukan tanpa disadari.


'Apa tuan Aaron sama sekali tidak mengingat tentang kejadian saat saling berpelukan ketika tidur di satu ranjang? Atau ia hanya mengingat semua kenangan indah dengan nona Jasmine saja?' gumam Anindya yang kini menatap ke arah tempat parkir khusus motor untuk mencari motor sport milik Aaron.


Namun, karena tidak melihatnya, kini beralih menatap ke arah pasangan suami istri tersebut. "Sepertinya tuan Aaron sedang keluar untuk mencari angin segar karena motornya tidak ada." Anindya mengarahkan jari telunjuk ke parkiran. "Biasanya motor diparkirkan di sana, tapi milik tuan tidak ada."


"Tidak apa-apa. Lebih baik kita tunggu saja sampai Aaron kembali. Aku akan memesan kamar dulu agar kalian bisa beristirahat." Jonathan kini melangkah masuk ke dalam loby hotel dan memesan 2 kamar.


Zea yang saat ini belum berniat masuk ke dalam penginapan, kini berjalan menuju ke arah depan untuk melihat kanan kiri, berharap Aaron tiba dengan mengendarai motor sport.


"Tuan Aaron, pulanglah. Kami sudah datang menjemputmu. Kira-kira di mana tuan Aaron pergi?" lirih Zea yang kini merasakan tepukan di pundaknya dan menoleh ke belakang.


"Nyonya belum masuk juga?" tanya Zea yang kini melihat sosok wanita yang tadi ia suruh beristirahat di dalam kamar.


Jennifer yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan putranya, kini hanya menggelengkan kepala. "Aku tidak lelah dan ingin segera bisa melihat putraku. Semoga dia segera kembali karena aku sangat merindukannya."


"Pasti dia semakin kurus karena tidak makan dengan teratur di sini," lirih Jennifer yang kini mendapatkan sebuah pelukan dari gadis mungil yang dianggap sebagai putri kandung sendiri.


"Tenanglah, Nyonya. Sebentar lagi Anda bisa melihat tuan Aaron. Aku yakin sebentar lagi tuan Aaron akan kembali setelah puas mencari angin di sekitar sini." Saat Zea baru saja menutup mulut, indra pendengarannya menangkap suara motor sport seperti sangat menghafalnya jika itu adalah milik Aaron.


Refleks ia mengarahkan jari telunjuk di bibirnya dan menatap ke arah wanita paruh baya tersebut. "Apa Nyonya mendengarnya?"


"Mendengar apa?" Jennifer kini memasang indra pendengaran lebar-lebar untuk mencari tahu."


"Aku seperti mendengar suara motor sport milik tuan Aaron, Nyonya. Lebih baik kita tunggu sebentar lagi karena aku yakin jika itu adalah motor milik tuan Aaron," ucap Zea yang kini tengah mengedarkan pandangannya ke sekeliling area jalanan.


"Semoga kamu benar, Anindya karena aku tidak bisa mendengar apapun saat ini. Aku yakin jika indra pendengaranmu tajam, sehingga bisa mendengar jika itu adalah motor sport milik Aaron." Baru saja Jennifer menutup mulut, ia mendengar suara motor yang makin jelas di telinganya.


Hingga beberapa saat kemudian, ia mencari sumber suara dan melihat motor sport yang tidak asing melaju mendekat. "Aaron?"


"Tuan Aaron?" ujar Zea yang saat ini merasa sangat lega begitu melihat sosok pria yang mengendarai motor sport melaju semakin mendekat.


Sementara itu, sosok pria yang saat ini merasa sangat terkejut begitu melihat dua wanita berdiri di dekat jalanan masuk area penginapan yang sudah satu minggu ini menjadi tempat ternyaman baginya.


"Mama, Anindya? Bagaimana mungkin mereka ada di sini?" ucap Aaron yang saat ini semakin mendekati dua wanita yang terlihat sangat senang bisa melihatnya.


'Mama, kenapa terlihat sangat kurus? Pasti karena memikirkan dan mengkhawatirkan aku,' lirih Aaron yang saat ini berhenti tepat di hadapan dua wanita berbeda generasi tesebut.


To be continued...