
Refleks Jenny tertawa melihat respon yang sama dari Anindya serta Aaron dan menurutnya sangat berlebihan dalam menyikapi. Hingga ia pun kini bertanya sesuatu yang membuatnya merasa heran dengan respon dua orang itu.
"Mama udah berkali-kali bilang bahwa dari dulu ingin mempunyai anak perempuan. Jadi, karena ada Anindya yang sudah Mama anggap sebagai anak sendiri, ingin melakukan apapun yang tidak bisa dilakukan selama ini."
Kemudian Jenny menatap ke arah Anindya. "Ini bukan sebuah perintah, Sayang, tapi ini adalah sebuah permohonan dariku. Kamu tidak keberatan bukan untuk menuruti keinginanku dengan memakai gaun pengantin?"
Zea mengerjapkan mata beberapa kali karena ia saat ini berpikir bahwa permohonan dari wanita di hadapannya tersebut tidak akan pernah bisa ditolaknya karena selalu mendapatkan kebaikan sampai saat ini.
Namun, bahkan ia sama sekali tidak pernah satu kali pun membayangkan dirinya memakai gaun pengantin di usianya yang masih 19 tahun. Zea menelan saliva dengan kasar sebelum menjawab permohonan bernada memelas itu.
Bahkan ia tahu bahwa respon dari Aaron seperti orang yang tidak setuju dengan keinginan dari sang ibu karena terlihat menampilkan wajah masam seperti orang yang sedang kesal sekaligus marah padanya.
"Apa gaun pengantin bisa dicoba tanpa dibeli, Nyonya? Bukankah gaun pengantin itu harganya sangat mahal? Bagaimana jika nanti disuruh membeli? Sayang uangnya karena harganya pasti tidaklah murah."
Zea tidak bisa menolak, tapi hanya sekedar beralasan agar wanita itu tidak lagi mempunyai keinginan untuk membuatnya memakai gaun pengantin. Apalagi di depan pria yang disukai di saat akan menikah dengan wanita lain.
'Seandainya saja tuan Aaron tidak menikah, aku pasti akan senang memakai gaun pengantin di depannya. Tapi saat ini aku menahan diri agar tidak patah hati saat melihat calon istrinya dan Tuan Aaron memakai gaun pengantin.'
Saat Zea bergulat dengan pikirannya sendiri, sedangkan di sisi lain, Aaron saat ini hanya bisa geleng-geleng kepala dengan keinginan dari sang ibu yang selalu saja membuatnya terkejut.
Ia sebenarnya ingin mentertawakan perkataan dari gadis kecil di hadapannya tersebut karena mengkhawatirkan masalah uang.
Namun, hanya tidak ingin sang kekasih yang saat ini tengah marah merasa salah paham padanya jika sampai berpikir macam-macam mengenai gadis di hadapannya memakai gaun pengantin.
"Mama bisa melakukan apapun sesuka hati pada bocil ini, tapi jangan di depan Jasmine. Ia saat ini sedang kesal dan marah padaku. Bagaimana jika salah paham dengan berpikir menggantikan posisinya saat melihat bocil ini memakai gaun pengantin."
Jika sampai ia semakin membuat perasaan Jasmine buruk, akan terkena imbasnya dan membuat masalah mereka semakin bertambah parah.
Apalagi tadi ia bisa mendengar jika sang kekasih benar-benar sangat marah ketika berbicara untuk melarangnya tidak datang. Ia berniat untuk bertanya pada calon mertuanya mengenai sikap Jasmine, tapi keburu sang ibu datang dan menyuruhnya untuk menjadi supir.
Sementara itu, Jenny saat ini tengah mempertimbangkan perkataan dari putranya yang jika dipikir-pikir benar adanya. Bahwa Jasmine mungkin akan merasa cemburu saat melihat sikapnya pada Anindya karena menganggap seperti putri kandung sendiri.
Kini, ia menatap ke arah Aaron dan juga Anindya. "Baiklah, aku tidak akan memperlihatkannya pada Jasmine. Jadi, kalian saja dulu yang memakai gaun pengantin. Setelah pulang, baru akan melaksanakan niat Mama."
"Sekarang ayo kita berangkat sekarang ke butik. Jangan sampai Jasmine tiba di sana duluan dan pastinya akan sangat marah juga kamu belum datang." Jenny kini menggandeng Anindya agar masuk ke dalam mobil karena dari tadi tidak tidak kunjung bergerak sedikit pun dari tempatnya.
Seolah memperlihatkan sikap bingung karena perkataannya barusan yang malah membuatnya terkekeh geli saat mengkhawatirkan uang jika disuruh membeli gaun pengantin.
Sebenarnya, baginya uang tidak masalah, tapi sekarang berpikir bahwa yang terpenting adalah menjaga perasaan calon menantunya yang sedang buruk.
Tentu saja agar tidak menjadi masalah di kemudian hari dengan membanding-bandingkan kasih sayangnya antara calon menantu serta Anindya yang dianggap seperti putri kaldu sendiri.
"Iya, Nyonya." Zea saat ini hanya bisa patuh dan tidak lagi bertanya sesuatu yang membuatnya akan merasa seperti seorang gadis bodoh yang tidak tahu apa-apa.
Karena alasan dari Aaron jauh lebih masuk akal dibandingkan dirinya yang malah memperlihatkan kebodohannya ketika membahas uang pada wanita yang bahkan mempunyai segalanya tersebut.
Namun, sekilas melirik ke arah sosok pria yang masih belum beranjak dari tempatnya. Ia benar-benar khawatir jika pria itu marah pada sang ibu hanya karena dirinya.
"Tuan Aaron tidak marah padaku, bukan? Suasana hatinya hari ini sepertinya sana dulu begitu dilarang menjemput kekasihnya," tanya Zea yang saat ini menoleh ke arah sosok wanita di sebelahnya.
Jenny saat ini hanya mengusap lembut lengan Anindya dan tersenyum simpul. "Aaron selalu seperti itu jika menyangkut tentang calon istrinya. Karena putraku sangat mencintai Jasmine dan rela melakukan apapun agar membuat wanita itu bahagia."
"Makanya ia berusaha untuk melakukan apapun agar bisa menikahi Jasmine meskipun sudah mengetahui bahwa karirnya mulai menanjak beberapa bulan terakhir ini. Ia takut jika Jasmine makin terkenal, hubungan mereka akan renggang karena kesibukan."
Anindya benar-benar merasa sangat cemburu pada wanita bernama Jasmine yang dianggap sangat beruntung karena berhasil memiliki hati seorang Aaron yang sangat dikaguminya.
"Tuan Aaron memang terlihat sangat mencintai calon istrinya. Makanya bisa sangat kesal ketika dilarang untuk menjemput saat bersemangat pergi hari ini. Semoga tuan Aaron selalu bahagia bersama dengan mona Jasmine.
Kemudian ia saat ini tengah menatap ke arah sosok pria yang kali ini baru masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.
'Tuan Aaron, semoga aku bisa move on setelah melihatmu menikah.' Zea saat ini membuka tasnya karena ingin memastikan apakah ia membawa ponsel karena tadi lupa.
Ia berniat untuk mengambil gambar pasangan itu ketika memakai gaun pengantin. Sebuah hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya bahwa akan melihat pria yang disukai menikah dengan wanita lain dan mengabadikannya.
Aaron yang masih merasa kesal, akhirnya terpaksa menuruti perintah dari sang ibu untuk menjadi supir karena percuma juga ia berencana untuk menjemput saat sang kekasih tidak mau.
Kini, ia menyalakan mesin mobil dan mengemudikan kendaraan menuju ke arah pintu gerbang utama. "Nanti mama berikan banyak nasihat pada Jasmine agar bisa mengetahui bahwa cobaan sebelum pernikahan selalu terjadi dan dialami semua pasangan yang akan menikah."
Aaron menatap ke arah spion untuk mengetahui ekspresi wajah sang ibu saat ia meminta tolong karena khawatir jika calon istrinya tidak akan bisa menghadapi ujian sebelum pernikahan.
Apalagi semuanya dikarenakan kegalauan yang diakibatkan masalah karir yang ia ketahui makin menanjak. Ia takut jika Jasmine lupa dengan tujuan awal mereka menjalin hubungan.
Bahwa pernikahan menjadi akhir dari tujuan mereka saat pertama kali menjalin hubungan. Apalagi sikap yang ditunjukkan oleh sang kekasih setelah melamarnya membuatnya sedikit khawatir jika berubah pikiran.
Entah mengapa masih tidak tenang setelah melamar sang kekasih yang akhirnya menerima setelah ia banyak menjelaskan.
Jika selama ini ia selalu percaya pada sang kekasih, tapi beberapa hari terakhir ini selalu saja curiga dan takut Jasmine akan berbuat macam-macam di belakangnya.
'Jasmine, setelah kita menikah, aku akan membuatmu menjadi seorang wanita yang paling bahagia di dunia begitu menjadi istriku,' gumam Aaron yang kali ini berdoa dengan tulus dan lega ketika sang ibu menanggapi.
"Tenang saja, Aaron. Nanti Mama akan menjelaskan padanya tentang semua hal mengenai pernikahan," sahut Jenny yang saat ini berpikir bahwa putranya akhir-akhir ini selalu dikuasai oleh kekhawatiran meskipun sudah melamar sang kekasih.
"Satu lagi!" ucap Aaron sambil menatap ke arah spion untuk beralih pada gadis yang ada di sebelah mamanya. "Kamu lebih baik diam dan tidak banyak berbicara di depan calon istriku."
Zea hanya mengangguk perlahan karena tidak ingin membuat Aaron marah padanya.
To be continued...