
Erick yang dari tadi mendengarkan tanpa berkomentar apapun untuk mengetahui semuanya dan membuatnya kini makin merasa penasaran mengenai apa yang baru saja disampaikan oleh Aaron.
"Jadi, Zea pergi dengan kakeknya?" Ia yang selama ini mengetahui cerita tentang gadis itu mengenai keluarga dari pihak sang ayah, kini menduga jika itu adalah dari pihak sang ibu.
"Zea memang tidak menceritakan mengenai keluarga dari pihak sang ibu. Aku yakin jika itu adalah ayah dari ibunya yang tiba-tiba muncul setelah lama tidak diketahui oleh Zea." Erick saat ini mengeluarkan ponsel miliknya dan menunjukkan pesan Zea.
"Aku dulu memulihkan pesan itu yang sebelumnya dihapus oleh Zea sebelum kubaca. Aku minta tolong pada temanku untuk memberitahu apakah pesan dihapus sebelum dibaca bisa dilihat dan ternyata bisa." Erick saat ini terdiam menatap ke arah Aaron yang membaca pesan di ponselnya.
Kini, ia mengerti jika selama ini sama-sama menyimpan rahasia dan malah membuat mereka tidak bisa menemukan keberadaan Zea.
"Kenapa tidak dari dulu kau mengatakan padaku dan aku pun mengatakan padamu mengenai keberadaan Zea di Surabaya. Jika dari dulu kita sama-sama mengetahuinya, mungkin kita sudah menemukan Zea." Erick saat ini menyadari kesalahan karena menganggap diri sendiri egois.
Aaron yang baru saja membaca pesan dari Zea dan mendengar penyesalan Erick dan juga bisa dirasakan olehnya, kini menatap ke arah lihat di hadapannya tersebut.
"Sepertinya kita tidak perlu saling menyalahkan karena memang sama-sama salah. Menurutku, yang terpenting sekarang adalah bisa menemukan Zea dengan cara bekerja sama. Untuk sementara waktu, kita alihkan saja permusuhan dan lanjutkan nanti begitu menemukan Zea."
Aaron mengetahui bahwa Erick sangat mencintai Zea dan rela melakukan apapun untuk bisa menemukannya. Jadi, saat ini ingin bekerja sama demi bisa menemukan gadis yang sama-sama mereka sukai.
"Setelah Zea ditemukan, kita akan bersaing secara adil untuk mendapatkannya atau memintanya memiliki salah satu di antara kita." Aaron berbicara seperti itu karena merasa sangat percaya diri jika Zea akan lebih memilihnya daripada Erick.
Apalagi ia sudah merenggut kesucian Zea dan berpikir berhak untuk bertanggung jawab atas perbuatannya karena efek mabuk.
Di sisi lain, Erick yang sebenarnya merasa sangat tidak percaya diri begitu mendapatkan tantangan dari Aaron, tapi berpikir bahwa satu-satunya hal yang perlu dilakukan adalah segera menemukan gadis itu agar bisa hidup dengan tenang.
Ia kini ingin menyerang rasa percaya diri Aaron dengan kata-katanya yang tajam dan pedas. "Sepertinya kau terlihat sangat percaya diri akan dipilih oleh Zea. Padahal saat aku berbicara dengan Zea di Jogja ketika berkunjung ke sana, dia berbicara padaku, sangat membencimu."
"Aku memang tidak tahu apa yang kau lakukan padanya, tapi mengetahui bahwa Zea sangat membencimu. Jadi, aku akan menerima tantanganmu karena sangat yakin jika dia akan lebih memilihku daripada pria yang dibenci," ucap Erick dengan percaya diri dan tidak mau terlihat lemah di hadapan sosok pria yang saat ini berada di hadapannya.
Sementara itu, Aaron yang saat ini tengah menahan gejolak amarah yang saat ini dirasakan setelah mendengar Erick memancingnya. Ia berpikir jika Erick hanya ingin menjatuhkan mentalnya agar tidak percaya diri.
'Meskipun Zea menolakku, aku akan tetap memaksanya karena harus bertanggung jawab atas perbuatanku. Erick pasti akan mundur begitu mengetahui bahwa aku sudah memperkosa Zea, tapi sekarang bukan saatnya dan lebih baik merahasiakan sampai menemukannya.'
Aaron berusaha untuk bersikap lebih bijak seperti yang dikatakan oleh sang ayah agar tidak selalu mengutamakan emosi dalam segala hal. Ia ingin melindungi harga diri Zea dengan tidak mengatakannya pada Erick, jadi berpikir bahwa ia akan mengatakannya setelah gadis itu ditemukan.
Kini, ia bersikap tenang dan kembali mengungkapkan apa yang ada di otaknya saat ini. "Semua akan terjawab setelah kita berhasil menemukan Zea karena yang terpenting sekarang adalah itu. Jika saat ini dia ada di Surabaya, aku akan menyuruh banyak orang untuk mencari keberadaannya."
"Bahkan detektif yang kuperkerjakan sama sekali tidak menemukan hasil. Lalu, apa yang bisa kau lakukan? Apakah ada sebuah ide untuk memudahkan mencari keberadaan Zea di Surabaya?" Erick saat ini benar-benar putus asa dan berpikir bahwa ia juga membutuhkan orang lain untuk membantu mencari Zea.
Sementara itu, Aaron yang dulu pernah memikirkan mengenai nama marga Zea karena mengetahui jika kakek dari gadis itu bukanlah orang biasa karena berniat untuk membeli hamparan sawah yang sangat luas di desa itu.
Berpikir jika pria itu mungkin mengetahui nama dari marga ibunya Zea yang pastinya sama dengan kakek gadis yang menghilang tanpa jejak tersebut.
Refleks Erick menggelengkan kepala karena dulu tidak sempat bertanya mengenai hal itu. "Aku sama sekali tidak berpikir untuk bertanya dan dia pun tidak mengatakan mengenai nama orang tuanya."
Erick saat ini menepuk jeda berkali-kali karena menyadari kebodohannya ketika tidak menanyakan mengenai hal penting itu. Hingga ia saat ini tersadar bahwa Zea mempunyai ibu dan kakak tiri yang jahat.
"Sepertinya kita harus mencari tahu tentang ibu dan kakak tirinya yang dulu sempat menjualnya. Tapi aku tidak tahu alamatnya di Jakarta. Aku memang benar-benar bodoh karena tidak bertanya tempat tinggalnya di Jakarta karena dia mengatakan ingin ke Jogja."
Saat ini, Erick ingin mendengar tanggapan dari Aaron begitu mengetahui penjelasannya. Ia berharap kedewasaan pria itu bisa membuat mereka mendapatkan titik terang.
Aaron yang saat ini hampir putus asa karena tidak ada informasi dari Zea mengenai nama sang ibu, kini masih terdiam untuk mencari sebuah ide. "Aku bahkan sudah memasang pengumuman untuk memberikan hadiah pada orang yang melihat atau menemukan Zea."
"Tapi sampai sekarang tidak ada satupun orang yang menghubungiku. Zea benar-benar seperti menghilang ditelan bumi. Apa dia tidak pernah keluar dari rumah dan tidak ada yang melihatnya?" Aaron bahkan saat ini mendaratkan tubuhnya di sofa karena berdiri terlalu lama.
"Kau benar. Aku pun berpikir seperti itu karena tidak aktif tidak bisa menemukannya meskipun sudah mengetahui jika ia berada di Surabaya. Mungkinkah dia hanya tinggal di dalam rumah dan tidak pernah keluar?" Erick kembali duduk di sofa dan kata dia memikirkan semuanya.
Kini, ruangan kerja itu dipenuhi oleh keheningan karena dua pria yang saling berhadapan tersebut sibuk dengan pemikiran masing-masing selama beberapa menit.
Hingga suara dari Aaron kini memecah keheningan di ruangan kerjanya. "Aku akan meminta papaku untuk membantu mencari ibu serta kakak tiri Zea. Aku sangat yakin jika kejadian saat Zea dijual oleh ibu tirinya, terjadi pada malam dia kecelakaan dan ditabrak oleh papaku."
"Aku yakin jika ada rekaman CCTV di hotel saat Zea dibawa oleh sang kakak tiri ke sana ketika hendak dijual. Meskipun itu terjadi cukup lama, yang penting adalah tanggal kejadian. Kebetulan papa merupakan rekan bisnis dari pemilik hotel itu yang pastinya bisa dengan mudah mendapatkan rekaman CCTV."
Erick kini seketika berbinar wajahnya begitu mengetahui ide dari Aaron yang dianggap sangat brilian. "Ya, kau benar. Kita bisa mulai dari hal paling terkecil dulu dan semoga bisa mendapatkan informasi mengenai Zea. Kemudian bisa menemukan marga dari kakeknya."
Kemudian Erick kini bangkit berdiri dari posisinya dan berjalan mendekati Aaron, lalu mengulurkan tangannya. "Mulai sekarang, kita harus bekerja sama untuk menemukan Zea dan untuk sementara pertikaian di pending dulu sampai dia ditemukan."
Mengalihkan sifat egois untuk sementara waktu dianggap adalah sebuah solusi terbaik saat ini dan Erick berpikir jika menemukan Zea jauh lebih penting dari apapun.
Karena memang itu adalah jalan terbaik demi menemukan Zea, kini Aaron menjabat tangan Erick. "Ya. Kita harus menemukan Zea untuk memintanya memilih salah satu diantara kita."
"Sialan!" sarkas Erick yang saat ini meninju lengan kekar Aaron begitu mendengar kalimat terakhir dari pria yang membuatnya tidak kunjung diterima cintanya oleh Zea.
"Agar tidak sama-sama stres memikirkan gadis itu," ucap Aaron yang saat ini hanya terkekeh melihat ekspresi wajah kesal dari Erick saat ini.
Padahal di dalam hati, ia juga merasa khawatir jika Zea benar-benar membencinya dan selamanya tidak mau memaafkan perbuatannya. 'Zea, maafkan aku. Semoga kamu mau memaafkan perbuatanku dan menerima pertanggungjawabanku.'
To be continued...