Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Membuktikan



"Silakan dimakan, Mas," ucap kepala pelayan yang saat ini baru saja menyerahkan piring berisi nasi penuh dengan sayur dan lauk pauk beraneka ragam.


Sementara itu, Aaron yang seketika membulatkan mata karena melihat makanan di atas piring sangat penuh, membuatnya seketika menelan saliva karena sangat terkejut.


'Apa kepala pelayan berpikir aku bisa makan sebanyak ini? Bahkan menatapnya saja serasa membuatku langsung kenyang. Apa ia berpikir aku adalah kuli panggul yang biasanya membutuhkan tenaga ekstra dan harus makan sebanyak ini?' gumam Aaron yang saat ini terpaksa menerima piring berisi penuh makanan itu.


"Terima kasih, Nyonya. Saya benar-benar beruntung karena bisa mendapatkan makanan saat kelaparan. Tadi belum mendapatkan pelanggan sama sekali dan tidak bisa makan karena tidak tenang." Kemudian ia langsung mengambil sendok dan menyuapkan 1 sendok makan ke dalam mulutnya.


Sementara itu, wanita paruh baya yang tadinya berniat untuk meninggalkan pria itu agar merasa nyaman ketika makan, tidak jadi melakukannya ketika mendengar suara dering ponsel miliknya.


"Sama-sama. Silakan dinikmati. Sebentar," ucapnya sambil mengambil ponsel di dalam saku rok panjang yang dikenakan untuk melihat siapa yang menghubungi dan begitu mengetahui, tanpa membuang waktu langsung menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara dari seberang telepon.


"Halo, Bik. Apa semuanya baik-baik saja? Apa putraku tidak rewel?" tanya Khaysila ya saat ini tengah menuju ke rumah sakit karena sudah selesai memeriksa file penting tentang perusahaan.


Bahkan ia juga membawa untuk diperiksa di rumah karena khawatir jika terlalu lama meninggalkan putranya yang kemarin rewel saat ditinggalkan.


"Semuanya baik-baik saja dan tuan Kenzie tengah tertidur pulas, Nyonya. Anda tidak perlu khawatir dan fokus saja melaksanakan tugas Anda," sahut kepala pelayan yang tidak ingin berbicara mengenai terapi bayi melalui telepon karena akan langsung menyampaikannya nanti ketika majikannya tiba di rumah.


Ia sangat yakin jika majikannya tersebut akan menyetujui apapun yang disarankan olehnya demi kebaikan sang baby. Apalagi itu malah akan membuat si bayi tenang dan tidak rewel lagi setiap hari ketika ditinggalkan sang ibu.


"Syukurlah jika putraku sangat pintar dan tidak rewel ketika aku bekerja dan harus meninggalkannya. Aku saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit untuk menjenguk kakek. Nanti akan tiba di rumah sore hari karena dosen datang pukul enam petang." Khaysila yang harus membagi waktu dengan baik, berusaha untuk fokus agar otaknya bisa berfungsi dengan optimal.


Ia yakin jika bisa menghadapi semuanya saat putranya tidak lagi rewel seperti kemarin dan benar-benar sangat lega karena tidak harus terlalu memforsir tenaga untuk menenangkan.


"Iya, Nyonya. Anda harus selalu menjaga kesehatan dan jangan lupa minum vitamin yang saya bawakan," ucap wanita yang sudah menganggap majikannya tersebut seperti keluarga sendiri.


Apalagi mengetahui bahwa cucu dari majikannya tersebut adalah seorang gadis yang baik dan tidak menganggapnya seperti pelayan karena lebih menghormatinya meskipun hanyalah seorang kepala pelayan di rumah itu.


"Iya, Bik. Terima kasih atas semuanya. Kalau begitu, aku tutup telponnya sekarang dan jika ada sesuatu, segera telepon aku."


"Baik, Nona," sahut wanita paruh baya tersebut yang kini mendengar sambungan telepon sudah terputus.


Kemudian kembali memasukkan benda tersebut ke dalam saku rok miliknya. Hingga ia pun beralih menatap ke arah sang terapis yang sudah sibuk menikmati makanan. "Saya sampai lupa membawakan Mas air minum. Sebentar."


Aaron yang tadi merasa tenggorokannya seperti tersangkut makanan, seketika memegangi dan merasa lega begitu wanita tersebut menyadari ada yang terlupa.


Ia sebenarnya tidak kuat menghabiskan makanan yang dianggap terlalu banyak itu, tapi merasa tidak enak jika tidak menghabiskannya, sehingga memaksakan diri dan membuatnya hampir tersedak.


Tadi ia makan sambil mendengarkan pembicaraan dari kepala pelayan tersebut yang berbicara dengan Anindya dan membuatnya lega karena belum menceritakan tentang dirinya.


'Aku tadi sempat khawatir jika wanita itu menceritakan dan langsung mengubah panggilan menjadi video call untuk menunjukkan aku pada Anindya. Bisa gagal rencanaku jika sampai Anindya mengetahui aku berada di sini,' lirih Aaron yang saat ini mendengar suara notifikasi dari ponselnya.


Ia menunggu air minum sambil membaca pesan yang dikirimkan oleh Erick. "Ngapain mengirimkan pesan padaku?"


Kemudian ingin tahu apa yang disampaikan oleh pria yang dianggap saingannya tersebut. Hingga ia terkekeh geli membacanya. Namun, tidak berniat untuk membalas karena merasa yakin jika kemenangan ada di tangannya saat ini.


Aku saat ini sedang bersama dengan calon kakekku karena sebentar lagi akan menjadi cucunya setelah menikahi Zea.


"Dasar bodoh!" sarkas Aaron yang saat ini menatap ke arah foto pria dengan mata tertutup di atas ranjang dengan alat-alat yang menopang kehidupan. 'Jadi ini kakek Anindya yang sedang koma.'


Aaron saat ini menatap wajah pria paruh baya tersebut difoto yang dikirimkan oleh Erick. Ia saat ini membayangkan bagaimana seorang Anindya harus menghadapi banyak ujian dalam hidup saat masih berusia sangat muda.


'Kasihan sekali kamu, Anindya karena banyak menghadapi rintangan dan ujian dalam hidup semenjak kecil setelah ditinggal oleh mama dan papamu. Seandainya kamu menerima lamaranku tadi, aku pasti akan membantu meringankan bebanmu,' gumam Aaron yang saat ini seketika mematikan ponselnya begitu melihat wanita yang tadi ditolaknya membawakan minuman.


Wanita berseragam putih tersebut tadi disuruh untuk mengambil air minum dan terpaksa mengantarkan, meskipun tidak menginginkannya karena masih sakit hati ketika ditolak. Ia meletakkan gelas dan teko berisi air putih tersebut.


Tanpa mempersilakan, langsung melangkah pergi. 'Rasanya hanya tertinggal sakit hati ketika melihat wajah pria tampan itu,' kumannya saat berjalan meninggalkan pria dengan paras rupawan yang baru saja menolaknya mentah-mentah.


Aaron yang tidak mengambil pusing dengan sikap baby sitter tersebut, langsung menuangkan air putih ke dalam gelas dan meneguknya hingga habis.


"Alhamdulillah," ucapnya sambil mengusap tenggorokan yang sudah tidak seperti terganjal sesuatu dan tidak nyaman ketika menikmati makanan.


Ia beralih menatap ke arah makanan di atas piring tersebut yang masih tersisa separuh. "Seumur-umur, baru kali ini aku melihat makanan seperti serasa bunuh diri."


Meskipun mengeluh, tetap saja kembali melanjutkan untuk menikmati makanan yang dipenuhi oleh lauk dan sayuran tersebut sampai habis. Hingga beberapa saat kemudian mengusap perutnya yang kekenyangan.


Ia yang mengingat sesuatu, seketika menepuk jidat. "Pasti supir taksi tadi masih berada di samping kanan rumah. Aah ... biarkan saja, yang penting aku membayarnya."


Aaron kini menaruh piring ke atas meja dan menunggu sampai kepala pelayan datang karena berniat untuk berpamitan. Ia sebenarnya masih ingin bersama dengan putranya, tapi berpikir harus melakukan tes DNA agar bisa segera mengetahui jawaban positif agar bisa digunakan untuk senjata ketika Anindya menolaknya.


Kepala pelayan yang tadi membungkus makanan dan juga camilan untuk terapis tersebut sebagai ucapan terima kasih dan juga membawa amplop berisi uang. Kemudian menyerahkan pada pria yang saat ini bangkit berdiri dan ia yakini akan pergi untuk melanjutkan mencari pelanggan.


"Ini ada sedikit makanan dan uang. Nanti setelah mendapatkan persetujuan dari mommy-nya baby, akan langsung memberitahu dengan menelpon." Tersenyum simpul dan kemudian mengucapkan terima kasih karena telah membantu menenangkan baby dan tidak menangis lagi seperti beberapa saat lalu.


Aaron yang tidak berniat untuk menolak pemberian wanita yang dianggap sangat baik hati tersebut, membungkuk hormat sebagai ucapan terima kasih. "Anda sangat baik karena repot-repot seperti ini dengan membawakan saya makanan. Sekali lagi terima kasih. Kalau begitu, saya pamit dan menunggu kabar baiknya."


"Iya, Mas. Sama-sama. Hati-hati di jalan." Ia berniat untuk mengantarkan ke depan, tapi tidak jadi melakukannya saat ditolak.


"Tidak perlu mengantarkan saya, Nyonya. Anda bisa kembali melanjutkan pekerjaan." Kemudian Aaron langsung meratakan kaki panjangnya menuju ke arah pintu keluar rumah megah itu.


Ia yang saat ini menenteng paper bag itu, berniat untuk memberikan pada sopir yang akan disuruhnya menghantarkan ke salah satu rumah sakit terbaik di kota Surabaya untuk melakukan tes DNA.


Beberapa saat kemudian ia melihat sopir taksi keluar dan menghampirinya. Bahkan memberondong dengan banyak pertanyaan.


"Kenapa lama sekali, Tuan? Bisa-bisa saya dipecat jika seperti ini karena dari tadi menunggu tanpa berjalan untuk mencari penumpang," keluh sang sopir yang langsung mengungkapkan nada protes.


Tidak ingin berbicara panjang lebar untuk menanggapi, Aaron kini langsung memberikan paper bag di tangannya dan juga mengambil uang dari dalam dompet. "Apa uang itu cukup? Jika cukup, sekarang antarkan aku ke rumah sakit terbaik di kota ini!"


Kemudian langsung masuk ke dalam taksi dan melihat sopir melakukan hal sama dan duduk di balik kemudi.


Sang supir yang merasa senang mendapatkan kelebihan uang, kini langsung menyalakan mesin mobil dan tidak lagi protes karena sudah mengemudikan kendaraan menuju tempat yang dituju pria tersebut.


Aaron yang saat ini tidak sabar ingin menyampaikan kabar baik pada sang ibu, langsung meraih ponsel miliknya dan memencet tombol panggil. Tanpa menunggu waktu lama, sang ibu sudah mengangkat telepon.


"Halo, Sayang. Tumben nelpon lagi. Apa ada masalah?" tanya Jennifer yang merasa khawatir jika ada sesuatu hal buruk yang terjadi pada putranya.


Aaron yang saat ini tidak ingin bertele-tele, mulai menjelaskan semua yang tadi dilihat dan diketahui dari rumah keluarga besar Kusuma. Hingga ia mendengar suara sang ibu yang seperti kegirangan begitu mengetahui jika memiliki seorang cucu laki-laki yang sangat diidam-idamkan.


"Benarkah, Sayang? Ini benar-benar merupakan sebuah keberuntungan untuk keluarga kita jika itu benar darah dagingmu karena hasil perbuatanmu dulu pada Anindya. Rasanya Mama menarik kata-kata saat memarahimu karena memenuhi keinginan kami untuk menimbang cucu. Mama tadi sudah memesan tiket dan besok sore baru tiba di sana."


Jennifer bahkan sangat menyesal karena tidak berangkat hari ini. Ia sudah tidak sabar bisa bertemu dengan cucunya yang baru saja diceritakan oleh putranya tersebut.


"Doakan aku agar bisa setiap hari bertemu dengan putraku, Ma. Semoga Anindya setuju dengan memperkerjakan aku di rumahnya sebagai terapis putraku," ucap Aaron yang saat ini sangat bersemangat ketika membayangkan setiap hari bisa datang melihat darah dagingnya sendiri tanpa sepengetahuan Anindya.


Hingga apa yang tadi dipikirkannya benar begitu mendengar tanggapan dari sang ibu.


"Nanti ajak Mama juga jika kamu berhasil melakukannya. Mama harus ketemu dengan cucu keluarga Jonathan. Bahkan benar-benar tidak sabar bisa menggendong cucuku. Pasti cucuku sangat tampan," seru Jennifer yang saat ini sangat bersemangat ingin segera datang ke Surabaya.


Hingga ia semakin merasa senang begitu mendengar tanggapan dari putranya.


Aaron seketika mengirimkan beberapa foto yang tadi diambil. "Lihat foto cucu Mama yang sangat tampan itu. Puaskan mata Mama dan kasih tahu papa. Aku saat ini sedang menuju ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA agar Anindya tidak mengelak lagi dengan beralasan itu bukan darah dagingku."


"Iya, Sayang. Kamu benar. Baiklah. Mama akan memberitahu papamu dan pastinya sangat bahagia seperti Mama." Kemudian membuka pesan dari putranya dan wajahnya berbinar saat melihat wajah damai cucunya. "Cucuku tampan sekali saat tertidur pulas seperti ini. Apalagi jika membuka mata, pasti akan semakin tampan."


Aaron yang mendengarkan suara sang ibu sangat bahagia, kini tengah tersenyum dan ikut merasakan apa yang membuat wanita itu senang. "Aku tutup teleponnya dan bisa memanjakan mata untuk melihat cucu Mama yang paling tampan."


Begitu mendengar jawaban iya dari sang ibu, Aaron pun langsung mematikan sambungan telepon. Ia yang saat ini mengingat tentang pesan dari Erick, kini membalasnya.


Kau lakukan saja semua hal yang membuatmu senang karena aku sama sekali tidak peduli. Aku akan membuktikan jika Anindya nanti kembali padaku karena kamu hanya dijadikan sebagai tempat pelampiasan untuk menghindar dariku.


Ia tersenyum menyeringai saat mengetik pesan balasan dan langsung menekan tombol kirim. 'Kau bukanlah lawan yang seimbang untukku, Erick. Aku malah tidak sabar ingin melihat reaksimu jika mengetahui aku pemegang kunci rahasia yang selama ini disembunyikan oleh Anindya.'


'Bahkan aku sangat yakin jika kau tidak bisa berkata-kata setelah mengetahui Anindya melahirkan benihku. Putraku akan menjadi penyakit cinta kami yang sempat terpisah.' Aaron yang saat ini sibuk bergumam sendiri di dalam hati, mendengar suara bariton dari sang supir dan membuatnya menyadari jika sekarang sudah tiba di salah satu rumah sakit dengan bangunan tinggi menjulang di hadapannya.


"Ini adalah Rumah Sakit terbesar di kota ini, Tuan." Sang supir yang sudah memarkirkan kendaraan di tempat tersedia dan berniat untuk menunggu lagi penumpang tersebut.


Aaron seketika melepaskan sabuk pengaman dan menganggukkan kepala. "Terima kasih. Sekarang Anda boleh mencari penumpang dan nanti hubungi aku. Saat urusanku selesai, akan kembali menyuruh mengantarkanku."


Kemudian ia menyerahkan kartu nama miliknya pada sang sopir dan beranjak keluar dari mobil menuju ke arah lobby rumah sakit dan bertanya pada bagian pusat informasi untuk menanyakan tentang melakukan tes DNA.


"Baiklah, sekarang kita buktikan jika Kenzie adalah darah dagingku," ucap Aaron yang saat ini mengetahui bahwa rumah sakit yang didatangi adalah tempat yang sama dirawatnya kakek Anindya.


Jadi, berpikir ia akan datang menjenguk pria paruh baya itu setelah selesai mengurus tes DNA.


To be continued...