
Aaron saat ini berjalan menuruni anak tangga karena ingin menunggu Jasmine di teras saat datang. Ia kini mencari salah satu pelayan yang paling muda di rumahnya dan begitu melihat yang dicarinya, seketika memberikan perintah karena tidak ingin jika keinginannya didengar oleh Jasmine.
"Nanti kamu rekam aku pakai hape ini saat hujan-hujanan bersama dengan wanita yang sebentar lagi akan datang." Aaron langsung menyerahkan ponsel miliknya dan berpikir tidak perlu mengajari karena layanan tersebut juga memiliki ponsel.
Sementara itu, sang pelayan yang saat ini merasa heran karena cuaca yang sangat dingin menusuk tulang, sang majikan malah ingin main hujan-hujanan. Namun, tidak mengungkapkannya karena hanya menganggukkan kepala sebagai persetujuan.
"Siap, Tuan. Jadi, saya menunggu di depan bersama Anda?" tanya pria dengan seragam hitam yang saat ini dikenakan dan sama dengan pelayan lain.
Memang setiap hari minggu selalu memakai seragam karena majikan menghabiskan waktu di rumah. Berbeda dengan hari kerja yang hanya terlihat ketika pagi hari serta malam hari.
Aaron yang saat ini tengah memikirkan sesuatu, lalu melihat jam tangan yang dikenakan. "Sepuluh menit lagi saja kamu ke depan karena wanita itu juga belum datang."
Ia sudah sangat hafal dengan mantan kekasihnya yang selalu sangat lama ketika merias diri, sehingga berpikir jika membutuhkan waktu 1 jam lebih wanita itu datang setelah mendapatkan perintahnya.
"Baik, Tuan. Sepuluh menit lagi, saya akan ke depan." Ia yang saat ini masih memegang ponsel milik majikannya, sangat berhati-hati karena tidak ingin terjadi sesuatu pada benda mahal di tangannya.
Tentu saja ia tahu jika benda pipih tersebut mempunyai harga yang sangat mahal dan mungkin tidak bisa membeli dengan gajinya. Jadi, kini memegang ponsel dengan kedua tangannya saat melihat sang majikan melangkah pergi menuju ke depan.
Saat Aaron melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, ia berpikir bahwa beberapa menit lagi bisa membalas dendam pada wanita yang sangat keras kepala karena tidak kunjung menerima cintanya.
"Lihat saja nanti, kamu pasti akan kebakaran jenggot sepertiku begitu melihat video hujan-hujanan dengan Jasmine." Saat ia sudah berjalan melewati pintu utama, ini langsung mendapatkan tubuhnya pada kursi yang ada di teras rumah.
Ia menatap intens rintik hujan yang cukup deras dan berpikir jika main hujan-hujanan sekarang, pasti akan mengalami demam. Namun, ia sama sekali tidak memperdulikan hal itu karena satu-satunya yang diinginkan hanyalah ingin membuat Anindya cemburu dan mengakui perasaannya.
"Aku harap kamu marah dan langsung menelponku begitu melihat Jasmine di rumah ini,' gumam Aaron yang saat ini bangkit berdiri dari kursi karena ingin merasakan kembali air hujan yang sudah membasahi bumi.
Ia saat ini membuka telapak tangannya dan berubah basah. "Sudah berapa puluh tahun aku tidak merasakan hujan-hujanan? Sangat lama." Saat ia masih fokus menatap tangannya yang basah oleh air hujan, kini mendengar suara pintu gerbang yang terbuka.
Begitu melihat mobil mewah berwarna merah yang memasuki halaman rumah, ia seketika tersenyum menyeringai karena sudah tidak sabar untuk bisa membuat Anindya cemburu.
"Akhirnya yang ditunggu datang juga," ucapnya dengan masih menatap ke arah mobil yang kini berhenti di depan teras.
Hingga ia seketika membulatkan mata begitu melihat gaun pendek mencolok yang dikenakan oleh Jasmine. 'Astaga! Apa dia sengaja mau menggodaku? Pasti merasa sangat shock begitu mengetahui apa yang ingin kulakukan dengannya.'
Saat Aaron sibuk bergumam sendiri sambil ingin menertawakan mantan kekasihnya yang salah paham dengan perintahnya, sedangkan Jasmine saat ini berjalan sambil membawa payung.
Ia seketika tersenyum bahagia begitu melihat jika Aaron menunggunya di teras rumah. Hanya saja, ia merasa sangat kesal karena sepatu mahalnya kini basah oleh air hujan.
"Hai," ucapnya setelah membungkuk untuk menaruh payung miliknya. "Bagaimana kabarmu, Aaron? Aku selama beberapa hari ini sangat bersedih karena kamu tidak mengizinkanku untuk datang ke perusahaan."
Aaron yang saat ini melihat kembali jam tangan karena menunggu pelayan ke depan, menanggapi pendek karena sebenarnya sangat malas untuk berinteraksi dengan mantan kekasih yang saat ini dimanfaatkannya.
"Seperti yang kamu lihat sekarang. Aku baik-baik saja, kan?" ucap Aaron yang saat ini berakting bersikap baik pada wanita yang sebenarnya ingin sekali ia cekik lehernya karena benci sekaligus muak.
Jasmine yang tidak mendapatkan jawaban atas pernyataannya, sebenarnya merasa kecewa karena tidak mengerti dengan pemikiran sosok pria dengan wajah datar dan sangat jauh berbeda dari yang dulu.
'Kenapa aku merasa sikap Aaron sangat aneh padaku? Apa yang sebenarnya saat ini dipikirkan?' gumam Jasmine ketika ia makin dibuat terkejut ketika tiba-tiba tangannya ditarik dan membuatnya kehujanan.
"Ikut aku!" Aaron seketika melaksanakan rencananya begitu melihat pelayan keluar dari pintu.
Ia sama sekali tidak memperdulikan raut wajah terkejut dari Jasmine ketika ditariknya hingga tubuh terguyur air hujan.
"Aaron, apa yang kamu lakukan?" teriak Jasmine yang saat ini berniat untuk kembali ke teras agar tidak semakin basah kuyup.
Ia bahkan seketika menggigil meskipun baru beberapa detik terguyur hujan yang cukup deras di pagi hari ini. Bahkan sudah mengusap wajahnya yang basah dan sangat kesal karena riasannya terkena air hujan. Bahkan tidak bisa kabur karena masih ditahan oleh Aaron.
Sementara itu, dengan sangat santai Aaron kini mengungkapkan keinginannya tanpa memperdulikan raut wajah kesal Jasmine. "Aku ingin kamu menemaniku main hujan-hujanan pagi ini. Kamu bersedia menemaniku, kan?"
Ingin sekali Jasmine langsung menolak dan tidak memperdulikan keinginan Aaron yang membuatnya sangat kesal karena membiarkan penampilannya berantakan, tapi sangat khawatir jika melakukannya, pria yang saat ini berdiri di hadapannya akan kesal dan tidak mau lagi bertemu dengannya.
'Sial! Kenapa semuanya jadi kacau seperti ini, sih? Aku bahkan berusaha tampil paripurna agar terlihat perfect di matanya. Malah dia merusaknya seperti ini. Pasti penampilanku saat ini sangat kacau, tapi harus berakting tidak menolaknya,' umpat Jasmine di dalam hati sambil menganggukkan kepala tanda setuju.
Aaron seketika tertawa senang karena berhasil membuat Jasmine masuk dalam jebakannya. "Terima kasih. Aku tidak akan pernah melupakan hari ini."
Kemudian melupakan melepaskan tangannya dan melakukan gerakan dengan mengangkat kedua tangan sambil mendongak menatap ke atas dengan menutup kelopak mata untuk merasakan air hujan yang seperti menusuk pori-pori kulitnya.
"Lakukan seperti ini karena sangat menyenangkan," ucapnya dengan masih menutup mata tanpa menoleh ke arah Jasmine yang sebenarnya diketahuinya sangat kesal, tapi berusaha untuk berakting tidak keberatan karena permintaannya yang keterlaluan.
'Pasti dia saat ini berpikir jika riasan serta penampilannya rusak gara-gara permintaanku. Anggap saja ini adalah permintaan kecil sebagai pembalasan atas perbuatannya dulu padaku,' gumam Aaron yang saat ini masih menikmati dinginnya air hujan membasahi tubuhnya.
'Jadi, seperti ini perasaan Anindya ketika main hujan-hujanan bersama dengan Erick. Rasanya sangat menyenangkan dan seperti melakukan sesuatu yang baru pertama kali.'
To be continued...