Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Tidak ingin meremehkan



Satu minggu telah berlalu dan ini kebetulan adalah hari Minggu. Sesuai dengan janji Aaron bahwa akan menemani Sunmori, tapi ternyata tidak bisa karena ada pekerjaan mendadak.


Sementara Erick pagi-pagi sudah datang ke rumah keluarga besar Jonathan.


"Awal sekali kamu datang ke rumah, Erick? Apakah selalu awal berangkat untuk melakukan Sunmori?" tanya sosok pria paruh baya yang baru saja menyambut kedatangan putra dari teman istrinya.


Sementara sang istri tengah menyuruh pelayan untuk membuatkan minuman. Ia pun memberikan kode pada Eric untuk duduk di ruang tamu.


"Iya, Om. Biasanya semuanya tergantung acaranya dimulai jam berapa dan juga tempatnya kira-kira berada di luar kota atau lokal saja," sahut Erick yang saat ini mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Anindya setelah menjawab.


"Apa Anindya sudah bersiap untuk acara Sunmori hari ini, Om? Saya sudah menelpon untuk bertanya, tapi tidak diangkat. Jadi, memutuskan datang ke sini untuk mendengar jawaban Anindya." Erick sebenarnya merasa sangat kesal pada gadis yang membuatnya tertarik.


Namun, kesabarannya seolah diuji karena Anindya sama sekali tidak mengangkat telpon darinya dan seolah menganggapnya sama sekali tidak penting.


Apalagi ini adalah pertama kalinya ia dicueki oleh seorang gadis saat posisinya di kampus adalah mahasiswa paling populer.


Saat ia masih sibuk mengumpat di dalam hati untuk melampiaskan kekesalan, kini mengerjapkan matanya ketika pria paruh baya di hadapannya tersebut mengatakan sebuah hal yang tidak pernah terpikirkan sama sekali di otaknya.


"Dia memang selalu menutup diri dan susah bergaul dengan lawan jenis, tapi Om berharap kamu bisa menjadi teman baiknya karena besok Anindya masuk ke Universitas yang sama denganmu."


Saat Jonathan mengakhiri penjelasan yang dipikirkan menjadi sahabat laki-laki muda di hadapannya, kini ia sudah bisa menduga respon apa yang dilihatnya.


Jonathan sudah membantu Anindya yang akan kuliah di salah satu kampus ternama di Jakarta karena Aaron benar-benar sangat sibuk dan tidak bisa meninggalkan pekerjaan.


Hingga ia pun mendengar suara dari sang istri yang baru saja datang sambil membawa minuman. "Kenapa tidak menyuruh pelayan saja, Sayang?"


"Karena aku tidak ingin pembicaraan serius yang akan kukatakan pada Erick terganggu oleh kedatangan pelayan dan saat ini giliranmu."


Laymar saat ini berdiri dari kursi karena membiarkan istrinya dan Erick berinteraksi terlebih dahulu sebelum pergi.


"Tolong jaga Anindya karena hari ini Aaron ada pekerjaan penting, sehingga tidak bisa ikut Sunmori." Wanita paruh baya tersebut sering berolahraga dan membuatnya terlihat awet muda seperti sang suami.


Kini, ia menatap ke arah putra dari sahabatnya karena sedikit khawatir jika sampai Erick berbuat macam-macam pada Anindya yang sudah dianggap sebagai putri sendiri.


Apalagi Aaron semalam mengungkapkan kekhawatirannya agar berhati-hati pada Erick yang notabene adalah seorang playboy di kampus.


"Erick, Tante tahu kamu adalah putra dari dari sahabatku, tapi jika sampai kamu melakukan kesalahan pada Anindya, akan tetap menghabisimu." Sambil mengarahkan tangan mengepal dan memasang wajah masam untuk menakuti Erick.


Tadinya Erick ingin tertawa, tapi berusaha menahannya karena tidak ingin terlihat meremehkan. "Ya ampun, Tante. Curigaan mulu sama aku. Tenang karena aku masih waras dan tidak ingin mendapatkan bogem mentah dari Tante."


To be continued...