Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Sebuah keberuntungan



Setelah melihat ulah dari Aaron yang membawa laptop ketika ia hendak memeriksa hasil pekerjaan Anindya, Sandy ingin memberikan sebuah pelajaran pada Aaron agar tidak lagi berbuat sesuka hati.


"Seperti ini kamu masih mengelak jika menyukai gadis amnesia itu?" tanya Sandy yang tadinya hanya diam melihat sahabatnya malah membawa laptop miliknya kala hendak memeriksa hasil jawaban Anindya.


Ia tadinya ingin tahu seperti apa sosok gadis yang mengalami nasib malang itu, tapi sikap mencurigakan dari sahabatnya membuatnya benar-benar kesal.


"Aku merasa seperti dalam pepatah, 'Habis manis sepah dibuang'. Jika kamu terlalu sayang pada gadis amnesia itu, pergi saja dan jangan meminta bantuan dariku." Kemudian Sandy berjalan menuju ke ruang tamu untuk menemui Anindya lagi


Namun, ia tersenyum menyeringai karena berpikir jika Aaron tidak akan berkutik lagi dan patuh padanya karena butuh.


'Lihat saja apa yang dilakukan badut itu,'


gumam Sandy yang kini tersenyum simpul pada gadis amnesia itu dan mendaratkan tubuhnya di sebelah kiri.


"Apa kamu tahu alasan Aaron bersikap aneh tadi?" tanya Sandy yang mencoba untuk menguraikan suasana keheningan di antara mereka.


Refleks Zea langsung menggeleng cepat karena tidak ingin mendengar apapun dari pria yang diam-diam dicintai. "Tuan Aaron memang suka melakukan apapun secara refleks dan pastinya sesuka hati."


'Tapi hatiku tetap saja memilihnya dan sama sekali tidak tertarik pada pria lain,' gumam Zea yang saat ini hanya menunggu apa yang sedang dilakukan oleh Aaron ketika membawa laptop.


Hingga saat ia disibukkan dengan berbagai macam kekhawatiran yang menguasai pikirannya atas sikap konyol dari Aaron.


"Aku padahal ingin melihat hasilnya seperti apa, tapi malah dibawa oleh Tuan Aaron!" ucap Zea yang dari tadi menunggu di ruang tamu dengan berbagai macam pertanyaan yang melintas di pikirannya.


"Iya ... iya, aku akan mengembalikannya padamu!" sarkas Aaron yang dari tadi sendirian di halaman belakang dengan banyak pertanyaan yang saat ini menari-nari di otaknya.


Bahkan ia pun merasa bosan sendirian karena ditinggalkan oleh sahabatnya yang merajuk, sehingga mengembalikan laptop yang saat ini dibawa dan diletakkan di atas meja.


"Cepat periksa itu dan beritahu aku hasilnya! Lagipula Anindya juga ingin segera mengetahui bagaimana hasilnya," ucap Aaron yang saat ini mendirikan tubuhnya di sofa dan merasa bahwa sikap sahabatnya terlalu berlebihan karena berpikir macam-macam padanya.


Apalagi ia belum sempat menjelaskan kepada sahabatnya tersebut mengenai apa yang dirasakannya saat ini mengenai gadis amnesia itu.


Karena sebenarnya ia sendiri juga penasaran dengan hasilnya, akhirnya Sandy melupakan rasa kesalnya pada sang sahabat dan langsung memeriksa laptop miliknya.


"Jika nanti kamu betul semua, mau minta hadiah apa ada pria arogan itu?" Sandy bertanya sambil menunjuk ke arah sahabatnya.


Zea bahkan sama sekali tidak berpikir apapun untuk sekedar menjawab pertanyaan konyol itu. "Aku sudah banyak mendapatkan kebaikan dari tuan Aaron dan juga keluarganya."


'Sepertinya akan jauh lebih baik jika aku selalu berada di rumah keluarga Jonathan karena jika sampai kembali ke rumah yang tak lebih dari neraka berpenghuni 2 iblis wanita itu, pasti saat ini tidak bisa berbicara seperti ini,' gumam Zea ketika berpikir bahwa kecelakaan yang terjadi padanya adalah sebuah keberuntungan.


To be continued...